
Song Xi diam mematung dengan posisi bersimpuh. Tatapannya kosong, seolah rohnya baru saja meninggalkan raga. Begitu pucat wajahnya, terlalu terkejut setelah mengetahui fakta bahwa orang yang sudah ia tipu ternyata adalah ratu. Tidak hanya itu, ia bahkan secara terang-terangan sudah menghinanya dan mengatainya sebagai wanita murahan.
' Kenapa jadi seperti ini? tidak mungkin. Ini semua pasti hanya mimpi. Tidak mungkin wanita itu adalah ratu. Dia pasti seorang penipu. ' Batin Song Xi berusaha menyangkal. Terlalu berat menerima fakta tersebut.
Kemudian Song Xi teringat akan ucapan suami saat mereka bertengkar hingga akhirnya berujung dengan dengan surat cerai.
" Berhenti mendesak ku melakukan hal itu. Apa kau tahu bagaimana baiknya bos Zi membantu ku ketika terpuruk dulu dan sekarang kau justru meminta ku untuk mengkhianatinya dan mengambil hartanya. Dimana hati nurani mu Song Xi. " Tidak ada panggilan istriku yang biasa Wenran gunakan. Jika suaminya sudah memanggilnya menggunakan nama, itu berarti dia sudah sangat kecewa. Dan itu benar.
" Tapi kau sudah membantunya mengembangkan serikat dagang sampai begitu besar. Tapi kau sama sekali tak mendapatkan apapun selain gaji bulanan dan beberapa bonus tak seberapa itu. Seharusnya kau bisa menuntut lebih suami ku. Apa salahnya mengambil diam-diam, dia juga tidak akan tahu. " Begitulah yang di pikirkan Song Xi. Mengingat bos suaminya itu hampir tidak pernah datang, bahkan Song Xi hanya melihatnya beberapa kali saja.
" Jangan dipikir karena nyonya tidak ada di sini dia tidak tahu apapun. Kau salah! dia tahu semua. Nyonya bukanlah wanita sembarangan. Jika kau sampai membuat masalah dengannya, maka kaulah yang akan menyesal. Ingat pesan ku ini. Jangan pernah sekali pun mencari masalah dengannya. Dia membenci pengkhianatan. Jadi jangan lagi kau menghasut ku untuk melakukan itu. Karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau. Terlalu besar akibatnya dan aku tak sanggup menanggungnya. "
Wenran sudah memberinya peringatan. Tapi Song Xi justru menganggap suaminya terlalu pengecut.
Begitulah dan pada akhirnya Wenran yang lelah memberikan surat cerai pada Song Xi. Hal itu tentu saja membuat Song Xi semakin kecewa. Kabut emosi menutup akal sehatnya. Amarahnya justru menciptakan imajinasi liar lain. Ia beranggapan bahwa Wenran melakukan ini semua demi Ziyan, seolah selama ini keduanya memiliki hubungan terselubung di belakang.
Menyesal? rasanya percuma.
Jika Song Xi hanya diam dengan tatapan kosong, lain hal dengan Xiao Lu yang justru menangis tersedu. Cadar yang di pakainya sudah terlepas entah sejak kapan. Tak ada kemiripan antara Xiao Lu dan Ziyan. Hanya saja mata mereka tampak sama. Mata cerah namun memiliki sorot mata tegas itu terlihat sama. Itulah kenapa Xiao Lu mampu menipu semua orang sebagai bos Zi.
Ziyan berjalan menghampirinya lalu berjongkok, " Aku tahu kau melakukan semua ini demi ibu mu. Karena itu aku akan menolong ibu mu dan merawatnya ketika kau menjalani hukuman. Aku berjanji ibumu akan di rawat di rumah sakit ini dengan penanganan terbaik. Aku bisa menjamin itu. "
Janji itu seolah menjadi hujan di tengah tanah gersang. Harapan yang sebelumnya tengah pupus kini kembali hidup. Sejak tadi Xiao Lu khawatir akan nasib ibunya. Tapi ucapan Ziyan barusan membuatnya mendapatkan kembali ketenangan. Akhirnya pengorbanannya terbayarkan. Meskipun ia mendapatkan hukuman, setidaknya ibunya akan sembuh.
" Terima kasih Yang mulia. Terima kasih banyak. Maaf karena sudah berusaha untuk menipu anda. Sekali lagi maafkan saya dan terima kasih. " Ucap tulus Xiao Lu beberapa kali memberikan sujud.
Ziyan melihat ketulusan Xiao Lu. Ia tahu bahwa wanita itu sebenarnya bukan wanita jahat. Ia melakukan semua itu karena terdesak situasi. Sebagai seorang anak, dia hanya ingin menunjukkan baktinya kepada sang ibu.
Baik Song Xi dan Xiao Lu akhirnya di bawa oleh petugas biro penyidik.
__ADS_1
" Aku pikir kau akan memaafkan Xiao Lu, kakak ipar? " Tanya Sima Dan yang baru saja tiba. Sikapnya pada Ziyan masih saja terkesan santai. Tidakkah dia sadar bahwa kakak iparnya itu seorang ratu. Jika Sima Rui melihat ini, habis sudah dia.
" Aku memang sudah memaafkannya. Tapi itu tidak serta merta menghapus hukuman dirinya. Ia tetap harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Jika begitu mudah lepas dari hukuman bukankah lebih baik menutup biro penyidik. "
" Jika kau tutup biro penyidik, aku akan menjadi pria paruh baya pengangguran. Apa kau setega itu kakak ipar? " Seloroh Sima Dan.
Kemudian ia melanjutkan. " Aku pikir kurungannya tidak akan lama. Berbeda dengan Song Xi. Mungkin lebih dari dua puluh tahun masa hukuman yang akan ia jalani. Mengingat banyaknya kejahatan yang memberatkannya. Pembunuhan, penipuan, juga pemerasan. Ia terbukti memaksa beberapa tempat usaha yang hampir gulung tikar untuk mengembalikan modal yang sudah mereka terima. Meski ia belum berhasil mendapatkan uangnya, tapi mereka tetap melaporkannya. Jadi mau tidak mau kami juga menyertakan laporan tersebut. "
" Wanita itu terlalu serakah. Pantas saja Wenran menceraikannya. Aku memang tidak menyukainya sejak pertama kali melihatnya. " Cibir Ziyan dengan sikap julid.
" Lalu kakak ipar, bagaimana dengan putri mu? mau sampai dia tinggal di sana? " Sima Dan mengingatkan. Barangkali kakak iparnya itu lupa bahwa putrinya sudah beberapa hari ini tinggal di penjara.
Ziyan menjawab dengan tenang. " Apa kau keberatan jika putri ku tinggal di sana lebih lama? "
Sima Dan reflek menggeleng, tapi dalam hati tentu menjerit.
' Kakak ipar, putri mu ada di penjara bukan tempat wisata. Tidak bisakah kau memberinya hukuman lain. Apa bedanya coba di penjara tapi kau meminta ku memperlakukannya dengan baik. ' Tentu ini hanya suara hati Sima Dan.
" Aku akan membantu mu bicara, untuk urusan A Fei kau bisa membebaskannya hari ini. " Kata Ziyan sembari berjalan pergi.
Flashback selesai.
*******
Di tempat lain.
Hampir satu minggu pria yang terbaring di ranjang itu tak sadarkan diri. Namun hari ini, mata yang selalu tertutup itu akhirnya terbuka.
" Pangeran, kau akhirnya sadar. " Seru pengawal Jingu ketika tuannya akhirnya sadar
__ADS_1
Tak ada jawaban dari Jingu. Pria itu masih setia bungkam mencerna apa yang sudah terjadi. Otaknya mencoba mengingat adegan terakhir dimana A Fei menikamnya dengan begitu kejam.
Mengingat itu, luka di dadanya kembali nyeri. Tak hanya luka melainkan hatinya juga ikut sakit.
' A Fei... ' Nama yang selalu ia panggil di alam bawah sadarnya.
" Pangeran apa anda baik-baik saja? " Tanya pengawal Jingu sekali lagi. Benar-benar mengganggu dia.
" Kau ini sangat berisik. Tidak bisakah kau lebih tenang. " Itu bukan Jingu, nenek wu lah yang menegurnya.
" Maaf nenek Wu, aku hanya khawatir karena sejak tadi pangeran hanya diam saja. "
Memang, cerewet sekali pengawal Jingu ini. Tak tahu bahwa hal itu wajar bagi seseorang yang sudah lama tak sadarkan diri. Justru yang aneh jika begitu sadar orang itu langsung banyak bicara sepertinya.
" Sudahlah. Sebaiknya kau diam dan berdiri di pojok sana. Aku akan memeriksa Pangeran terlebih dulu. "
Nenek Wu memeriksa luka sekaligus mengganti perban Jingu.
" Luka mu sudah lebih baik. Meski begitu masih tidak boleh terkena air dan juga jangan terlalu banyak bergerak dulu, atau luka mu akan kembali terbuka dan menyebabkan infeksi. "
Jingu masih lemah, jadi ia hanya mengangguk pelan untuk merespon ucapan nenek Wu.
" Ada yang ingin bertemu dengan mu. Dia sudah menunggu mu sadar selama dua hari ini. Apa kau ingin menemuinya? "
' Mungkinkah A Fei? tidak. Sepertinya mustahil itu dia. ' Jingu masih saja berharap itu A Fei. Tidak ingatkah dia, kondisi saat ini karena wanita itu.
Saat kepalanya penuh dengan tanda tanya, sosok yang di maksud oleh nenek Wu masuk.
" Kau sudah sadar? " Suara berat menyapa telinga Jingu.
__ADS_1
Suara itu sangat Jingu kenal. Ia menoleh dan benar saja itu adalah dia.
" Putra.. mahkota.. "