
" Bajingan kurang ajar! "
" Dasar sampah tidak tahu diri ! "
Sima Guang dan Sima Feng serempak memaki raja Wei.
Sesuai dugaan Sima rui. Kedua putranya pasti akan menentang keras.
Bagaimana mungkin mereka membiarkan bajingan Wei itu lolos. Andai dulu istrinya tidak menghentikannya, Sima rui mungkin sudah meluluhlantahkan kerajaan Wei sejak dua tahun lalu.
Beraninya dia menyakiti putri ku.
Semakin memikirkan hal tersebut, semakin besar pula kebencian Sima rui. Dan itu berlaku juga pada kedua putranya.
Mereka masih menyimpan dendam dan akan melampiaskannya segera. Itulah janji keduanya.
" Setelah apa yang dia lakukan pada A Fei dan sekarang dengan tidak tahu malunya ia menginginkan pertunangan mereka kembali. Pria brengsek itu benar-benar harus ku hancurkan. " Umpat Sima Feng penuh emosi.
Mengingat perlakuan buruk raja wei pada saudara kembarnya membuat darahnya mendidih.
Li chenlan, putra Sima Yan. Karena perubahan marga, Sima Yan menjadi Li Yan. Setelah kematiannya, Li chenlan lah yang meneruskan tahta kerajaan Wei.
" Aku juga setuju. Jika itu permintaan mereka maka aku lebih memilih untuk berperang. Setidaknya A Fei masih memiliki kehormatan dan harga dirinya. " A Guang juga setuju dengan Sima Feng. Mana mungkin ia membiarkan pria sampah itu kembali mendapatkan adiknya.
" Karena sudah di putuskan. A Feng, kau berangkatlah besok pagi. Kau harus segera ada di perbatasan dan memimpin kembali prajurit kita. " Titah Sima Rui.
" Ayah. Aku bagaimana? " A Guang juga ingin menghajar raja Wei. Jadi ia berharap bisa ikut berperang bersama sang adik.
" Untuk apa kau mengajukan diri? Kau seorang putra mahkota. Lebih baik kau hancurkan kerajaan Wei melalui bidang lain. Putuskan semua kerjasama kita dengan mereka. Setidaknya itu akan membuat kerajaan mereka goyah untuk sementara waktu. Setelah itu mereka akan mengalami kesulitan internal, dan secara tidak langsung akan berdampak pada pasokan sumber daya militer mereka. " Jelas Sima rui.
__ADS_1
Sima Guang dan Sima Feng saling melihat satu sama lain. Ia merasa aneh dengan metode ayahnya.
" Ayah kenapa kita harus menyerang mereka di sektor politik juga? " Tanya Sima Feng.
" Kalian lupa. Sudah dua tahun berlalu dan mereka baru menyerukan ajakan perang sekarang. Itu menandakan bahwa mereka sudah melakukan persiapan matang. Jika kita hanya menyerang secara militer. Aku tak yakin A Feng akan menang dengan mudah. Lebih baik kita menyerang mereka sekaligus, itu akan mengurangi jumlah korban dan biaya yang di keluarkan. Dan yang terpenting, kehancuran mereka akan lebih cepat. "
Setelah diskusi singkat tersebut. A Guang dan A Feng segera undur diri.
" Apa kau akan mengajak Liu ru ke perbatasan? " Tanya Sima Guang setelah keduanya berada di luar.
" Entahlah kak. Aku masih ragu. "
" Ragu? apa yang membuat mu ragu? bukankah kau sudah menyiapkan rumah untuk kalian tempati. "
" Memang. Tapi aku ragu apakah dia mau ikut ke perbatasan dan berpisah dengan Xiao Yi. "
Mendengarkan saran A Guang, Sima Feng merasa itu tidak buruk. Jadi setelah sampai di kediamannya nanti. Ia akan membicarakan hal ini pada sang istri.
" Apa yang terjadi? kenapa kau tadi pergi begitu terburu-buru? apa terjadi sesuatu? " Tanya Liu pada suaminya yang baru saja menyesap teh miliknya.
Ketika baru tiba, Sima Feng melihat istrinya sedang menikmati secangkir teh bersama beberapa kudapan hangat yang baru saja matang. Karena cukup menarik perhatiannya, jadi tanpa sungkan ia pun ikut bergabung dan langsung menyesap teh milik wanita itu.
" Tak ada. Hanya masalah kecil. "Jawabnya acuh tak acuh. Namun Liu ru yang tak percaya masih menatap Sima Feng.
Ia bergumam dalam hati. ' Bocah mana yang sedang kau bohongi. Jika hanya masalah kecil tak mungkin wajah mu begitu gelap seperti pantat panci. '
Melihat Liu ru tak bisa dibodohi. Jadi Sima Feng memilih jujur.
" Kerajaan Wei baru saja mengirim deklarasi perang. Mereka berharap bisa terlepas dari otoritas Kekaisaran jin. Karena itu, besok pagi aku harus berangkat ke perbatasan segera. "
__ADS_1
Lalu Sima Feng melanjutkan. " Jika kau tak ingin ikut dengan ku ke perbatasan, kau bisa tinggal di sini. Aku tidak akan memaksa mu ikut dengan ku."
" Kau melarang aku ikut? "
Sima Feng tercengang. Tidakkah ia paham bahwa aku sedang memberikan pilihan padanya. Aku tak ingin memaksanya untuk ikut. Tapi kenapa ia justru berpikir aku tak menginginkannya?
" Siapa yang melarang mu? Aku justru memberimu pilihan. Aku tidak keberatan kau ikut, aku juga tak melarang mu jika ingin tinggal. Aku hanya berpikir bahwa mungkin kau akan merindukan putra kita dan tak sanggup berpisah dengannya. " Papar Sima Feng.
Pria di depannya ini benar-benar memikirkannya. Ia bahkan tahu bila sebenarnya ia tak sanggup jika harus berpisah lama dengan sang putra.
Menyadari hal ini, membuat hatinya sedikit menghangat.
Berpikir sejenak. Liu ru mulai menimbang apakah ia harus ikut atau tidak.
Jika sebelum menikah ia hanya seorang ibu. Namun berbeda dengan sekarang. Saat ini dirinya juga seorang istri.
Xiao Yi tinggal di istana dan harus melakukan pembelajaran sebagai seorang pangeran. Membuatnya tak bisa setiap hari datang kesini. Selain itu, di sana Xiao Yi juga tinggal bersama anggota keluarga yang lain. Jadi tak perlu bagi Liu ru untuk khawatir.
Kemudian ia melihat pada Sima Feng.
Pria ini berperang melawan musuh. Sendiri, jauh dari keluarga. Meski di luar tampak seolah dirinya tak peduli. Tapi ia pasti kesepian.
Liu ru tiba-tiba merasa Sima Feng begitu menyedihkan.
Andai Sima Feng tahu isi pikiran Liu ru saat ini. Mungkin ia akan tersedak sampai mati karena marah. Beraninya ia memandangnya begitu menyedihkan.
Jadi setelah berpikir sejenak, Liu ru akhirnya memutuskan untuk ikut ke perbatasan.
" Baiklah. Aku akan ikut dengan mu. "
__ADS_1