
" Panggil saja aku Mo Guang. "
Setelah saling memperkenalkan diri. Akhirnya keduanya sepakat untuk berbagi kamar bersama.
Na li merentangkan tali lalu meletakkan kain diatasnya, menjadikannya sebagai tirai. Namun di mata A Guang itu tampak seperti kain jemuran yang ada di tempat cuci istana.
Dan sesuai kesepakatan, A Guang tidur di ranjang, sementara Na li tidur di lantai beralaskan selimut yang sangat tebal.
Tengah malam, A Guang tiba-tiba terbangun. Samar-samar ia mendengar suara seperti isak tangis. A Guang menoleh ke samping, tersadar jika asal suara berada di balik tirai didepannya.
' Na li sedang menangis? ' Tanyanya dalam hati.
Karena tertutup kain, A Guang tidak tahu apakah gadis itu benar-benar menangis atau sekedar bermimpi.
Perlahan A Guang bangkit dari tempat tidur. Dengan hati-hati melangkah mendekat dan membuka sedikit tirai.
A Guang melihat mata gadis itu masih terpejam namun masih ada jejak air mata. Terlihat jika Na li sedang bermimpi.
" Mimpi apa yang membuatnya sampai terisak? " Gumamnya pelan.
Kemudian ia kembali berbaring. Mencoba mengabaikan rasa penasarannya. Lebih baik ia tidak terlalu ingin tahu urusan gadis itu. Sudah cukup dirinya mengetahui fakta bahwa gadis itu menipu.
" Lebih baik aku tidur. Aku yakin besok akan menjadi hari yang cukup berat. "
*********
Pagi hari ini benar-benar hari yang cukup merepotkan bagi A Guang. Ia bangun kesiangan, dan Na li sama sekali tidak membangunkannya.
" Sial! kenapa dia tidak membangunkan ku. " Umpatnya di sela-sela berjalan menuju ruang makan akademi.
Jam makan pagi hampir berakhir. Alhasil hanya ada beberapa makanan yang tersisa. Beruntung dia bukan tipe pemilih. Karena itu, meski perdagingan sudah habis, ia tak masalah dengan persayuran. Ia akan mencoba menjadi biksu untuk pagi ini.
A Guang mengedarkan matanya, ia melihat A Hua yang sedang mengobrol dengan gadis lain.
" Jie.. " Panggil A Guang. Ia meletakkan piringnya tepat di samping gadis itu.
A Hua menyambut kedatangan keponakan tercintanya. " Kau terlambat? apa kau baru bangun? "
A Guang mengangguk. " Semalam aku tidak tidur karena suara berisik. " Adunya tidak semangat. Sembari menyuapkan nasinya ke dalam mulut.
A Guang melirik sekilas bibinya yang terlihat segar bugar.
" Tampaknya kau sedang bahagia jie. Sungguh sangat berbanding terbalik dengan ku. "
A Hua tersenyum penuh arti. " Itu karena mataku baru saja melihat sesuatu yang membuat ku bersemangat. "
A Guang tetap fokus ke makanannya sembari mendengar ocehan bibinya. A Hua juga mengenalkan gadis yang tadi mengobrol dengannya. Gadis yang menjadi teman sekamarnya. Shenshen, gadis itu terus mencuri pandang pada A Guang. Membuat ia cukup risih dah berharap segera pergi dari sana.
Tak jauh dari kursi mereka. Kelompok Jiang Jinfu terus memperhatikan meja A Hua.
" Lihatlah, anak ingusan itu terlihat akrab dengan Fu Hua. " Han dong membuka percakapan. Ia menatap tidak suka pada A Guang.
__ADS_1
" Bukankah itu hal wajar, mereka bersaudara. " Timpal Lu sheng mencoba berpikir positif. Ia berusaha agar Han dong tidak menyulut amarah Jinfu.
Dan Jinfu hanya diam menatap tajam pada A Guang.
Tapi sepertinya apa yang Lu sheng harapkan, berbeda dengan apa yang menjadi harapan Han dong. Ia memang dengan sengaja ingin membuat Jinfun membenci Mo Guang.
" Mereka bahkan tidak berbagi marga yang sama. Fu Hua bermarga Fu sedangkan Mo Guang bermarga Mo. Apakah aku harus menjelaskan pada mu sedetail ini perbedaannya. " Balas Han dong yang tidak satu pemikiran dengan lu sheng.
" Mungkin saja kan mereka sepupu dari pihak ibu. " Lu sheng masih tidak ingin kalah.
Dan pernyataan ini, sukses membuat Han dong tak bisa menemukan kalimat untuk menyangkalnya. Karena ia tahu kemungkinan itu ada.
' Lihat saja. Aku pasti akan membuat mu menderita. ' Han dong menatap tajam pada Mo Guang.
Jinfu yang terlanjur panas, memilih beranjak pergi meninggal kedua temannya tersebut.
" Lihatlah karena ucapan mu itu, jinfu marah. " Ucap lu sheng menyalahkan Han dong.
" Aku tidak bermaksud membuatnya marah. Aku hanya menyatakan apa yang ada di pikiran ku. Mo Guang sepertinya menyukai Fu Hua, karena itu ia menganggapnya saudara agar bisa mendekatinya. " Bohong Han dong.
Lu sheng mendengus kesal. " Kau lebih baik diam. Mulut mu itu justru membuat situasi semakin kacau. Bagaimana jika Jinfu sampai merundung Mo Guang? "
' Itulah yang ku inginkan, bodoh. Jinfu yang akan bergerak sementara aku cukup melihatnya saja. Lagi pula, aku yakin setelah ini jinfu akan bertindak hingga Mo Guang memilih sendiri untuk keluar dari akademi. ' Batin Han dong. Bibirnya diam-diam menyeringai licik.
" Lagipula jika Jinfu ingin merundungnya siapa yang berani melarangnya. " Balas Han dong acuh tak acuh. Menutupi niat sesungguhnya dari isi hatinya.
Tak jauh dari keduanya, duduk murid lain yang sedari tadi memasang telinganya pada percakapan lu sheng dan Han dong tersebut.
' Mo Guang. ' Satu nama yang sejak kemarin mendadak menjadi bagian dari kehidupannya di Akademi.
Rasa penasaran mendera, membuatnya kembali menajamkan telinganya.
Dari pembicaraan tersebut, na li bisa menangkap bahwa mereka tak menyukai Mo Guang. Na li dilema, apakah ia harus memberitahunya untuk berhati-hati?
' Tidak. Itu bukan urusan ku. ' Pikirnya.
Na li hanya menginginkan hidup damai di Akademi dan tak berniat membuat masalah apapun yang membuat penyamarannya terbongkar.
Mendapatkan logikanya kembali, na li memutuskan bangkit dan pergi. Lebih baik ia tak tahu lebih jauh lagi atau hatinya yang baik akan terus mendesaknya untuk terus ikut campur.
*******
Akhirnya tiba waktu bagi A Guang masuk ke dalam kelas.
" Perkenalkan, nama ku Yan zheng. Aku akan menjadi guru kalian. Jika kalian memiliki pertanyaan, silakan datang tanyakan padaku. " Terang Yan zheng mengenalkan dirinya.
Guru muda dan cukup tampan, itulah yang ada di benak A Guang. Bahkan usianya jauh di bawah pamannya, Mo Yifeng. Jadi muncul keraguan dari diri A Guang, apakah Yan zheng pantas menjadi gurunya?
Jadi tanpa sadar, A Guang mulai meremehkan Yan zheng.
" Guru, anda masih sangat muda dan juga tampan, namun anda sudah bisa mengajar di Akademi ini. Jika bukan karena kemampuan anda yang luar biasa, anda pasti tak mungkin berada di sini. Bukan begitu guru? " Tanya A Guang. Sekilas pertanyaan itu tampak seakan dirinya tengah memuji sang guru. Namun bagi mereka yang cerdas. Ada makna lain di balik pertanyaan itu. Ya, sebuah keraguan akan kemampuannya mengajar, dan menganggap hasil yang dicapainya adalah berkat ketampanannya.
__ADS_1
Yan zheng tersenyum, ia tidak membenarkan atau menyanggah pertanyaan A Guang. Dirinya hanya mengatakan. " Kau akan mengetahuinya saat kita mulai pembelajarannya. "
Kalimat sederhana, namun memiliki banyak makna. Dan bagi A Guan, Yan zheng seolah mengatakan padanya, tutup mulut mu dan lihatlah kemampuan ku nanti.
Tanggapan sederhana namun mampu memberikan sedikit nilai positif A Guang pada Yan zheng.
' Tidak buruk, Setidaknya guru muda itu memiliki IQ dan EQ yang baik. ' pikirnya.
Mereka mulai kelas dengan perkenalan singkat lalu langsung dengan pembelajaran serius. A Guang yang sebelumnya sudah mendapatkan pembelajar dari Mo yifeng terlihat melewati sesi belajar dengan sangat mudah. Baginya seperti mengulang kembali apa yang sudah ia pelajari sebelumnya. Namun jujur, penyampaian yang di lakukan oleh Yan Zheng jauh lebih mudah di pahami.
' Lumayan. ' satu kata di benak A Guang saat menilai Yan Zheng. Setidaknya penilaian itu meningkat dari sebelumnya tidak buruk menjadi lumayan.
" Baiklah. Kali ini cukup untuk sesi pembelajarannya. Setelah ini persiapkan kalian untuk pembelajaran berkuda dan juga memanah bersama guru yang lain. " Setelah mengatakan itu, yan zheng pergi. Namun sebelum benar-benar pergi, ia menatap A Guang.
Bagaikan ada aliran listrik di antara keduanya. A Guang bisa mengerti arti dari tatapan Yan Zheng yang mengatakan, ' gimana? apa kau puas dengan pembelajaran dari ku? '
Dan A Guang mengangkat satu sudut bibirnya sebagai tanggapan.
A Guang menghela napas lelah begitu sosok Yan zheng telah pergi. Namun sosok lain datang ke mejanya.
" Apa maksudmu bertanya seperti itu padanya? " Lirih A Hua. Tak ingin murid lain mendengar.
" Apa maksud mu ? " A Guang balik bertanya tak tahu dengan maksud ucapan bibinya tersebut. Bukan pura-pura tidak tahu.
" Apa kau pikir aku tidak tahu, kau tadi bermaksud merendahkan guru Yan zheng bukan? kau mungkin bisa menipu orang lain, tapi tidak dengan ku. " A Hua melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan menuntut.
A Guang kembali menghela napas. Ia pikir hal penting tapi ternyata, " Aku hanya berpikir, apakah ia lebih pintar dari paman Mo. Jika dia tidak lebih baik dari paman, bukankah hal sia-sia aku belajar dengannya. " Jawab A Guang tanpa beban.
Sementara A Hua menatap kesal sang keponakan. " Apa kau benar-benar tak tahu siapa Guru Yan zheng? " A Guang mengedikkan bahu sebagai respon.
A Hua memutar matanya.
" Dia itu juara pertama pada ujian kelulusan akademi swasta, dan juga juara pertama dalam ujian Kekaisaran. Dan kau tahu sendiri seberapa sulit ujian Kekaisaran itu. "
" Bukankah tak hanya dia yang pernah mendapatkan peringkat pertama dalam ujian Kekaisaran? Lalu apa yang membuatnya hebat? "
A Hua mendongak menunjukkan wajah sombong. " Tapi tidak dengan nilai sempurna. "
" Maksudmu? " Tanya A Guang.
" Ya, kau tidak salah dengar. Dia mendapatkan peringkat pertama dengan nilai sempurna. Bukankah itu keren? Muda, tampan dan berotak encer. Bibit yang berasal darinya pasti termasuk bibit unggul. " Puji A Hua.
Dan A Guang mulai menangkap sesuatu yang aneh di sini. A Hua yang tak pernah begitu memperhatikan laki-laki sampai mengenal betul Yan Zheng, dan juga ia bahkan memarahinya karena merendahkannya tadi.
" Bibi... " Panggilan A Guang saat suasana hatinya kesal atau mencurigai sesuatu. A Hua mendelik tak suka dengan panggilan itu.
" Apa kau menyukai guru Zheng? " Tanya A Guang hati-hati. Dan wajah A Hua seketika bersemu merah.
A Guang terkejut, kedua matanya hampir copot karena melihat respon bibinya yang menurutnya sangat memalukan.
" Jadi kau benar-benar menyukainya? ah, jangan bilang kau memaksaku ikut dengan mu ke Akademi ini demi mengejar pria itu? Oh bibi kau benar-benar gila. Aku yakin ayah dan juga kakek akan mengamuk begitu mendengar hal ini. " Tanya A Guang berondong dengan banyak pertanyaan.
__ADS_1