
Sudah sebulan A Guang dan A Hua berada di akademi. Berkat wajah tampan, otak cerdas, dan kemampuan bela diri yang hebat membuat A Guang menjadi idola baru akademi.
Meski tanpa satu pun orang yang mengetahui statusnya sebagai putra mahkota. Tidak membuat kharismanya meredup. Sebagai idola baru tentu banyak kaum hawa yang diam-diam menyerahkan hatinya pada A Guang. Namun sekali lagi, hati mereka A Guang tepis dan tak ada satupun gadis yang mampu mendekatinya.
Hal itu memicu kebencian Jiang jinfu dan kelompoknya yang semakin besar. Jinfu yang sebelumnya termasuk murid terpopuler harus merelakan kedudukannya bergeser pada A Guang. Dan hal tersebut membuat keinginan jinfu untuk menyingkirkan A Guang semakin menggebu.
Melihat Jinfu yang tak lama lagi akan mengambil tindakan. Diam-diam Han dong tersenyum senang. Ia cukup menambahkan minyak dalam api agar nyalanya semakin besar.
Jadi tepat saat pelajaran berkuda. Jinfu mengutus seseorang untuk melakukan sesuatu pada kuda A Guang.
" Ingat, lakukan dengan rapi seolah itu hanya sebuah kecelakaan. Tapi jangan sampai ia mati. Cukup buat dia cidera. Aku tak ingin ini menjadi masalah besar. " Perintah Jinfu.
" Baik senior. Tenang saja. Aku akan melakukan tugas dari mu dengan sangat rapi. " Balas pria yang menjadi eksekutor jinfu.
Semua murid mulai mengikuti instruksi guru mereka. Ziyan sengaja membuat akademi miliknya sedikit berbeda dengan akademi Kekaisaran. Jika akademi Kekaisaran cenderung menerapkan konsep teori. Berbeda dengan akademi milik ziyan yang mengusung pembelajaran teori dan praktek. Bahkan teori hitungan seperti hukum gerak newton pun ada. Mungkin awalnya mereka asing dengan teori yang dikemukakan oleh ziyan, namun setelah melalui praktek. Tak ada satupun yang berani membuka mulutnya lagi untuk membantah.
A Guang sudah siap dengan kuda pilihannya. Hari ini mereka akan mengitari hutan untuk mengambil bendera yang sudah ada diakhir tujuan, lalu kembali lagi ke tempat awal.
" Ingat! setelah mengambil bendera di pos, secepatnya kembali lagi ke sini. " Seru guru mereka pada tugas yang harus mereka lakukan.
Setelah aba-aba keluar, Kelima siswa yang sudah siap segera memacu kuda mereka. A Guang dan Na li berada di putaran yang sama.
A Guang menempati posisi terdepan sedangkan untuk Na li ada di posisi paling belakang.
Semua murid saling berlomba menambah kecepatan. Namun tanpa diduga kuda yang ditunggangi oleh A Guang memekik dan mengangkat kaki depannya ke atas. Gerakan tiba-tiba itu membuat A Guang yang belum siap langsung terjatuh. Beruntung berkat gerak refleknya yang bagus, ia hanya menderita lecet pada tangannya. Sementara kudanya sudah berlari jauh meninggalkannya.
Saat dirinya terjatuh, Tiga orang teman A Guang justru tetap melaju tanpa berniat menolongnya.
" Kami duluan anak bawang. Hahaha. " Ucap salah satu teman sekelas A Guang saat melewatinya.
" Rasakan itu. " Sambung temannya yang lain.
A Guang menatap nanar kuda dan ketiga temannya yang sudah menjauh.
Lecet di tangannya bahkan sama sekali tak berpengaruh dengannya. Saat ia ingin sekali dirinya mengumpat kesal.
Namun tiba-tiba terdengar suara langkah kuda.
__ADS_1
A Guang menoleh dan melihat teman satu kamarnya, Na li.
" Kemana kuda mu? " Tanya Na li saat melihat A Guang berdiri di tengah jalan.
" Pergi. "
Na li ingin bertanya lagi, namun urung saat melihat beberapa luka lecet di tangan A Guang. Ia menduga bahwa A Guang baru saja terjatuh dari kuda.
" Naiklah. Kita bisa kembali ke akademi bersama. "
Meski sungkan, tapi A Guang bersyukur mendapat tumpangan. Setidaknya ia tidak perlu berjalan hingga ke akademi.
" Terima kasih. " A Guang duduk di belakang Na li.
Gadis itu merasa canggung saat merasakan napas A Guang berhembus tepat di lehernya.
" Bisakah kau bernapas lebih jauh dari leherku. Aku merasa tidak nyaman. " Ungkap Na li jujur.
" Ah maaf. " A Guang salah tingkah. Kemudian ia mundur dan berdehem mencairkan situasi. " Sudah. "
Menurut Na li, dari pada laki-laki itu berpegangan pada pinggangnya, lebih baik jika A Guang memegang tali kendali.
Posisi mereka tampak seperti sepasang kekasih yang berbagi tunggangan bersama. Sayangnya, jika orang lain melihatnya mungkin mereka akan mengira bahwa mereka sedang melihat dua orang yang merupakan pasangan sesama jenis.
A Hua mengerutkan kening saat melihat kuda A Guang datang sendiri.
" Kemana A Guang? " Tanyanya pada tiga teman sekelasnya yang sudah lebih dulu tiba.
" Entahlah. Mungkin ia terjatuh dibelakang. "
" Apa kalian meninggalkannya? meski tahu dia terjatuh dari kuda? " Nada bicara A Hua mulai naik satu oktaf.
" A Hua, kau tak perlu khawatir dengan anak bawang itu. Dia hanya berasal dari rakyat jelata. Sungguh amat disayangkan jika kau yang begitu cantik ini terus menempel padanya. "
" Itu benar. Kau lebih cocok dengan senior jinfu. Dia jauh segalanya dari pada A Guang. Putra perdana menteri, ketua perhimpunan murid dan wajahnya juga tak kalah tampan. "
" Dengarkan saran mereka berdua A Hua. Kau tidak akan menyesal. "
__ADS_1
Ketiga teman sekelas A Hua terus berbicara merendahkan A Guang.
Mendidih. Itulah yang kini dirasakan gadis cantik itu. Tak terima keponakannya tersebut direndahkan di depan hidungnya.
" Sudah selesai? Apakah kalian sudah selesai berbicara omong kosong. Jika belum silakan kalian lanjutkan. Aku akan menunggu sampai semua sampah di mulut kalian keluar. " Sarkas A Hua.
Ketiga pria tadi tercengang saat A Hua yang selalu berbicara lembut, kini berbicara kasar.
" Dengar ya kalian. Jika sampai terjadi sesuatu dengan A Guang, akan ku buat kalian menyesal. Urusan ku ingin menempel dengan siapa jadi jangan pernah ikut campur. Kalian bukan siapa-siapa bagi ku. Jadi kalian tidak usah peduli dengan apa yang aku lakukan atau dengan siapa aku dekat. Dasar orang-orang menjijikan. " Hina A Hua.
Saat salah satu dari mereka hendak membuka mulutnya lagi, A Hua lebih dulu mengangkat satu tangannya tepat di wajah laki-laki itu.
" Jangan berbicara dengan ku. Telinga ku sakit begitu mendengar kata-kata dari mulut bau mu. "
Setelah mengatakan, A Hua segera meninggalkan mereka.
Tiba-tiba terdengar seruan salah satu teman kelasnya yang melihat kuda Na li datang bersama A Guang.
A Hua segera berlari menuju Na li.
" Bodoh! " Pekik A Hua.
A Hua tak sadar bahwa ia baru saja memaki A Guang di depan semua orang. Rasa khawatirnya membuat sifat aslinya keluar.
Semua orang yang mengenal A Hua sebagai pribadi lemah lembut tercengang. Meski mereka baru mengenal selama satu bulan, nyatanya tak membuat mereka mengenal lebih dalam sosok gadis cantik itu.
" Jie. " Lirih A Guang.
" Bodoh! Jika kau terjatuh kenapa hanya tangan mu yang lecet. Kenapa kepala mu tidak ikut terbentur. Sungguh di sayangkan karena aku sudah sangat khawatir tapi kau hanya mendapatkan luka kecil. "
" Benar apa katamu jie. Sungguh di sayangkan bahwa aku tidak terluka parah. " Ucap A Guang namun matanya menatap pada ketiga orang yang tadi meninggalkannya.
A Hua mengernyit. Ia merasa apa yang terjadi dengan keponakannya tersebut tidak sederhana yang terlihat.
" Sekarang kau obati saja. " Lalu A Hua menoleh pada Na li. " Terima kasih karena sudah membawa anak bodoh ini bersama mu. " Ucap A Hua tulus dengan senyum.
Na li tertegun. Sebagai seorang gadis juga, sungguh memalukan karena terpesona dengan senyum A Hua.
__ADS_1