
Hari ini ziyan melakukan inspeksi rutinnya pada beberapa tempat usahanya. Bukan sebagai bos zi melainkan sebagai pelanggan biasa. Tepat ketika ia mengunjungi salon miliknya, ia mendengar beberapa gosip yang sedang hangat di bicarakan.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa wanita adalah penyebar rumor dalam masyarakat, dan salon menjadi salah satu tempat paling tepat untuk mendengarkannya.
" Apa kalian tahu, petugas penyidik sedang mencari pelaku kasus penculikan yang terjadi akhir-akhir ini. Kabarnya pelakunya memiliki fisik yang aneh. Rambutnya emas dan bermata biru. ".
" Benarkah? adakah manusia seperti itu? " Sahut wanita yang lain.
" Tentu saja ada. Terakhir terlihat ada di penginapan sebelah timur ibu kota. Bahkan pelayan yang melayani kamar itu di temukan pingsan sebelum orang itu hilang. "
" Itu mengerikan sekali. Apakah ia akan kembali menculik seseorang? "
" Aku jadi takut untuk keluar seorang diri. "
Ziyan mengerutkan kening ketika menangkap kalimat 'berambut emas dan bermata biru'. Ia sangat yakin bahwa itu arthur.
' Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia menjadi buronan petugas penyidik? Apakah ini alasannya kenapa beberapa hari ini ia tidak datang menemuinya. ' Pikir ziyan.
Ziyan gegas meninggalkan tempat itu dan langsung memacu kereta kudanya.
Ditengah jalan, ziyan bisa melihat beberapa kali poster yang menempel di papan berita kota. Tempat dimana dewan penyidik menempelkan gambar orang yang sedang di carinya. Dan kini ia semakin yakin bahwa itu Arthur saat melihat lukisan wajah di papan tersebut.
" Xiaoqi, kita ke markas heilong. " Titah ziyan.
Kebetulan ia hanya pergi dengan xiaoqi hari ini, jadi ziyan bisa langsung menuju markas heilong. Ia akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan untuk itu ia harus menemukan Arthur terlebih dulu.
__ADS_1
Butuh dua hari untuk ziyan menemukan Arthur. Salah satu anak buahnya menemukan pria itu di sebuah pondok kecil yang terbengkalai tak jauh dari kota. Tanpa membuang waktu, ziyan segera menuju ke tempat tersebut.
BRAKK
Pintu terbuka kasar dan ziyan langsung masuk. Arthur dan wang yi yang awalnya bersembunyi langsung menunjukkan diri mereka begitu mengetahui siapa yang datang.
" Sebenarnya apa yang terjadi dengan mu arthur? kenapa kau menjadi buronan? " Tanya ziyan begitu bertemu dengan Arthur. Tak ada waktu baginya untuk berbicara omong kosong menanyakan kabar atau basa basi lainnya.
" Bagaimana kau bisa menemukan ku? " Tanya Arthur heran.
" Bukan itu poin pertanyaan ku Arthur. " Kesal ziyan. Apakah Arthur tak tahu bahwa ia mengkhawatirkannya. Tapi dari yang ziyan lihat tampaknya pria itu baik-baik saja.
" Maaf. Aku hanya heran bagaimana kau bisa menemukan ku. " lalu menghela napas untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
" Saat di penginapan, salah satu pelayan melihat penampilanku. Aku dan wang yi kabur. Dan saat tiba di tepi hutan, aku melihat seorang pemuda yang terluka. Aku menghampirinya, ku lihat ada belati di dadanya. Aku ingat dengan obat luka yang kau berikan. Dan untuk mengobati nya, aku harus mencabut belati tersebut. Naas saat aku melakukan tindakan itu, ada sekelompok pemburu yang melihat. Mereka mengira bahwa aku adalah pembunuh yang sedang mengeksekusi mangsanya. Jadi tanpa pikir panjang aku justru melarikan diri. Dan siapa yang menduga bahwa pemuda itu salah satu korban penculikan. " Jelas arthur.
" Dengan penampilan ku saat itu apa menurut mu mereka akan mendengarkan ucapan ku? "
Ziyan bungkam. Ia tahu bahwa percuma menjelaskan pada orang yang mencurigai kita.
" Lalu bagaimana dengan wang yi? kenapa hanya kau yang masuk daftar pencarian? " ziyan menatap wang yi yang sejak tadi duduk di pojokan dalam diam. Seolah sedang berkamuflase menjadi udara.
" Saat itu ia sedang buang air. "
Ziyan berdeham. Alasan yang di katakan Arthur membuatnya canggung.
__ADS_1
Setelah mendengar penjelasan Arthur, ia akhirnya paham bahwa telah terjadi kesalahpahaman. Namun yang tak ia mengerti, apa yang membuat pihak penyidik begitu yakin bahwa Arthur lah pelakunya. Bukankah terlalu cepat mereka mengambil kesimpulan.
Ziyan kembali ke kediamannya. Begitu tiba di kamarnya, sima rui tengah menunggu dirinya.
" Kau sudah kembali? " Ziyan tersenyum lalu menghampiri Sima rui dan mencium pipinya.
" Bersikap manis. Apa ada yang kau sembunyikan istriku? " Sima rui tahu bahwa istrinya sedang mencoba merayunya.
Ziyan terkekeh. " Ucapan mu sungguh sangat kejam. Tapi sayangnya aku tidak memiliki hal yang ingin ku sembunyikan. Justru aku ingin membaginya padamu. "
Sima rui mengangkat satu alisnya. " Katakan. "
Ziyan duduk di samping Sima rui dan mulai menceritakan pertemuannya dengan Arthur. Ia juga menceritakan perihal pria itu yang kini menjadi buronan petugas penyidik.
" Jadi apakah kau punya solusi untuk Arthur suamiku. " Tanya ziyan ragu. Ia takut sima rui akan marah atau cemburu karena ia menemui Arthur tanpa memberitahu dirinya terlebih dulu.
Sima rui menatap lekat istrinya. Sebenarnya Sima rui sudah lebih dulu mengetahui semua yang dilakukan istrinya dan Arthur. Penjaga bayangan yang selalu memantau ziyan sudah melaporkan semua sebelum mereka bertemu. Jadi ia tidak terkejut ketika ziyan memberitahunya sekarang.
Melihat Sima rui tampak biasa, bahkan terkesan begitu tenang. Sama sekali tidak terlihat cemburu. Membuat ziyan curiga.
" Kau tidak marah aku bertemu dengan Arthur? "
Sima rui menghela napas. " Kau tahu aku tidak akan bisa marah padamu. Tentu aku cemburu kau diam-diam bertemu dengannya. Tapi aku tahu kau hanya ingin menolongnya. Biar bagaimana pun juga, pria itu pernah menolong mu dan aku berhutang budi padanya. Jika tak ada dia, mungkin kita tidak akan pernah bertemu dan kau tidak akan menjadi istriku. "
" Aku akan membantu mu menolongnya. Anggap ini sebagai pembayaran hutang budi. Jadi setelah ini kedudukan kalian impas dan tidak ada alasan untuk tidak mengusirnya kelak ketika datang kemari. " Sambungnya.
__ADS_1
Ingin sekali Sima rui mengusir Arthur dan melarangnya datang ke kediamannya. Hanya saja saat itu terkendala istrinya yang memiliki hutang budi. Jadi Sima rui menunggu waktu yang tepat dan saat inilah waktu untuk membayar hutang sang istri.
' Setelah ini tak akan ku biarkan ia mendekati istriku lagi. ' monolog Sima rui.