
Jinfu datang menemui Sima Feng seperti biasa. Tujuan kedatangannya tidak lain untuk menyerahkan laporan hasil pekerjaannya. Namun sejak kemarin ada sesuatu yang membuat tuan muda keluarga Jiang itu penasaran.
" Ada lagi? apa kau masih memiliki sesuatu yang ingin kau laporkan tuan muda Jiang? " Tanya Sima Feng saat menyadari Jinfu yang tak kunjung bergerak dan justru terlihat termenung memikirkan sesuatu.
" Tidak, Yang mulia. Ini sudah semua. " Meski berkata seperti itu A Feng masih bisa melihat ekspresi ragu-ragu dari wajah tampan Jinfu.
" Katakan saja. Apa yang ingin kau bicarakan padaku. "
Setelah mengubur keraguannya demi memenuhi rasa penasarannya, akhirnya Jinfu mengutarakannya juga.
" Ini.. sebenarnya bukan hal penting. Saya hanya merasa penasaran saja. Dua hari ini putri tidak terlihat dimana pun. Apakah dia sedang sakit, Yang mulia? " Jinfu bertanya dengan kikuk. Sungguh ia begitu gugup takut di salah pahami oleh sang putra mahkota.
A Feng tidak langsung menjawab, ia justru memberikan tatapan menyelidik seolah laki-laki di depannya adalah tersangka sebuah kasus besar.
Benar saja dugaan Jinfu. Sepasang mata A Feng kini menatapnya seolah ia adalah seorang penjahat.
Tahu dirinya tengah dicurigai, Jinfu segera memutar otak mencari alasan untuk menjelaskan.
" Tolong jangan berpikiran buruk Yang mulia. Beberapa hari yang lalu tanpa sengaja saya bertemu dengan putri di sebuah restauran. Kami makan bersama, karena itu saya ingin membayar hutang saya saat itu dengan mengajaknya makan. Sebagai seorang pria, saya merasa tidak nyaman ketika seorang wanita membayar apa yang saya makan. " Jelas Jinfu berharap sang putra mahkota percaya.
" Hanya itu Yang mulia, saya benar-benar mengatakan yang sebenarnya. Tidak ada hal lain yang terjadi. " Jinfu kembali memberikan penegasan saat A Feng sama sekali tak memberikan respon.
" Kau tak perlu panik. Aku bahkan belum mengatakan apapun. Aku juga tidak memaksamu untuk menjelaskan hubungan mu dengan A Fei. "
" Tidak, tidak. Yang mulia, anda salah paham. Saya dan putri tidak memiliki hubungan lain selain pertemanan. Kami berdua murni hanya berteman.
Saya tidak berani untuk memikirkan hal lebih dari itu. " Buru-buru Jinfu menjelaskan status hubungan mereka, yang sebenarnya memang tidak ada hubungan sama sekali.
" Apa aku mengatakan bahwa kalian memiliki hubungan lain? "
" Itu... " Kali ini Jinfu kehilangan kata-katanya. Sulit untuknya berkata.
Melihat lawan bicaranya tak bisa berbicara lagi. A Feng mengambil alih.
" A Fei berteman dengan siapapun itu adalah urusannya. Aku hanya bisa menjaga dan memantau dirinya. Jika seseorang memiliki niat buruk padanya, barulah aku akan bertindak. "
__ADS_1
Kemudian setelah jeda sesaat, Sima Feng kembali melanjutkan. " Jika bisa, sebaiknya kau menjauhi adikku tuan muda Jiang. Kau tahu status adikku. Kegagalan pernikahannya membuatnya mudah terjerat rumor miring terlebih jika terlihat berdua dengan pria lajang seperti mu. "
" Aku tak ingin kedekatan kalian menjadi bumerang untuk A Fei. Andai kata kau pun memiliki perasaan padanya. Kau juga harus melihat pendapat keluarga mu. "
" Aku mungkin terlihat tidak peduli dengan urusan orang lain. Tapi aku tahu, kau dulu pernah menyukai bibi ku. Dan aku harap kali ini kau tidak menyukai adikku. "
Setelah pembicaraan singkat itu, Jiang Jinfu pamit undur diri. Sima Feng yang tergolong makhluk irit bicara itu sampai berkata panjang lebar menandakan bahwa ia sedang memberi peringatan padanya.
Dengan kata lain, jika Jinfu menyukai A Fei dan ingin menikahinya maka ia harus meyakinkan keluarganya. Namun jika sekedar untuk berteman, mulai sekarang baik Jinfu ataupun A Fei tampaknya harus saling menjaga jarak.
Jinfu membuang napas sepanjang jalan. Belum juga ia mendekat, namun dirinya sudah mendapatkan ultimatum.
Ia jadi teringat pertemuan pertama dengan A Fei dulu. Mungkin lebih tepatnya pertemuan dimana untuk pertama kalinya ia melihat sang putri dari jarak yang begitu dekat.
Saat itu hari pernikahan A Hua. Hatinya yang sudah lama menyimpan nama wanita itu harus retak karena patah hati. Ia merenung di tepi danau mencoba menata hatinya yang tercerai berai.
Namun ia tak menduga bahwa musibah akan datang padanya. Seekor lebah berdengung di sekitarnya. Jinfu yang pada dasarnya memiliki phobia akut akan serangga seketika berubah pucat lalu berubah hijau saat makhluk kecil itu tepat di depan wajahnya.
Tanpa sadar, saat mengusir hewan itu, ia justru terpeleset dan tenggelam. Beruntung saat itu A Fei yang berada di sana langsung menolong ketika mendengar teriakan minta tolong Jinfu. Ia membawa tubuh basah Jinfu ke darat. Setelah memeriksa bahwa pria yang di tolong tidak mati. A Fei mencoba membangunkannya.
" Kau akhirnya sadar juga. Dasar bodoh! apa kau begitu putus asa hingga mencoba membunuh diri mu sendiri. "
Jinfu yang baru saja sadar dan langsung menerima bentakan sontak saja tersentak kaget. Terlebih suara A Fei yang keras membuat telinganya berdenging.
Mengumpulkan kesadarannya, Jinfu melihat wajah wanita di depannya. Matanya seketika membulat saat mengenali siapa sosok yang baru saja memakinya tersebut.
" Pu-putri? "
" Kau mengenal ku? " A Fei ingin sekali memukul mulutnya saat melontarkan pertanyaan bodoh.
Setelah memberikan hormat dan mengucapkan Terima kasih. Jinfu mulai menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi.
" Jadi kau bukan ingin bunuh diri tapi terpeleset saat menghindari seekor lebah? " Jinfu mengangguk dan selanjutnya terdengar tawa A Fei. Wanita tak menyangka pria tampan di depannya begitu penakut. Hanya gara-gara seekor lebah dan ia hampir saja menghilangkan nyawanya.
" Ow maaf... aku hanya merasa kau lucu. " Sudut mata A Fei berair karena terlalu lama tertawa.
__ADS_1
" Anda juga lucu putri. Bagaimana bisa anda berpikir saya ingin bunuh diri sementara saat itu saya juga berteriak meminta tolong. "
Tawa A Fei langsung membeku saat mendengar ucapan masuk akal Jinfu.
Dan setelah itu hubungan mereka berlanjut. Sesekali, tanpa sengaja mereka akan bertemu di istana. Hingga akhirnya A Fei harus pergi ke kerajaan Wei untuk menikah dan keduanya tak pernah bertemu lagi.
Barulah mereka di pertemukan kembali setelah A Fei bercerai dan kembali ke Kekaisaran Jin.
*********
A Fei bersiap pergi ke desa sebelah untuk membeli salah satu bahan yang merupakan bahan terpenting dari obat pembasmi hama yang akan dibuatnya.
Karena akan pergi ke desa musuh, demi keamanan, A Fei berangkat membawa beberapa pengawal berpakaian biasa sama halnya dengan dirinya.
" Nona, apakah pakaian Anda tidak terlalu sederhana? "
A Fei yang selalu memakai pakaian dengan bahan terbaik dan hari ini memakai pakaian yang biasa pelayan kenakan. Hal itu tentu saja membuat Xiao Er khawatir. Takut jika sang nona tak nyaman. Namun tampaknya, kekhawatiran Xiao Er sia-sia dan justru ditangkap salah oleh A Fei.
" Tentu saja. Apakah menurut mu aku tidak cantik memakai pakaian ini? "
Kemudian mereka berangkat, hingga setelah setengah hari perjalanan, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Jingu segera memesan sebuah penginapan.
Tanpa ingin membuang banyak waktu, A Fei langsung menuju toko obat terbesar di sana.
Desa di Kerajaan Nan ini lebih ramai jika dibandingkan dengan desa di Kekaisaran Jin.
Ketika A Fei berjalan tiba-tiba tubuhnya mendadak membeku. Ia merasa kenal dengan orang yang baru saja bersisipan dengannya dan otaknya dengan mudah kembali mengingatkan sosok tersebut.
Deg,
A Fei dengan cepat menoleh ke belakang namun hanya beberapa punggung asing yang dilihatnya.
"Ada apa nona? " Tanya Xiao Er saat melihat wajah A Fei diliputi kepanikan.
A Fei mengerutkan kening, dan matanya masih mengedar. " Tidak. Aku hanya merasa melihat seseorang yang ku benci tadi. "
__ADS_1
' Li Chenlan ' Panggilnya dalam hati. A Fei sangat yakin, bahwa orang yang baru saja bersisipan dengannya adalah pria itu.