
Tak hanya kepala keluarga Liu yang terkejut dengan fakta yang baru saja dikatakan Liu shishi. Namun para tetua yang lain juga sama. Mereka tak menyangka bahwa anggota keluarga yang mereka buang justru sebenarnya memiliki keberuntungan yang bisa membawa kemakmuran klan.
" Apa kau benar-benar mengatakan yang sebenarnya? " Kali ini nyonya tua Liu yang bertanya.
Liu shishi mengangguk yakin. Wajahnya terlihat berantakan karena air mata yang sejak tadi tak kunjung berhenti.
" Akhirnya keluarga kita bisa berjaya. " Senyum merekah di bibir keriput wanita tua itu. Akhirnya keluarganya bisa memiliki status dan menjalin hubungan dengan keluarga kerajaan. Tidak melulu mendompleng pada keluarga Hou.
" Nenek, jangan senang dulu. Bukankah Liu ru membenci kita. Jika tidak, ia tidak akan meminta pangeran Feng untuk menghukum shishi. " Ucap Liu Mei berusaha mematahkan harapan keluarga Liu. Ia tak ingin Liu ru kembali ke keluarga ini. Bagaimana pun juga ia sudah berhasil mengusir wanita itu. Tak akan ia biarkan usahanya berakhir sia-sia.
Seolah di jatuhkan dari langit, nyonya tua dan yang lainnya merasakan sakit karena harapan yang tiba-tiba harus pupus sebelum berkembang.
Wajah bahagia wanita tua Liu kembali sendu. " Apa tidak ada lagi yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya. " Sungguh, ia menyesali telah mengusir cucu perempuannya tersebut.
Sayangnya nasi sudah menjadi bubur. Menyesali juga tak akan merubah apapun.
Jadi dengan tidak tahu malu. Mereka mulai berpikir untuk meminta Liu ru kembali. Bagaimana pun juga mereka masih satu keluarga dan sebagai seorang anak, Liu ru masih harus berbakti pada mereka.
" Setelah ini cobalah kau kirim surat pada Liu ru. Sampaikan padanya bahwa kami semua di keluarga Liu minta maaf dan sangat merindukannya. Berharap agar ia bisa berkunjung ke kediaman ini lagi. " Bujuk nyonya tua Liu pada putra pertamanya, Liu mingchen. Sungguh hilang sudah urat malu mereka.
Andai saat ini Liu ru mendengar apa yang di katakan oleh nyonya tua Liu. Ia yakin seluruh bulu kuduknya akan langsung berdiri karena merinding. Bagaimana bisa mereka terlalu tidak tahu malu?
Merindukannya? hal mustahil yang Liu ru anggap tak akan pernah terjadi. Namun kini justru akan mereka gunakan untuk memaksanya kembali.
" Baik bu. Aku memang berencana mengirim surat padanya. Namun sebelum itu, aku harus menyelesaikan masalah ini dulu. " Liu mingchen menatap sengit keponakannya.
Liu shishi menggeleng. " Tidak paman. Tolong ampuni aku. Jangan hukum aku. Aku bersalah. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. " Mohon Liu shishi menyedihkan.
" Kakak, tolong ampuni putri ku. Bagaimana pun ia tidak sepenuhnya salah. Apa yang di ucapannya memang kenyataan. Anak Liu ru memang anak haram. Lalu apa yang salah dari hal itu? kenapa putri ku harus menderita. " Putra kedua Liu membela putrinya. Persetan dengan putra pangeran Feng. Baginya keselamatan putrinya yang terpenting.
" Diam kau! sekali lagi kau berbicara omong kosong. Maka bisa ku pastikan kau tidak akan bisa berbicara lagi. Lebih baik kau menjaga mulut mu. Belajarlah dari putri mu ini agar tidak asal bicara. Aku tidak peduli jika hanya keluarga mu yang di hukum, tapi jangan pernah kau seret seluruh keluarga Liu. " Pekik Liu mingchen.
Tak hanya dirinya yang marah, hampir seluruh tetua juga menyudutkannya. Mulai menumpahkan kata-kata kasar pada keduanya. Membuat orang tua shishi tak bisa berkata-kata lagi untuk sekedar membela putri mereka.
__ADS_1
Liu mingchen tentu tanpa alasan menolak permintaan adiknya itu. Putusan kaisar ada di tangannya. Pihak istana sudah memberikan wewenang pada keluarga Liu untuk menghukum sendiri Liu shishi. Jadi ia tidak ingin mengambil resiko dengan mengabaikan putusan tersebut. Tak apa mengorbankan satu anggota keluarga mereka dari pada harus membayar dengan seluruh keluarga Liu.
"Hentikan tangis mu shishi. Kau sendiri juga tahu, sebuah kejahatan jika menentang perintah Kaisar. Karena itu, lebih baik kau siapkan dirimu untuk menerima hukuman. Akan lebih menyakitkan jika pihak istana yang melakukannya. Kau tahu sendiri sekeras apa hukuman disiplin istana itu. " Setelah berkata kemudian Liu mingchen memanggil dua pelayan wanita.
" Bawa nona ketiga ke halaman belakang dan tampar dia sebanyak 100 kali. " Perintahnya seorang wanita paruh baya tambun salah satu kepala pelayan.
Wajah Liu shishi berubah pias. Membayangkan akan sesakit apa tamparan sebanyak itu. Belum lagi akibat hukuman itu. Ia yakin sekali bahwa itu akan merusak wajahnya.
Jadi dengan cepat shishi segera mengungkapkan penolakannya. Ia berlari ke arah pamannya dan berlutut memegang kakinya.
" Tidak paman. Tolong berikan hukuman lain. Jangan hukuman itu. Wajah ku bisa hancur jika menerima tamparan sebanyak itu. " Ia menggeleng dengan keras bersama tangisnya yang memilukan.
Sungguh ia tidak akan sanggup hidup lagi jika wajahnya hancur. Sebagai wanita tentu wajah adalah hal terpenting. Bagaimana bisa ia menikah dimasa depan jika wajahnya berubah jelek.
Liu mingchen tetap kukuh, dan memberikan instruksi pada pelayan untuk segera menyeret Liu shishi.
Hukuman itu bukan Liu mingchen yang menentukan. Tapi sudah tertulis jelas diperkamen istana.
Shishi berteriak dan meronta saat ia diseret paksa. Namun tak ada satu anggota keluarganya yang mau menolongnya. Kedua orang tuanya hanya bisa menangis tergugu melihat nasib putrinya saat ini.
Bahkan saat jeritan kesakitan shishi terdengar, mereka memilih untuk menutup mata dan telinga mereka.
Plakk
" AKHHH! AMPUN! "
Plakk
" AKHHH! "
Isak tangis dan juga rintihan Liu shishi yang keras akhirnya perlahan tak terdengar lagi. Hanya suara tamparan telapak tangan pada pipi shishi yang tersisa.
Wanita itu pingsan. Meski begitu tak menghentikan proses hukuman.
__ADS_1
Wajahnya bengkak seolah ratusan lebah baru saja menyengatnya.
" Ibu, aku tak ingin wanita murahan itu kembali. Ibu harus memikirkan cara agar dia kembali tersingkir. " Rengek Liu Mei pada ibunya.
" Berhenti berteriak. Apa kau ingin semua orang tahu perbuatan kita? " Geram nyonya besar Liu pada Liu Mei.
Awalnya ia adalah selir. Namun setelah ibu Liu ru yang saat itu merupakan istri sah meninggal. Tuan Liu menjadikannya sebagai istri sah dan membuatnya sebagai nyonya besar kediaman Liu.
Kemudian ia berbisik. " Kita biarkan saja Liu ru kembali. Saat itu tiba, kau bisa menggoda pangeran Feng dan menjadi salah satu selirnya. Barulah setelah itu kita singkirkan dia, dan kau bisa menjadi satu-satunya istri pangeran. "
Liu Mei tertarik dengan rencana ibunya tapi ia teringat pernikahan dengan keluarga Lu.
"Tapi bagaimana dengan keluarga Lu? "
" Apa menurutmu keluarga Lu lebih baik dari keluarga Sima? Jika kau bisa menjadi selir pangeran Feng. Tak hanya kau bisa membawa kejayaan bagi keluarga Liu. Tapi kau juga akan hidup nyaman dengan segala kemewahan di sana. "
Liu Mei mulai tergiur dengan iming-iming kemewahan hidup di istana. Jadi ia dengan cepat setuju dan melupakan pertunangannya dengan keluarga Lu. Pertunangan yang menjadi alasan utama ia menyingkirkan Liu ru.
********
Di istana,
Saat ini Sima rui sedang bermain weiqi bersama putranya, Sima Feng.
" Apa menurut mu hukuman pada wanita itu sudah cukup? Aku rasa tamparan itu hanya akan membuatnya bengkak. Tidak sampai merusak wajahnya. "
" Tentu saja itu tidak akan cukup. Itu tidak sebanding dengan penderitaan Liu ru selama ini. Ayah tenang saja, aku sudah menyuap tabib mereka dan mengirim salep palsu yang akan membuat wajahnya tidak hanya tidak sembuh tapi juga membuatnya semakin buruk. Aku yakin di masa depan tidak ada satu laki-laki pun dari keluarga terhormat yang akan menjadikannya istri sah. "
Tanpa keluarga Liu tahu, sebenarnya kejadian Liu ru dan Liu shishi sudah di rencanakan oleh Sima Feng. Ia hanya perlu menciptakan alasan untuk menghukum wanita itu. Karena itulah ia meminta A Fei untuk mengajak Liu ru berbelanja di ibu kota.
Tidak sulit baginya mencari tahu tentang keluarga Liu. Termasuk rencana Liu shishi pergi ke ibukota.
Dan itu berhasil. Tanpa perlu Ia membuat jebakan rumit, wanita itu membuat masalahnya sendiri.
__ADS_1