
Liu ru bangun sembari memijat kepalanya yang berdenyut sakit akibat mabuk. Alasan utama kenapa ia membenci arak adalah karena hal ini. Rasa pusing yang membuatnya tak nyaman seharian nanti.
Masih setengah sadar ia menurunkan kakinya. Namun sesaat sebelum kakinya menyentuh lantai, tubuhnya tiba-tiba membeku saat melihat kaki putihnya tanpa sehelai benang pun. Masih dengan terkejut, ia kemudian melihat kebawah tubuhnya yang ternyata dalam kondisi hanya mengenakan pakaian dalam.
Bola matanya bergetar karena terkejut. Reflek, ia menutup mulutnya agar tak berteriak.
Ia menoleh ke sisi dalam ranjangnya. Dimana seorang pria tengah tertidur miring menatap tak berdosa padanya.
" Astaga! apa yang kau lakukan di sini? bagaimana bisa kau menerobos masuk dan melakukan ini pada ku. " Pekik Liu ru pada Sima Feng yang sudah bangun sejak tadi. Pria itu membuka matanya saat merasakan gerakan wanita yang berada di sampingnya.
Ia segera membenarkan selimutnya agar menutupi seluruh tubuhnya.
Sementara Sima Feng masih menatapnya datar.
" Kenapa kau hanya diam? Aku bertanya pada mu pangeran. Tidak bisakah kau alihkan terlebih dulu pandangan mu. Aku tahu diriku cantik dan kau tak sanggup menahannya hingga kejadian ini kembali terulang. Tapi aku minta tolong pada mu Yang mulia. Bisakah kau menunggu sampai kita menikah. Aku tak ingin Xiao Yi mendapatkan contoh buruk dari ayahnya. " Panjang sekali Liu ru berbicara. Sama sekali tak ingat apa yang ia lakukan semalam.
" Sudah selesai? Jika kau masih belum selesai berbicara, silakan lanjutkan. Aku akan menunggu sampai kau selesai. "
Mulut Liu ru mencebik. " Tidak. Aku sudah selesai. "
Satu sudut Sima Feng naik. Seolah sedang mengejek wanita di depannya. Liu ru yang melihatnya semakin kesal membuat wajahnya semakin cemberut.
" Apakah kau sudah lupa bahwa kita berdua sudah menikah. Perlukah aku ingatkan kembali apa yang terjadi tadi malam. "
Kepala Liu ru mendadak dipenuhi adegan pernikahannya kemarin, juga samar-samar ingatan dimana ia mulai minum hingga akhirnya mabuk.
Ah malu sekali Liu ru. Ingin sekali ia mengubur wajahnya saat ini juga di bantal.
__ADS_1
" Hehehe aku lupa. "
Demi menutupi rasa malunya, Liu ru kembali berkata. " Tapi tetap saja, tidak seharusnya kau melakukannya di saat aku tak sadarkan diri. Kegiatan itu harus di lakukan ketika kita berdua sama-sama setuju. "
Sima Feng mengerutkan kening tak mengerti. " Apa maksud mu? "
Kenapa pria ini masih bertingkah polos setelah melakukannya pada ku bahkan tanpa persetujuan ku. Meski mereka sudah resmi menjadi suami istri tetap saja ia seharusnya meminta persetujuan ku, batin Liu ru.
" Berhenti menatap ku seolah aku adalah predator yang baru saja menyantap mangsa yang tak berdaya. " Sima Feng melihat tatapan aneh Liu ru.
Karena pria yang baru kemarin menjadi suami ini masih tak paham juga. Akhirnya Liu ru menunjukkan apa yang ia maksud dengan amat terus terang.
Ia membuka selimut yang menutup tubuhnya. Terpampanglah tubuh Liu ru yang hanya menggunakan pakaian dalam.
" Apa kau masih tak paham juga. Semalam bukankah kita baru saja melakukan kegiatan suami istri. Kau memanfaatkan keadaan ku di saat aku tak berdaya. "
Hah?! kali ini Sima Feng yang tercengang. Jadi sejak tadi istri kecilnya ini mengira bahwa mereka sudah menghabiskan malam panas.
" Jangan tertawa. " Kesal Liu ru melihat Sima Feng justru menertawakannya.
" Maaf. Hanya saja kau sangat lucu. Aku memuji kepala mu yang bisa menghasilkan imajinasi itu. "
" Apa maksud mu? " Liu ru memandang Sima Feng tak mengerti.
Sima Feng masih terbahak setelah berhenti ia kembali berkata. " Semalam kau mabuk. Setelah berbicara omong kosong kau muntah dan membasahi seluruh tubuh mu. "
" Tak mungkin kan aku memanggil pelayan disaat malam pengantin kita. Karena itu aku melepaskan pakaian mu. "
__ADS_1
Liu ru paham kenapa Sima Feng tak memanggil pelayan. Jika kabar bahwa ia mabuk dan tak bisa melayani suaminya di malam pengantin mereka, Itu akan menjadi aib baginya.
Setelah penjelasan tersebut, Liu ru yang terlanjur salah paham merasa semakin malu. Telah menuduhnya seolah pria itu adalah predator lapar yang hanya tahu makan tanpa memikirkan perasaan mangsanya.
" Maaf, aku telah salah paham. " Liu ru menunduk menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena malu.
" Tak apa. Tapi bukankah kau sangat kejam. Karena telah menuduh ku dan hanya meminta maaf tanpa memberikan kompensasi. "
" Kompensasi apa yang kau inginkan? kita ini suami istri. Bukankah akan sangat kejam jika kau meminta uang padaku. " Terbiasa hidup susah membuat Liu ru selalu berpikir apapun mengenai uang.
" Aku sudah kaya. Aku tidak memerlukan uang mu. " Santai sekali Sima Feng menjawabnya.
" Lalu? "
" Ini. " Sima Feng menyentuh bibir merah Liu ru. Jujur sejak ia membuka matanya tadi, pandangannya tak teralihkan dari bibir ini.
Bibir merahnya seolah terus menggodanya, memintanya untuk segera menyesapnya.
Dan tanpa aba-aba Sima Feng segera mendaratkan bibirnya, menyesap, *******, dan bahkan memasukkan lidahnya ke dalam. Pria itu berubah menjadi vacum hidup yang menyedot bibir Liu ru tanpa ampun.
Hingga akhirnya ciuman itu berakhir dan berhasil membuat bibir wanita itu bengkak.
Wajah Sima Feng terlihat puas, sangat kontras dengan wajah cemberut Liu ru.
" Kau... " Liu ru ingin memaki pria di depannya namun napasnya masih terengah-engah.
" Jangan marah. Aku hanya mencuri satu ciuman mu. Lagi pula kita adalah pasangan suami istri. Akan aneh jika kau keluar dan pelayan melihat penampilan mu yang baik-baik saja. Mereka akan berpikir bahwa tak terjadi apapun dengan kita semalam dan itu buruk untuk reputasi mu. " Jelas Sima Feng terlihat seolah dirinya melakukannya demi Liu ru. Namun kenyataannya itu hanya bentuk pembelaan dirinya dari tindakan cabul yang baru saja ia lakukan.
__ADS_1
Liu ru berdecak, kemudian dengan kesal berkata. " Kau bukan mencuri satu ciuman ku. Tapi kau baru saja menjarahnya. "
Liu ru turun dari ranjang meninggalkan Sima Feng yang tertawa puas. Pria itu memiliki kesenangan baru saat ini, yaitu membuat istrinya kesal. Entah kenapa hal itu membuat perasaannya nyaman.