Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 117


__ADS_3

" Yaoyao.. bukankah kau bilang tempat ini akan penuh saat jam makan. Tapi apa ini... " Ziyan termangu menatap gedung di depannya.


Kosong. Tanpa pengunjung sama sekali. Bahkan secara khusus kedatangan ziyan mendapat sambutan khusus dari manajer gedung.


" Entahlah nona. Saya juga tidak tahu. " jawab yaoyao yang juga tidak mengerti.


Manajer gedung yang sejak tadi berdiri di depan ziyan tersenyum menyambut calon permaisuri pangeran pertama itu. " Selamat datang Nona Mo. Hari ini kami sudah menyiapkan semua yang pangeran minta. Pangeran juga sudah menunggu anda di dalam. Mari saya antar anda. " Dengan sopan pelayan yang di minta manajer itu mengantar ziyan ke tempat dimana sima rui telah menunggu.


Ruang pribadi terbaik di lantai dua yang menghadap langsung panggung opera menjadi pilihan sima rui. Ia juga sudah menyiapkan makanan terbaik untuk calon permaisurinya itu.


" Pangeran, makanannya sudah siap semua. Apakah ada lagi yang Anda butuhkan? " tanya salah satu pelayan.


Wajah dingin sima rui menatap hidangan yang telah siap di atas meja. " Tidak ada. Kalian bisa pergi. " Sima rui menyuruh para pelayan pergi tanpa melihat mereka.


Para pelayan yang punggungnya penuh keringat dingin itu akhirnya bisa bernapas lega. Mereka langsung menghirup napas rakus karena sedari tadi mereka merasa seakan tercekik karena aura dominan dan penuh tekanan dari sima rui.


Ketukan pintu membuat sima rui mengalihkan perhatiannya. Dan segera ia melihat sosok yang sejak tadi sedang di tunggunya. Sudut bibir Sima rui sedikit terangkat menyajikan sebuah senyum.


" Duduk lah, sebentar lagi pertunjukannya akan segera di mulai. "


Ziyan menelan ludahnya. Bukan karena melihat makanan yang tersaji di atas meja. Tapi karena rasa gugup yang dirasakannya. Semuanya berantakan, tidak ada satupun yang berjalan sesuai rencananya. Pria ini memang selalu menjadi faktor eror dalam perhitungan ziyan.


' Kenapa dia gugup? ' pikir Sima rui melihat ekspresi wajah ziyan.

__ADS_1


Ziyan menggeleng, mengusir kegelisahannya. Namun yang Sima rui tangkap justru, ziyan tidak ingin melihat pertunjukan.


" Kau tidak ingin melihat pertunjukan? " Tanya Sima rui.


Ziyan mengangguk tanpa sadar karena sejak tadi memang sedang tidak fokus.


" Baiklah. Kita makan dulu saja. Aku sudah memesan makanan terbaik yang ada disini. " ucap Sima rui namun gadis itu masih tetap diam. Ia pun meletakkan sumpitnya dan menggenggam tangan ziyan yang duduk tepat di sebelahnya.


" Ada apa? Apakah ada hal penting yang ingin kau bicarakan? " Tanya Sima rui. Pandangannya yang lembut sungguh sangat berbeda jika di bandingkan saat menatap orang lain.


Ziyan mengangguk, " Benar. Aku ingin membicarakan hal penting. Termasuk rencana pernikahan kita yang akan di percepat. "


Sima rui masih diam sembari menatap wanita di depannya tersebut. Seakan menunggu apa yang ingin dikatakannya.


" Apa kau benar-benar ingin kita menikah? " Tanya ziyan tanpa ragu.


Namun Sima rui tidak mengungkap suara hatinya. Ia kemudian balik bertanya. " Apa kau ragu denganku? Kita pernah berjanji bukan untuk membicarakan segalanya. Karena itu jika kau memiliki keraguan, bicaralah. Kita bisa menyelesaikannya. "


Ziyan menggeleng, hatinya tersentil mendengar ucapan Sima rui. Dulu, ia sendiri yang memintanya untuk selalu terbuka. Namun sekarang, lihatlah. Justru ia sendiri yang tidak melakukannya. Bahkan ia diam-diam malah menyiapkan racun.


Mata ziyan terasa panas. Air mata yang hendak keluar coba ia tahan. Sungguh, saat ini ia sangat kecewa akan dirinya.


" Maafkan aku. " Suara ziyan sedikit bergetar. Tangan sima rui yang ada di bawah meja mengepal kuat, ia sungguh tidak tahan untuk tidak memeluk wanita di depannya itu. Namun ia harus menahannya agar wanitanya itu mau bicara.

__ADS_1


" Ada apa? " tanya sima rui penuh perhatian.


Ziyan menarik napas panjang, sebelum kembali berbicara. " Berjanjilah jangan menyela dan jangan bertanya sebelum aku menyelesaikan apa yang akan ku katakan. "


" Aku berjanji. "


Ziyan menatap mata Sima rui. Kemudian ia mulai menceritakan semuanya. Berawal dari kondisi dunianya, yang memaksa dirinya datang kesini, hingga alasan dirinya yang menggantikan ziyan dan akhirnya bertunangan dengannya. Bagai air mengalir, mulut ziyan begitu lancar merangkai kata. Keraguan yang sebelumnya ia rasakan, seakan menguap.


Sima rui mendengarkan dengan seksama apa yang wanitanya katakan. Meski dirinya sudah mengetahui bahwa yang ada di depannya ini bukan Mo ziyan yang sebenarnya. Tapi ia sama sekali tidak menyangka bahwa asal usul wanitanya tersebut sangatlah rumit. Alat teleportasi? masa depan? Sungguh itu semua di luar pemikirannya.


" Apa sekarang kau mengerti? Karena itulah aku ingin kita selesaikan saja perjodohan ini. Mengingat bagaimana hubungan kita yang begitu baik. Bisakah kau tidak menyeret seluruh keluarga Mo. Bagaimana pun kami tidak bermaksud untuk menipu. Tujuan awal kami hanya mencari tahu pelaku yang membunuh yaner. " Mohon Ziyan.


Sima rui sebenarnya kecewa dengan apa yang ziyan pikirkan tentangnya. Apakah ia tidak bisa merasakan perasaannya sama sekali. Bagaimana bisa ia menganggap apa yang selama ini mereka lakukan semata hanya karena pertunangan. Ia tidak mungkin menyentuh wanita yang tidak ia cintai sama sekali.


Ya itu benar! Sima rui memang menyadari bahwa ia sudah jatuh hati pada gadis ini. Bahkan sebelum pertunangan mereka. Mungkin saat melihatnya di paviliun manyue dulu.


" Sudah selesai? " Ucap Sima rui. Ziyan bisa melihat kekecewaan di mata Sima rui. Ia mencoba mengerti dan memahami karena itu semua memang salahnya. Tapi bukan itu sebenarnya yang alasan Sima rui kecewa. Tapi karena gadis tersebut tidak meletakkan kepercayaan penuh padanya.


Ziyan mengangguk sebagai jawaban.


" Hal pertama yang akan ku katakan ialah, pertunangan ini tidak akan berakhir. Aku akan mengikatmu dan menjadikanmu sebagai Permaisuri ku sebagai hukuman karena sudah membohongiku. Itulah hukuman mu. Lalu... " Sima rui memberikan jeda pada ucapannya. Ia menarik tengkuk ziyan agar lebih dekat dengannya lalu menatap dalam mata gadis tersebut.


" Aku tidak peduli kau Gaia atau mo ziyan. Aku hanya tahu bahwa gadis yang ku cintai adalah gadis yang saat ini ada di hadapanku. Dia yang akan menemaniku melindungi kerajaan ini. Dia yang akan menjadi satu-satunya permaisuri ku. Dia yang akan menjadi ibu dari anak-anak ku. Jadi jangan pernah berpikir untuk pergi dari sisiku. Karena sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan mu. Apa kau mengerti, Gaia. "

__ADS_1


Ziyan yang begitu tersentuh mendengar ungkapan hati Sima rui tak sanggup membendung air matanya lagi. Ia menangis di dalam pelukan Sima rui. Bersamaan dengan air matanya yang mengalir. Semua beban dan tekanan yang sebelumnya ia rasakan juga ikut sirna.


Pengalaman ziyan kehilangan keluarga sebelumnya, membuatnya trauma dan takut akan kehilangan keluarga lagi. Itulah kenapa yang membuat dirinya berpikir berlebihan. Ia takut tragedi yang dulu pernah ia alami akan kembali terulang.


__ADS_2