
" Baiklah. Tapi bisakah kau sedikit menjauh. " Na li mencoba mendorong dada A Guang.
Nyatanya A Guang masih bergeming. Tenaga Na li tampaknya masih jauh dari cukup untuk mendorong pria di depannya.
Melihat usaha keras Na li, satu sudut A Guang naik. A Guang yang merasa gemas akhirnya memberikan jarak, lalu melipat kedua tangannya, bersedekap dengan matanya fokus pada Na li.
" Hari sudah malam. Bisakah kita bicarakan besok. " Na li masih berusaha menghindar.
" Dan besok kau akan mencari alasan lain untuk menghindar. "
Tahu jika motifnya sudah terbaca. Na li memutuskan untuk tidak lagi berdebat. Jadi ia pun dengan berat hati akhirnya menyetujui permintaan A Guang untuk berbicara dengannya.
Ia menghela napas sebelum mulai berbicara.
" Baiklah. Apa yang ingin kau bicarakan padaku. "
" Kenapa kau menghindari ku? " Tanpa basa basi A Guang segera menanyakan yang menjadi masalah utama.
" Apa yang membuat mu berpikir aku sedang menghindari mu? Aku hanya terlalu sibuk hingga tak ada waktu untuk mengobrol. Beberapa murid sudah membayar, jadi aku harus segera menyalin beberapa buku pesanan mereka. " Ujar Na li.
Selain bersekolah, Na li juga memiliki pekerjaan sampingan menyalin buku. Pasalnya jika membeli buku sebenarnya, para murid harus mengeluarkan beberapa tael untuk satu buku. Sedangkan salinan buku Na li memiliki selisih harga setengahnya dari harga aslinya. Jumlah yang cukup lumayan untuk murid dari rakyat biasa.
" Apa menurut mu aku anak lima tahun yang akan percaya dengan alasan itu. Kau biasanya akan memilih mengerjakannya di kamar daripada di perpustakaan. Jadi jangan jadikan itu sebagai alasan. "
A Guang diam sejenak kemudian kembali berbicara. " Aku tidak ingin kehilangan teman baik seperti mu. Jadi tolong katakan apa salah ku. Jangan menghindari ku seperti ini. "
' Teman. ' Batin Na li tersenyum getir.
Pria di depannya selain tidak peka juga tidak berperasaan, begitulah menurutnya.
" Sungguh, kau tidak memiliki salah apapun. Semuanya adalah salah ku. Aku hanya terlalu sibuk. Karena itu jangan terlalu banyak berpikir. Hubungan kita tidak akan ada perubahan. Kita masih tetap berteman. "
Na li melanjutkan, " Malam sudah larut. Ayo kita tidur. Aku tak ingin terlambat untuk kelas besok. "
Tanpa menunggu respon A Guang, Na li menepuk pundaknya sekali lalu berjalan melewatinya.
Sedangkan A Guang, entah kenapa ia tidak menyukai kalimat Na li yang mengatakan bahwa hubungan mereka tak akan ada perubahan. Mungkin terdengar aneh, karena ia sendiri juga mengatakan hal tersebut tadi pagi. Tapi saat mendengarnya keluar dari mulut Na li malam ini, serasa ada benda besar yang baru saja menghantam dadanya.
Sesak ya itulah yang dirasakannya.
Na li mengabaikan A Guang yang terus menatapnya. Ia menggelar selimut di lantai untuk tempatnya tidur dan kemudian merebahkan tubuhnya yang lelah.
__ADS_1
Sungguh dirinya sangat lelah. Tak hanya fisik tapi juga hatinya.
Memejamkan mata, Na li mencoba tertidur. Namun ia teringat dengan percakapannya dengan A Hua saat di perpustakaan.
Flashback mulai,
" Na li apa kau marah dengan A Guang. " Tanya A Hua yang sengaja datang ke perpustakaan demi mencarinya.
" Aku tak mengerti apa yang kau katakan. " Bohong Na li. Ia hanya sedang tak ingin membahas A Guang saat ini.
A Hua tahu Na li sedang mencoba menghindar. Tapi ia harus meluruskan kebodohan yang dibuat keponakannya tersebut. Sebelum penyesalan datang padanya.
" Na li apa kau menyukai A Guang? " Pertanyaan A Hua sukses membuat gorengan tinta Na li melenceng menciptakan goresan sepanjang kertas. Membuat kerja kerasnya sia-sia begitu saja.
Na li tak menyangka A Hua akan menanyakan pertanyaan itu. Wajahnya seketika bersemu merah.
" Melihat dari reaksi mu maka aku anggap iya. " Sambung A Hua dengan sebuah senyum jahil di wajahnya.
Namun tiba-tiba A Hua menghela napas, ekspresi wajahnya berubah lesu.
Na li tercengang dengan perubahan cepat ekspresi A Hua.
" Keponakan bodoh ku itu tidak pernah dekat dengan gadis mana pun. Meski sikapnya cukup membuat kita untuk menggelengkan kepala, tapi percaya lah sebenarnya ia laki-laki yang polos. "
" Maksudnya? " Na li masih tak mengerti.
" Maksud ku. Buatlah dia cemburu dan terbakar hatinya. Setelah itu aku yakin dia akan menjilat ludahnya sendiri. Dan mulai memikirkan perasaannya pada mu. " Jelas A Hua.
Na li tampak ragu, namun ia juga tertarik dengan cara yang di ucapkan oleh A Hua. Ia dilema, satu sisi hatinya mengatakan tidak, namun disisi lain mengatakan untuk menerimanya.
" Aku pikir itu terlalu berlebihan. Aku tak ingin mempermalukan diriku. Jadi lupakan saja. " Tolak Na li.
" Apa kau yakin? Apa kau tak ingin tahu perasaan A Guang yang sebenarnya? bagaimana jika ia memiliki perasaan yang sama dengan mu? " Lanjut A Hua mencoba mendorong Na li.
Na li tampak bimbang. Godaan A Hua terlalu besar. " Entahlah. Aku tidak ingin terlalu berharap. " Jujur Na li.
Ia tidak ingin mengalami sakit akan yang namanya penolakan. Tidak hanya dari A Guang namun juga orang sekitarnya.
" Aku akan memberimu waktu untuk memikirkannya. Jadi pikirkan baik-baik. " Putus A Hua lalu berdiri dari kursinya dan meninggalkan Na li. Ia akan membiarkan gadis itu untuk menimbangnya.
Setelah kepergian A Hua. Na li masih menghabiskan waktu di sana. Namun karena bisikan A Hua yang tampak seperti bisikan iblis itu membuatnya tidak bisa fokus untuk menyalin.
__ADS_1
Beberapa kali ia salah menulis karakter membuat kertas miliknya terbuang sia-sia.
Menatap nanar gumpalan kertas di atas meja. ' Huft.. aku membuang beberapa sen begitu saja. '
Flashback selesai.
*********
" Ini. " Na li memberikan pesanan buku yang di minta Chong ru padanya.
" Semuanya salinan buku yang kau minta. Total sepuluh tael. " Telapak tangan Na li terulur meminta uang pembayaran.
Chong ru tersenyum, membuat dua lesung pipinya muncul membuat wajah pria itu semakin terlihat manis.
Ia mengambil kantong uang di saku dadanya lalu mengambil lima belas tael.
" Ini terlalu banyak. Kau memberikan ku lebih banyak lima tael. "
" Tidak. Ini sesuai dengan hasil pekerjaan mu. Terima kasih Na li. Kau menulisnya dengan sangat rapi. Bahkan salinan ini tidak lebih buruk dari versi aslinya. Aku justru lebih menyukai yang ini. " Ungkap Chong ru.
" Terima kasih atas pujiannya. Aku tak menyangka kau memiliki mulut manis yang bisa membuat orang lain tersipu karena pujian mu. "
Chong ru tertawa, kembali kedua lesung pipinya menarik perhatian Na li. Ia sampai tidak berkedip dan terus menatap dua cekungan tersebut.
Dari jarak tak terlalu jauh, A Guang melihat interaksi keduanya. Hatinya tiba-tiba terasa panas melihat Na li yang seolah terpana dengan wajah tawa Chong ru. Kedua tangannya terkepal kuat hingga otot-otot menonjol.
A Guang mendengus kesal. " Apakah sekarang sedang musim panas? kenapa hari ini begitu panas. " Lirih A Guang. Ia juga mengipasi wajahnya dengan tangan.
A Hua yang berada di samping A Guang memperhatikan arah pandang keponakannya itu. Diam-diam ia tersenyum iblis.
Jadi langkah A Hua selanjutnya adalah menuangkan minyak agar nyala api semakin besar.
" Lihatlah, sepertinya hubungan Chong ru dan Na li cukup dekat. Cukup serasi menurut ku untuk menjadi sepasang kekasih. " Ucap A Hua seperti bisikan iblis yang bergumam di telinga A Guang.
Masih menatap lurus pada Na li, A Guang kemudian berkata. " Tidak mungkin mereka akan menjadi sepasang kekasih. Itu akan terjadi jika Chong ru memiliki kelainan seksual. Jangan lupakan fakta bahwa dimata semua orang Na li adalah seorang pria. "
A Hua berdecak, " Kita tidak tahu isi hati seseorang. Bisa saja justru Na li yang menyukai Chong ru. Apa kau tak lihat bagaimana tatapan memuja Na li padanya. Bahkan aku sangat yakin, setelah lulus dari akademi, mereka berdua akan menjalin hubungan. Tak ada yang menduga masa depan bukan? " A Hua masih berusaha keras melempar bom pada A Guang. Bom yang mungkin bisa ia harapkan untuk meruntuhkan pertahanan hatinya.
Dan ucapkan A Hua kali ini akhirnya berhasil membuat A Guang semakin gelisah.
Dalam hati, A Hua tertawa puas kala melihat wajah pias A Guang.
__ADS_1
Menepuk pundak A Guang, ia pun bergumam. " Jangan sampai kau menyesal nantinya. " Setelah itu pergi meninggalkan A Guang yang sedang cemburu.