Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 259 Side story ( A Guang story)


__ADS_3

A Guang masih memikirkan tentang kejadian di ibukota tadi. Ia sangat yakin bahwa wanita yang tak sengaja dilihatnya itu adalah Na li.


Meskipun temannya itu mengenakan pakaian wanita, tapi A Guang yakin matanya tidak mungkin salah mengenali.


Hanya saja yang menjadi pertanyaan adalah untuk apa Na li masuk ke tempat terkutuk itu? Bukankah ia seharusnya berada di asrama?


A Guang meraup wajahnya kasar. Hatinya tiba-tiba merasakan sebuah perasaan asing yang menyesakkan.


' Siapa kau sebenarnya Na li? ' Gumam A Guang dalam hati.


Sebenarnya A Guang sangat penasaran dengan identitas Na li. Ingin sekali dirinya meminta Heilong untuk memeriksa identitas gadis itu.


Tapi apapun yang melibatkan Heilong maka ibunya pasti akan mengetahuinya juga. Lalu jika ia meminta bantuan para penjaga bayangan, maka ayahnya lah yang akan tahu.


Saat A Guang masih tenggelam dengan lamunannya. Sebuah tepukan ringan dipundak membuat A Guang tersentak.


" A Feng? Apa yang kau lakukan? kau membuat ku terkejut. " Keluh A Guang kesal.


" Kakak yang sedang apa? Aku sudah memanggil mu berulang kali, tapi tak satupun dari panggilan ku yang berhasil membuyarkan lamunan kakak. Apa kau sedang memikirkan teman sekamar mu yang cantik itu kak? "


A Guang mendelik begitu mendengar ucapan A Feng. Berbanding terbalik dengan A Feng yang tampak biasa dengan wajah lempeng.


" Apa maksud mu? " Tanya A Guang menuntut penjelasan pada A Feng yang sudah duduk tepat di depannya. Mereka hanya terpisah oleh sebuah meja kecil.


" Tidak ada, aku hanya asal bicara. " A Feng mengedikkan bahu.


A Guang masih mengamati adik laki-laki nya tersebut. Sedangkan A Feng justru sedang menikmati secangkir teh miliknya tanpa peduli dengan tatapan selidik kakaknya.


" Apa? kenapa kakak melihat ku seperti ingin memakan ku? " A Feng menatap kakaknya yang melihat dirinya tak berkedip.


Beruntung ia bukan wanita yang jantungnya akan berdebar karena tatapan sang kakak.


A Guang tak langsung menjawab. Ia masih mengamati A Feng. Barulah setelah sekian detik keduanya saling pandang, A Guang membuang napas dalam.


" Kau tahu, di antara kita bertiga, kaulah yang sangat mirip dengan ayah. Bahkan sifat kalian begitu mirip. Lalu A Fei, dengan sifatnya yang sama seperti ibu. Lembut namun tetap tegas. Kalian berdua mewarisi sifat kedua orang tua kita. Sedangkan aku... " A Guang menghela napas.


' Aku bahkan tak mirip dengan keduanya.' Batin A Guang hanya bisa ia tahan dalam hati tanpa bisa mengucapkannya.


A Feng bukanlah tipe orang yang bisa membujuk. Tapi ia sangat memahami betul bahwa saat ini kakaknya itu sedang gundah.


Apa yang menjadi keinginan A Guang, tentu A Feng tahu betul. Sejujurnya A Feng mengerti mengenai keengganan A Guang menjadi putra mahkota.


A Guang masih bertahan, karena kedua orang tuanya atau karena ia sendiri belum menemukan alasan yang membuatnya mantap untuk melepaskan status putra mahkota.

__ADS_1


" Kakak mirip dengan ayah dan ibu. Jika aku dan A Fei hanya mirip dengan salah satu orang tua kita. Kakak justru perpaduan antara ibu dan ayah. Dari sini bukankah seharusnya aku dan A Fei yang iri. "


Lalu A Feng kembali melanjutkan. " Aku tahu apa yang kakak inginkan. Kelak saat kakak memiliki alasan untuk melepaskannya. Maka dengan tangan terbuka, aku siap menerimanya. Jadi carilah alasan yang membuat kakak harus berjuang hingga melepaskan status tersebut. "


Tiba-tiba A Guang terbahak. Suasana yang sebelumnya sendu seketika berubah hangat.


" Aku ingat, saat kecil kau selalu mengatakan ingin sekali menjadi ayah. Sampai cara bagaimana ayah makan pun kau akan mengikutinya. Lalu saat usia mu sepuluh tahun dengan lantang kau berkata pada ayah ingin pergi ke perbatasan dan berperang dengan suku bar-bar. Membuat ayah dan ibu muntah darah karena syok. Tapi dari kejadian itu, aku akhirnya mengerti akan satu hal. " A Guang menjeda ucapannya. Lalu kembali melanjutkan dengan sebuah senyum di bibirnya.


" Tak ada yang lebih cocok untuk menjadi kaisar kecuali kau. " Ia menepuk lembut puncak kepala A Feng.


" Kakak.. " Lirih A Feng.


" Karena itu, saat aku sudah menemukan alasan yang kau maksud itu. Maka kau harus bersedia menggantikan aku. " Ucap A Guang seolah baru saja melepaskan beban berat di pundaknya.


" Tentu. Kakak tenang saja. " Wajah lempeng A Feng sedikit menyungging senyum meski sebuah tarikan kecil.


" Lalu bisa kau jelaskan maksud ucapan mu tadi? " A Guang memasang kembali wajah menyelidik dengan kedua tangan bersedekap di dada. Sedangkan wajah A Feng seketika membeku.


Setelah membuat adiknya lengah, A Guang kembali melancarkan serangan. Itulah yang selalu dilakukannya jika menghadapi adiknya yang kadang keras kepala itu.


" Ucapan yang mana? " A Feng pura-pura tak mengerti.


" Aku tahu kau mengerti. Jadi berhentilah berpura-pura. "


" Bibi. Aku tahu fakta menarik tentang teman sekamar mu itu darinya. " Adunya.


Mendengar sumber informasi adiknya itu. A Guang langsung melangkahkan kakinya menuju istana bibinya.


A Feng bahkan tak ingin repot-repot menghentikannya. Ia seakan menutup mata dengan nasib bibinya yang sebentar lagi terkena amukan A Guang.


" Bibi! " Panggil A Guang dengan suara keras.


A Hua yang sedang menikmati anggurnya tersentak. Gadis cantik itu terkejut hingga tersedak benda bulat itu.


Pelayan pribadi A Hua segera membantunya menepuk punggung berharap buah kecil bulat itu segera keluar.


A Hua langsung meminum air miliknya sebelum akhirnya menyemburkan amarahnya pada A Guang.


" Apa yang kau lakukan! apa kau ingin membuat ku mati tersedak? " Pekik A Hua.


" Kalian semua pergi. " Tanpa menjawab amukan A Hua. A Guang mengusir semua pelayan.


Tahu bahwa A Guang memiliki hal penting yang ingin di sampaikan hingga mengusir semua pelayannya. Maka A Hua memilih untuk menelan kembali sisa amarahnya yang belum sempat keluar.

__ADS_1


" Ada apa? " Kali ini A Hua bertanya dengan nada lebih rendah.


A Guang duduk di kursi santai yang terletak di sebelah A Hua.


" Bibi, apa kau mengatakan sesuatu pada A Feng? " Pancing A Guang.


' Sial! apa semua lelaki di keluarga sima tak ada satupun yang bisa menutup mulutnya? ' geram A Hua kesal.


Niatnya berbagi gosip pada keponakannya itu justru mendatangkan badai kecil untuknya.


Baginya A Guang seperti badai yang menghancurkan acara santai sorenya.


" Memang apa yang aku katakan padanya? ada banyak hal yang aku ceritakan padanya. " Kelit A Hua dengan tampang tak bersalah.


" Bibi. Hentikan bertindak seolah kau tak mengerti apa-apa. Keluarga sima tidak menghasilkan orang bodoh. "


Deg.


Hati A Hua tercerai. Jika A Guang sampai berkata kasar padanya, menandakan pria itu sedang dalam suasana hati yang buruk. Dan kelihatannya tanpa sengaja A Hua sudah menginjak ranjau di hatinya hingga membuat ketenangannya meledak.


Jika sudah begini, maka A Hua memilih mengibarkan bendera putih.


" Maaf. Aku tak bermaksud bergosip tentang mu pada A Feng. Aku hanya ingin bertukar cerita padanya. Kau tahu, dia sangat ingin mengetahui apa yang selama ini kakaknya lakukan di Akademi. " Lirih A Hua. Ia menunduk penuh sesal.


A Guang membuang napas kasar. Melihat bibinya menunduk seolah sedang menahan tangis. Sedikit ada penyesalan karena sudah berucap kasar pada sang bibi.


A Guang sendiri juga tidak tahu apa yang membuatnya bisa bertindak impulsif seperti tadi.


Entahlah, ia hanya tak menyukai saat orang lain membicarakan Na li.


" Aku juga minta maaf bi sudah berbicara kasar dengan mu. Aku hanya.. Aku.. entahlah aku juga tak mengerti dengan diriku. Tapi bisakah kau katakan bi bagaimana kau tahu bahwa Na li seorang perempuan? " Tanya A Guang gusar. Ia takut jika bibinya saja bisa mengenali, maka kemungkinan orang lain juga tahu pasti ada.


" Apa kau bilang? Na li seorang perempuan? " A Hua memasang wajah terkejut.


" Berhenti berpura-pura bi. Baru saja kau berkata maaf dan sekarang.. "


" Baik, baik. Aku tak akan bercanda lagi. " A Hua segera menyela kala melihat A Guang yang akan kembali mengeluarkan tanduknya.


" Aku dan Na li satu spesies. Kau lupa bagaimana penampilan ku saat keluar istana secara diam-diam. "


A Guang mencoba mengingatnya. Dahinya mengerut kala sebuah ingatan berhasil ia dapatkan.


" Apa karena kalian memiliki kesenangan yang sama memakai pakaian pria. Karena itulah kau dengan mudah bisa mengetahui penyamarannya? "

__ADS_1


A Hua tertawa sombong. " Hohoho bukankah aku hebat. "


__ADS_2