Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 150


__ADS_3

Hati Sima rui mengerut merasakan sakit, ketika melihat semua prajuri bersujud demi dirinya. Meski begitu, tak dapat dipungkiri perasaan haru juga menyelinap ke dalam hatinya. Kesetiaan mereka terbukti, para prajurit yang menjadi rekannya saat membela dan melindungi tanah air ternyata begitu setia padanya.


Sima rui kembali melihat ibu suri, meski wajahnya tampak datar namun sorot matanya tajam. Ia kemudian menarik pedang yang ada di pinggangnya lalu menancapkannya ke tanah.


" Aku, Sima rui. Pangeran pertama sekaligus Jenderal utama Kekaisaran Jin menolak titah ibu suri... " Jeda sesaat ucapan Sima rui. Lalu kembali ia melanjutkan ucapannya. " .. Untuk menyerahkan token militer. Namun sebagai bentuk pembuktian bahwa tidak adanya pemberontakan, aku akan menanggalkan baju zirah dan pedangku saat memasuki istana. " Dan segera Baju kebesaran Sima rui terlepas dari tubuhnya.


Semua prajurit tercengang dengan tindakan Sima rui. Bahkan tangan komandan Jiang sampai mengepal kuat karena begitu marah melihat panutannya di perlakukan seperti itu.


Bukannya senang, ibu suri justru tersenyum mencibir tindakan Sima rui. Sebenarnya yang ia butuhkan adalah token militer Sima rui, bukan drama mengharukan yang sedang ia tonton saat ini.


" Apa alasan kau menolak menyerahkan token militer mu pangeran? " Tanya ibu suri tajam.


Sima rui sudah menunggu pertanyaan ini. Menahan diri untuk tak tersenyum. Sima rui dengan mantap menjawab tanpa melepas pandangannya dari wanita dengan status ibu suri tersebut.


" Karena hanya kaisar yang berhak mengambil kembali token militer milikku. " Ia mengambil sebuah gulungan dari balik bajunya lalu membukanya di depan ibu suri. Ia tidak peduli wanita itu bisa membacanya atau tidak mengingat jarak keduanya yang terpisah jauh.


" Disini tertulis dengan jelas. Bahwa token militer hanya bisa di ambil kembali oleh Kaisar. Namun jika kaisar telah wafat, maka kendali token sepenuhnya diserahkan padaku. "


" Omong kosong. Sima shao tak mungkin membuat dekrit seperti itu. " Sangkal ibu suri dengan segera. Ia yakin bahwa ini semua hanya rencana Sima rui.


" Ibu suri bisa mengecek keaslian dekrit ini. Bahkan disini juga terdapat stempel kerajaan. Kita semua tahu bahwa hanya kaisar yang memegang stempel kerajaan. " Tantang Sima rui. Kemudian melanjutkan ucapannya lagi. " Di hadapan para rakyat Jin, aku bisa bersaksi bahwa dekrit yang aku pegang ini adalah asli. "


Sima rui sejak awal memang sengaja menggiring rakyat Jin agar mengikutinya. Ia tahu bahwa ibu suri tak mungkin bertindak gegabah di hadapan mereka.


' Ah lihatlah wajah penuh amarah itu. Aku tahu kau sedang mengutukku saat ini. ' Batin sima rui.


Melihat bahwa tidak ada peluang merebut token militer sima rui. Maka ibu suri memilih mundur, ia akan memikirkan langkah selanjutnya.


" Buka gerbangnya. Persilahkan pangeran pertama masuk. " Setelah mengatakannya titahnya, Ibu suri berbalik dan bergegas pergi.


Dan gerbang besar nan kokoh itu pun terbuka. Sima rui melangkah masuk, tapi saat komandan Jiang yang berada di belakangnya Sima rui hendak masuk. langkahnya justru di hentikan oleh penjaga.

__ADS_1


" Perintah ibu suri hanya pangeran pertama yang di perbolehkan masuk. "


Hampir saja Jiang meledak marah jika Sima rui tak menghentikannya. Sima rui mengangguk pada Jiang agar ia mematuhi apa yang di ucapkan oleh penjaga itu.


Jiang menurut, namun tangannya mengepal kuat menyalurkan amarahnya karena tak bisa menghajar penjaga yang melarangnya tersebut.


Ibu suri membuang semua barang yang ada di atas meja. Dalam waktu singkat, ruang baca yang semula tertata rapi berubah bak kapal pecah. Ia meluapkan kekesalan serta amarahnya atas tindakan Sima rui.


" Sial! ternyata kau sudah mengantisipasi hal ini Sima shao. " Gumam ibu suri. Ia tak menyangka Sima shao akan melakukan tindakan ekstrim tersebut demi melindungi kekuatan militer kerajaannya.


Sekarang setelah ia mengetahui dekrit kaisar tersebut. Pilihan untuk membunuh Sima shao menjadi mustahil. Jika ia membunuhnya, maka token militer Sima rui akan selamanya menjadi miliknya.


Prang.


" SIAL! " Kali ini sebuah guci menjadi sasaran amukan wanita itu. Baik kasim maupun pelayan tak ada yang berani mendekat. Semua hanya bisa berdoa dengan tubuh gemetar agar tak menjadi sasaran amarah ibu suri.


" Keluar kalian semua. " Usir ibu suri pada kasim dan pelayannya dengan suara yang terdengar jauh lebih tenang. Dan tanpa menunggu, dengan cepat semuanya pergi.


Setelah semuanya pergi, sesosok bayangan keluar dari balik tirai.


" Pangeran pertama langsung pergi ke kamarnya. Lalu masuk kasim dan pelayan yang bertugas melayaninya. Dan setelahnya ia sama sekali tidak keluar dari kamarnya. "


Ibu suri menyipitkan matanya. Ia merasa sedikit kejanggalan pada laporan To mu.


" Apa kau yakin ia tidak melakukan apapun di dalam kamarnya? " Tanya ibu suri curiga.


" Maafkan saya Yang mulia, karena tidak memeriksanya. "


" Kembali dan awasi terus Sima rui. Lalu suruh anak buah mu tetap mencari Sima Yan. Bunuh dia setelah dapatkan token militer miliknya. Setidaknya seperempat tentara jin yang ada di tangannya harus ku dapatkan. " Perintah ibu suri.


" Baik. " Setelahnya To mu langsung pergi.

__ADS_1


" Sima rui, mari kita lihat apa yang sedang kau rencanakan. " Gumam ibu suri.


Sementara di tempat lain.


Di kamar miliknya, Sima rui menatap lima pelayan wanita yang berdiri berjejer di depannya. Kasim yang tadi mengantar mereka pun mulai berbicara.


" Yang mulia, mereka yang akan melayani anda mandi. Silakan berikan perintah jika membutuhkan sesuatu. " Sima rui merasakan nada tak biasa dari ucapan kasim tersebut.


Sima rui hanya mengangguk, lalu mulai memperhatikan satu persatu wanita yang ada di depannya, memindai dari atas hingga bawah.


" Kau saja. Aku tidak membutuhkan yang lain. " Tunjuk Sima rui pada wanita ke empat.


Setelah kasim membawa keluar ke empat gadis yang tidak dipilih. Tinggallah Sima rui dan pelayan itu hanya berdua. Sima rui bangkit dari kursinya lalu berjalan menuju kolam air panas yang terhubung dengan kamarnya.


Sima rui merentangkan tangannya, pertanda agar pelayan wanita itu memulai tugasnya. Pelayan itu mulai menanggalkan baju Sima rui dan hanya menyisakan celana panjang tipisnya.


" Gosok punggungku. " Perintah Sima rui dengan suara cukup keras.


Pelayan itu mengerutkan keningnya, namun tetap menggosok punggungnya.


" Seseorang mengawasi kita. " Lirih Sima rui.


Pelayan itu mengangguk sebagai tanggapan.


To mu yang kembali atas perintah ibu suri terus memperhatikan interaksi Sima rui dan pelayan wanita itu dari balik pohon. Namun ia merasa tidak ada hal mencurigakan. Meski begitu ia tetap mengawasi sesuai perintah ibu suri.


" Tampaknya tikus kali ini pantang menyerah. " lirih Sima rui bicara.


Pelayan itu tersenyum namun jika di lihat dengan jelas ada tonjolan urat kemarahan di keningnya.


" Jadi aku harus menggosok punggungmu sampai selesai, kakak. " Bisik pelayan tersebut.

__ADS_1


Salah satu sudut bibir Sima rui terangkat. " Tentu saja. Kapan lagi punggungku ini di gosok oleh putra mahkota. "


Sima yan berdecak kesal. Kesal harus memakai pakaian wanita, dan kini ia harus menggosok punggung keras dan kekar milik kakaknya.


__ADS_2