
Rumor pemberontak sima rui menyebar dengan cepat, bagai nyala api yang membakar apa saja yang dilewatinya. Panas dan membakar, begitulah reaksi yang di berikan rakyat Jin yang mendengar rumor tersebut. Ada yang mempercayai rumor tersebut namun lebih banyak yang tidak mempercayainya.
" Bagaimana mungkin pangeran pertama melakukan itu? Dia sendiri lah yang melindungi negeri ini dari serangan para penjajah. "
" Benar. Jika pun dia ingin tahta, menurutku itu hal yang wajar mengingat kontribusi nya pada kerajaan. Sangat berbeda dengan putra mahkota. "
" Tapi tetap saja, tidak akan ada asap kalau tidak ada api. Maksudku mungkin saja pangeran pertama sengaja menonjolkan dirinya agar mendapatkan dukungan untuknya mendapatkan tahta. "
" Hei, hentikan omong kosong mu. Kau pasti salah satu pendukung putra mahkota kan? "
Dan perkelahian pun terjadi. Beberapa rakyat terlihat mendukung putra mahkota, namun pada kenyataannya. Mereka hanyalah orang bayaran ibu suri yang bertugas membuat situasi semakin panas.
Keadaan ibu kota yang kacau akhirnya sampai pada sima rui. Bawahan sima rui merasa bahwa hal tersebut penting dan harus segera melaporkannya. Jadi mereka mengirim pesan dan menceritakan apa yang terjadi.
" Apakah situasinya semakin memburuk? " Tanya ziyan. Sedikit banyak ia sudah mendengar apa yang terjadi.
Sima rui berdeham. " Tampaknya semua ini adalah rencana seseorang untuk menghalau kedatangan kita. "
" Apa kau juga berpikir ini rencana ibu suri? " tebak ziyan.
" Hanya dia yang mampu berpikir rencana ini. Menggunakan rakyat sebagai tameng. Ia tahu betul bahwa para prajurit tidak akan berani menyerang rakyat. "
" Lalu apa yang akan kau lakukan? "
" Terkadang bersikap lemah dan tertindas cukup bagus juga. " Ucap Sima rui dengan satu sudut bibirnya yang terangkat.
' Ah benar juga. Laki-laki ini memang punya banyak akal. ' Monolog ziyan. Ia paham dengan jalan pikiran Sima rui. Karena itu ia tahu apa yang sedang ia rencanakan.
************
__ADS_1
Para prajurit Jin akhirnya tiba di ibukota. Namun kedatangan mereka yang seharusnya di sambut hangat justru mendapatkan tatapan rumit dari rakyat. Ada yang melihatnya dengan tatapan ketakutan, ada pula yang melihatnya dengan tatapan mencemooh.
Mereka berpikir bahwa pemberontakan akan segera terjadi. Jadi beberapa rakyat dengan membawa senjata seadanya menghadang mereka.
" Kalian akan melakukan pemberontakan bukan? Apa kalian ingin membuat rakyat menderita dengan perebutan tahta hah? " Ucap salah satu rakyat memegang garpu tanah.
Mereka yang menghalangi tak ingin nasib ibu kota mereka kacau balau. Jika sampai pemberontakan terjadi maka sudah di pastikan keseimbangan pemerintahan juga akan terpengaruh. Dan setelahnya, akan mempengaruhi kondisi perekonomian mereka.
Begitu pria itu selesai berbicara, orang-orang yang menghalau tersebut mulai mengetatkan barisannya. Membuat blokade barisan.
Sima rui maju dengan menaiki kudanya. Menatap satu persatu rakyat Jin yang sedang menghalangi mereka. Ia melompat turun dan berjalan mendekat.
" Kami datang bukan untuk memberontak. Apa kalian lupa dengan mereka. Para prajurit yang bertahun-tahun menjaga perbatasan, melindungi kalian. " Sima rui menatap barisan prajurit di belakangnya, lalu beralih kembali menatap pada orang-orang di depannya. " Namun saat mereka kembali untuk melepas rindu pada keluarganya. Yang mereka dapatkan adalah hal ini. Bukan sambutan hangat atau ucapan terima kasih atas kerja keras mereka. " Ucap kecewa Sima rui. Meski wajahnya datar, namun sorot matanya memperlihatkan rasa penuh kekecewaan.
" Jika kalian masih tidak percaya. Maka kalian bisa mengikuti kami hingga ke istana. Kami berjanji tidak akan ada pemberontakan. " Tawar Sima rui.
Orang-orang yang membuat blokade tersebut saling berpandangan. Mereka ragu, seharusnya tidak seperti ini. Bukankah seharusnya mereka mendapatkan kekerasan fisik sehingga mereka bisa menuntut dan menjatuhkan pangeran pertama. Begitulah kata orang yang membayar mereka. Namun sikap merendah Sima rui malah membuat mereka yang kini justru terlihat seperti orang jahat.
Siam rui berjalan mendekati pria itu. Meski wajahnya datar, namun sorot mata Sima rui yang tajam sanggup membuat siapapun bergidik ngeri.
" Kalian semua dengar! " ucap lantang Sima rui sembari mengedarkan pandangannya pada rakyat yang sejak tadi menonton. " Jadilah saksi. Ikutlah ke istana bersama mereka. Akan ku tunjukan bahwa tidak ada pemberontak. "
Setelah mengatakan itu Sima rui bergegas menunggang kudanya kembali. Ia masih bisa melihat keraguan beberapa rakyatnya. Ia menyentak kudanya jalan. Ia harus segera menyelesaikan sandiwaranya.
Ziyan mengawasi Sima rui dari jarak cukup jauh. Ia memutuskan untuk diam-diam kembali ke kediaman Mo. Ia harus melihat keluarganya terlebih dulu.
" Ayo xiaoqi. " Seru ziyan dan langsung di ikuti oleh xiaoqi.
Sima rui dan ziyan memang sepakat untuk kembali secara terpisah. Hal ini akan membuat mereka bebas untuk bergerak. Mereka yakin, ada sesuatu yang bisa mereka gunakan untuk menjatuhkan ibu suri.
__ADS_1
************
" Yang mulia, pangeran pertama sudah memasuki ibu kota. " Lapor kasim pada ibu suri.
Ibu suri bangkit dari kursi kebesarannya, lalu berjalan keluar. " Mari kita sambut kedatangan pangeran pertama. "
Kasim yang melayaninya mengikuti dari belakang. Saat mereka keluar, ibu suri mengerutkan keningnya karena melihat sesuatu yang berbeda.
" Apakah prajurit yang berjaga disini di ganti? " tanya ibu suri.
" Benar Yang mulia. Mereka memang mengalami rotasi bergilir. Apakah anda merasa tidak nyaman dengan itu Yang mulia? "
Ibu suri tak langsung menjawab, ia justru menatap lekat kedua prajurit yang tidak jauh darinya.
" Yang mulia.. " Panggil sang kasim yang sukses mengalihkan perhatian ibu suri.
" Ayo kita jalan. " Ibu suri kembali berjalan untuk menyambut kedatangan Sima rui.
Sedangkan kedua prajurit yang tadi di tatap ibu suri menghela napas lega. Seakan baru saja terbebas dari pantauan singa betina.
Tepat saat ibu suri tiba di gerbang istana. Sima rui sedang berdebat dengan penjaga gerbang karena melarangnya memasuki istana.
" Lancang! beraninya kalian menghalangiku memasuki istana. " Hardik Sima rui. Bahkan para penjaga tersebut berani menodongkan tombak mereka pada pria yang merupakan pangeran tertua kerajaan Jin tersebut.
" Maaf pangeran, tapi kami hanya menjalankan perintah dari Yang mulia ibu suri? " Jelas salah satu penjaga.
Sima rui mengetatkan rahangnya, wajahnya semakin gelap dengan urat kemarahan yang menonjol di telapak tangannya yang mengepal.
Ibu suri yang melihat reaksi Sima rui tersenyum puas. " Pangeran! Jangan salahkan prajurit itu. Semuanya atas perintahku. Kedatangan mu yang membawa ratusan prajurit memunculkan dugaan pemberontakan. Jadi sebagai upaya antisipasi, aku melarang mu memasuki istana. Kau di perbolehkan masuk jika kau bersedia melepas baju zirah dan menyerahkan senjata serta token militer yang ada di tanganmu. Bagaimana? " Ucap ibu suri dari atas Gerbang.
__ADS_1
Sima rui menatap ibu suri dari bawah. Sama sekali tak terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya. Ia bisa melihat rencana licik wanita itu. Melucuti baju zirah dan senjata bagi seorang prajurit sama artinya dengan menelanjanginya. Karena itu semua prajurit yang mendengar ucapan ibu suri tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
Mereka semua kompak berlutut memohon ibu suri untuk mencabut titahnya tersebut.