
Beberapa jam yang lalu,
" Pangeran, aku akan ke chuntian untuk melihat laporan bulanan. Jadi mungkin saja aku akan pulang sedikit terlambat. " Sebagai seorang istri, bagaimana pun juga ia harus meminta ijin suaminya ketika hendak pergi.
" Pergilah. Aku akan menjemputmu saat pulang nanti. " Ucap sima rui pada ziyan, yang kemudian di balas dengan kecupan di pipi pria itu sebagai ungkapan terima kasih.
Dan kini ziyan sudah berada di chuntian, tepatnya di ruang kerjanya. Ia meminta wenran membawa semua laporan keuangan.
" Apakah sudah semuanya laporan bulan ini? " Tanya ziyan.
" Sudah bos. Itu juga sudah termasuk laporan dari beberapa anak usaha kita. " Jawab wenran menjelaskan.
Sebagai bos zi yang memegang beberapa usaha di ibu kota. Ziyan terbiasa dengan tumpukan laporan yang kini ada di depannya. Meski ia sudah memiliki bawahan yang bertugas membuat dan memeriksa laporannya. Namun ziyan tetap melakukan pemeriksaan ulang. Bukan karena ia tidak percaya dengan hasil kerja bawahannya. Tapi lebih kepada kebiasaan. Ia terbiasa melakukan semuanya.
Ziyan langsung tenggelam dalam pekerjaannya. Ia memeriksa satu persatu buku laporan keuangannya dengan teliti. Hingga tiba di satu bagian. Ia mengernyitkan kening ketika mengetahui sesuatu yang tak biasa pada laporannya.
" Keuntungan kita menurun? " Tanya ziyan menatap wenran yang sejak tadi berdiri.
Pria itu mengangguk. " Benar bos. Shugua membuat permainan baru yang membuat banyak pelanggan kita ke sana. Namun kabarnya itu tak berlangsung lama. Beberapa pelanggan kita kembali dan bahkan mengeluh perihal shugua. Mereka mengatakan bahwa permainan shugua membuat mereka kehilangan banyak uang. "
Ziyan berdecak mendengar penjelasan wenran. " Kehilangan uang bukan salah shugua. Tapi salah mereka sendiri. Sifat tamak mereka yang membuat mereka kehilangan uang. Jika saja mereka tidak tergoda mendapatkan keuntungan besar tanpa harus bekerja keras. Maka mereka tidak akan hanyut dalam tipuan shugua. "
Wenran setuju dengan pendapat atasannya tersebut. Semenjak bekerja di chuntian, sedikit banyak membuka mata wenran. Ia akhirnya tahu bagaimana sifat sesungguhnya manusia. Meski tak banyak manusia yang memiliki sifat buruk, namun ia tahu satu hal, manusia selalu mengejar keuntungan.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan.
Wenran segera membuka pintu, dan salah satu anak buahnya langsung membisikan sesuatu di telinganya.
" Aku mengerti. Awasi dia. " Perintah wenran pada anak buahnya.
Ziyan melihat ekspresi wenran, ia tahu ada sesuatu yang terjadi.
" Ada apa? " tanya ziyan.
" Mereka mengatakan bahwa mata-mata shugua terlihat di bawah. Karena itu aku meminta mereka untuk jangan bertindak dulu, cukup awasi saja. " Jelas wenran.
Ziyan setuju dengan keputusan wenran, mengetahui terlebih dulu motif lawan adalah langkah terbaik sebelum menyerang. Namun untuk kali ini, ziyan tak ingin bertindak lembut. Ia sudah berkali-kali membiarkan mereka mengacau bisnisnya.
" Tidak. Kali ini sudah saatnya bertindak. Tangkap dia dan bawa ke ruang interogasi. " Tegas ziyan.
Meski terkejut, wenran segera menjalankan perintah ziyan begitu gadis itu mengeluarkan perintah.
__ADS_1
********
" Jadi ini tikus shugua. " Ziyan melihat seorang pria terikat dengan mulut tertutup.
Melihat ziyan, pria itu mulai meronta seolah ingin mengatakan sesuatu.
" Buka mulutnya. " Dan bawahan ziyan segera membuka penutup mulut pria itu.
" Apa yang kau lakukan padaku. Lepaskan! " Pekik pria itu. Meski ia tahu bahwa nyawanya berada di ujung tanduk. Namun ia tak ingin gentar. Jadi dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya ia mencoba menantang.
Seringai di bibir ziyan mengejek pria itu. " Aku tidak tahu tikus shugua akan memiliki keberanian yang cukup besar. "
" Karena kau tak kenal takut maka aku akan memberikan hadiah untuk mu. " Ziyan melirik ke. bawahannya lalu menunjuk pria itu dengan dagunya. " Lucuti pakaiannya, lalu buang tepat di depan shugua. Aku ingin lihat, apakah mereka menyukai hadiah yang akan aku kirim ini. " Setidaknya shugua akan berpikir ulang untuk mengirim lagi tikus ke dalam kasinonya.
Setelah berurusan dengan mata-mata shugua. Ziyan hendak kembali ke ruangannya. Namun tanpa sengaja seseorang menabraknya.
" Maaf, apa kau tak ap...pa. "
Ziyan tercengang kala melihat siapa yang menabraknya. Ia pikir ada sesuatu yang salah dengan matanya. Namun detik selanjutnya ia sadar bahwa tak ada yang salah. Justru keberuntungannya lah yang salah. Orang yang ia lihat ternyata sima shao, kaisar jin sekaligus ayah mertuanya. Meski menggunakan pakaian biasa dan tampilan yang berbeda. Tak sulit bagi ziyan untuk mengenalinya.
Tanpa pikir panjang ziyan kabur meninggalkan sima shao yang masih bingung karena dirinya yang tiba-tiba lari.
" Apa ini? " Sima shao memperhatikan benda perak di tangannya. Sebuah kalung yang tampak asing di matanya.
" Apakah ini milik gadis tadi? " Monolog Sima shao. Lalu ia berjalan ke bartender tadi. " Apa kau mengenal wanita bercadar tadi? "
Bartender berpikir sejenak lalu menggeleng.
Sima shao memutuskan untuk menyimpan kalung tersebut. Pikirnya, ia akan mengembalikannya saat mereka bertemu kembali.
*********
Di sebuah sudut jalan,
" Apa kau menunggu lama? " Sima rui mengulurkan tangannya membantu ziyan naik ke kereta kudanya, setelah itu Ia memberikan sebuah selimut untuk dikenakan ziyan. Malam ini cukup dingin, membuat pria itu tak tahan ketika melihat wajah wanitanya yang pucat.
" Terima kasih. " Ziyan menerima selimut Sima rui.
" Ada apa? wajahmu tampak pucat? " Tanya Sima rui khawatir.
" Tak apa. Mungkin hanya terlalu lelah. Dan juga... " Ziyan diam sejenak kemudian beralih menghadap Sima rui. " Aku pikir tadi aku melihat Yang mulia kaisar. Tanpa sengaja kami bertabrakan. Aku khawatir dia mengenaliku. " Jelas ziyan.
__ADS_1
Namun Sima rui yang mendengarnya masih tampak tenang. Tak terlihat kekhawatiran di wajahnya.
" Tenanglah. Jangan terlalu berpikir terlalu keras. Melihat wajahmu yang pucat membuat hatiku sakit. "
Melihat tatapan khawatir suaminya. Ziyan tak punya pilihan selain menuruti perkataan Sima rui. Ia menyenderkan kepalanya pada bahu suaminya dan mulai memejamkan matanya. Tubuhnya terasa berat. Dan tak lama ia sudah jauh ke dalam alam mimpi.
***********
Ziyan terbangun dan menyadari bahwa dirinya berada di kamarnya. Ia kemudian menoleh kesamping dan melihat Sima rui duduk melihat ke arahnya.
"Kau tidak tidur? " Tanya ziyan. Ketika ia hendak bangun, ia merasakan tubuhnya terasa remuk dan kepalanya seolah berputar.
" Tidurlah. Jangan bergerak. Sepertinya kau demam. Aku sudah memanggil tabib untuk memeriksa mu. "
Ziyan hanya bisa pasrah menurut dan kembali merebahkan badannya di ranjang. Sementara Sima rui turun untuk meminta pelayan memeriksa kembali tabib yang dipanggilnya apakah sudah tiba.
Awalnya Sima rui ingin berbaring sembari memeluk tubuh sang istri. Namun ketika merasakan suhu panas pada tubuh ziyan, matanya tak mampu lagi terpejam.
" Pangeran tabib yang anda minta datang sudah tiba. " Ucap pelayan dari luar pintu.
" Suruh dia masuk. "
Mendengar ijin Sima rui, sang tabib gegas masuk dan duduk di tepi ranjang. Sebelum sang tabib masuk, Sima rui dengan cepat menurunkan tirai hingga menutup sepenuhnya ranjang mereka.
" Periksa istriku. " titah Sima rui.
Tabib mengangguk lalu meminta ziyan mengulurkan tangannya.
" Apa yang kau lakukan? " Tanya Sima rui tiba-tiba saat tabib hendak menyentuh tangan ziyan yang sukses membuat sang tabib terkejut.
" Ha-hamba akan memeriksa tuan putri, Pangeran. " Jawab tabib dengan terbata.
" Gunakan ini. " Sima rui mengeluarkan sapu tangan. Yaoyao mengambil dan meletakkannya di atas pergelangan tangan ziyan.
Sima rui tak ingin tangan istrinya di pegang oleh pria lain. Tidak peduli meskipun itu adalah tabib yang memeriksanya.
Rahang sang tabib jatuh melihat betapa posesifnya sang pangeran. Namun ia hanya menelan pemikirannya tersebut dan kembali fokus pada pekerjaannya.
" Bagaimana? kenapa dengan istriku? " Tanya Sima rui.
Tabib yang memeriksa ziyan menyeka keringatnya, " Putri, kondisi putri... " Ia tampak ragu-ragu mengatakannya. Namun sebagai tabib sudah kewajibannya untuk mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1