
Berkat jaringan informasi Heilong, tidak membutuhkan waktu lama untuk bingjie menggali informasi tentang mereka. Saat malam, semua informasi tersebut sudah ada di meja ziyan.
Ziyan membaca informasi yang baru saja di berikan bingjie padanya. Ia tercengang dengan beberapa fakta yang baru saja diketahuinya.
" Apakah pasangan Hu ini adalah orang tua kandung anak itu? kenapa mereka tega sekali melakukannya. " Tanya ziyan setelah mengetahui fakta bahwa anak yang meninggal itu semasa hidup kerap mendapat kekerasan fisik dari kedua orang yang diketahui sebagai orang tuanya. Bahkan tak hanya kekerasan fisik, anak itu juga mendapatkan eksploitasi.
" Keduanya orang tua kandung. Sang suami memiliki pekerjaan yang tak pasti. Dan lebih parahnya lagi diketahui keduanya memiliki kebiasaan judi dan dari kabar terbaru mereka memiliki hutang yang cukup besar di shugua. Demi membayar hutang mereka, anak itu dijadikan sebagai jaminan dan pada akhirnya dipaksa bekerja di tempat itu tanpa mendapatkan upah. " Jelas bingjie.
Kemudian ia kembali melanjutkan, " Jadi ada kemungkinan, insiden tersebut ada hubungannya dengan shugua. Selain mereka yang memiliki hubungan dengan shugua, tapi juga karena mereka tidak hanya sekali mengirim orang untuk menyusup ke dalam chuntian. "
Mendengar penjelasan bingjie membuat hati ziyan sakit. Ia sangat menyayangkan orang tua yang tega menyiksa darah daging mereka sendiri bahkan menjadikannya budak. Meski perbudakan tidak dilarang, namun tidak sedikit orang yang mengecamnya. Karena itulah ia dan sima rui bertekad menghapus sistem perbudakan yang sudah mendarah daging ini.
" Besok mereka akan datang lagi bukan? " Sebuah ide muncul di kepala wanita itu.
Bingjie mengangguk. " Mereka akan kembali dengan membawa massa lebih banyak. "
" Kalau begitu kau bawa orang lagi agar menambah jumlah massa. Semakin banyak semakin bagus. Lalu tetap awasi pergerakan mereka, jangan biarkan mereka melenyapkan mayat anak itu. Aku membutuhkannya besok. "
Bingjie tercengang mendengar perintah ziyan. Bukankah semakin banyak orang akan semakin sulit untuk menenangkan mereka, pikirnya. Namun ia tak tahu bahwa kejutan akan menyambut para pendemo esok hari.
Binjie tentu tidak menyuarakan isi pikirannya. Ia hanya mengangguk sebagai tanggapan. Lalu ia berbalik untuk pergi. Namun segera langkahnya dihentikan oleh ziyan. " Tunggu! "
Kemudian ziyan kembali berbicara. " Satu lagi, minta wenran menemui ku. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya. "
Binjie kembali mengangguk. Ziyan kembali sibuk dengan kertas yang ada di tangannya. Namun konsentrasinya terganggu karena seseorang yang masih berdiri di depannya. Binjie masih tak bergeming.
" Kenapa kau masih berdiri di sini? " Ziyan bertanya dengan kening mengerut.
Pria itu menjawab dengan polosnya, " Apakah tidak ada lagi perintah anda nona? "
__ADS_1
' Oh astaga. ' Ziyan hanya bisa membatin mendengar pertanyaan bingjie.
" Tidak ada. Hanya itu. " Jawabnya singkat dan padat.
*********
Keesokan harinya, kelompok yang kemarin membuat ricuh datang kembali. Dan sesuai dengan laporan bingjie, tuan Hu datang dengan membawa massa yang lebih banyak.
" Hei kalian keluarlah. Berikan tanggung jawab kalian. " Pak tua Hu mulai berseru. " Aku ingin keadilan untuk istri dan anakku yang telah meninggal. "
" Benar. Jangan kalian bersembunyi. Lihatlah. Anak dan ibu yang menjadi korban kalian. "
" Dasar pengecut. Jika kalian tidak keluar maka akan kami hancurkan tempat ini. "
" Keluar! keluar! keluar! " Seru bersamaan kelompok tersebut.
Hanya kelompok pak tua Hu yang istri dan anaknya menjadi korban yang berbicara. Sedangkan massa yang hadir menonton dengan antusias bak menunggu pertunjukan panggung opera.
Seorang pria muda keluar, pria itu tak lain wenran. Ziyan sengaja memintanya menemui kelompok tersebut. Bukan karena ziyan pengecut, namun karena menurutnya masalah ini bukanlah masalah besar yang mengharuskan dirinya turun tangan. Hampir semua orang yang mengenalnya, juga mengenal siapa wenran, yang merupakan tangan kanannya. Jadi kehadiran wenran sama dengan kehadiran dirinya.
Tuan Hu yang melihat bukan bos zi yang menemui mereka marah. Ia pun meneriaki wenran. " Hah! Siapa kau. Kau bukan bos pemilik restauran ini. "
" Kami hanya ingin dia. Ayo suruh dia keluar dan selesaikan masalah ini. " Sambungnya.
Wenran hanya tersenyum sinis menanggapi pria itu. " Bertemu denganku saja itu sudah suatu hal yang besar. Apa yang membuatmu pantas untuk bertemu dengan bos kami. Bahkan pemilik usaha yang bekerja sama dengan kami pun belum tentu bisa bertemu dengannya. Sementara kau... " Wenran mencibir penampilan pria itu dan tentu saja tindakan itu membuat pria itu semakin tersulut amarah.
" Sialan! Beraninya kau menghinaku setelah apa yang restauran mu lakukan. Jika bos mu tidak mau menemui kami, maka jangan salahkan kami melaporkan hal ini pada petugas. " Ancam pria itu.
Mendengar ancaman tuan Hu, bukannya takut wenran justru tetap tenang. " Silakan kau laporkan. Justru kau seharusnya melakukan hal itu sejak kemarin. Bukan malah membuat keributan di sini. Mari kita lihat bagaimana petugas akan bertindak. "
__ADS_1
Wajah pria itu berubah kaku saat mendengar ucapan wenran. Ia tidak berharap wenran akan dengan lapang menerima ancamannya tersebut. Ia berpikir bahwa setidaknya ancamannya itu akan memberikan sedikit tekanan. Tapi nyatanya ia salah besar.
Pria itu masih diam, sedangkan salah satu temannya kini membantunya bicara. " Kami akan melapor, tapi kami masih berharap kalian bertanggung jawab. Jadi dengan berbaik hati kami memilih mencari kalian dari pada membawanya ke pengadilan. Tapi kami malah di perlakukan seperti ini. Apakah ini bentuk tanggung jawab kalian. " Pria itu memasang wajah terluka seolah mendapat perlakuan buruk dari wenran.
Hal itu membuat beberapa massa yang menonton mulai berkomentar.
Mendengar alasan yang baru saja di ucapkan rekan tuan Hu, wenran tak tahan untuk tidak tertawa. Ia terbahak dan kemudian kembali berbicara. " Kalian bilang kalian berbaik hati pada kami. Maaf, kami tidak butuh kebaikan hati kalian, yang kami inginkan adalah membongkar kebohongan kalian. Karena itu silakan kalian laporkan masalah ini pada petugas. Dan setelah itu kita lihat siapa yang bersalah. Jika kami terbukti bersalah, maka dengan senang hati kami siap bertanggung jawab dan membayar ganti rugi. "
Karena kelompok itu masih diam dan hanya bertukar pandang, wenran melanjutkan. " Baik. Karena dari kalian tidak ada yang ingin melaporkan masalah ini. Maka pihak kami yang akan melaporkan. "
" Tidak perlu! Baik. Kami tidak perlu bertemu bos kalian. Cukup kau saja. Jadi bagaimana kalian akan bertanggung jawab. Putra tuan Hu meninggal, dan istrinya di rumah masih terbaring lemas. "
Ziyan masih mengawasi sejak tadi. Ia melihat rekan pak tua Hu yang terus bicara. “ Sampaikan pesan ku pada bingjie, agar mengawasi pria itu. " Perintah ziyan pada xiaoqi yang saat ini bertugas menjadi kusir.
Xiaoqi segera pergi menjalankan perintah ziyan, sedangkan gadis itu kembali menonton dengan sekotak kuaci di tangannya.
Alis wenran terangkat. Sebuah seringai muncul di wajahnya. " Oh aku minta maaf. Tapi kami sudah melaporkan hal ini pada petugas. Mari kita tunggu petugas datang. "
"Ka-kau... " Geram rekan tuan Hu. " Sejak kapan? "
" Sebenarnya sebelum kalian datang kami sudah melaporkan masalah ini pada mereka. Jadi kalian bisa tenang karena sebentar lagi kebenaran akan terungkap. Bukankah kalian seharusnya senang. "
Dan secara kebetulan saat pria itu ingin kembali berdebat. Petugas yang sejak tadi di tunggu wenran datang. Dari sudut mata wenran, terlihat beberapa wajah di kelompok tuan Hu mulai pucat.
********
Catatan author :
Tolong tinggalkan jejak like, komen, atau juga vote ya..buat booster author ditengah kesibukan di RL...
__ADS_1
makasih...