
"Jadi kakak ingin mengajakku ke perjamuan Huang Guifei? "
Chufeng tampak terkejut namun di lain sisi, dia juga sangat senang. Itu merupakan sebuah kehormatan jika bisa datang ke perjamuan istana. Bahkan kakaknya sendiri, yuefeng, tidak pernah menghadiri acara semacam itu. Tapi kenapa kakak pertamanya ini mengajakku dan bukan kak yuefeng?
"Apa kak yuefeng tau hal ini kak? " Chufeng tahu sifat kakaknya, akan menjadi hal besar jika ia mendengar kabar ini. Dan chufeng yakin, sekarang kakaknya yuefeng sudah mengetahui perihal kedatangan kakak pertamanya ini.
"Tidak. Apakah ia harus tahu? siapapun yang aku ajak ke perjamuan itu terserah padaku. Jika dia datang padamu dan mengatakan keberatannya. Suruh dia menemuiku. " Ziyan tak ingin terlalu berbasa-basi, lebih baik mengatakan yang sebenarnya. "Yaoyao berikan gaunnya. "
Yaoyao meletakan sebuah baju biru di meja chufeng.
Baju yang sangat indah. Chufeng menyentuh lembut baju tersebut.
"Pakailah baju ini jika masih ada yang kau butuhkan. Kau bisa menemuiku. "
"Iya.Terima kasih kakak pertama. "
Ziyan melirik buku yang ada di meja belajarnya. Sebuah buku mengenai manajemen dan pembukuan. Ia mengambil buku itu dan membukanya.
"Kau membaca ini? "
Ziyan menyadari perubahan pada raut wajah chufeng. Senyum hangat yang tadi mengembang di bibirnya perlahan menghilang berganti dengan senyum getir.
"Iya. Apakah kakak juga akan mengatakan aku melakukan hal yang sia-sia? "
Chufeng selalu dipandang sebelah mata oleh keluarganya sendiri. Bagi ibunya, chufeng yang tak mahir mengerjakan pekerjaan wanita hanya bisa membaca buku dan belajar hal yang menurutnya tak penting menjadi beban yang memalukan. Sedangkan yuefeng yang menganggap dirinya lebih baik dari chufeng, selalu memandang rendah adiknya itu. Hanya kakak laki-lakinya, mo yifeng, yang memberikan dukungan padanya. Jadi bagi chufeng bertambah satu orang yang memandang rendah dirinya bukanlah hal yang berbeda.
"Tidak. Aku juga mempelajari buku ini. "
__ADS_1
Chufeng terkejut dengan tanggapan kakak pertamanya itu. Ia berpikir kakak pertamanya ini mencoba mengoloknya. Tapi melihat ekspresi seriusnya, chufeng sadar bahwa ia sungguh-sungguh mengatakannya.
"Hanya saja buku ini tidak membuat klasifikasi pada setiap akun transaksi. Buku ini hanya membagi menjadi pengeluaran dan pemasukan. Membuat kita kesulitan mengetahui keuntungan bersih yang kita dapat. "
Chufeng terkejut dengan penjelasan ziyan, ia bahkan bisa mengetahui kelemahan dari buku yang sedang di bacanya.
"Akan lebih mudah jika kita membuat jurnal umumnya terlebih dulu, setelah itu kau masukan kedalam buku besar, itu akan terlihat lebih rinci. Setelah itu buatlah neraca saldo dan jurnal penyesuaian untuk barang-barang tertentu. Dengan data dari neraca saldo dan jurnal penyesuaian itu, kita bisa menyusunnya di neraca lajur. Karena sudah terperinci dalam neraca lajur, akan memudahkan kita membuat laporan keuangan. Bagaimana? "
Ziyan tak mendengar respon apapun dari chufeng. Jadi ia mengalihkan matanya ke chufeng dan melihat dirinya yang sedang menatap ziyan dengan pandangan terpukau. Ziyan tak menyadari reaksi adiknya tersebut karena sejak tadi ia menjelaskan sambil melihat-lihat isi buku yang ada di tangannya.
" Aku tidak percaya. Kau sangat hebat kak. " Senyum lebar chufeng kembali merekah di bibirnya. Ia tak menyangka kakak pertamanya yang selalu mengurung diri di kediamannya sangat pandai dalam hal pembukaan.
Mungkin chufeng akan lebih terkejut jika mengetahui ziyan adalah pemilik sekaligus bos besar paviliun chuntian yang sedang menjadi topik hangat di negara jin.
Ziyan tersenyum melihat reaksi antusias adiknya itu. "Jika kau ingin belajar. Datanglah ke halamanku. Aku akan mengajarimu. "
"Baiklah aku akan menunggumu. "
Ziyan lalu menolehkan kepalanya ke segala arah seakan sedang mencari sesuatu.
"Kakak mencari sesuatu? "
" Dimana pelayan pribadimu? "
"Aku tidak punya."
Meski itu hal yang cukup memalukan, tapi chufeng sepertinya tak terlalu memikirkannya. Sebagai nona muda, sudah sewajarnya memiliki minimal satu pelayan pribadi. Dan jika tak memiliki sama sekali, biasanya orang-orang akan berpikir bahwa status dirinya dirumah rendah atau ia tak di anggap sebagai anggota keluarga oleh keluarganya.
__ADS_1
Tapi chufeng justru terlihat lebih senang karena tidak memiliki pelayan pribadi. Setidaknya ia bisa lebih bebas keluar dan tak perlu merasa selalu di awasi.
Melihat chufeng yang sepertinya lebih nyaman tanpa pelayan, ziyan pun mengurungkan niatnya untuk melaporkan hal ini pada ibunya.
Ibunya sebagai nyonya rumah utama, otomatis yang mengatur semua urusan dan keperluan di kediaman. Termasuk masalah pelayan. Ziyan sekarang harus berpikir, jangan sampai hal ini dijadikan alasan keluarga cabang untuk menyerang ibunya. Memberikan cap tidak becus mengurus rumah tangga padanya.
"Baiklah. Karena aku lihat kau lebih nyaman tanpa pelayan. Aku tidak akan mengatakannya pada ibu. Urusanku sudah selesai, aku akan kembali dulu. "
"Terima kasih kak. "
Ziyan melambai sembari keluar dari ruang terebut.
Sesuai dugaan chufeng. Tak lama setelah kepergian kakak pertamanya, kakaknya yuefeng datang ke ruangannya. Ekspresi sangat tak enak dipandang. Sudah jelas ia sedang menahan amarahnya.
Ia segera melangkah masuk bahkan sebelum chufeng mengizinkannya.
"Apa kakak pertama kesini untuk mengajakmu ke perjamuan istana? " Yuefeng sedang bertanya, namun nada bicaranya bahkan lebih pantas di sebut sedang mengancam.
"Iya. Dia bilang jika kakak keberatan dengan keputusannya. Kakak bisa menemuinya. " Ekspresi chufeng masih tenang seperti biasa. Ia sudah terlalu kebal dengan ancaman yuefeng.
Yuefeng merasa sangat marah mendengar jawaban chufeng. Yuefeng melihat baju biru yang di berikan ziyan masih berada di atas meja. Untuk melampiaskan kekesalannya pada ziyan. ia melempar baju itu ke lantai dan menginjak-injaknya. Yuefeng sangat berharap saat ini yang sedang di injaknya adalah ziyan.
"Kakak apa yang kau lakukan. " Chufeng mendorong kakaknya dengan kuat dan mengambil baju yang kini sudah terlihat kotor dan lusuh itu.
"Aku sedang membantu membuat bajumu terlihat lebih bagus." Setelah melampiaskan emosinya, ia berjalan keluar. Namun berhenti sejenak, dengan penuh kebencian yuefeng berkata. "Jika aku tidak pergi, maka akan ku buat kau juga tidak bisa pergi. "
Chufeng masih memegangi bajunya, mungkin jika itu orang lain. Mereka akan menangis bila diperlakukan seperti tadi. Baik ibu maupun kakaknya tak ada yang menganggap dirinya sebagai keluarga. Chufeng ingin sekali menangis, setidaknya ia bisa melampiaskan kesedihannya. Namun air matanya sudah berhenti mengalir entah sejak kapan.
__ADS_1
Sepertinya, ia harus ke halaman barat sekarang juga. Ia harus bicara pada kakak pertamanya. Chufeng tak ingin kakak pertamanya memiliki kesalah pahaman padanya.