Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
chapter 111


__ADS_3

Ziyan menatap bibinya dan mengangguk, " Oke. "


Lucy masih mengira bahwa keponakannya itu bercanda. Jadi sekali lagi ia mencoba memastikan. " Gaia, bibi mu ini meminta rumah, kenapa kau begitu saja menjawab oke. Apa menurut mu membeli rumah seperti membeli permen kapas? "


Ziyan kembali menatap lucy, ia bahkan tidak memberikan ekspresi apapun. " Aku tahu bi, Karena itu aku bilang oke. Apa bibi lupa kalau keponakan mu ini kaya. Bahkan jika bibi meminta aku membelikan 10 rumah. Aku masih bisa melakukannya. Hanya saja.... " ZIyan tiba-tiba menghentikan ucapannya.


" Hanya saja apa? " Tanya lucy penasaran.


" Hanya saja...bisakah bibi biasakan memanggilku ziyan atau Yaner. Aku takut bibi keceplosan memanggilku gaia di depan orang lain. Itu bisa berbahaya bi. "


" Tapi snowy memanggilmu Gaia? "


" Dan snowy tidak bicara di depan orang lain. " ucap ziyan tak mau kalah.


Melihat raut wajah keponakannya itu begitu serius. Ia hanya bisa mengalah. Meski bibirnya belum terbiasa memanggilnya dengan nama itu.


"Aku juga membuat lab penelitian untuk bibi. Jadi kau bisa melakukan eksperimen nanti. Aku harap bibi bisa secepatnya mengembangkan pengobatan modern. Karena sejujurnya aku kurang menyukai rasa obat tradisional. " ziyan merasakan tubuhnya merinding saat lidahnya kembali mengingat bagaimana pahitnya obat yang pernah ia minum dulu.


" Itu mudah. Tapi karena aku tidak memiliki asisten, mungkin tidak akan secepat biasanya. "


" Untuk asisten, serahkan padaku. Aku akan mencarikan bibi orang yang kompeten dan yang terpenting, bisa di percaya. "


" Baiklah. Kau atur saja bagaimana baiknya. Lalu sampai kapan aku tinggal disini? kapan rumah itu siap? " lucy kembali menyerang ziyan dengan pertanyaannya.


" Aku pastikan tidak sampai satu minggu. Jadi tolong bibi bersabar ya. Anggap saja sebagai liburan sebelum bertempur. "


Lucy hanya bisa kembali menghela napasnya, karena selama seminggu ke depan ia harus kembali menjadi babi yang hanya makan dan tidur.


Melihat wajah muram sang bibi, ziyan kembali berbicara. " Setelah ini aku akan ke istana rixi. Apa bibi mau ikut. Setidaknya bibi bisa berjalan-jalan sementara aku menyelesaikan urusanku dengan sima rui. "

__ADS_1


Kedua mata lucy berbinar. " Tentu saja aku mau. " lucy menjawab dengan cepat.


' Apa lagi kudapan kediaman pangeran jauh lebih enak dari pada di sini. ' Batin lucy sembari membayangkan aneka kudapan yang akan ia makan nanti.


******


Junyi terbaring lemah dengan luka di bagian perutnya. Pengejaran bayangan hitam malam itu, ternyata memberikan hadiah luka pada junyi. Sima rui juga tidak menyangka pengawal terbaiknya itu bisa terluka begitu parah.


Sang tabib berusaha mengobati junyi. Namun karena lukanya yang begitu dalam. Pengobatan sang tabib tampak sia-sia. Ia menyeka keringat di dahinya karena proses pengobatan yang begitu menguras tenaganya.


Sima rui yang memperhatikan sang tabib dengan mata elangnya, justru semakin membuat sang tabib semakin gugup. " Pangeran, luka pengawal Junyi cukup parah. Meski saya sudah memberikan obat untuk menutup lukanya dan menghentikan pendarahannya tapi sepertinya itu sia-sia. " Ucap sang tabib dengan suara gemetar. Tidak hanya sang tabib yang merasakan kegelisahan, asisten tabib bahkan lebih ketakutan. Ia merasa tercekik hingga susah baginya untuk sekedar bernapas.


" Kalau begitu lakukan sesuatu agar tidak menjadi sia-sia. " ucap Sima rui penuh penekanan.


Sang tabib tampak bingung. Ia bahkan tidak tahu harus berbuat apa dan hanya bisa terdiam.


Melihat kemampuan sang tabib yang sudah sampai pada batasnya. Sima rui akhirnya menyerah untuk terus menekan sang tabib. " Pergilah, dan ambil bayaran mu. "


Setelah berada di luar, Sang asisten akhirnya bisa bernapas lega. " Pangeran pertama sesuai dengan rumor, auranya begitu mendominasi dan kuat hingga membuatku sulit bernapas. "


" Ia seorang jenderal besar. Melindungi negara kita dan mengalah setiap musuh-musuhnya di medan perang. Jadi wajar, jika semua pengalaman tersebut membuat pembawaannya begitu kuat. " Jelas Sang tabib.


" Tapi, nasib pengawal muda itu sungguh sangat di sayangkan. Ia begitu berbakat dan sangat loyal dengan pangeran. Namun sebentar lagi ia akan... " Sang tabib segera menutup mulut asistennya itu.


" Berhenti bicara sembarangan atau lidahmu akan terpotong. " ancam Sang tabib. Asisten yang ketakutan itu segera menutup mulut dengan tangannya dan menggeleng.


Istana adalah tempat yang berbahasa. Di sini bahkan dinding pun bisa berbicara. Jadi sekecil apapun ucapan, itu bisa membawa dampak yang sangat serius.


Sima rui menatap pengawal pribadinya itu dengan rasa khawatir. Meski wajahnya masih tampak dingin. Namun netra nya bergetar menunjukan rasa khawatir.

__ADS_1


Junyi tersenyum tipis dengan bibirnya yang sepucat kertas. " Saya baik-baik saja pangeran. Jadi pangeran tidak perlu khawatir. " Junyi tak ingin Sang tuan mengkhawatirkan bawahan sepertinya.


" Saya senang bisa melayani pangeran, karena itu saya harap bisa kembali melayani pangeran di kehidupan selanjutnya. " lanjut junyi dengan suara lemah.


" Berhenti bicara omong kosong. Lebih baik simpan tenaga mu agar kau bisa cepat sembuh. " Sima rui tak ingin mendengar segala bentuk ucapan menyedihkan tersebut. Melihat pengawal sekaligus orang terdekat nya terbaring sekarat saja sudah membuatnya sedih.


" Aku akan menghukum mu begitu kau sembuh karena sudah gagal menjalankan perintah ku. Jadi berjuanglah agar secepatnya kau sembuh. "


Junyi tertawa pelan. Ia tahu tuannya itu sedang memberikan motivasi untuknya. Tapi meski begitu junyi juga bukanlah orang bodoh yang tidak mengerti maksud ucapan tabib tadi. Pengobatan yang ia terima sia-sia karena lukanya yang begitu parah.


' Maaf pangeran, saya tidak bisa melayani mu lagi. Semoga anda selalu sehat dan dewa selalu menjagamu. ' Batin junyi dan secara perlahan matanya tertutup.


Sima rui mengerutkan dahinya. Dengan tangan gemetar ia memeriksa hembusan napas di hidungnya. Tangan Sima rui terjatuh, tenaganya seakan hilang. Lemas.


' Syukurlah hanya tertidur ' batin Sima rui.


" Pangeran, nona Mo ada di depan menunggu anda. " Suara pelayan di balik pintu luar.


Sima rui segera menemui Ziyan setelah menyuruh salah satu pelayan menjaga junyi.


" Apa kau sedang sibuk pangeran? kau kelihatan begitu kelelahan. " Tanya ziyan saat melihat sedikit lingkaran hitam di mata Sima rui.


Sima rui menggeleng. " Bukan seperti itu. Hanya saja.. " Sima rui pun menceritakan tentang kondisi junyi yang terluka parah. Lucy yang bersama dengan ziyan juga ikut mendengarkan dengan cermat.


" Sepertinya pengawal mu itu harus melakukan pembedahan dan menjahit organ yang terluka. Barulah pendarahannya akan terhenti. Jika tidak, bisa ku pastikan hidupnya tidak akan sampai esok hari. " ucap lucy.


Sima rui mengernyit karena sama sekali tak mengerti ucapan lucy, berbeda dengan ziyan yang langsung tahu seberapa buruk kondisi junyi dan harus secepatnya mengambil tindakan operasi.


" Bibi, apa kau bisa melakukannya? " tanya ziyan.

__ADS_1


Saat hendak bicara, lucy menatap Sima rui. Ziyan menangkap apa yang di khawatirkan oleh bibinya itu. Jadi ia segera berbicara. " Tenang saja bi. Dia orang yang aku percaya. "


Satu ucapan ziyan itu membuat Sima rui bahagia. sementara bagi lucy, ucapan tersebut sudah mampu menghilangkan kekhawatirannya.


__ADS_2