Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 320 side story ( A Feng story)


__ADS_3

Di kediaman Liu.


" Ini sudah tiga minggu. Apakah masih belum ada balasan? " Nyonya tua Liu kembali bertanya pada putra sulungnya. Mengingat sudah tiga minggu sejak surat pertama di kirim namun masih belum ada balasan.


" Belum bu. " Raut wajah ayah Liu ru pun berubah cemas.


Sejujurnya dalam benaknya, ia sendiri ragu bahwa putrinya akan membalas surat mereka. Mengingat bagaimana buruknya perlakuan mereka padanya dulu. Tapi karena desakan ibunya, ia tetap saja mengirim surat itu.


" Kalau begitu tulis lagi. " Tiada kata menyerah. Nyonya tua Liu kembali memerintahkan putranya untuk mengirim surat.


Putranya hanya bisa mengeluh dalam hati. Menghela napas menunjukkan keberatan, ia berkata. " Bu, seminggu lagi Liu ru menikah. Mungkin saja ia sedang sibuk. Karena itu ia tidak bisa menerima surat kita. Bersabarlah. Aku akan kembali mengirim surat setelah acara selesai. " Liu mingchen berharap ucapannya bisa membujuk wanita tua yang tak lain ibunya itu.


Bukannya terbujuk. Liu mingchen justru mendapat pukulan tongkat dari nyonya tua. " Anak bodoh. Justru kita seharusnya memperbaiki hubungan dengan gadis itu sebelum upacara pernikahan berlangsung. Keluarga Liu harus hadir sebagai kerabat pengantin. Dengan begitu keluarga Liu akan menjadi terpandang. "


" Tapi kau justru berniat melakukannya setelah upacara pernikahan. " Lanjut nyonya tua mendengus kesal.


Bukan tidak mungkin, mereka tetap bisa datang dengan kondisi hubungan mereka saat ini. Hanya saja, Liu ru dan pangeran Feng pasti tak akan memberikan perhatian pada mereka dan itu akan membuat orang lain tahu bahwa hubungan mereka tidak baik-baik saja. Alih-alih menaikkan status, para bangsawan itu justru akan menjauhi keluarga Liu. Berpikir bahwa tak baik berhubungan dengan keluarga yang menyinggung keluarga Sima.


Putranya kembali berpikir. Seakan baru saja mendapat sentilan petuah dari sang ibu.


Apa yang di katakan ibunya benar. Jadi ia mulai terpengaruh dan berencana akan kembali menulis surat untuk putrinya.


" Kau benar bu. Aku yang tidak berpikir ke depan. "


Liu Mei yang sejak tadi mendengar perdebatan nenek dan ayahnya tersebut merasa kesal. Ingin sekali dia menggaruk kasar seluruh wajah kedua orang tua itu. Melampiaskan kebenciannya pada Liu ru.


Sebuah rencana tiba-tiba muncul di kepalanya. Ia pun membuka suaranya.


" Ayah, biarkan aku yang mengirim suratnya. Sebagai saudaranya, bukankah wajar jika kami bertemu. Jadi aku bisa memberikannya secara langsung padanya dan memintanya untuk segera membuat surat balasan. " Ucap Liu Mei menawarkan diri.


Sang ayah dan nenek saling bertukar pandang.


Liu mingchen merasa ide putrinya tidak buruk dan itu patut di coba. Sama sepertinya, nyonya tua Liu juga merasa gagasan Liu Mei bisa mempercepat rencana mereka. Setidaknya mereka tidak perlu menunggu lama untuk mendapat balasan.


Sebagai senior, mereka tentu tidak bisa menemui Liu ru begitu saja atau orang-orang akan berpikir bahwa mereka merendahkan harga diri dengan datang ke tempat keluarga yang lebih muda.


Sedangkan jika Liu Mei yang datang, orang-orang hanya akan berpikir bahwa itu sekedar kunjungan saudara biasa tidak lebih.


Keluarga Liu memang luar biasa. Disaat mereka ingin mengikat Liu ru dan berharap bisa ikut memanjat status dengannya.

__ADS_1


Di sisi lain, mereka juga tak ingin kehilangan harga diri.


" Baiklah. Ayah akan menulis suratnya. Kali ini aku harap kau bisa melakukannya dengan baik. " Putus kepala keluarga Liu tersebut.


" Aku tidak akan mengecewakan ayah. "


Liu Mei kemudian kembali ke kamarnya hendak mempersiapkan dirinya. Ia harus tampil secantik mungkin dan bertemu dengan pangeran Feng.


Niat Liu Mei adalah menemui Sima Feng dan menghasutnya dengan membuat Liu ru tampak buruk di matanya. Ia harap pria itu percaya dan kemudian meninggalkan Liu ru.


Sejujurnya Ia tidak peduli dengan surat itu atau pun Liu ru. Fokusnya adalah bisa bertemu dengan calon kakak iparnya itu.


" Aku yakin, setelah bertemu dengan ku dan membuatnya membenci wanita jalan itu. Pangeran Feng pasti akan menyukaiku. " Monolog Liu Mei sendiri. Ia memuji penampilannya saat ini.


Ia seolah lupa, bahwa Sima Feng adalah seorang pangeran, secara otomatis jenis wanita dengan berbagai macam kecantikan pastinya pernah Ia lihat. Namun tak ada satupun yang bisa mengetuk hatinya.


Liu Mei bergegas menuju kediaman pangeran Feng setelah sang ayah memberikan surat yang sudah ditulisnya.


Dari dalam gerbong, ia bisa melihat kediaman pangeran Feng yang saat ini sudah ada di depannya.


" Kau ketuk lah. Dan tanyakan apakah Liu ru ada di dalam? katakan bahwa saudaranya datang. " Perintah Liu Mei pada pelayan pribadinya.


" Siapa? " Tanya pelayan kediaman pangeran melihat wanita asing di depannya.


" Aku pelayan kediaman Liu. Nona kami ingin bertemu dengan nona Liu ru. " Pelayan itu menunjuk gerbong kereta di belakangnya. Dimana Liu Mei berada.


Liu Mei membuka sedikit tirai dan mengangguk kecil sebagai dukungan atas apa yang dikatakan oleh pelayannya.


Setelah melihat sekilas pada Liu Mei. Pelayan kediaman pangeran berkata. " Sayang sekali. Nona Liu ru ada di istana. Begitupun dengan Pangeran Feng. "


Entah sengaja atau tidak, pelayan itu berkata cukup keras. Jadi secara tidak sengaja Liu Mei juga mendengar apa yang dikatakan pelayan itu.


Terdengar jelas nada tidak suka dari pelayan tersebut dan itu memancing kemarahan Liu Mei. Ingin rasanya berteriak dan memakinya. Sayang ia hanya bisa mengepalkan tangannya dengan kuat dan menelannya bulat-bulat.


' Tenang, tenang. Disini kediaman pangeran. Tetap tenang dan jangan terpancing. '


Mendengar bahwa keduanya berada di istana, Liu Mei merasa kecewa.


Tak mungkin ia datang ke istana. Hanya dengan undangan seseorang bisa masuk ke sana. Jadi tidak ada jalan lain selain ia kembali ke kediaman Liu.

__ADS_1


Sepertinya keberuntungan sedang berpihak padanya. Terdengar suara kereta kuda berhenti. Dan Liu Mei tahu bahwa itu adalah kereta kuda milik Sima Feng.


" Lihatlah. Bahkan langit sedang membantu ku. " Liu Mei menyeringai.


Ling he yang melihat ada kereta kuda lain di depan kediaman tuannya. Segera bertanya. Suaranya yang tegas terdengar jelas oleh Liu Mei yang ada di dalam.


Liu Mei turun dari gerbong dengan anggun. Ya dia berniat menunjukan sisi lemah lembut dirinya pada Sima Feng. Dan di mulai dengan menemui Ling he sang ajudan.


" Tuan. Maaf telah menghalangi jalan. Saya Liu Mei saudari perempuan Liu ru. Sudah lama kami tidak bertemu karena itu saya datang ingin menemuinya sekaligus menyampaikan surat dari keluarga. " Liu Mei berkata dengan suara mendayu.


Ling he yang selalu menemani Sima Feng selama ini tentu saja tahu betul bagaimana para wanita mencoba menggoda tuannya. Dan salah satunya akan bersikap seperti wanita di depannya sekarang. Jadi alih-alih terpukau, wajah Ling he justru semakin menunjukkan sikap tak suka.


' Wanita penggoda. ' Alarm Ling he seketika berbunyi. Salah satu tugasnya selain melindungi Sima Feng adalah menjauhkan para wanita yang berniat menggoda tuannya.


" Nona Liu ru tidak ada di kediaman. Saat ini Ia berada di istana. Jadi kembalilah. Karena kedatangan mu sia-sia. " Tolak Ling he begitu saja.


Liu Mei masih tidak menyerah. " Kalau begitu bisakah saya berbicara dengan pangeran Feng sebentar. Ada yang ingin saya sampaikan tentang Liu ru. "


" Lancang! " Bentak Ling he dengan suara keras. Membuat Liu Mei yang sebelumnya tampak seperti penggoda seketika menciut ketakutan. Ia tersentak, Kakinya gemetar. Ia langsung menunduk menyembunyikan wajahnya.


" Beraninya kau meminta bertemu dengan pangeran. Tampaknya hukuman yang diberikan oleh Yang mulia untuk salah satu kerabat mu itu tidak mengajarkan mu dalam bersikap. " Liu Mei seketika langsung mendongak menatap Ling he. Ia menggeleng ketakutan. Teringat akan hukuman Liu shishi. Bahkan hingga hari ini wajahnya tak kunjung sembuh. Malahan semakin bengkak dan mengerikan.


Lalu Ling he bertanya pada Sima Feng yang sejak tadi diam di dalam gerbong.


" Yang mulia apa perlu kita berikan hukuman untuknya juga. " Tanya Ling he.


" Tidak perlu. Usir dia. Dan jangan biarkan dia masuk. " Setelah berkata, beberapa pengawal menyeret Liu mei ke pinggir.


" Ma-maaf yang mulai. Tolong maafkan saya. Saya sudah tahu kesalahan. " Ronta Liu Mei saat dua pengawal menyingkirkannya.


Sima Feng turun dari kereta kuda. Tatapan tajamnya membuat Liu Mei mendadak beku. Tanpa berkata satu patah kata pun, ia masuk ke dalam kediamannya.


Liu Mei yang masih terdiam ditinggalkan begitu saja.


" Nona? Apa anda baik-baik saja? " Tanya pelayan Liu Mei begitu orang-orang Sima Feng tak ada lagi. Melihat nonanya yang masih diam menatap pintu kediaman pangeran membuatnya khawatir.


" Apakah itu pangeran Feng? " Bukannya menjawab, Liu Mei justru bertanya. Pandangannya masih tak beralih dari pintu gerbang kediaman pangeran.


" Iya Nona. Beliau pangeran Feng. " Jawabnya bingung.

__ADS_1


' Tampan sekali. Kenapa ****** Liu ru beruntung sekali? setelah di usir dari kediaman Liu, ia malah mendapatkan pangeran Feng. Tidak bisa. Aku harus membuatnya merasa kehilangan untuk yang kedua kalinya. Jika aku bisa mengambil pertunangannya. Maka untuk kali ini aku pasti bisa mengambil posisinya. Lihat saja Liu ru. Aku akan membuat mu merasakan lagi rasanya di buang. ' Batinnya penuh tekad.


__ADS_2