
Sima rui dan junyi, Tuan mo dan luyi. Keempatnya pergi ke tempat tersembunyi itu. Mereka sengaja datang berempat tidak bersama para prajurit, agar pihak desa tak mengetahuinya.
" Apakah ini tempatnya? " Tanya tuan mo. Ia melihat air terjun tinggi namun dengan aliran air kecil. Tak ada yang aneh menurutnya.
Sima rui kembali membuka peta di tangannya dan membandingkannya dengan peta yang di pegang junyi. " Sepertinya memang benar ini tempatnya. "
Peta baru milik pemimpin desa menunjukkan tempat tersebut hanya sebuah dataran kosong. Sedangkan pada peta ayah sese, menunjukkan sebuah desa kecil yang luas wilayahnya 1/8 dari desa tianguan.
" Tidak ada keterangan tentang wilayah ini. Jadi kita harus memeriksanya. " Kemudian sima rui melihat junyi, " Kau periksa ke atas. Ada apa di sana? " Perintahnya.
Junyi dengan lincah melompat menapakkan satu persatu bebatuan yang ia gunakan sebagai pijakan. Dengan mudah ia akhirnya sampai di atas.
Mata junyi membulat saat melihat hamparan luas air di depannya. Bukan tanah kosong atau desa kecil seperti yang tergambar di peta. Tapi justru seperti danau namun berbeda. Ini adalah sebuah bendungan besar. Jika di lihat dari bawah, air terjun itu seperti air yang berasal dari aliran sungai. Namun tak akan ada yang menduga bahwa air tersebut berasal dari sebuah bendungan.
Junyi bergegas turun. Sama dengan sebelumnya, ia menggunakan batu-batu sebagian pijakan.
" Pangeran, di atas bukan tanah kosong atau desa seperti yang tergambar di kedua peta. Tapi melainkan sebuah bendungan besar. Bahkan aliran air ini tampak seperti aliran dari lubang kecil di sebuah ember. " Jelas junyi menggunakan perumpamaan untuk menggambarkan bagaimana besarnya bendungan di atas.
Sima rui naik ke atas memastikan apa yang baru saja dikatakan oleh junyi.
Matanya melihat dengan pandangan tak percaya. Bendungan air yang begitu besar. Bahkan sanggup menenggelamkan satu desa tianguan.
" Apa ini? kenapa bendungan besar seperti ini pembangunannya tak di ketahui oleh pihak kerajaan? " Gumam Sima rui. Lalu menoleh pada tuan mo yang sudah menyusul dirinya dan berdiri di sampingnya.
Di usianya yang berkepala empat. Tuan mo masih gesit. Ilmu bela dirinya tidak berkurang sedikit pun. Masih sekuat saat dirinya masih muda.
" Apa anda juga tidak mengetahuinya, ayah mertua? " Tanya Sima rui pada mertuanya yang menjabat sebagai menteri pembangunan. Yang mana tugasnya mengawasi setiap pembangunan besar di Kerajaan.
" Jika bendungan ini dibuat sebelum saya menjabat, mungkin hal yang wajar saya tidak mengetahuinya. Tapi jika sebaliknya, maka ada pihak yang mencoba menutupi pembangunan tersebut. " Ucap tuan mo penuh selidik.
" Apa yang ayah mertua katakan benar. Aku akan menyelidiki hal ini. " Keduanya turun.
__ADS_1
Tuan Mo kembali ke penginapan sementara Sima rui masih berkeliling memeriksa bendungan tersebut.
Namun tanpa keempatnya tahu. Ada dua pasang mata yang terus mengawasi mereka.
" Apa?! jadi mereka mendekati tempat itu? " Ujar pemimpin desa memastikan.
" Benar tuan. Bahkan pangeran pertama melihat langsung bendungan dari atas. " Ucap pria yang mengawasi Sima rui sebelumya.
Pemimpin desa terlihat kacau. Ia takut mereka mengetahui rahasia besar yang selama ini di sembunyikan oleh pihak kerajaan. Padahal mendiang ibu suri sudah berusaha menutupi pembangunan tersebut. Untuk menyamarkan kebakaran laboratorium Humanoid saat pemusnahan dulu. Tragedi besar yang tak hanya menelan puluhan humanoid tapi juga penduduk desa yang tidak bersalah.
Pemimpin desa memejamkan mata, mencari ketenangan jiwa. " Kalian awasi mereka. Segera laporkan jika ada tindakan mereka yang mencurigakan. "
" Baik. Pemimpin desa. "
**********
Di tempat ziyan,
Ziyan memutar bola matanya jengah. " Masih ada satu hari. Dan kau sudah menganggap dirimu sebagai pemenang? ingat! jatuh setelah terangkat itu sangat menyakitkan. "
" Terserah apa kata mu. Tapi aku sangat yakin, suami mu tidak akan pernah bisa menemukan tempat ini. "
Setelah itu xumu meletakkan piring berisi makanan untuk ziyan.
Ziyan menatap makanan di depannya. Menghela napas, " Bisakah aku meminta makanan lain. Kau memberiku daging setiap hari. Aku ini omnivora bukan karnivora. Memakan daging terus tanpa sayur akan membuatku sembelit. Tidakkah kau tahu fakta tersebut? " Sungut ziyan.
Xumu yang duduk di depan ziyan mengerutkan kening. Ziyan sudah berdebar takut jika pria itu tersinggung dan marah.
" Apa itu omnivora? karnivora? aku tidak tahu daging membuat mu sembelit? " Pertanyaan xumu hampir membuat ziyan tersedak ludahnya sendiri.
Hatinya sudah was-was namun pria itu justru menanyakan sesuatu yang sama sekali tidak ia duga.
__ADS_1
" Apa kau ingin tahu? " Tanya ziyan dan xumu mengangguk pasti.
Ziyen berdehem, memasang gestur seolah dirinya seorang guru yang sedang mengajar muridnya.
" Jadi omnivora adalah makhluk pemakan segala yaitu daging dan sayur sebagai contoh manusia. Sedangkan karnivora, mereka adalah makhluk pemakan daging. Contohnya serigala, harimau. Segala macam hewan yang memakan jenis perdagingan. Untuk pemakan khusus sayur, maka disebut herbivora. Apa kau sekarang mengerti? "
" Hem. Aku mengerti. Hanya saja sepertinya ada yang salah dengan contoh yang kau berikan. "
" Maksud mu? " Kedua alis ziyan bertaut tak mengerti. Merasa tidak ada yang salah dengan penjelasan dan contohnya.
" Kau lupa. Para biksu bukanlah omnivora, mereka adalah herbivora. Mereka tidak mengkonsumsi daging. Dan kau sembarangan mengelompokkan mereka sebagai omnivora. " Xumu berdecak. " Ck. Aku yakin mereka akan marah jika mendengarnya. "
Ziyan hampir muntah darah, kesal mendengar kesimpulan xumu. Namun alih-alih berdebat ia lebih memilih untuk memungut kembali kesabaran yang sudah tercerai berai.
" Terserah apapun yang ingin kau katakan. " Ziyan memilih memakan makanannya daripada terus berdebat dengan pria yang memiliki kepribadian ganda tersebut.
Selama dua hari tinggal disini, banyak informasi yang ziyan dapatkan. Perihal asal usul xumu bagaimana dirinya menjadi humanoid sampai pada fakta bahwa semua eksperimen tersebut di lakukan oleh mendiang ibu suri.
' Keluarga arthur benar-benar hebat. Hebat karena menciptakan masalah dimana-mana. Tidak hanya di dunia sana, disini pun masalah mereka tak kunjung habis-habis. ' Sindir ziyan.
Arthur yang sedang duduk bersama wang yi menepuk telinga yang berdengung.
" Sial! siapa yang berani mengutuk ku. " Lirih Arthur.
" Ada apa? " wang Yi melihat heran tingkah temannya.
" Sepertinya seseorang sedang mengumpat ku. "
Wang Yi terbahak. " Aku rasa itu Sima rui. Bukankah pria itu tak menyukai mu. " Teman Arthur itu tertawa puas saat melihat wajah Arthur semakin jelek.
***********
__ADS_1