
Liu terkapar lemas di ranjangnya. Sima Feng benar-benar membuatnya kehabisan tenaga. Bahkan untuk menggerakkan tangannya saja sulit.
Setelah menggendongnya, pria itu dengan teganya melemparnya ke kolam. Tidak sampai di situ, ia bahkan memintanya untuk menemaninya mandi dan menggosok punggung serta memijatnya sampai kedua tangannya pegal.
" Pria berdarah dingin itu benar-benar tak kenal ampun, tidak berperasaan, benar-benar menyebalkan. Apakah tidak bisa sehari saja bertemu dan tak membuatnya kesal. Ah, mungkin ia akan mati jika tidak membuatnya marah. " Liu ru misuh-misuh sendiri. Terlalu lelah untuk menendang bokong suaminya itu.
Sima Feng yang baru saja masuk dan memperhatikan tingkah kesal istrinya tersenyum tipis. Pemandangan yang sangat ia rindukan dimana istrinya akan misuh-misuh karena kesal.
Tanpa sadar ia terkekeh. Lalu berkata pada sang istri. " Berhenti mengeluh. Suatu kebajikan untuk melayani suami. Apa kau tak senang telah menyentuh tubuh suami mu ini? aku bisa merasakan bagaimana antusiasnya tangan mu saat menyentuh ku tadi. "
Kedua bola mata Liu ru melebar. Pria ini terlalu tidak tahu malu. Kenapa ia berbicara seolah dirinya yang memanfaatkannya.
" Jika bukan karena aku wanita jujur yang mengakui rasa bersalah ku, mana mungkin aku mau melakukan semua itu. " Diam-diam Liu ru menggerutu.
" Apakah kau terlalu lama berperang hingga membuat mu berhalusinasi? Bagian mana dari kejadian tadi yang terlihat aku begitu antusias menyentuh mu. "
Liu ru kemudian memutar matanya dan kembali menambahkan. " Kau hampir membuat kedua tangan ku patah karena terlalu lama memijat mu. "
" Lemah. " Ejek Sima Feng yang sukses membuat mata Liu ru mendelik padanya.
Pria ini benar-benar membuat darahnya naik.
Liu ru bangkit ingin sekali memukul pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut. Tapi teringat akan sesuatu jadi ia duduk di tepi ranjang mengabaikan rasa gondoknya dan bertanya.
Wajahnya yang tadi menunjukkan kemarahan langsung berubah penuh rasa ingin tahu. " Sekarang katakan, siapa Gu Feifei? Kenapa ia bisa tinggal di sini? Apa kau dan dia memiliki hubungan yang dekat? " Berondong Liu ru dengan pertanyaan yang sejak tadi berada di kepalanya.
Sima Feng menyesap tehnya sejenak lalu memandang istrinya. Wajahnya kini berubah serius.
__ADS_1
" Dia adik perempuan salah satu komandan pasukan ku. Kenapa pasukan Jin membutuhkan waktu lama menaklukan pasukan Wei? itu karena ada mata-mata dalam pasukan kita. "
Ia menambahkan. " Salah satu komandan senior telah berkhianat. Itulah penyebab kenapa serangan pasukan kita bisa terbaca dan dengan mudah melarikan diri saat kita akan menyerang kamp militer mereka. "
" Dan pada saat serangan terakhir, tragedi itu terjadi. Karena terlalu buru-buru menyelesaikan serangan. Aku kurang waspada dan hampir kehilangan nyawa. Seorang komandan menerima serangan panah yang mengarah padaku. Andai itu panah biasa, mungkin tak akan terlalu fatal. Sayangnya mereka sudah melumurinya dengan racun hingga akhirnya nyawanya tak tertolong. "
Ingatan bagaimana panah itu langsung menembus jantung bawahannya itu muncul kembali dan bagaimana bawahannya itu masih mengkhawatirkan satu-satunya adik perempuannya di saat detik-detik terakhir waktunya. Membuatnya kembali dihinggapi rasa bersalah.
Andai saja ia bisa menahan diri dan tidak terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan mungkin ini semua tidak akan terjadi.
Sejak kapan ia begitu ceroboh?
Tiba-tiba Sima Feng merasa ada yang salah dengannya. Ia tidak pernah melakukan kesalahan seperti ini sebelumnya.
Matanya tanpa sadar melirik Liu ru. Masih belum menyadari bahwa di bawah alam sadarnya, ia sudah memiliki obsesi pada wanita itu.
Liu ru memegang dagunya sendiri tampak berpikir. Namun setelah itu, alih-alih menjawab ia justru bertanya.
" Apa kau berniat menjadikan Gu Feifei sebagai selir pangeran? "
Kedua alis Sima Feng mengerut heran. " Apa maksud mu? apa kau ingin aku menjadikannya selir? " Tak ada respon dari Liu ru.
Sima Feng merasa kesal saat istrinya justru menyuruhnya menjadikannya selir.
Ia kemudian mengeluh, " Kau mungkin tidak keberatan. Tapi aku keberatan. Aku masih menyayangi kaki dan tangan ku. Aku tak ingin ayahku mematahkan mereka hanya karena aku mengambil selir. Tidak. "
" Kenapa Yang mulia kaisar akan mematahkan kaki mu pangeran? " Heran Liu ru. Bagaimana mungkin seorang ayah tega mematahkan kaki dan tangan putranya. Lagi pula di keluarga kerajaan bukankah mereka di tuntut memiliki banyak keturunan.
__ADS_1
" Tentu saja karena aku sudah membuat istri tercintanya kecewa. Kau tahu bukan bagaimana ayah ku sangat mencintai ibu. Bahkan karena begitu besarnya sampai membuatnya seperti budak cinta. Benar-benar definisi sempurna dari cinta buta dan cinta gila. " Balas Sima Feng menanggapi cinta ayahnya untuk ziyan. Meski begitu jauh dalam hatinya, sesungguhnya Sima Feng bangga dengan sang ayah. Karena mampu mencintai ibu nya dan sama sekali tak berubah meski sudah puluhan tahun berlalu.
"Jadi kau tak akan menjadikannya selir pangeran? " Lagi, Liu ru bertanya pada sima Feng.
" Tidak. " Tegas Sima Feng.
Ia juga menambahkan. " Masih ada cara lain untuk merawat Gu Feifei. Aku tidak harus menikahinya. Jika semua wanita yang menolong ku harus berakhir dengan menjadi selir ku. Percayalah itu akan memiliki antrian yang sangat panjang jika sampai itu terjadi. "
Liu ru berdecak. " Rasa percaya dirimu sungguh sangat mengagumkan. Aku percaya bahwa para wanita itu pasti sangat menyukai mu. "
Sima Feng terkekeh. Ia merasa sindiran Liu ru justru terdengar seperti wanita itu sedang mengungkapkan rasa cemburunya.
" Aku dengar kau membantu seorang pemuda menuntut seorang tabib pada biro penyidik? " Tanya tiba-tiba Sima Feng.
" Bagaimana kau tahu? " Heran Liu ru. Ia menyipitkan matanya memandang Sima Feng.
Namun pria itu hanya mengangkat alisnya sambil tersenyum penuh arti.
" Ah tentu saja kepala pelayan yang melaporkan mu. " Tebak Liu ru. Tentu saja sebagai kepala pelayan ia harus melaporkan apapun pada suaminya.
Deg.
Tiba-tiba Liu ru merasa perasaannya tak enak. Jika ia tahu soal tabib Meng. Bukankah suaminya juga tahu bagaimana ia menghabiskan banyak uang hari itu.
Liu ru tersenyum kaku, ragu-ragu bertanya. " Itu.. "
Namun Sima Feng sudah kembali berbicara. " Aku juga tahu kau sudah berbelanja banyak barang dan hampir mengosongkan biaya bulanan manor. "
__ADS_1
Liu ru bergidik saat melihat senyum Sima Feng. Senyum yang terlihat menakutkan dimatanya.