Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
pelajaran untuk Yuefeng


__ADS_3

Cangkir tambahan yang di minta ziyan pun datang. Saat dirinya hendak duduk, ia memperhatikan xun ai yang hendak duduk juga bersama mereka.


"Xun ai. Tempat dudukmu bukan disini. Kau duduk bersama xiaoqi dan yaoyao. Bukankah aku sudah memesan meja untuk kalian. Apakah kau berpikir aku sebagai nona pertama Keluarga Mo pantas duduk denganmu. "


Mendengar ucapan sarkas Ziyan membuat xun ai benar-benar emosi. Ia melirik yuefeng, namun dirinya tak memberikan tanggapan apapun. Meski begitu, jauh didalam hati yuefeng. Dirinya sedang mengutuk ziyan.


Meski kesal, dengan terpaksa Xun ai berpindah ke meja lain bersama dengan xiaoqi dan yaoyao.


Yuefeng memperhatikan ziyan, Ia merasa ada sedikit keanehan pada diri ziyan. Tidak biasanya ia bersikap kasar seperti tadi.


"Kakak. Tidak biasanya kau bersikap seperti itu. ah maaf. Bukan maksudku mengatakan kau kasar. Tapi... " Yuefeng masih menggunakan wajah polosnya untuk secara tidak langsung mengatakan bahwa ziyan sudah bersikap kasar.


Cih.. Bermuka tebal. Ziyan hanya memandang yuefeng, kemudian menuang tehnya dan menyesapnya. " meimei* bisa kau jelaskan bagian mana dari kalimatku yang kasar? sejak kapan peraturan di keluarga Mo yang memperbolehkan pelayan makan bersama dengan tuannya. Tak masalah jika kau melakukannya saat sedang berdua. Tapi sekarang kita ada di tempat umum. Apakah salah sebagai majikan mengingatkan kembali akan statusnya. " Lalu Ziyan mengarahkan pandangannya ke arah tusuk konde yuefeng, dengan senyum yang sejatinya untuk mengejek. Ziyan pun mulai membuka kembali suaranya. " Tusuk kondemu cantik. Apakah itu benda pesanan yang kau maksud. "


Yuefeng tersenyum lebar lalu menyentuh tusuk rambutnya. "Iya kak. Apakah aku cantik memakainya? "


Ziyan mengangguk. " Cantik, Dengan tusuk konde itu orang-orang akan berpikir bahwa kau lah nona besar keluarga Mo. Mereka tidak akan tahu bahwa kau dari keluarga cabang. "


Mendengar ucapan ziyan, membuat dada yuefeng serasa di tusuk pisau.


"Ah maaf. Aku tidak bermaksud merendahkanmu atau mengingatkan statusmu. Aku hanya merasa tusuk rambutmu sangat cantik."


Kekesalan yuefeng sudah berada di level waspada. Ingin sekali dirinya mencakar wajah gadis di depannya ini. 'Ziyan lihat saja. Akan kubuat kau menyesal sudah menghinaku.' Yuefeng mengambil cangkirnya dan mengosongkan isinya dalam sekali teguk. Ia harus menenangkan emosi terlebih dahulu.


Sementara Ziyan sangat puas dengan reaksi yuefeng. 'Kutuklah aku sepuas hatimu yuefeng.' Ia tahu bahwa saat ini, yuefeng pasti sedang mengutuknya didalam hati.


Xiaoqi hanya menggelengkan kepalanya mendengar semua percakapan nonanya, sementara yaoyao diam-diam memberikan standing applause untuk penampilan ziyan. Lain dengan xun ai yang menggertak giginya dan mencengkram kain bajunya.


Pertunjukan opera kini mencapai bagian akhir. Sedikit kelegaan dirasakan yuefeng, ia sangat ingin segera meninggalkan acara minum teh yang memuakkan ini.


Begitu pertunjukan selesai, Yuefeng segera berdiri. "Kakak. Aku baru ingat ada sesuatu yang harus aku lakukan di rumah. "

__ADS_1


"Benarkah? kalau begitu ayo kita kembali. Kebetulan aku juga sudah lelah. "


Mereka berlima berjalan ke arah pintu keluar. Saat yuefeng hendak melangkahkan kakinya keluar. Seorang kakek tua, entah siapa memegang salah satu kakinya. Dan bergelayut di kaki yuefeng.


Sontak yuefeng yang merasa jijik dengan itu, menendang kakek tersebut hingga tersungkur. Mengundang orang-orang sekitar yang awalnya cuek dengan sekitarnya menjadi memberikan perhatiannya.


"Laoban* urus orang ini. Apakah seorang pengemis diijinkan masuk kesini. " Yuefeng yang dari tadi sudah menahan emosinya karena ziyan. Kini hanya bisa melampiaskannya pada pemilik paviliun.


"Maaf nona Mo. Ini tidak akan terjadi lagi. Maaf maaf. " memberikan permintaan maafnya sambil membungkuk.


"Cucuku... berikan aku anggur, anggur.... " Kakek tua yang sudah bangkit itu kembali memegang kaki yuefeng sembari meminta anggur padanya.


"Pergi kau kakek tua... menjijikkan. " yuefeng berusaha keras melepaskan kakinya dari tangan si kakek.


Melihat kejadian itu, pemilik paviliun memerintahkan dua pelayannya untuk segera mengusir si kakek.


"Hentikan." Ziyan berjalan ke arah mereka dan membujuk si kakek untuk bangun. "Kakek bangunlah. Aku akan memberikan anggur untukmu."


"Laoban berikan kakek ini anggur. " Ziyan segera meminta pemilik paviliun untuk segera menyiapkan anggur untuknya.


Melihat apa yang sudah kakek tua itu lakukan, si pemilik paviliun enggan untuk menuruti permintaan ziyan. Ia berpikir bahwa lebih baik menyinggung gadis yang tak diketahui asal usulnya ini dari pada menyinggung nona kediaman Mo. Tapi pemikiran itu benar-benar salah, ia tidak tahu bahwa ziyan lah nona kediaman Mo yang sebenarnya.


"Maaf nona. Tapi kakek ini sudah menyinggung nona Mo. Jadi aku tidak bisa memberikannya anggur. "


Ziyan yang seketika mengerti maksud dari ucapan si pemilik, memberikan senyum sinisnya. Ia benar-benar harus memberikan Yuefeng dan orang-orang ini pelajaran.


Sementara yuefeng yang sejak tadi berdiri, diam-diam tersenyum mendengar penolakan si laoban pada ziyan.


"Nona Mo? Apakah yang kau maksud dia. " Ziyan menunjuk ke arah yuefeng, semua orang pun melihat mengikuti arah yang ditunjuk ziyan.


"Nona. Sebaiknya kau bersikap sopan." Pemilik paviliun mulai emosi melihat sikap ziyan.

__ADS_1


Tak ingin banyak bicara, Ziyan langsung mengeluarkan token dengan karakter Mo yang bertuliskan nona besar. "Aku Mo Ziyan, nona besar keluarga Mo. "


Mendengar apa yang dikatakan ziyan, sontak membuat semua orang terkejut. Semuanya berpikir jika dia nona besar, lantas siapa yang berdiri disana. Seketika pandangan semua orang beralih pada yuefeng.


"Dia hanya nona dari keluarga cabang. Apakah menurutmu statusnya lebih tinggi dariku. "


Si pemilik merasakan keringat dingin membasahi punggungnya. Ia menyesali dengan kebodohan yang baru saja dilakukannya. " Ti, tidak." ia menjawab dengan ragu-ragu.


"Kalau begitu berikan kakek ini anggur. "


Tanpa menunggu lama, si pemilik memerintahkan pelayannya untuk membawakan satu kendi besar anggur.


" Yaoyao. " Ziyan memberikan kode agar yaoyao membayar anggur tersebut. Namun sebelum yaoyao bertanya harga anggur itu. Pemilik paviliun segera menambahkan kalimatnya.


"Tidak nona, anda tidak perlu membayarnya. Ini sebagai permintaan maafku karena sudah bersikap tidak sopan denganmu. "


Jelas, Ziyan paham betul bahwa si Pemilik ini sedang mencoba menjilatnya. " Tidak perlu. Aku membeli, jadi aku harus membayarnya." Ziyan mengambil kantong uang dari tangan yaoyao. Kemudian mengambil beberapa tael perak dan memberikannya ke pemilik paviliun. "Apakah ini cukup? "


"Cukup nona, cukup. "


Setelah memberikan uangnya, ziyan kembali menghampiri kakek tua itu, yang kini sudah sibuk dengan kendi anggurnya. " Kakek, jangan minum terlalu banyak. Itu tidak baik untuk ginjalmu. Setelah menghabiskan anggurnya, kembalilah ke rumah. Keluargamu pasti sedang khawatir. "


Kakek tua yang mendengar ucapan ziyan mengangguk dan tersenyum lebar.


Ziyan melangkah keluar dan ketika melewati yuefeng. "Meimei, apakah kau tidak ingin pulang juga? "


"Ah tidak kak. Aku juga akan pulang. " Dengan canggung yuefeng melangkah menyusul ziyan. Amarahnya kini sudah berubah seperti gunung yang siap meletus kapan saja. Ziyan sudah mempermalukannya di depan umum. Kini semua orang akan menyebutnya nona keluarga cabang, bukan nona Mo lagi.


Ia mencengkram bajunya, sepertinya ia harus segera menjalankan rencananya.


*************

__ADS_1


Laoban : Biasa digunakan untuk memanggil penjual atau pemilik toko.


__ADS_2