Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 392 Side story ( A Fei the princess of Jin)


__ADS_3

Hari ini A Fei akan kembali ke desa. Jadi sedari pagi, ia sudah bersiap dan akan segera pergi setelah menikmati sarapan pagi mereka. Sayangnya, sudah satu jam berlalu namun makanan yang di tunggu tak kunjung datang.


" Dimana Xiao Er? bukankah tadi ia turun kebawah untuk memesan sarapan? tapi kenapa belum kembali juga? terlebih tak ada satu pelayan pun yang datang mengantarkan makanan. Apakah disini tidak menerima pelayanan antar makanan? "


Pagi-pagi, A Fei sudah menggerutu. Tekanan darah rendahnya karena bangun pagi membuat emosinya meningkat.


Jingu yang melihat A Fei sudah mengamuk, memutuskan untuk menyusul ke bawah mencari Xiao Er. Cukup aneh juga hampir satu jam lebih pelayan itu pergi namun belum juga kembali.


Setelah bertanya pada petugas penginapan, tak seorangpun yang melihat atau menerima pesanan Xiao Er. Jingu masih berpikir positif akan kemungkinan Xiao Er pergi ke luar. Jadi ia mencari di sekitar penginapan, namun masih nihil. Baru kemudian ia sadar bahwa ada sesuatu yang tidak beres.


Jadi Jingu segera ke atas untuk melapor pada A Fei. Sayang setibanya di atas, Jingu sama sekali tak menemukan sosok A Fei dimana pun juga.


" Putri dimana kau? " Panggilnya sembari terus mencari di segala sudut.


Jingu melihat gelas teh A Fei yang masih hangat, itu berarti beberapa saat yang lalu wanita itu masih di sini. Lantas kemana dia sekarang?


Beberapa menit sebelumnya.


Tepat setelah Jingu menutup pintu. Sebuah anak panah meluncur dan menancap di atas meja. A Fei yang sedang duduk santai sembari menikmati teh hangatnya sampai membeku bahkan sejenak ia menahan napasnya karena terlalu terkejut.


Tangannya yang gemetar meletakkan cangkir di meja. Diraupnya oksigen sebanyak mungkin berharap mendapatkan kembali ketenangannya.


A Fei bangkit dan segera melihat ke keluar. Namun tidak menemukan apapun, ia kembali ke meja untuk melihat anak panah yang ternyata terdapat sebuah kertas yang terikat di sana.


" Kurang ajar! beraninya mereka menculik Xiao Er. " Umpatnya setelah membaca isi surat tersebut.


Ternyata sebuah surat ancaman yang berisi bahwa Xiao Er sedang diculik dan untuk menyelamatkannya A Fei harus menemui mereka seorang diri tanpa membawa pengawal satu pun. Jika A Fei mengabaikan peringatan tersebut maka mereka mengancam akan membunuh pelayan setianya tersebut.


Panik. Itulah yang saat ini A Fei rasakan. Kejadian yang sama sekali tak pernah ia duga terjadi.


Menghela napas lalu membuangnya, A Fei mencoba menjernihkan otaknya. Ia harus tetap tenang agar bisa berpikir.


Setelah berpikir sejenak, tanpa ragu ia segera pergi melalui jendela kamarnya. A Fei memutuskan mengikuti instruksi dalam surat itu demi keselamatan Xiao Er, tentu dengan sedikit persiapan. Ia yakin sekali seseorang tengah mengawasinya jadi ia tak bisa bertindak terlalu berlebihan.


" Putri. "


Panggilan seorang pria mengalihkan perhatian A Fei yang sejak tadi berdiri tengah menunggu seseorang.


Gadis itu menoleh dan melihat seorang pria tengah berdiri menatapnya. Meski matanya terkesan tajam tapi tak ada aura membunuh dan itu membuat kewaspadaan A Fei sedikit berkurang.


" Dimana Xiao Er? " Tanya A Fei pada pria itu.


" Silakan. Anda sudah ditunggu di dalam. " Pria itu menyambut sopan kedatangan A Fei tanpa menjawab pertanyaan A Fei, membuat wanita itu mengerutkan kening heran.


Saat ini A Fei berada di sebuah bangunan bertingkat dua di tengah kota. Sekilas tampak dari depan terlihat seperti toko arak biasa tidak ada hal mencurigakan sama sekali.

__ADS_1


A Fei berjalan mengikuti pria itu hingga ke lantai dua. Namun setelah memasuki sebuah ruang. Mereka justru berjalan ke sebuah ruang rahasia yang berada di balik dinding.


" Silakan Nona. " Pria itu mempersilakan A Fei berjalan terlebih dulu.


" Kau duluan. Aku akan berjalan di belakang mu. Kau tahu, aku seorang penakut. Jadi aku membutuhkan punggung lebar mu untuk melindungi ku. "


Pria itu masih bergeming. Akhirnya karena tahu usahanya sia-sia, A Fei pun memutuskan berjalan di depan.


' Tapi kenapa aku merasa pernah melihat pria ini? ' A Fei merasa tak asing dengan pria tersebut. Ketika otak kecilnya berpikir dan hampir mengingatnya, suara Xiao Er membuyarkan semuanya.


" Putri, kenapa kau kesini? " Tanyanya khawatir.


" Xiao Er? " A Fei segera berlari menghampirinya, memeriksanya dan ternyata semua baik-baik saja. Hanya terikat saja kaki dan tangannya.


" Aku baik-baik saja putri. Tapi kenapa kau kesini putri? ini semua hanya jebakan untuk menangkap mu? "


"Siapa yang ingin menangkap ku? "


" Aku... "


Belum juga Xiao Er menjawab. Seseorang datang dari belakang dan menjawab pertanyaan itu.


Deg.


Suara seseorang yang pernah menyakiti perasaan dan membuatnya muak terdengar kembali. Ia menoleh dan menatap nyalang pada sosok yang kini berstatus sebagai mantan suaminya tersebut.


" Apa kabar istri ku? dua tahun kita tak bertemu dan kau semakin cantik. "


Mendengar pujian sang mantan alih-alih tersipu, A Fei justru ingin sekali muntah. Ia semakin yakin, bahwa sebelumnya pasti ada yang salah dengan otaknya hingga bisa menyukai pria di depannya ini.


" Mantan istri. Ingat itu. Aku baik-baik saja dan hidup bahagia sebelum akhirnya bertemu lagi dengan mu yang membuat suasana hatiku mendadak berubah suram. "


Alih-alih marah, Li Chenlan justru terkekeh mendengar ucapan sarkas sang mantan istri.


" Mulut mu masih tajam seperti dulu dan itu justru membuat ku semakin menyukai mu. "


A Fei memutar matanya jengah. " Sekarang katakan apa tujuan mu menculik Xiao Er? apa kau masih belum puas setelah membuat ku kehilangan Xiao San. "


" Maafkan aku. Aku hanya ingin bertemu dengan mu. Karena itulah aku melakukan ini. "


"Kau gila! " Umpat A Fei.


" Kau benar, aku sudah gila. Aku bahkan rela berperang dengan Kekaisaran Jin demi diri mu. Tidak kah kau lihat betapa besar perasaan ku. Kenapa kau masih saja menolak ku? aku tahu kau membenci selir, setelah kita menikah lagi aku berjanji aku tak akan mengambil selir, hanya kau satu-satunya yang akan menjadi istri ku. " Bujuk Li Chenlan, tak ketinggalan dengan ekspresi memohon pria itu.


Ia juga melanjutkan. " Karena itu, A Fei kembalilah pada ku. Kita akan hidup bersama dan menua bersama. "

__ADS_1


A Fei menggeleng tak habis pikir dengan jalan pikiran sang mantan suami. Setelah perpisahan mereka bukannya tambah baik, pria itu justru semakin buruk dimatanya. Tampaknya peperangan terakhir telah merusak isi kepalanya.


" Chenlan, kau tidak waras. Hentikan semua kegilaan ini. Sadarlah, kau tidak benar-benar mencintai ku. Yang kau cintai adalah kekuasaan. Aku tahu kau hanya menggunakan ku demi keuntungan dari Kerajaan ku. "


" Tidak. Aku benar-benar mencintai mu A Fei. Setelah perpisahan kita dulu aku baru menyadari akan perasaan ku. Tahukah kau, tak ada satu malam pun yang ku lalui dengan lelap. Aku sangat menyesal karena tak memperjuangkan mu. "


" Hentikan semua omong kosong ini Chenlan. Jika dulu aku bisa menghapus rasa cinta ku. Apa menurut mu sekarang aku bisa kembali mencintai mu terlebih setelah apa yang kau lakukan pada A Guang. Jangankan menyambung kembali hubungan kita, aku tidak langsung membunuh mu saja itu sudah bagus. " Geram A Fei penuh kebencian.


" A Guang? apa yang ku lakukan padanya? aku bahkan tak pernah bertemu dengannya lagi setelah kunjungan terakhir ku ke negara Jin. " Chenlan yang selama ini dalam pelarian masih belum mendengar akan berita duka sang putra mahkota Jin tersebut.


" Aku benar-benar tak menyangka selain pengecut kau juga tak tahu malu. Apa kau tak mengakui dosa yang sudah kau lakukan pada A Guang? aku sudah tahu bahwa kaulah yang sudah membunuhnya! " Pekik A Fei, hingga wajahnya berubah merah karena marah. Diingatkan kembali akan kematian sang kakak membuat luka di hatinya kembali menganga.


Seolah sebuah martil memukul tepat di belakang kepala, Chenlan merasakan tiba-tiba tubuhnya terasa berat. Kabar kematian A Guang sungguh mengejutkannya terlebih ketika wanita yang dicintainya itu mengira bahwa dirinyalah yang membunuh sang kakak.


Chenlan menggeleng pelan, " Aku tidak membunuhnya. Sungguh, itu bukan aku. Aku bahkan tak tahu jika A Guang meninggal. "


" Pembohong. Komandan Gu sudah mengakui semuanya. Tentang kerja sama kalian juga rencana pembunuhan kakak ku A Guang. Jadi jangan berkelit lagi. "


Li Chenlan hampir putus asa untuk menjelaskan bahwa bukan dia lah yang membunuh.


" Sungguh. Aku tidak membunuh A Guang. Ku akui memang bekerja sama dengan komandan Gu, tapi itu hanya sebatas menjadi mata-mata agar aku mengalahkan peperangan. Aku hanya memintanya untuk membocorkan strategi perang Kerajaan Jin tidak lebih. "


Lagi, Li Chenlan juga berkata. " Aku mencintaimu, mana mungkin aku menyakiti keluarga mu. Aku tidak sebodoh itu untuk melakukan hal yang justru membuat mu membenci ku. "


Sungguh meyakinkan semua ucapan sang mantan suami, membuat A Fei sedikit merasakan keraguan. Ditatapnya mata pria itu, sama sekali tak terlihat kebohongan. Namun A Fei kembali meyakini hatinya untuk tidak lengah.


" Apa kau pikir aku akan percaya? tidak semudah itu Chenlan dan satu lagi, aku tidak akan mau kembali lagi dengan mu. Jadi jangan pernah bermimpi untuk kita bersama lagi. "


Perkataan A Fei tampaknya membuat Chenlan geram. Tak terima dengan penolakan A Fei, terlebih dengan tuduhan atas pembunuhan A Guang, sang mantan kakak ipar. Ia mulai memikirkan cara keji.


Ia mengepalkan tangannya, maju perlahan sementara A Fei yang merasakan sebuah bahaya reflek mundur.


" Aku akan mendapatkan apa yang ku inginkan. Bahkan meski tanpa persetujuan dari mu. " Setelah mengatakan itu, dilemparnya bubuk bius tepat di wajah A Fei, membuat gadis itu seketika tak sadarkan diri.


" Putri! " Jerit Xiao Er melihat A Fei tak sadarkan diri.


" Tolong jangan sakiti putri. Aku mohon padamu. "


Chenlan yang hendak pergi dengan membopong A Fei berhenti sejenak dan berkata. " Tenang saja. Aku tak mungkin menyakiti wanita yang ku cintai. Setelah ini kau bisa pergi. Jika ada yang mencarinya katakan bahwa A Fei memutuskan untuk bersama dengan ku. Kami akan hidup bahagia bersama. "


Andai Xiao Er melihat wajah Chenlan saat ini yang menatap A Fei dengan sorot mata penuh cinta mungkin ia akan menganggap pernyataan pria itu sungguh-sungguh dan juga merupakan ungkapan romantis yang sanggup menggetarkan hati wanita manapun.


Sayangnya yang di tatap Xiao Er saat ini justru punggung pria itu. Jadi baginya ungkapan Chenlan terdengar menakutkan layaknya sebuah obsesi yang tak tersampaikan.


" Lakukan sesuai rencana. " Perintah Li Chenlan pada sang bawahan. Dan tanpa menunggu lama, pria itu sudah memukul Xiao Er hingga tak sadarkan diri.

__ADS_1


Sementara Li Chenlan sudah pergi terlebih dulu bersama A Fei yang masih tak sadarkan diri.


__ADS_2