Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 240


__ADS_3

" Lihat! iring-iringan pangeran ketiga sudah terlihat. " Seru salah satu rakyat jin yang sudah menunggu di sisi jalan ibukota.


Pernikahan Sima Dan dirayakan sama meriahnya dengan pernikahan dua pangeran sebelumnya. Kembali, keramaian jalanan ibu kota menjadi saksi bersatunya dua anak manusia dalam ikatan sakral nan suci tersebut.


Shuwang sementara tinggal di kediaman Sima Dan, sedangkan Dan er sendiri tinggal di istana pangeran. Baru setelah menikah, keduanya akan tinggal di kediaman Sima Dan.


Dengan tubuh tegap, ia menunggangi kuda dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya. Ia akan menjemput mempelai wanita terlebih dulu sebelum membawanya ke istana untuk prosesi penghormatan.


Suara petasan menyambut kedatangan Dan er yang sudah tiba di kediaman. Dengan gagah ia turun dari kuda dan dengan langkah pasti melangkah masuk.


Tak jauh, dua orang wanita terlibat sebuah percakapan.


" Lihatlah, pangeran ketiga tampan sekali. "


" Benar. Wajahnya semakin tampan dengan pakaian pengantin yang dikenakannya. "


" Sungguh disayangkan, sekarang semua pangeran sudah menikah. Mimpiku menjadi istri pangeran pupus sudah. "


" Itu hanya dimimpi mu. Mana mau mereka dengan mu. Sebagai rakyat jelata, hanya bertemu dengan mereka saja sudah suatu keberuntungan, jadi jangan bermimpi terlalu tinggi, atau kau akan sangat sakit begitu jatuh. "


" Apa salahnya bermimpi. Toh aku tidak berniat untuk menjadi selir. "


Temannya justru terbahak. " Kalau itu lebih mustahil. Dari yang aku dengar, para pangeran tidak ingin mengambil selir. "


" Kita lihat saja. Kalau pangeran pertama aku percaya, tapi untuk pangeran lain aku ragu. "


" Hmmm.. kau benar. Buktinya pangeran yan yang sekarang sebagai raja wei juga sudah memiliki dua selir padahal pernikahannya dengan permaisuri wei baru berjalan satu tahun. Jadi mungkin saja pangeran ketiga akan mengikuti jejaknya. "


Hampir satu tahun lebih pernikahan Sima yan dan rong feiyue. Karena rong feiyue tak kunjung hamil, para menteri kerajaan wei mendesak raja mereka untuk menambah selir dengan alasan kerajaan membutuhkan penerus. Sudah bisa ditebak siapa wanita yang menjadi selir-selir itu. ya, keduanya adalah anak para menteri Sima yan sendiri.


Dan er memandang tak berkedip ketika shuwang keluar dengan memakai pakaian merahnya. Meski wajahnya tertutup, tapi aura keindahannya begitu terpancar.


" Aku akan membawamu ke tandu. " Ucap Sima Dan.


Shuwang mengangguk, tanpa ada satu orang pun yang tahu bahwa wajah wanita itu sedang bersemu merah.


Dan er menggendong shuwang masuk ke dalam tandu. Setelah itu, rombongan segera menuju istana untuk prosesi selanjutnya.


Upacara panjang di istana terlewati satu persatu. Kini Shuwang dan Sima Dan telah resmi menjadi sepasang suami istri.

__ADS_1


Sima rui yang menonton bersama ziyan dari meja tamu, kembali dibuat tak bisa berkata-kata dengan kelakuan istrinya. Wanita hamil itu menangis sepanjang upacara.


" Kau kenapa istriku? Apa yang membuatmu menangis? apa kau sakit? " Tanya Sima rui khawatir pada istrinya yang tiba-tiba terisak.


" Aku... aku sangat tersentuh dengan pernikahan ini. Entah kenapa aku juga ingin menikah seperti mereka. " Ziyan mengusap air matanya dengan tisu ditengah bicaranya.


Sima rui kehabisan kata-kata mendengar penuturan sang istri. Namun kemudian ia tersenyum hangat. Ia berpikir, mungkin ini pengaruh hormon kehamilannya.


" Kita akan mengadakan pernikahan lagi setelah anak kita lahir. Bagaimana? " Tawar Sima rui.


Mata ziyan berbinar bahagia. Pipinya yang gembul dengan matanya yang berkaca sisa air mata yang tertinggal membuatnya terlihat menggemaskan.


" Aku mau. Tapi... " Ziyan ragu saat ingin mengatakannya.


" Tapi apa? "


Ziyan menatap suaminya penuh permohonan. " Bisakah kita mengadakan pernikahan menggunakan cara britania. Sejujurnya aku ingin memakai gaun pernikahan setidaknya sekali seumur hidup. Itu adalah keinginan ku sejak kecil. "


Sima rui mengangguk setuju. " Tentu saja. Kita akan memujudkan pernikahan impian mu. "


Ziyan begitu bahagia mendengar jawaban Sima rui. Ia sungguh beruntung karena memiliki suami yang amat mencintainya.


Apa yang harus ia lakukan?


Pertanyaan itu muncul di benak Sima rui. Sebuah jawaban muncul ketika ia melihat kepala tabib istana di meja tamu tak jauh darinya.


' Ah benar. Aku bisa bertanya pada lucy. Dia pasti tahu seperti apa pernikahan impian ziyan. ' Batin Sima rui.


Secara tidak sengaja pandangan Sima rui dan kepala tabib bertemu. Tanpa di sadari ia mengulas senyum pada pria tua yang sudah menjadi kepala tabib itu. Seketika tubuh kepala tabib merinding, keringat dingin mulai mengucur. Pangeran dingin yang terkenal kejam senyum padanya.


' Apakah ajal sebentar lagi menjemput ku. ' Gumam kepala tabib dalam hati.


Sementara Sima rui yang sudah membuat pria tua itu ketakutan tidak menyadari tindakannya. Ia masih memberi senyum sebagai tanda terima kasih karena berkat keberadaannya, ia menemukan jawaban dari masalah yang istrinya berikan.


Di perjamuan pernikahan Sima Dan, ziyan juga bertemu dengan keluarga Mo. Tuan mo dan nyonya mo kini tengah melepas rindu pada putrinya.


" Ibu, aku rindu pada mu? kau semakin cantik bu. Aku yakin ayah semakin tak ingin jauh dari mu. " Ujar ziyan memeluk wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu.


Nyonya Mo tertawa mendengarnya. " Ibu juga merindukan mu. " Ia melerai pelukan mereka.

__ADS_1


" Mulut mu ini semakin manis saja. Kau dan ayah mu sama saja. " Nyonya mo mencubit gemas hidung ziyan.


" Kenapa dengan ku? " Sela tuan yang baru saja selesai memberi salam pada koleganya.


" Ibu, suami mu sepertinya penasaran dengan apa yang tadi ibu katakan. Apa ku katakan saja bu. " Goda ziyan.


Nyonya mo hanya menggeleng melihat tingkah putrinya.


" Kata ibu, kau sangat manis ayah. " Ziyan terkekeh melihat reaksi ibunya yang kini mendelik padanya.


Tuan mo terbahak mendengar gurauan putrinya. " Benarkah? Aku tahu itu sejak dulu. " Jawab tuan mo percaya diri.


Obrolan manis mereka terus berlanjut.


Saat Sima rui dan tuan mo terlibat pembicara serius. Sedangkan Ziyan dan nyonya Mo sibuk dengan pembicaraan antar wanita.


" Bagaimana kehamilan mu nak? " Tanya nyonya mo mengelus perut buncit ziyan.


" Semuanya baik-baik saja bu. Aku juga makan dengan baik. Hanya saja... " Ziyan sedikit ragu, ia melirik ke sekelilingnya. lalu berbisik pada sang ibu. " Semakin hari frekuensi buang air ku semakin sering bu. Bahkan jika aku tak sengaja tertawa, aku akan mengompol. " Wajah ziyan merah karena baru saja memberitahu ibunya hal memalukannya.


" Bukankah itu sangat memalukan bu. " Lirih ziyan.


Nyonya mo tidak tertawa, ia justru tersenyum hangat pada sang putri. Ia membelai surai hitam ziyan. Kemudian berkata lembut.


" Tak apa. Itu bukan hal yang memalukan putri ku. Ibu juga sama seperti itu dulu. Semua wanita hamil akan mengalaminya nak. "


" Benarkah itu bu? " Tanya ziyan tak percaya.


" Tentu. Kau boleh tanya ayahmu. Ibu bahkan pernah mengompol saat perjamuan seperti ini. Meski bukan perjamuan istana, hanya sebuah perjamuan keluarga. Tapi tetap saja itu hal yang memalukan jika orang lain mengetahuinya. Beruntung ayahmu sigap dan langsung membawa ibu pergi dari sana tanpa seorang pun mengetahuinya. " Papar Nyonya mo kembali mengingat kenangan saat mengandung Yaner dulu.


" Ayah melakukan itu? " Ziyan bertanya dengan antusias.


Nyonya Mo mengangguk. " Dan kau tahu, ternyata ayah mu itu diam-diam sudah tahu jika ibu sering mengompol. Tapi dia memilih diam dan pura-pura tidak tahu. Ayah mu takut jika ibu akan merasa malu atau canggung padanya. "


Ziyan dan nyonya mo melihat kearah tuan mo secara bersamaan. Tuan mo yang merasa ditatap meraba tengkuknya yang tiba-tiba terasa merinding.


" Ada apa ayah mertua? " Tanya Sima rui melihat wajah aneh mertuanya.


" Ah tidak. " sahut tuan mo canggung. " Hanya merasa sedikit dingin. "

__ADS_1


__ADS_2