
Jingu memegang dadanya, cairan merah terus merembes keluar menodai baju. Ia terhuyung ke belakang dengan menggunakan sisa kekuatannya, ia sekuat tenaga bertahan agar tidak tumbang.
Meski Jingu tahu ini adalah harga yang pantas ia terima atas apa yang sudah dilakukannya. Tapi tetap saja, hatinya begitu sakit saat A Fei melakukannya. Terlebih menghadapi wajah dingin dan tatapan kebencian A Fei, semakin menambah kesakitan Jingu.
Keringat dingin keluar di kening pria itu, wajahnya pun sudah berubah pucat karena darah yang terus keluar. Tak ada satupun yang berbicara.
Hening.
Hanya saling menatap seolah semua telah tersampaikan lewat sorot mata keduanya Jika Jingu melihat A Fei dengan tatapan pemujaan tapi penuh luka, lain dengan A Fei yang menatap penuh kebencian dan kekecewaan.
" Aku membenci mu. " Kata-kata A Fei seperti belati yang menghujam kembali jantung Jingu.
Pernyataan cintanya akhirnya mendapat balasan, tapi bukan jawaban yang ia inginkan. Jingu justru mendengar kalimat yang tak ingin ia dengar.
" Kau mengatakan mencintai ku. Tapi sayang sekali, aku membenci mu. Bahkan keinginan terbesar ku saat ini adalah membunuh mu dan menghancurkan Kekaisaran Nan. "
A Fei berbalik, enggan melihat wajah putus asa Jingu. " Pergilah! dimasa depan ketika kita bertemu lagi, kita adalah musuh. Saat itu aku tidak akan segan untuk membunuh mu. Aku melepaskan mu saat ini bukan berarti aku memaafkan mu. Tapi jika aku membunuh mu juga, maka tak ada bedanya aku dengan mu. Meski begitu besar keinginan untuk melakukan itu. Anggap tikaman ini sebagai bayaran atas kematian A Guang. "
Jingu menatap sendu untuk terakhir kali punggung A Fei.
" Terima kasih. " Ucapnya lirih sebelum ia keluar seperti saat dirinya masuk.
Begitu sosok Jingu pergi, belati di tangan A Fei jatuh. Tubuhnya luruh bersama air mata yang sejak tadi mendesak keluar. Bohong jika ia baik-baik saja setelah melukai Jingu begitu parah.
Hampir saja ia goyah ketika melihat ekspresi terluka Jingu. Interaksi mereka selama beberapa bulan nyatanya berhasil membuat A Fei merasa nyaman.
" Kenapa semuanya harus seperti ini? " lirihnya. Pernyataan Jingu membuatnya semakin terluka.
*****
__ADS_1
Pengawal Jingu yang sejak tadi menunggu di luar panik, ketika ia dikejutkan dengan pemandangan berdarah Jingu.
" Pangeran! apa yang terjadi? bagaimana bisa seperti ini? apakah wanita itu yang melakukannya? tidak bisa di biarkan, aku akan membalasnya. "
Jingu yang lemah menahan tangan pengawalnya yang hendak pergi. " Jangan lakukan apapun. Aku memang pantas mendapatkannya. Lebih baik kita segera pergi atau darah ku benar-benar akan habis terkuras. "
Ah bodoh sekali dia, alih-alih fokus pada luka majikannya untuk segera di obati, ia justru berniat pergi untuk membalas dendam.
Pengawal Jingu segera menggendong Jingu di punggungnya dan pergi membawanya untuk bertemu dengan nenek Wu.
Mereka berdua tidak menyadari jika beberapa orang sedang mengikuti. Mereka adalah anak buah Sima Feng yang sudah sejak lama menunggu di sekitar istana A Fei.
Sesuai dugaan Sima Feng, Jingu akan kembali lagi ke istana sang adik untuk menemuinya. Karena itu ia mengajak A Fei untuk bekerja sama. Tujuan A Fei melepaskan Jingu agar bawahannya bisa mengikuti dan menemukan tempat persembunyiannya.
" Ck.. Bajingan itu berani sekali memiliki perasaan pada A Fei setelah apa yang sudah ia lakukan. "
Sima Feng baru saja mendapatkan kabar mengenai kunjungan Jingu. Lidahnya yang tajam lagi-lagi tak tahan untuk tidak berkomentar.
" Tapi Yang mulia, bagaimana jika putri juga memiliki perasaan yang sama dengannya. " Iseng Ling He bertanya.
Mata Sima Feng menyipit menatap Ling He. " Apa menurut mu A Fei bodoh? dengan kepribadiannya, mana mungkin ia akan menerima bajingan itu? dia pasti akan lebih memilih untuk membunuh perasaannya. Dari pada menerima cintanya di atas kematian kak A Guang. "
Sima Feng juga melanjutkan. " Ayah dan ibu meskipun mungkin tidak akan melarang bila seandainya A Fei ingin menjalin hubungan dengannya tapi mereka pasti akan kecewa dan A Fei tak pernah ingin mengecewakan mereka. Karena alasan itu juga A Fei tidak menolak pernikahannya dengan Li Chenlan dulu. "
" Sekarang minta penjaga bayangan untuk mengawasinya sementara waktu. Jangan sampai mereka kabur lagi. Aku tak ingin melihat kesalahan lain. " Tambahnya.
Sebelumnya, bawahan Sima Feng kehilangan jejak karena orang-orang di kampung bandit sudah meninggalkan tempat itu. Ia sudah melakukan pencarian namun belum membuahkan hasil.
Ia sengaja melonggarkan keamanan istana agar tidak terlalu ketat hari ini. Berharap jika Jingu akan datang. Benar saja dugaan A Feng. Pria itu masuk ke dalam perangkapnya.
__ADS_1
Sementara di tempat lain,
Jingu yang sudah tiba di rumah nenek Wu langsung mendapat penanganan. Pendarahan Jingu juga sudah dihentikan, meski begitu pria itu masih koma karena kehilangan banyak darah.
" Bagaimana keadaan pangeran, nenek Wu? kenapa masih belum sadar juga? apakah kau benar-benar mengobatinya? apa mungkin obatnya tidak bereaksi? " Cerewet sekali pengawal Jingu itu, nenek Wu bahkan memiliki keinginan menyumpal mulutnya dengan racun sampai mati.
" Dia kehilangan banyak darah, masih untung nyawanya juga tidak ikut hilang. Sebenarnya apa yang terjadi? "
Pengawal Jingu menarik napas dalam sebelum bercerita.
" Semua karena putri Jin itu. Awalnya aku sudah melarang Yang mulia untuk menemuinya tapi ia tetap kekeh sama sekali tak mendengarkan. Ia hanya berkata merindukannya dan ingin melihatnya. Akhirnya mau tak mau kami menyelinap ke istana dan diam-diam pangeran masuk ke kamar sang putri. Aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam. Begitu keluar, pangeran sudah seperti ini. " Jelas Pengawal Jingu.
Nenek Wu memijat pangkal hidungnya. " Lalu kau langsung membawanya kesini ? " Dan pengawal Jingu mengangguk.
" Tamat sudah. Aku harap anak buah Sima Feng tak mengikuti mu. "
" Kau tenang saja nenek Wu. Aku sudah memeriksanya dan tak ada yang mengikuti ku. " Ujarnya percaya diri.
' Pengawal bodoh! apa menurutnya keluarga Sima hanya sekumpulan orang-orang bodoh yang bisa di kelabui dengan mudah. Ada bayaran besar yang harus dibayar jika mengkhianati mereka. Tak terkecuali aku sendiri. '
Nenek Wu melihat cermin, setiap melihat pantulan wajahnya di cermin hanya rasa jijik yang terlihat di matanya.
' Andai aku tidak bodoh dan mengkhianati guru lucy. Mungkin rupa ku tidak akan seperti ini. ' Sesal nenek Wu.
Situ Fen, ia menjadi asisten Lucy atas rekomendasi Ziyan. Karena Situ Fen pernah membantunya, Ziyan yang mengetahui ketertarikannya akan pengobatan membantunya berkenalan dengan Lucy. Namun siapa yang menduga bahwa gadis polos itu akan berkhianat dengan mencuri beberapa formula racun Lucy dan setelah di selidiki tindakan Situ Fen karena desakan keluarganya yang serakah.
Ziyan memang tidak berhasil menangkap Situ Fen dan menghukumnya, tapi sebagai gantinya ia menghukum keluarga Situ berserta kasus korupsi dan suap yang saat itu menjerat mereka.
( Situ Fen ada di bab 31).
__ADS_1
Mengikuti formula lucy, Situ Fen membuat racun pengubah wajah untuk melarikan diri. Sayang, karena satu kesalahan, racun itu gagal dan justru membuat penampilannya terlihat tua. Ia memang bisa kabur sampai saat ini, tapi setiap hari ia harus menatap wajahnya yang buruk.