Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 145


__ADS_3

Shuwang tak menyangka bahwa keberadaannya akan dengan cepat diketahui oleh prajurit Baiji. Meski berhasil melarikan diri dari penyergapan saat berada di penginapan. Tapi nyatanya para prajurit tersebut masih mampu mengendus jejaknya.


Ia menarik tangan pelayannya yang tampak kelelahan karena terus berlari. Hingga akhirnya untuk yang kesekian kalinya si pelayan terjatuh karena kakinya yang sudah terasa lemas.


" Nona, tolong tinggalkan saya. Rasa lelah ini hanya akan menghambat mu. Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Kau berlari lah ke arah lain. " Ucap pelayan shuwang putus asa.


Shuwang menggeleng, " Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu. " Air mata shuwang menetes tanpa ia sadari.


Air mata yang menggambarkan bagaimana putus asanya shuwang saat ini. Rasa yang pernah ia rasakan, kini kembali terulang.


Sekuat tenaga shuwang membantu pelayannya berdiri. Namun saat tubuh mungil itu berdiri tegap, tiba-tiba tubuh shuwang terdorong ke belakang, dan detik itu juga ia melihat cairan merah merembes dengan sebuah belati menancap di dada pelayannya. Pelayan itu melindungi shuwang dari belati yang terbang ke arahnya.


" Nona cepat pergi! " Teriak pelayan shuwang. Dengan sisa tenaganya, ia mencoba mendorong shuwang. Namun shuwang hanya menggeleng dengan isak tangisnya. Ia sudah pasrah dengan hidupnya. Para prajurit yang mengejarnya sudah berhasil menyusul. Bahkan shuwang bisa melihat senyum seringai di wajah mereka.


Pelayan shuwang yang sudah kehilangan banyak darah akhirnya tak sadarkan diri. Sementara shuwang hanya bisa menangis sembari memeluk tubuh pelayannya. Berdoa dalam hati semoga ada sebuah keajaiban.


Mata shuwang terpejam saat seorang prajurit tepat di depannya mengangkat tinggi pedang miliknya hendak menebasnya.


' Dewa tolong aku! ' Jerit shuwang dalam hati. Matanya terpejam kuat, sementara tubuhnya terasa lemas. Ia yakin bahwa hari ini akan menjadi hari terakhir hidupnya. Dan...


Gubrak,


Shuwang mendengar suara benda berat jatuh ke tanah. Alih-alih merasakan sakit, shuwang justru mendengar suara pedang saling beradu. Ia memberanikan diri membuka matanya dan melihat tubuh prajurit yang hendak menebasnya tadi sudah tergeletak tak bernyawa. Dan tak jauh darinya, seorang pria sedang melawan sisa prajurit lainnya. Begitu cepat pria itu menyelesaikan pertarungannya. Lebih dari sepuluh prajurit yang tadi mengejarnya, semuanya sudah tergeletak di tanah.


Kini perasaan takut shuwang berubah menjadi sebuah rasa lega. Ia Senang ada seseorang yang datang menolongnya.


Pria itu berjalan mendekati shuwang. Ia berjongkok dan memeriksa nadi pelayan itu. Saat shuwang membuka mulutnya untuk mengucapkan terima kasih. Pria itu sudah berbicara terlebih dulu.


" Ia sudah meninggal. Lebih baik kau menguburnya putri. " Ucap pria tersebut.


Shuwang mengernyitkan dahinya. " Kau tahu siapa aku? " Tanya shuwang.

__ADS_1


Pria itu menatap shuwang sekilas lalu mengangkat tubuh kaku yang ada di pelukan shuwang. " Aku hampir menjadi adik ipar mu, jika saja pertunangan mu dengan putra mahkota tidak di batalkan. " Jawab pria itu acuh.


Mata shuwang membesar dengan mulut menganga saat menyadari indentitas pria yang menolongnya tersebut.


" Kau Sima Dan? " Ucap shuwang tak percaya.


Setelah membuat makam kecil untuk pelayannya. Ia bersama Sima Dan pergi ke perbatasan. Sima Dan mengajak gadis itu karena tak tega meninggalkannya sendiri, disaat banyak prajurit musuh yang mengejarnya.


Sima Dan memiliki hal penting yang harus segera ia sampaikan pada Sima rui. Karena itu tanpa membuang waktu, ia memacu kudanya dengan kecepatan penuh. Shuwang yang pertama kali berkuda dengan kecepatan tak biasa itu hanya bisa menutup matanya dan memeluk erat tubuh pria di depannya. Dan tidak lupa mengutuk Sima Dan dalam hati.


" Kita sudah sampai. Jadi kau bisa melepaskan tanganmu. " Sima Dan menengok ke belakang dan melihat shuwang masih menutup matanya dengan tangan gadis itu yang masih dengan erat memeluknya.


Shuwang baru sadar jika kuda mereka sudah berhenti bergerak. Setelah terbang beberapa kali karena kecepatan kuda Sima Dan. Shuwang hampir tak bisa merasakan lagi tubuhnya, seolah semua tulangnya terlepas tertinggal di belakang.


" Kau_ " Kesal shuwang hingga tak bisa berkata-kata. Ia langsung turun dari kuda, namun karena tubuhnya yang terasa lemas dengan kaki yang terus gemetar, ia pun terjatuh.


Sima Dan segera turun dari kudanya dan membantu shuwang berdiri. " Lain kali bicaralah jika kau tidak bisa turun dari kuda. Aku akan membantumu. " Ucap Sima Dan acuh.


" Siapa? apakah karena kuda ini? " Tanya Sima Dan dengan wajah polos.


Melihat pria di depannya memasang wajah tak bersalah. Shuwang hanya bisa menghela napasnya meredam amarahnya.


' Tenanglah shuwang. Bagaimanapun ia sudah menyelamatkan mu tadi. ' Batin shuwang.


" Sudahlah. Lupakan saja. "


" Baiklah. Aku pergi dulu. " Sima Dan langsung pergi meninggalkan shuwang begitu saja.


Gadis itu hanya bisa menatap tak percaya Sima Dan yang meninggalkannya begitu saja. Kini ia yakin, bahwa sikap acuh adalah sifat alami keluarga mereka, mengingat sifat Sima rui juga demikian.


" Yang mulia, pangeran kedua datang ingin bertemu. " Lapor salah satu prajurit.

__ADS_1


Sima rui menyatukan alisnya. Ia bingung dengan kedatangan Sima Dan yang tiba-tiba. Tapi satu hal yang pasti, bahwa sesuatu telah terjadi di istana.


" Kakak.. " Ucap Sima Dan begitu melihat Sima rui.


" Apa yang terjadi? " Sima rui tahu ada hal penting yang ingin di sampaikan adiknya itu. Jadi tanpa membuang waktu ia langsung bertanya.


Seketika wajah Sima Dan langsung berubah serius. " Ayahanda jatuh sakit dan ibu suri mengambil alih sementara pemerintahan. " Begitu singkat, jelas dan padat Sima Dan menyampaikan situasi istana saat ini.


***********


Istana kerajaan Jin.


Situasi di pengadilan istana tampak kacau. Beberapa pejabat menolak ibu suri yang kini menggantikan Sima shao memimpin.


" Ibu suri, dimana Yang mulia putra mahkota? bukankah seharusnya dia yang menggantikan sementara Yang mulia kaisar. " Ucap salah satu pejabat.


Wajah ibu suri masih tampak tenang di kursi tahta tertinggi kerajaan Jin tersebut. Ia seolah tidak terpengaruh dengan keluhan salah satu pejabatnya tersebut.


" Kalau begitu katakan padaku dimana putra mahkota sekarang? " Ibu suri justru balik bertanya pada pejabat tersebut.


Pejabat tersebut tidak mengerti maksud ibu suri. Kenapa ia justru bertanya padanya? pikir pejabat tersebut.


" Kenapa diam? Kau sendiri bahkan tidak tahu dia dimana? Semenjak Yang mulia kaisar jatuh sakit. Putra mahkota tidak diketahui keberadaannya. " Ibu suri diam sejenak lalu mengedarkan pandangannya pada semua pejabat di depannya.


" Aku tahu, banyak dari kalian yang menentang. Tapi apa menurut kalian putra mahkota lebih pantas dariku untuk menggantikan sementara kaisar. " Lanjut ibu suri.


Memang benar sebagai putra mahkota, Sima yan masih jauh dari kata layak. Namun sesuai dengan urutan tahta. Maka yang seharusnya berhak memimpin sementara tetaplah putra mahkota.


Tahu jika percuma saja berbicara dengan para pejabat istana. Ibu suri memutuskan untuk membuka topengnya.


" Bagiku dengan atau pun tanpa persetujuan kalian, aku lah yang kini memimpin kerajaan ini dan jika kalian menentangnya. Maka jangan salahkan aku jika harus mengakhiri hidup kalian. " Sambung ibu suri.

__ADS_1


Lalu sekelompok prajurit datang dan mengepung aula tersebut membuat semua pejabat terkejut.


__ADS_2