
Pagi hari, beberapa saat sebelumnya di penginapan.
" Kau terlambat. " Ketus sujin ketika membuka pintu penginapan yang diketuk xumu. Wanita yang ziyan lihat sedang berbicara dengan dua penculik bermasker itu tidak lain adalah sujin.
Xumu tersenyum seperti biasa dan langsung melenggang masuk. Menabrak bahu sujin, membuat wanita itu terdorong mundur.
" Aku mendapatkan dua orang tambahan. " Jawab xumu asal.
" Bagaimana bisa? " Tanya sujin. Kemudian ia kembali bicara. " Apa kau menculik mereka secara acak. "
" Jika buka karena keteledoran mu dan dua bawahan sial*n mu itu. Mereka tidak akan mengikuti dan membuat aksi kita semua terancam terbongkar. " Sarkas xumu menoyor kepala sujin, meski begitu ia masih menunjukan wajah dengan senyum. Ya senyum pria Psikopat.
Pria yang selalu menyembunyikan sifat psikopatnya di balik wajah senyum itu membuat sujin kehilangan kata-kata. Meski ia wanita arogan, namun jika di hadapkan dengan xumu, ia akan memilih untuk diam, tak membuat masalah dengannya.
"Lebih baik kita kembali. Sebelum pelelangan besok lusa di mulai. Aku juga akan melihat dua orang tambahan mu. " Ujar sujin memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
Xumu hanya mengangkat bahunya, lalu melenggang menuju ranjang untuk merebahkan tubuhnya. Sujin hanya bisa mengepalkan kedua tangannya atas sikap tak sopan xumu karena mengabaikannya.
Setelah cukup istirahat, xumu beserta sujin pergi ke tempat dimana mereka mengurung para korban penculikan. Sujin menyelusuri setiap sel. Matanya tiba-tiba menangkap sosok yang amat di bencinya. Merasa tak yakin, ia semakin mendekat ke arah pinggir sel. Matanya terus menatap lurus pada sosok ziyan. Dan ketika tepat di depan sel, mata kedua wanita itu bertemu.
" Kau xumu dan... Sujin. " Ucap ziyan yang sangat terkejut dengan keberadaan keduanya.
Salah satu sudut bibir sujin naik keatas mengejek situasi ziyan, wanita yang dibencinya.
" Aku pikir mataku salah melihat. Ternyata itu benar kau jal*ng. " Ejek sujin.
" Hahaha... Tanpa aku berusaha pun ternyata langit membantuku. Siapa yang akan mengira wanita terhormat dengan status tinggi seperti mu akan berada di sini. " Sarkas sujin puas.
" Kau mengenalnya? " Tanya xumu melihat sujin yang tampak puas saat melihat ziyan.
Sujin menoleh pada xumu. " Tentu saja. Jal*ng ini adalah wangfei pangeran rui. " Ucapnya menatap ziyan.
__ADS_1
Ungkapan sujin sontak membuat semua orang di tempat itu terkejut, tak terkecuali xumu. Pria itu tak menyangka bahwa wanita yang ditolongnya adalah seorang wangfei. ' Lalu apa yang dilakukannya di penginapan dengan seorang pria? apakah itu benar-benar kakaknya? Atau... ' Pikiran liar xumu mulai berputar-putar di kepalanya.
Xumu menyeringai mengejek ziyan. ' Ternyata ia hanya wanita murahan yang sedang berselingkuh dengan pria lain. Ck.. percuma status tinggi jika murahan. '
Xumu berpikir bahwa ziyan kabur dengan xiaoqi untuk selingkuh. Pengalaman masa kecilnya membuat mentalnya sakit. Ia selalu berpikir bahwa setiap wanita sama. Mereka murahan dan Jal*ng.
" Kalau begitu ikutkan dia dalam lelang dua hari lagi. Aku yakin mereka akan menyukai wanita milik sima rui ini dan berani menawar dengan harga tinggi. " Cetus xumu.
" Kau benar. " Jawab sujin.
Ziyan tetap diam. Sesungguhnya ia masih terkejut dengan dua sosok yang tidak ia sangka ternyata pelaku yang sebenarnya.
" Apakah kalian sudah selesai bicara? Jika sudah selesai maka pergilah. Tingkah kalian mengganggu mataku. " Cibir ziyan.
Sujin yang mendengar cibiran ziyan sontak melotot marah. " Apa kau bilang? Dasar wanita murahan, Jal*ng. " Teriaknya memegang jeruji besi.
Ziyan masih tampak santai. Ia menggeleng mendengar umpatan sujin. Ternyata benar tebakannya, sujin masihlah wanita dengan sumbu pendek yang mudah sekali tersulut emosi. Padahal ziyan hanya mengujinya. Ternyata wanita itu sama sekali tidak berubah.
Sujin semakin tersulut emosi. Kedua tangannya terkepal kuat dan matanya menatap ziyan penuh aura membunuh. Secara tak langsung ziyan telah merendahkannya. Dan kebenciannya pada ziyan semakin besar.
" AKAN KU BUNUH KAU! " teriak sujin.
" Buka pintunya! " serunya pada salah satu penjaga.
Penjaga yang mendengar perintah sujin segera mengeluarkan kunci hendak membuka pintu sel. Karena tak sabar, ziyan segera merampas kunci tersebut berniat membukanya sendiri.
" Apa yang kau lakukan? " Xumu menghentikan tangan sujin yang hendak memasukkan kunci.
" Minggir! Aku ingin membunuh wanita itu. " Hardik sujin menatap nyalang xumu.
Xumu yang mendengar umpatan sujin melepaskan tangannya lalu berkata, " Sujin sekali lagi aku tanya, apa yang sedang kau lakukan? " Tanya xumu lebih lembut dengan senyum di wajahnya.
__ADS_1
Ziyan yang melihat, bisa merasakan suatu bahaya dari balik senyum xumu. ' Pria ini sangat berbahaya. ' Batin ziyan.
Tubuh sujin membeku mendengar ucapan xumu. Ia tahu semakin pria itu tersenyum lebar, maka semakin berbahaya dia. Jadi begitu sujin melihat senyum xumu. Sujin yakin bahwa dirinya sudah menyinggung pria kejam itu.
" A-aku hanya ingin memberi pelajaran wanita itu. " Ucap sujin terbata.
Xumu menatap sujin tanpa langsung membalas ucapan wanita itu. Kemudian senyumnya kembali merekah. " Kalau begitu lakukan. Tapi aku tak ingin wanita itu mati. Dan... " Jeda xumu lalu berjalan mendekati sujin.
" Jika sampai wajahnya ada cacat sedikit saja. Maka aku tak akan segan-segan menguliti wajah mu juga. " xumu membelai pipi sujin dengan telunjuknya.
Kemudian kembali bicara. " Aku tidak peduli meski kau simpanan Bai Lijin sekalipun. Aku bisa berbuat kejam jika kau tak mengindahkan ucapan ku. "
Sujin mengangguk cepat. Sejujurnya ia takut sekali dengan ancaman xumu. Namun kebenciannya pada pria itu juga sama besarnya. Benar apa yang diucapkannya. Ia hanya simpanan ketua mereka, Bai Lijin. Dan bai Lijin, pria itu sangat menghormati xumu meski xumu adalah bawahannya. Hubungan yang aneh menurutnya.
Sujin terpaksa menjadi simpanan Bai Lijin setelah seluruh harta ayahnya di sita kerajaan. Ia diturunkan menjadi rakyat biasa. Hidup mewah yang selalu dilakoninya terpaksa ia tinggalkan. Sampai akhirnya dirinya bertemu dengan Lijin dan menjadi simpanannya.
Karena ia tak bisa menyentuh xumu. Maka sujin akan melampiaskan kebenciannya pada ziyan. Itulah yang dipikirkannya.
Dengan cepat sujin membuka pintu sel. Ia memerintahkan dua penjaga untuk menyeret ziyan ke hadapannya. Tanpa memberontak, Ziyan dengan sukarela mengikuti dua penjaga itu. Kedua penjaga itu pun mencengkeram kedua lengan ziyan.
" Sekarang apa yang ingin kau katakan. Apa kau masih bisa bermulut besar Hah?! " Sujin mencengkram dagu ziyan.
" Ayo katakan lagi apa yang tadi kau ucapkan. " Tantang sujin.
Ziyan tersenyum remeh, ia menatap sujin seolah merendahkan wanita itu. " Ucapan ku terlalu panjang. Tapi aku bisa membuatnya singkat, mengingat otak mu terlalu kecil untuk mengingatnya. "
Plakk!
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di pipi ziyan. Namun bukannya meringis kesakitan ia hanya menyeringai mengejek sujin.
" Mulut mu ternyata memang mulut jal*ng." Maki sujin. Kemudian menampar sekali lagi dan lagi.
__ADS_1
Tiga tamparan di dapat oleh ziyan. Dalam hati, wanita itu berjanji akan membalasnya dua kali lipat dari yang ia dapat.