
Sebuah gerbang dengan dua penjaga bertubuh besar yang memakai topeng makhluk bertaring. Dari dalam terdengar suara teriakan yang begitu memekakkan telinga. Teriakan penuh kesakitan yang teramat sangat. Menyalurkan perasaan takut bagi siapapun yang Mendengarnya.
" Masuk! " Penjaga bertubuh besar menyeret seorang anak laki-laki masuk ke sebuah ruangan. Ruangan yang tampak asing bagi bocah itu. Banyak barang yang belum pernah di lihat oleh matanya.
Bocah itu mengedarkan pandangannya, matanya membelalak ketika melihat salah satu sudut ruangan yang pintunya terbuka lebar. Terlihat tabung kaca besar berisi air dengan seorang anak di dalamnya.
' Apakah itu mayat? ' Batin bocah itu melihat anak dalam tabung dengan mata terpejam tidak bergerak. Bahkan seluruh tubuhnya begitu pucat.
" Tidak. Siapa kalian. Lepaskan aku! LEPAS! " Histeris anak kecil itu semakin kuat. Ia yakin bahwa dirinya akan di jadikan seperti bocah yang ada di dalam tabung itu.
" LEPASKAN AKU! " Teriaknya lagi lalu menggigit tangan penjaga itu.
" Arghhh! Diam! " Teriak penjaga itu namun tak menghentikan gerakan anak tersebut. Ia pun memukul kepala anak itu yang akhirnya berhasil membuatnya diam.
Penjaga yang lain datang dan langsung membantu temannya menempatkan bocah laki-laki itu ke atas tempat tidur. Di ikatnya kedua tangan dan kakinya di setiap sudut ranjang.
Anak yang ketakutan itu terus berteriak dan memberontak, namun ikatan di tangan dan kakinya sama sekali tidak mengendur.
" LEPASKAN AKU! MAU APA KALIAN! " Teriak anak itu semakin histeris kala melihat seorang pria berjas putih mendekat.
" Tubuh yang bagus. Anak ini akan menjadi eksperimen selanjutnya. " Ujar pria berjas putih itu mengamati tubuh kecil di depannya.
Pria itu berjalan ke meja di sisi lain, lalu mengambil sebuah alat suntik dan mengisinya dengan sebuah cairan hijau.
Mata anak itu bergetar karena ketakutan. Keringat dingin keluar dari seluruh tubuh kecilnya.
" A-apa y-yang akan ka-kalian lakukan? " Dengan bibir pucat yang gemetar, ia terus bertanya. Meski terdengar seperti gumaman. Anak itu begitu takut hingga badannya tidak memiliki tenaga lagi, meski hanya untuk sekedar bergerak. Apa lagi kedua tangan dan kakinya yang terikat. Membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.
Pria berjas putih berdiri di samping tubuh anak yang berbaring. Lalu menyuruh salah satu penjaga untuk menggunting baju anak itu hanya menyisakan celana panjangnya.
" Kau harusnya senang. Karena sebentar lagi kau akan menjadi humanoid sama seperti yang lain. "
" Eksperimen Batch 12 nomor 999. " Ujar pria jas itu lalu menyuntikan cairan hijau itu ke lengan anak laki-laki tersebut.
Tidak lama kemudian, tubuh anak itu mengejang. Matanya merah melotot dengan urat menonjol di seluruh leher.
" ARGH! ! ! " Teriaknya kesakitan. Merasakan seluruh otot di tubuhnya seolah putus satu persatu. Bahkan daging terasa seakan terkoyak dan lepas dari tulang.
" Tidak... Tolong.. sakit sekali. "
Ziyan segera terbangun kala mendengar suara suaminya yang mengigau. Terkejut kala melihat kondisi sima rui yang terlihat begitu menderita.
" Pangeran bangun. " Ziyan menepuk pelan pipi Sima rui berharap sang suami segera bangun.
" Pangeran... pangeran... bangun. " Ziyan terus berusaha membangunkan suaminya.
__ADS_1
Mata Sima rui mendadak terbuka secara tiba-tiba. Napas pria itu memburu dengan peluh membasahi seluruh tubuhnya. Ziyan yang selalu melihat suaminya dalam kondisi baik, terlihat bingung kala untuk pertama kalinya ia melihat sosok sima rui yang terlihat begitu kacau.
" Ada apa? apa kau bermimpi buruk? " Tanya ziyan khawatir.
Sima rui masih tidak menjawab. Ia masih menenangkan jantungnya yang masih berdebar karena mimpi yang begitu menyakitkan tadi. Mimpi yang terlihat begitu nyata. Bahkan rasa sakitnya juga masih bisa Sima rui rasakan saat dirinya terbangun.
" Apa kau baik-baik saja suamiku? " Ziyan sekali lagi bertanya. Karena Sima rui masih diam, ziyan akan memanggil tabib untuk memeriksa kondisinya. Namun baru juga wanita itu menurunkan kakinya, Sima rui sudah lebih dulu meraih lengan ziyan lalu berbicara.
" Jangan pergi. Tetaplah disini. " Pinta Sima rui.
" Aku hanya akan meminta pelayan memanggil tabib. "
" Tidak diperlukan. Aku hanya membutuhkan mu. "
" Apa kau yakin? " Ziyan menyipitkan matanya memastikan.
Sima rui mengangguk. Sebenarnya ziyan tidak tega melihat wajah pucat suaminya. Namun karena itu permintaan suaminya, maka ziyan hanya bisa patuh dan kembali duduk di samping Sima rui.
Ziyan tidak kembali bertanya. Ia menunggu hingga suaminya tenang dan menceritakan apa yang dimimpikannya.
Hampir setengah jam keduanya diam. Akhirnya Sima rui mulai membuka suaranya.
" Aku bermimpi. Mimpi yang begitu mengerikan. " Ucap Sima rui sementara ziyan masih setia diam dan mendengarkan apa yang akan di katakan suaminya tersebut.
" Ada gerbang besar dengan dua penjaga yang memakai topeng iblis. Tempat itu sangat asing. Di sana ada benda panjang yang terbuat dari kaca. Di dalamnya berisi air dengan anak laki-laki di dalamnya. Wajah mereka begitu pucat seperti mayat. Tak lama datang seorag pria berpakaian putih lalu menyuntikan suatu cairan hijau ke dalam tubuh ku. " Ziyan yang mendengar cerita Sima rui mulai mengernyit karena tidak asing dengan situasi tempat yang di ceritakan oleh Sima rui.
Ziyan memeluk Sima rui, menyalurkan ketenangan padanya. Ia tahu pasti mimpi itu begitu menakutkan hingga sosok kuat sepertinya bisa sekacau seperti sekarang. Di tepuk-tepuknya punggung Sima rui.
" Tak apa, semuanya hanya mimpi. Semuanya sudah berlalu. " Ucap ziyan menenangkan Sima rui.
" Humanoid. " Gumam Sima rui.
Deg! jantung ziyan bergemuruh.
" A-apa yang kau katakan? " Tanya ziyan berusaha tenang.
" Pria berpakaian putih itu menyebut humanoid. "
Ziyan memperhatikan Sima rui. Ia sama sekali tidak berbicara. Situasi dalam mimpi yang di katakan Sima rui juga persis seperti laboratorium ibunya di pusat penelitian humanoid. Tapi bagaimana suaminya bisa memimpikan hal tersebut. Sebuah tanda tanya besar yang kini masuk dalam daftar catatan di kepala wanita itu.
" Kau tahu apa itu humanoid? " Tanya ziyan hati-hati dan Sima rui menggeleng.
" Tidak. "
Ziyan menarik napas lalu membuangnya. " Itu adalah sebutan untuk manusia super yang di kembangkan oleh negara Britanua. Mereka membuat prajurit luar biasa dari manusia biasa dengan cara dilakukannya mutasi genetik. "
__ADS_1
Kemudian kembali ziyan menambahkan. " Dengan menghancurkan gen lemah dan menambah gen kuat. Manusia superior akhirnya tercipta. Namun selama proses itu, tidak sedikit yang meninggal. Karena rasa sakit yang tak sanggup mereka terima. Rasa sakit itu karena perubahan kromosom yang di akibatkan oleh mutasi genetik. "
" Sebagai contoh snowy. Dia salah satu humanoid dalam versi hewan. Namun yang berbeda adalah dalam otak snowy di tanam sebuah chip yang membantunya menyimpan memori. Karena kapasitas otak hewan dan manusia berbeda, karena itu di butuhkan sebuah chip yang berperan sebagai kartu memori seperti dalam perangkat elektronik. "
" Apakah sampai sini kau paham? " Tanya ziyan setelah selesai menjelaskan.
" Meski tidak sepenuhnya mengerti karena beberapa istilah yang asing di telinga ku. Namun secara garis besar aku sedikit memahami apa itu humanoid. Intinya humanoid membuat manusia biasa menjadi manusia luar biasa. Benar bukan? "
" Benar. Secara garis besar seperti itu. " Ziyan mengangguk setuju.
Kembali ziyan menjabarkan analisanya. " Hanya saja penjaga yang memakai topeng? itu tidak seperti labolatorium militer tempat ibu ku bekerja yang dijaga oleh pria berseragam militer lengkap dengan senapan. "
" Mungkin lebih baik kita bertanya dengan snowy atau arthur. " Saran ziyan.
Mendengar istrinya menyebut nama pria yang dulu memujanya, membuat rasa penasaran arthur mendadak lenyap. Ia enggan jika harus kembali berurusan dengan pria itu. Karena sima rui yakin bahwa arthur pasti masih belum bisa melupakan ziyan.
" Kenapa kita harus bertanya pada pria itu? apa snowy tidak cukup tahu mengenai hal itu. "
" Pria itu? " Beo ziyan. " Oh arthur. Tentu saja tidak cukup jika bertanya pada snowy. Meski ibu memasukkan beberapa info tambahan seputar humanoid. Tapi arthur yang keluarganya bertanggung jawab pada proyek itu pasti lebih tahu dibanding dengan snowy. "
" Setelah aku ingat lagi. Apa mungkin alasan ibu suri datang ke dunia ini ada hubungannya dengan mimpi tadi? jika benar? Mungkin saja mimpi yang kau alami ada kemungkinan ingatan yang telah lama hilang. " jabar ziyan.
' Ingatan yang hilang? ' Batin sima rui.
Tapi ia merasa bahwa tak ada yang hilang dari ingatannya. Ia masih bisa mengingat kenangan masa kecilnya hingga saat ini.
" Sudah. Lebih baik kita kembali beristirahat. Kita akan mencari tahu semuanya besok. " Bujuk ziyan. Meski pada akhirnya mereka berdua tidak ada satupun yang bisa kembali tidur nyenyak karena segala macam pikiran yang terus berputar di kepala.
*********
Di waktu yang sama namun tempat yang berbeda.
Seorang pria terengah-engah karena melarikan diri dari kejaran xumu. Pria itu adalah satu-satu petugas biro penyidik yang sedang di cari oleh sima dan.
" Percuma saja kau lari. Hahaha " Tawa xumu menggelegar dan mampu membuat korbannya merinding. " Larilah sejauh kau bisa. "
Pria itu memutuskan bersembunyi di sebuah tumpukan jerami. Berusaha setenang mungkin agar persembunyiannya tidak diketahui xumu. Namun detak jantungnya yang begitu keras seolah membuat usahanya sia-sia.
Langkah kaki xumu terdengar semakin dekat. Pria itu menutup mulutnya rapat-rapat menghalau agar tidak membuat suara sedikit pun akibat rasa takut yang begitu besar.
" Di sini kau rupanya. " Xumu menyeringai setelah menemukan pria yang di carinya sedang bersembunyi.
Diayunkan pedangnya hendak menebas jerami yang ada di depannya.
Tring!
__ADS_1
Sebuah pedang menghalau serangan xumu.