
Tidak ada gunanya mengelak. Jingu sudah tahu sejak lama semua tentang Sima Feng. Sepak terjangnya di medan perang mampu membuat siapapun yang berada di pihak musuh akan ketakutan begitu mendengar namanya.
Liang Jingu, Pangeran ke lima Kekaisaran Nan. Memiliki misi untuk mengacau Kekaisaran Jin. Bahkan sampai dirinya lah yang memerintahkan bawahannya untuk meracuni A Guang.
Awalnya semua sesuai dengan rencana. Namun siapa yang akan menduga bahwa dirinya akan jatuh hati dengan A Fei.
Ia tidak mungkin mengkhianati negaranya, tapi di sisi lain ia juga tidak akan mungkin bersatu dengan wanita kecintaannya itu. Jingu tak memiliki pilihan selain terus melangkah maju.
Semenjak Sima Feng membuka penyamarannya, semakin tidak mungkin untuknya dan A Fei bersama. Dengan terpaksa, ia harus membunuh hati dan cintanya.
" Aku tidak menduga bahwa kau akan mengetahuinya begitu cepat. " Begitu tenang Jingu menanggapi seolah itu bukan masalah besar. Ia bahkan tersenyum sinis.
" Sayang sekali aku tidak bisa bersenang-senang lagi. " Lanjutnya lagi. Berusaha keras untuk memprovokasi Sima Feng.
Sima Feng tak berniat membuat obrolan dengan Jingu, ia justru langsung menyerangnya. Gerakan Sima Feng begitu cepat hingga membuat mantan pengawal A Fei itu kewalahan. Pedang ditangan Jingu terpelanting setelah Sima Feng berhasil melakukan tendangan.
Serangan Sima Feng benar-benar tanpa celah. Membuat Jingu semakin tersudut, Jingu yang terdesak membuat langkahnya terus mundur ketika harus menahan serangan Sima Feng.
' Sial! Jika seperti ini terus aku pasti akan kalah. Tidak, aku tidak boleh mati di sini. '
Jingu menendang tanah hingga pasir terbang ke wajah Sima Feng. Pria itu menutup mata sebagai respon reflek untuk melindungi matanya. Sayang begitu matanya kembali terbuka, sosok Jingu sudah tidak ada.
__ADS_1
" Pecundang licik! "
Tak lama Ling He datang dan menemukan wajah Sima Feng yang terlihat sangat marah.
" Dari mana saja kau? apa kau seekor kura-kura? kenapa kau membutuhkan waktu begitu banyak hanya untuk menyusul ku? " Hardik Sima Feng begitu melihat wajah kelelahan Ling He.
Melihat kemarahan Sima Feng, Ling He bisa menebak bahwa Jingu berhasil melarikan diri.
' Sepertinya beberapa hari ke depan kehidupan ku akan sangat berat. ' Ratapan suara hati Ling He.
" Maaf Yang mulia. Saya tak menyangka bahwa Jingu memiliki seseorang yang diam-diam melindunginya. "
" Ling He, perintahkan prajurit untuk mengepung kampung bandit lalu tangkap semua orang di sana. Pastikan tak ada satupun yang melarikan diri. Termasuk orang tua, wanita dan bahkan anak-anak sekalipun. " Lanjut Sima Feng memberikan perintah sebelum akhirnya pergi.
Keesokan harinya,
A Fei masih belum mengetahui kejadian besar yang terjadi tadi malam. Barulah ketika sarapan pagi, ia tersadar akan ketidak adanya Jingu.
" Dimana Jingu? apakah ia terlambat bangun? " Tanyanya pada Xiao Er.
Pelayan A Fei itu menggeleng, " Saya tidak tahu putri. Sejak pagi saya juga belum melihatnya. "
__ADS_1
A Fei merasa aneh karena Jingu tidak biasanya terlambat bangun.
Tiba-tiba seorang kasim datang membawa pesan bahwa Sima Feng meminta A Fei datang. Meski bingung, A Fei mengiyakan dan berkata akan datang nanti.
Karena akan berkunjung ke istana putra mahkota, ia akan sekaligus menemui kakak iparnya, Liu Ru. Selain itu ia juga sudah berjanji membawakannya beberapa barang dari desa di Wuyuan. Jadi segera A Fei membongkar beberapa kotak simpanannya dan mengambil sebuah kotak berukuran sedang.
Perhatiannya tiba-tiba tertuju pada kotak lain yang berukuran lebih kecil. Ia ingat, itu kotak yang ia simpan sejak berasa di perbatasan.
" Kenapa aku melupakan kotak ini... "
A Fei membuka dan menemukan sebuah gantungan giok berbentuk burung Phoenix. Sekilas ia merasa tak asing dengan bentuk giok tersebut.
" Bukankah ini milik Jingu? " Gumamnya tanpa sadar tertawa kecil. A Fei ingat sekali, ia mengambilnya saat pria itu mencoba merampoknya namun akhirnya justru pria itu lah yang ia rampok. Karena menurutnya menarik, ia pun mengambil giok tersebut.
" Kenapa aku merasa tak asing dengan giok ini. " Masih berbicara sendiri, A Fei memperhatikan giok ditangannya dengan lekat.
Kemudian ia teringat sesuatu. " Ah, benar sekali. Giok ini sekilas mirip sekali dengan giok milik Kak A Guang dan A Feng. "
Meski memiliki motif berbeda, namun secara garis besar memiliki struktur dan bahan yang sama. Giok itu sama-sama terasa dingin ketika di pegang.
Ia pun memasukkan giok tersebut ke kantong. Entah kenapa ia ingin segera menunjukkannya pada saudara kembarnya.
__ADS_1