Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Pasar gelap lingguang


__ADS_3

Sima Dan mengenakan pakaian casualnya, Ia keluar dari kediamannya dengan sebuah senyum di bibirnya. Kediaman? Itu karena sima Dan tidak tinggal di istana seperti kedua kakaknya. Karena pekerjaannya di biro penyelidik. Ia secara khusus meminta izin ayahnya untuk tinggal di luar istana.


Membuat kepala pelayan kediamannya tak tahan untuk bertanya.


" Pangeran. Anda terlihat bahagia dan pakaianmu juga terlihat rapi. Apakah kau akan pergi berkencan?"


Sima Dan tahu bahwa pria tua yang menjadi kepala pelayannya ini sangat khawatir dengan masalah percintaannya. Karena Sima Dan belum pernah membawa wanita ke kediamannya meski itu hanya sekali. Ia juga tak punya teman wanita. Berbeda dengan kakaknya, Sima Yan yang selalu berganti wanita setiap malam. Atau Sima Rui yang meski dingin dengan wanita tapi setidaknya ia sudah bertunangan.


Sima Dan tersenyum, ia tak ingin mengecewakan pria tua ini. "Kau benar. Aku akan berkencan. Doakan aku semoga berhasil. Oke. "


Setelah mengatakannya Sima Dan segera pergi. Sementara kepala pelayan tersenyum bahagia mendengar kabar baik tersebut.


π™ΏπšŠπšŸπš’πš•πš’πšžπš— πš–πšŠπš—πš’πšžπšŽ,


Pertunjukan di paviliun ini masih saja menarik perhatian. Membuat tempat ini selalu tampak ramai. Sima Dan masuk dan segera menuju ke ruang pribadi yang ada di lantai dua. Ia membuka pintu dan melihat orang yang sejak tadi sedang menunggunya. Pasangan kencannya harinya. Siapa lagi kalau bukan Sima Rui, kakaknya.


"Kakak. Kau sudah lama menungguku? " Sapa Sima Dan dengan senyum cerah di wajahnya.


Sima Rui hanya menatap adiknya tersebut sambil mengetuk-ngetuk mejanya.


Sima Dan tahu kakaknya ini sedang tak ingin berbasa-basi. Jadi ia membuang wajah senyumnya dan mengubahnya menjadi ekspresi serius. Ia mengambil kursi di samping Sima Rui. Setelah duduk dan menyesap teh. Ia mengeluarkan sebuah buku dari bajunya.


"Ini adalah catatan yang aku ambil dari rumah pengawas lumbung nasional. "


Sima Rui membuka buku catatan tersebut. Di dalamnya terdapat catatan berbagai transaksi yang jumlahnya cukup besar. Sima Rui melipat keningnya.


"Aneh bukan. Bagaimana bisa seorang pejabat kecil seperti pengawas gudang memiliki transaksi yang begitu besar, dan semua transaksi berasal dari kota lingguang. "


"Pasar gelap lingguang. " ucap Sima Rui tiba-tiba.


"Kau bilang apa kak. "


" Ada pasar gelap di kota lingguang. Kemungkinan transaksi ini ada hubungannya dengan mereka. Aku harus menyelidikinya sendiri. "


"Kalau begitu kapan kau berangkat? "


"kemungkinan besok aku akan berangkat. "

__ADS_1


" Jadi kau akan memberitahu nona mo mengenai keberangkatanmu malam ini? " Tanya Sima Dan penasaran.


"kenapa aku harus memberitahunya? "


" Bukankah kalian bertunangan? Apakah kau tak akan memberitahunya. Kabarnya ia sedang sakit. Jadi mungkin saja ia sebenarnya sedang menunggu kau menjenguknya kak. "


Sima rui hanya memutar matanya. Seandainya saja adiknya ini tahu bahwa calon iparnya itu hanya pura-pura sakit. Bagaimana ia akan bereaksi. Baru sekitar dua hari yang lalu ia diam-diam masuk ke dalam kamarnya hanya untuk menjenguknya. Apakah ia harus menjenguknya lagi?


Lalu ia teringat dengan ucapan saat keduanya tak sengaja bertemu.


"Bukankah pasangan suami istri harus berkomunikasi tentang apapun yang terjadi pada mereka. Seorang suami harus terbuka dengan istrinya, begitu pula sebaliknya. Jadi aku harap kita bisa berkomunikasi dengan baik di masa depan."


Komunikasi ya...Baiklah, mungkin ia bisa berkunjung sekali lagi malam ini.


*****************


π™ΌπšŠπš•πšŠπš– πšπš’ πš‘πšŠπš•πšŠπš–πšŠπš— πš‹πšŠπš›πšŠπš πš”πšŽπšπš’πšŠπš–πšŠπš— πš–πš˜,


Ziyan terus menatap snowy. Ia sedang berpikir apakah dirinya harus mengajak snowy atau tidak ke kota lingguang.


Ziyan lupa. Kucing ini adalah pengawal yang disiapkan ibunya. Ziyan tertawa kecil. "Baiklah. Besok kau boleh ikut. Ayo kita sekarang tidur. "


"Apa kau tak akan memberitahu keberangkatanmu pada Sima Rui? Bagaimanapun ia sekarang adalah tunangannu. "


Tunangan ya...ia sudah bertunangan dengannya. Bahkan Sima Rui juga tahu rencana pura-pura sakitnya. Lalu bagaimana memberitahunya? ia bahkan tidak pernah ke istananya. Sudahlah, tulis saja surat untuknya. Besok akan ku minta seseorang mengantarnya.


Ziyan mengambil sebuah kertas lalu mulai menulis surat yang akan ia berikan pada Sima Rui. Saat tulisannya hampir selesai. Ia mendengar seseorang membuka jendelanya.


Sima Rui masuk dengan begitu mudah melalui jendela kamarnya. Apakah pria ini spesialis masuk lewat jendela? kenapa tidak masuk dengan lebih normal lewat pintu. Bukankah iya tahu aku masih belum tidur.


"Bisakah lain kali pangeran masuk dengan cara biasa? " Ziyan melipat kedua tangannya menunjukan bahwa ia keberatan dengan cara pria itu masuk.


Sima Rui hanya mengangguk.


"Kau sedang menulis apa? " Ia melihat ziyan sedang menulis sesuatu di mejanya. Tapi yang membuatnya penasaran justru bujan apa yang ia tulis, melainkan alat yang digunakannya untuk menulis.


"Ini apa? " Sima Rui memegang pena yang tadi ziyan gunakan.

__ADS_1


"Itu pena. Digunakan untuk menulis. Karena efek racun tiga tahun lalu. Membuat beberapa otot tanganku kaku. Jadi aku tak bisa menggunakan kuas. Apa kau ingin tahu bagaimana menggunakannya? " Ziyan mengambil kembali penanya dari tangan Sima Rui lalu memberikan contoh cara menggunakan penanya.


" Hebat. Sepertinya lebih cepat menulis dengan pena dari pada dengan kuas. "


"Tentu saja. "


Sima Rui melihat sekilas isi surat ziyan. Ia mengambil suratnya dan kemudian membacanya. "Ini... untukku? "


"Iya. Tadinya aku berniat memberikan surat ini untuk pangeran. Karena besok aku harus pergi ke suatu tempat. Jadi aku tak ada waktu untuk memberitahumu. Selain itu aku juga belum pernah pergi ke istana Rixi. Jadi sedikit tidak nyaman jika tiba-tiba aku berkunjung ke sana. "


Setelah ziyan mengatakannya. Sima Rui baru tersadar, bahwa memang benar tunangannya ini belum pernah pergi ke istananya. Mungkin setelah ia kembali dari kota lingguang, ia akan mengajaknya mengunjungi istananya.


" Kebetulan. Aku besok akan pergi juga. Karena itu hari ini aku sengaja datang untuk memberitahumu."


"Kebetulan sekali besok kita sama-sama pergi. Kau akan pergi ke mana pangeran? "


"Lingguang."


"................. " Wajah ziyan membeku.


Melihat dari ekspresi ziyan, Sima Rui sepertinya menangkap sebuah kebetulan lain. "Jangan bilang kau juga akan ke kota lingguang. Apakah racunnya juga ditemukan di sana. "


Ziyan mengangguk.


" Pasar gelap. "


Ziyan mengangguk lagi.


Ia tak menyangka akan mendapatkan kebetulan seperti ini dengan Sima Rui. Sama halnya dengan Sima Rui yang tak menyangka bahwa calon istrinya ini akan melakukan perjalanan juga ke lingguang.


Sima Rui melakukan perhitungan kecil di otaknya. Jika ia mengajak yaner pergi bersama, setidaknya ia bisa menjaganya. Tapi mungkin akan sedikit menghambat penyelidikannya. Tapi jika pergi secara terpisah. Ia takut fokusnya akan kembali buyar seperti sebelumnya. Hal itu justru membuatnya tak bisa melakukan penyelidikan.


"Kita bisa pergi bersama. "


Baru juga ziyan memikirkannya, Sima Rui sudah mengajaknya bersama. Merupakan hal bagus juga pergi dengannya. Keamanan selama perjalanan terjamin. Penginapan dan makan juga terjamin. Setidaknya ia bisa sedikit menghemat uangnya. Otak akutansi ziyan mulai menghitung untung ruginya. Ternyata lebih bayak untung dari pada rugi. Karena itu sudah di putuskan.


"Baiklah. Aku mau. "

__ADS_1


__ADS_2