Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 248 Side story ( A Guang love story )


__ADS_3

Perdebatan tampaknya tidak hanya terjadi di keluarga kecil sima rui, tapi juga keluarga sang ayah. Sima shao yang mendengar putusan istrinya Fu Xin, tampak keberatan. Ingin sekali memberontak namun takut akan kemarahan sang istri.


Setelah mundur dari tahta, Sima shao memiliki status sebagai kaisar agung, sedang Fu Xin sebagai ibu suri.


" A Hua masih sangat muda istri ku. Bagaimana bisa kau ijinkan dia masuk ke akademi? Bagaimana jika ada pria hidung belang yang menggodanya? Membayangkan mata mereka yang menatap lapar putri kita, membuat ku ingin sekali mencongkelnya. " Keluh Sima shao mengutarakan keberatannya.


Fu Xin menghela napas menghadapi sikap posesif suaminya tersebut. Sima rui yang kakaknya juga tidak terlalu membatasi A Hua. Namun yang tidak siapapun tahu, Sima rui diam-dima selalu menempatkan penjaga bayangan untuknya.


" Mau sampai kapan kau membatasi putri mu? Dia sudah delapan belas tahun. Bahkan aku di usia itu sudah menikah dengan mu. Tapi lihatlah A Hua, Dia hanya memiliki A Guang sebagai teman mainnya. " Sungguh Fu Xin begitu prihatin melihat nasib putrinya yang menderita dengan sikap berlebihan suaminya.


Melihat wajah sedih istrinya, Sima shao merasa bersalah. " Maaf istriku, aku hanya tidak ingin dia terluka. Aku pikir membiarkannya hidup di dalam istana akan membuatnya tetap aman. "


" Apa menurut mu burung di dalam sangkar bahagia? lebih bahagia mana dengan burung yang bebas? "


" Jangan bandingkan A Hua dengan burung. Bagaimana bisa putri ku cantik disamakan dengan burung. " Protes Sima shao dengan lirih namun telinga tajam Fu Xin masih mampu menangkapnya.


"Itu hanya perumpamaan. Coba kau tanyakan sendiri pada putri mu. Apakah selama ini dia bahagia terkurung di istana? Tanyakan apa yang dia inginkan. "


Sima shao masih terdiam mencerna semua ucapan istrinya.


Kembali Fu Xin melanjutkan. " Kita tidak selamanya bisa hidup dan melindunginya. Kelak, tugas kita akan digantikan oleh suaminya. Pria yang kelak akan menjadi menantu mu. "


" Aku tahu itu. Tapi hati ku akan berdarah jika melihatnya terluka. " Gumam Sima shao.


" Apakah menurut mu aku yang ibunya tidak? Aku bahkan akan lebih sakit dari mu. Aku yang mengandung dan melahirkannya. Tapi aku tahu tak selamanya kita berdua bisa melindunginya. Biarkan ia menentukan langkahnya sendiri. Sebagai orang tua kita hanya perlu mengingatkan saat A Hua ada di persimpangan jalan. " Kesal Fu xin.


" Aku heran dengan mu suami ku. Dulu, kau bahkan tanpa pikir panjang setuju saat mengirim rui er ke medan perang. Bahkan saat usianya belum genap 15 tahun. Padahal jelas-jelas tempat itu bisa membunuh putra mu kapan saja. " Tambahnya.


Perlakuan sima shao yang amat berbeda pada kedua anaknya membuat wanita yang berstatus sebagai ibu suri itu sangat kesal.


Masih segar dalam ingatan Fu Xin kala ia marah besar pada Sima shao saat pria itu memberikan ijin Sima rui pergi ke perbatasan. Bertahun-tahun putranya berjudi dengan malaikat maut, bertahun-tahun pula hati Fu Xin harus was-was menanti kepulangan sang putra dengan perasaan cemas.


" Itu karena rui er seorang laki-laki. Kelak ia harus menjaga keluarganya dan juga Kerajaan ini. Jika ku perlakukan sama dengan A Hua, maka aku yakin, saat ini dirinya hanya bisa bersolek dan memakai bedak layaknya perempuan. "


Kedua mata Fu Xin melotot. " Apa yang salah dengan bersolek dan memakai bedak? apa menurutmu itu hal yang sangat rendah untuk di lakukan? " Geram Fu xin meluapkan seluruh kekesalannya.


" Bu-bukan begitu istriku. Aku bisa jelaskan. " Ucap Sima shao panik.


' Sial, aku sudah menginjak ekor singa betina. ' Batinnya.


Dan pada akhirnya malam itu sima shao habiskan untuk membujuk sang istri. Tak ada lagi obrolan santai atau pergulatan yang sudah tidak panas lagi, mengingat usia mereka yang sudah lebih dari setengah abad.


Dan hari keberangkatan mereka berdua tiba.


" Ingat A Guang, kau harus menjaga bibi mu. Jangan biarkan siapapun mengganggunya. " Pesan Sima rui.


" Aku tidak akan melupakannya. Ayah tenang saja."

__ADS_1


" Kakak, jangan khawatir. A Guang pasti akan selalu melindungi ku. Kakak dan kakak ipar jaga diri kalian baik-baik. " Ucap A Hua.


Kemudian ziyan kembali mengingatkan pesannya pada kedua anak remaja itu.


" Jangan lupa, kalian tidak diperbolehkan menggunakan nama Sima. Kami sudah mendaftarkan kalian menggunakan marga keluarga ibu. Jadi setibanya di sana, jangan melupakan syarat itu, atau aku sendiri yang akan menyeret kalian pulang begitu kesepakatan itu di langgar. "


" Baik bu/ baik kakak ipar. " Jawab A Guang dan A Hua bersamaan.


Flashback off,


A Hua mungkin tidak tahu kenapa ziyan melarang mereka menggunakan nama sima tapi A Guang tidak. Ia tahu bahwa ibunya pasti sedang merencanakan sesuatu.


" Sepertinya upacara penerimaan murid baru akan segera di mulai. Ayo kita masuk. " Ajak A Hua menyeret lengan A Guang.


" Kau tak perlu terburu-buru seperti ini. Upacaranya juga tidak akan pergi. " Keluh A Guang kala A Hua menarik tangannya.


Ia tidak suka dengan tindakan bibinya ini. kenapa? sudah jelas karena para lelaki yang sejak tadi mencari perhatian bibinya itu kini melihat A Guang dengan mata penuh permusuhan.


' Beginilah nasib memiliki bibi cantik. Mereka pasti menganggap ku saingan cinta mereka. ' Batin A Guang.


Dan kejadian ini bukan kali pertama terjadi. A Guang selalu saja disalahpahami sebagai kekasih A Hua. Mengingat usia mereka yang hanya terpaut tiga hari.


" Aku sudah tidak sabar melihatnya. " Ucap A Hua penuh antusias.


" Memangnya apa yang ingin kau lihat? " Tanya A Guang tanpa melihat ekspresi sang bibi yang sudah bersemu merah.


" Bukan apa-apa. " Balas A Hua cepat menyembunyikan rona merah di wajahnya.


" Kau tak apa-apa bibi? " A Guang melihat bibi tampak terkejut.


" Apa kau tak menggunakan mata mu? Bagaimana bisa kami yang sebesar ini tidak terlihat. " Amuk salah satu dari teman laki-laki yang di tabrak A Hua tadi.


Mereka tak melihat wajah A Hua karena kepalanya tertunduk dan sebagian rambut menutupi wajahnya.


" Maaf, kami tidak sengaja. " Ucap A Hua tanpa melihat ke depan. Sungguh ini kali pertama dirinya berada di luar tanpa status dan pengawal. Membuatnya sedikit takut.


" Apa! maaf.. Apa kau tahu bahu ku sepertinya patah karena dia menabrak dengan sangat keras. "


Melihat bibinya yang ketakutan, A Guang maju.


" Saudari ku sudah meminta maaf. Jadi bisakah beri kami jalan. Jika memang bahu mu patah, aku akan menemani mu menemui tabib. " A Guang berbicara sopan, meski hatinya panas melihat sang bibi dimaki di depannya.


Bahkan ayahnya, kaisar jin saja tak pernah meninggikan suara saat berbicara pada bibinya, dan para cecunguk ini justru melakukannya.


" Apa kau bilang! " Pria itu maju mengikis jarak dengan A Guang.


Pria itu menatap tak suka pada A Guang. Namun karena badan A Guang yang sedikit lebih tinggi, membuatnya harus sedikit mendongak.

__ADS_1


" Apa kau tak mendengarnya? apakah saudari ku juga membuat telinga mu tuli? " A Guang yang sedikit tersulut emosi mulai menghinanya.


" Kau mengatakan aku tuli? " Pria itu mendorong A Guang.


Tak ingin keponakannya membuat masalah di hari pertama mereka, A Hua memasang badan menghalau A Guang agar tidak menyerang.


" Maaf. Dia tidak bermaksud seperti itu. " Ucap A Hua pada pria itu. Kemudian dengan lirih berbicara dengan A Guang. " Tolong jangan membuat masalah. Ini hari pertama masuk akademi. Akan sangat buruk bagi kita jika sampai para guru mengetahuinya. "


Karena A Hua berbicara tepat di depannya. Pria itu bisa melihat dengan jelas wajah A Hua. Wajah yang sebelumnya penuh amarah mendadak terkesima dengan kecantikan A Hua.


" Han dong. Cukup. " Panggil salah satu teman Han dong.


Han dong, nama pria yang di tabrak A Hua.


"Han dong! " Panggilnya lagi dengan lebih keras.


Han dong tersentak, lalu menoleh pada temannya yang sejak tadi memanggilnya.


" Jinfu.. "


" Berhenti bermain-main. " Ucap Jinfu.


Han dong yang sebelumnya terlihat garang, langsung menciut kala pria yang bernama Jinfu menegurnya.


Melihat reaksi Han dong, A Guang seketika menyadari bahwa pria yang bernama Jinfu ini bukan orang sembarangan.


Jinfu menatap A Guang, lalu beralih pada A Hua.


Deg! jantung Jinfu berdebar. Matanya tak mampu beralih dari wajah A Hua. Kecantikan gadis itu berhasil mencuri hatinya.


Seolah tahu bertambah lagi pria gila yang terpesona dengan bibinya. A Guang berdehem dengan amat sangat keras. Membuat Jinfu yang sedang terpesona itu langsung terjun bebas kembali ke dunia nyata.


Masih salah tingkah Jinfu berusaha bersikap biasa.


Ia tersenyum pada A Hua, lalu A Guang. " Aku Jiang Jinfu. Ketua himpunan siswa di sini. Jika membutuhkan sesuatu atau bantuan. Silakan katakan saja. Dengan senang hati aku akan membantu. " Ucap Jinfu menawarkan diri. Matanya bahkan tanpa sungkan mencuri pandang ke arah A Hua.


' Ck.. Aku rasa bukan untuk ku tawaran itu. ' Decak A Guang dalam hati.


Namun A Guang memutuskan untuk bersandiwara memasang topeng pria baik.


" Terima kasih atas tawaran mu ketua. Saya Mo Guang dan ini saudari ku Fu Hua. " A Guang memperkenalkan diri.


" Dia ini putra perdana menteri Jiang wu. Apakah kau tahu? " Han dong tiba-tiba menyela. "Jadi bersikap sopan lah. Kalian sangat beruntung karena ia mau membantu kalian. " Ucapnya penuh pongah.


" Han dong cukup! " Delik Jinfu tidak suka. Bukan karena ucapan temannya tersebut. Tapi mata Han dong yang terus melihat ke arah A Hua.


Tidak boleh ada pria lain yang melihat A Hua, pikirnya.

__ADS_1


Seketika Han dong menutup mulutnya saat melihat peringatan dari mata Jinfu.


Jiang Jinfu, putra perdana menteri Jin, Jiang wu.


__ADS_2