
" Bagaimana laporan pengintaian beberapa hari ini. " Tanya Sima Feng pada Ling He.
Ling He membuka catatan ditangannya dan mulai membacanya persis seperti seorang pembawa berita.
" Di laporkan bahwa Jingu sudah siuman. Beberapa hari yang lalu putra mahkota Nan juga datang dan kembali dua hari kemudian. Ia sebenarnya sedang dalam perjalanan ke Kekaisaran Shu untuk melakukan negoisasi perihal kerjasama mereka yang diputus sepihak oleh pihak Shu. Namun entah untuk alasan apa, di tengah jalan ia menemui Jingu. "
Kening Sima Feng mengernyit. " Putra mahkota Nan... " Gumamnya pelan. Karena permusuhan dengan negara Nan, sedikit banyak ia mengatahui mengenai putra mahkota Nan yang memiliki sifat bertolak belakang dengan Kaisar Nan saat ini.
' Untuk apa dia berkunjung ditengah tugasnya? ' pikir Sima Feng.
" Lalu bagaimana dengan rumor yang sebelumnya ku minta kau cari tahu? " Lagi, Sima Feng bertanya.
Ling He kembali memaparkan hasil temuannya. " Semua itu ternyata memang benar Yang mulia. Karena perselisihan internal kekaisaran Nan, berdampak pada melemahnya kekuatan militer mereka. Beberapa pejabat yang berpihak pada rakyat menuntut mundurnya kaisar saat ini. Hal itu memicu kemarahan kaisar Nan yang kemudian diam-diam membunuh satu persatu para penentangnya. "
" Terlebih setelah kekaisaran kita dan Shu menghentikan kerjasama. Secara otomatis, Mereka hanya bisa bergantung pada kekaisaran Xi . Tapi karena tidak ingin menyinggung dua Kekaisaran yang lain. Kekaisaran Xi yang sebelumnya memilih bersikap netral juga perlahan mulai melakukan penghentian beberapa kerjasama meski tidak sepenuhnya. "
Sima Feng masih mendengarkan penjelasan Ling He. Semuanya berjalan sesuai prediksi ayahnya.
" Yang mulia, Kekaisaran Nan sedang bermasalah. Kenapa kita tidak menyerangnya saat ini juga. Akan sangat mudah bagi kita mengalahkan mereka. " Antusias sekali Ling He.
Sayangnya, hal tersebut di tanggapi Sima Feng dengan santai.
" Tidak perlu terlalu terburu-buru. Lakukan semua sesuai rencana. Setelah ini segera cari tahu apapun mengenai putra mahkota Nan. Intuisi ku mengatakan ada sesuatu dengannya. Aku yakin kunjungannya ke tempat Jingu tidak sederhana kelihatannya. "
Setelah mendengarkan perintahnya, Ling He bergegas pergi.
Karena sudah larut, Sima Feng memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dan menemukan Liu Ru yang masih terjaga, duduk bersandar di kasur dengan mata menatap tajam Sima Feng.
" Kenapa belum tidur? " A Feng mengecup puncak kepala sang istri kemudian berlalu untuk mengganti pakaiannya. Pura-pura tak melihat tanduk sang istri yang sudah muncul di atas kepala.
" Aku menunggu mu suami ku. Tapi kau terlalu sibuk bahkan sama sekali tak mengunjungi ku saat makan siang tadi. " Keluh Liu Ru.
Ada gerakan kecil di perut Liu Ru yang sudah membesar itu, seolah sang bayi ikut memberi dukungannya pada sang ibu.
" Lihatlah. Anak mu juga setuju dengan ku. " Liu Ru mengatakan sembari menunjukkan gerakan di perutnya.
Sima Feng ikut bergabung dan memeluk Liu Ru dari samping. Ia mengusap perut buncit sang istri dan mendapatkan sebuah tendangan lagi di sana.
Pria itu terkekeh. " Kau dan ibu mu tampak begitu kompak ketika urusan mengeluh. Aku yakin setelah lahir, kau akan lebih berpihak pada ibu mu dari pada aku, ayah mu. "
__ADS_1
Seolah mengerti bayi itu memberikan tendangan lagi. Sima Feng dan Liu Ru saling berpandangan dan tertawa tanpa sadar.
" Suami ku, hari ini aku mendapatkan undangan untuk jamuan ulang tahun nyonya tua Jiang. Akan sulit jika aku datang sendiri. Jadi bolehkah aku mengajak A Fei? " Adu Liu Ru.
Sebenarnya ia sedikit sungkan jika harus pergi ke perjamuan itu. Selain karena kehamilannya yang membuatnya malas untuk bergerak. Di sana juga banyak para wanita julid yang pastinya membuat suasana hatinya semakin buruk.
Andai ini bukan undangan keluarga Jiang, Liu Ru akan memilih untuk tidak datang.
" Mengajak A Fei? apa dia tidak mendapatkan undangan? " tanya Sima Feng heran.
Mengingat status A Fei sebagai tuan putri, mustahil jika dia tidak mendapatkan undangan. Karena kebanyakan perjamuan yang diadakan oleh bangsawan pasti mengundang anggota kerajaan tanpa terkecuali.
Liu Ru mengedikkan bahu. " Sepertinya tidak. Aku tadi sudah bertanya padanya, dan dia tidak tahu mengenai perjamuan itu. " Jujur A Fei.
Ia sendiri juga bingung kenapa A Fei tidak menerima undangan. Mungkinkah Nyonya tua Jiang lupa?
" Aku terserah A Fei. Jika memang dia tidak keberatan dan mau menemani mu maka silakan saja kalian pergi. Tapi jika dia tidak mau, maka kau paksa saja dia sampai mau. "
Liu Ru benar-benar di buat tercengang dengan jawaban suaminya.
" Kau memang paling bisa membuat A Fei kesal. " Liu Ru memberikan ibu jarinya sebagai apresiasi.
" Selamat datang Putri Mahkota, selamat datang tuan putri. " Sambut pelayan kediaman Jiang setelah melihat kehadiran dua wanita berstatus penting itu.
Liu Ru dan A Fei di pandu ke tempat perjamuan. Sebuah aula terbuka yang berada di sisi bangunan utama.
Terlihat sudah banyak tamu undangan di sana. Karena ini ulang tahun nyonya tua, maka para tamu yang di undang pun semuanya adalah wanita. Namun tak ada yang tahu bahwa ini hanyalah kedok nyonya tua Jiang mencari calon cucu menantu. Tepatnya calon istri untuk Jiang Jinfu.
Seperti seorang juri yang sedang menyeleksi, mata elang nyonya tua Jiang sejak tadi sibuk menilai para daun muda di sana.
" Kakak ipar, kenapa banyak wanita muda juga di sini? aku seperti melihat ajang pencarian jodoh di sini. " Bisik A Fei.
" Anggap seperti itu. Sepertinya nyonya tua Jiang sedang mencari jodoh untuk tuan muda Jiang. "
" Tuan muda Jiang siapa? " Tanya A Fei bingung. Karena setahu dirinya, Jinfu sudah memiliki nona Bai sebagian calon tunangannya.
" Siapa lagi menurut mu, tentu saja Jiang Jinfu. "
" Tapi... " Belum sempat A Fei bicara, nyonya tua datang menyambut mereka. Di sampingnya ada wanita paruh baya yang A Fei yakini itu adalah nyonya besar Jiang, ibu Jiang Jinfu.
__ADS_1
" Putri Mahkota, Tuan Putri selamat datang. Terima kasih karena kalian sudah meluangkan waktu untuk datang ke perjamuan sederhana ini. "
' Sederhana apanya? bahkan ada sekitar seratus menu di sini. Sungguh nyonya tua pintar merendah untuk meroket. ' Batin A Fei. Ia mau ikut serta menemani sang kakak ipar karena penasaran dengan rumor 100 hidangan yang ia dengar.
" Selamat ulang tahun Nyonya Tua Jiang. Semoga panjang umur dan segala kebaikan selalu menyertaimu. " Ucap tulus A Fei dan Liu Ru bersama.
" Nyonya tua, ini ada hadiah dari kami. Mohon di terima. " A Fei menyerahkan sebuah kotak yang isinya perhiasan langka dan antik yang ia dapatkan dalam pelelangan.
Mata Nyonya tua Jiang berbinar, terlihat sekali bahwa ia senang dengan hadiah itu. Semakin berumur semakin materialistis dia. Ia tertawa dan segera meminta keduanya untuk duduk. Wanita tua itu bahkan mengabaikan menantunya yang sejak tadi berada di sampingnya.
A Fei dan Liu Ru duduk tepat di samping nyonya tua. Posisi duduk di atur berdasarkan status. Jadi semakin dekat posisi duduk dengan tuan rumah maka semakin tinggi status mereka.
A Fei mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin. Ia merasa bahwa seseorang sedang menatap dirinya dengan sorot mata permusuhan.
" Kenapa aku merasa bulu kuduknya berdiri.. " Gumamnya.
Seketika ia menoleh dan menemukan nona Bai yang melihat ke arahnya. Wajahnya tampak tersenyum tapi dimata A Fei senyum itu justru terlihat aneh seperti orang sedang menahan buang angin.
" Kenapa? " Liu Ru melihat adik iparnya gelisah.
" Tidak ada, hanya saja tanpa sengaja kecantikan ku sudah membuat wanita lain iri dan membuatku kembali mendapat permusuhan. " Bisik A Fei.
Liu Ru sungguh tercengang dengan betapa percaya dirinya sang adik ipar. Sia-sia saja dia mengkhawatirkannya.
Sepanjang acara, tidak ada yang aneh. Hanya saja, A Fei merasa bahwa nyonya besar Jiang terlihat menghindarinya. Ia bahkan sama sekali tak mengajak A Fei berbicara.
' Ada apa dengannya? apa aku sudah menyinggungnya? ' Batin A Fei.
Liu Ru juga menyadari sikap acuh tak acuh nyonya besar Jiang pada A Fei. Jadi ia pun melakukan hal yang sama pada Nyonya besar.
Suasana perjamuan yang awalnya hangat perlahan berubah canggung. Nyonya tua merasa menantunya sangat keterlaluan. Ia yang tak tahan akhirnya meledakkan amarahnya.
" Ada apa dengan mu? kenapa kau mengabaikan putri A Fei? ini acara ku. Jika kau tak menyukainya maka kau bisa pergi dari sini. " Hardik nyonya tua Jiang.
Wajah nyonya besar merah seperti bisul. Sekuat tenaga menahan malu. Sebagai wanita dengan status tinggi harus menerima teguran di depan umum tentu menjadi hal yang memalukan baginya. Ia pun menyalahkan hal tersebut pada A Fei.
' Ini semua gara-gara wanita bekas ini. Kenapa juga dia datang. Padahal aku sengaja tidak mengirimnya undangan. Meski Ia seorang putri, tetap saja ia wanita bercerai. Apakah ibu bermaksud menjodohkannya dengan Jinfu? bila demikian, jangan harap sebagai ibunya aku akan setuju bahkan sampai mati pun aku akan menolaknya. Hanya Bai Fulan yang pantas untuk putra ku. ' Gerutu Nyonya Bai dalam hati.
Nyonya besar membenci A Fei setelah Bai Fulan diam-diam menghasutnya dan mengatakan bahwa A Fei sering menggoda Jinfu di belakang.
__ADS_1