
Ziyan tiba di halaman tempat tinggalnya. Beberapa pelayan yang sedang bekerja, memberikan hormat begitu melihat sang pemilik halaman tiba.
Kediaman Mo ini terdiri dari empat halaman utama. Halaman utara tempat tinggal pasangan Mo dan nyonya Tua. Halaman timur, tempat tinggal Mo Qingchen dan istri, juga putra mereka Mo yingfeng. Halaman selatan, tempat Mo Yuefeng dan Chufeng.
Dan terakhir halaman barat, tempat Mo Ziyan.
Ziyan hanya mengangguk sebentar tanpa menghentikan langkahnya. Pandangan Ziyan tetap lurus tanpa menoleh sedikitpun pada para pelayan yang ada di halaman tersebut hingga dirinya masuk ke dalam kamarnya.
Beberapa pelayan mulai melakukan diskusi, ketika sang majikan sudah tak terlihat.
"Eh apa kau lihat tadi. Sepertinya ada yang berbeda dengan Nona pertama. " Salah seorang pelayan memulai obrolan.
" Apanya? Bukankah wajah nona pertama masih sama. " jawab pelayan lain.
"Hizz... bukan wajahnya. Entah kenapa nona pertama terlihat lebih dingin dari pada sebelumnya. Apa kau tak lihat tadi, dia hanya mengangguk saat menjawab hormat kita. Bukankah biasanya dia akan tersenyum dan melempar beberapa kata. " Jelas pelayan pertama.
Saat semuanya sedang asyik berdiskusi, suara seorang pria mengagetkan kerumunan tersebut.
" Apakah kalian tidak ada pekerjaan lain selain bergosip. " Xiaoqi berdiri dengan lengannya yang terlipat didada. Ekspresinya menunjukan ketidaksukaan.
Melihat Xiaoqi dengan ekspresi yang mengerikan, para pelayan tersebut langsung membubarkan diri dan kembali ke pos masing-masing. Xiaoqi mendengus kesal dan bergegas menuju ruang belajar ziyan.
"Nona. Ini xiaoqi. "
"Masuklah."
Xiaoqi masuk setelah dirinya mendapatkan ijin. Ia bergegas berdiri di depan meja besar dan ziyan duduk di belakangnya sedang menulis sesuatu.
" Xiaoqi. Bagaiamana hasil pencariannya. " Ziyan yang memang sudah menunggu xiaoqi dari tadi tanpa membuang waktunya langsung menanyakan hasil pekerjaannya.
"Ada beberapa toko yang hampir gulung tikar. Namun ada satu yang letaknya strategis. Hanya saja... " xiaoqi tampak ragu untuk menjelaskannya.
"Hanya saja kenapa? " Ziyan mengernyitkan keningnya, mendengar penjelasan xiaoqi yang terjeda.
"Hanya saja, beberapa bulan yang lalu ada yang meninggal di tempat itu. Karenanya orang-orang percaya tempat itu memiliki fengshui yang buruk."
__ADS_1
'Itu bukan masalah fengshui, pasti ada yang melakukan sabotase dan menyebarkan rumor.' Itulah yang dipikirkan Ziyan.
"Lalu bagaimana dengan tugas Yan lain? "
" Berdasarkan informasi yang saya dapatkan. Karena kecurangan yang sering terjadi di 'Shugua'(nama kasino) , tempat itu sekarang terlihat lebih sepi daripada sebelumnya. Meski begitu, tempat itu tetap beroperasi dan menjadi kasino terbesar di ibukota. "
Tidak ada perubahan di wajah ziyan. Wajahnya masih tenang seperti biasanya. Ia mulai mencerna informasi yang diberikan oleh xiaoqi. Sebelum mereka tiba di ibukota. Ziyan memang meminta xiaoqi untuk mencari beberapa tempat usaha yang hampir bangkrut untuk dirinya ambil alih. Ziyan berniat membuka tempat usaha pertamanya di ibukota. Jika ia ingin menjadi kuat maka ia membutuhkan uang. Untuk usaha pertamanya ia membutuhkan jenis usaha yang perputaran uangnya cepat. Oleh karena itu ia berniat akan membuka sebuah Kasino.
"Baiklah. Terima kasih xiaoqi. Kau bisa kembali. "
Setelah Xiaoqi pergi, Ziyan sibuk kembali pada tulisannya. Yaoyao yang membawakan teh dan susu untuk Ziyan menengok kiri kanan mencari suatu.
"Bukankah tadi ada xiaoqi nona. Dimana dia? "
"Sudah pergi. " Ziyan menjawab tanpa mengalihkan pandangannya.
Yaoyao menuangkan teh ziyan, dan meletakkannya di atas meja. "Nona silakan diminum dulu. "
Ziyan mengambil teh susunya, menyesapnya sedikit lalu kembali pada catatannya.
Memperhatikan nonanya yang semakin tenggelam dengan hal yang dikerjakannya, membuat rasa penasaran yaoyao muncul. Ia berjalan mengitari meja dan berdiri di samping Ziyan.
" Ini adalah angka dan huruf alfa latin atau biasa disebut alfabet romawi. " Ia memutuskan untuk membuat rencana pembukuannya dengan alfabet. Mencegah orang lain membacanya.
" Anda mengetahui segala hal nona. Hebat sekali. "
Ziyan tersenyum, lalu melirik yaoyao. Rasa ingin tahu terlihat jelas di wajahnya. "Apa kau mau mempelajarinya? aku bisa mengajarimu. "
Sebuah senyum suka cita mengembang di bibir yaoyao, ia mengangguk. "Aku mau nona. "
"Baiklah. Satu jam setiap hari setelah makan malam. Aku akan mengajarimu. "
Tiba-tiba sebuah ide muncul di otak Ziyan. Mungkin dirinya bisa merealisasikannya nanti saat kasinonya sudah berjalan.
" Terima kasih nona. " Yaoyao sangat senang karena ada hal baru yang akan ia pelajari. " Nona dimana snowy? kenapa ia tak terlihat. "
__ADS_1
Ziyan tersenyum tipis, wajahnya masih menunjukkan ketenangannya. "Dia sedang cuci mata. Melihat sesuatu yang mungkin menarik. "
" Benar juga. Mungkin dia bosan dan ingin jalan-jalan."
Ziyan hanya tersenyum mendegar tanggapan yaoyao. Sepertinya hanya Tuhan dan Ziyan yang mengerti arti sebenarnya dari ucapannya itu.
***************
Makan malam ini adalah makan malam pertama Ziyan bersama semua anggota keluarga Mo. Meja bundar besar di ruang makan sudah penuh dengan makanan yang telah disiapkan oleh para pelayan.
Ziyan sedikit tertegun melihat jenis makanan yang disiapkan itu. Hampir 70% adalah makanan kesukaannya. Lebih tepatnya kesukaan Ziyan asli.
"Makanlah Yaner. Nenek sudah menyuruh koki untuk menyiapkan makanan kesukaanmu. Karena makan malam ini sekaligus perayaan untuk menyambut kepulanganmu. "
"Terima kasih nek. "
Nyonya tua kediaman Mo adalah wanita yang baik hati. Setiap berbicara dengannya, Ziyan selalu merasakan aura kehangatan dan kasih sayang yang terpancar darinya. Sepertinya nyonya tua sangat menyayangi cucu-cucunya.
Ziyan mengambil beberapa potong makanan kesukaannya. Saat itu juga ia merasakan tatapan tajam yang ditujukan padanya. Ia mengangkat kepalanya untuk melihat siapa gerangan orang itu.
'Mo Chufeng'. saat Ziyan menyadari tatapannya. Chufeng segera membuang mukanya kembali fokus pada mangkok nasinya. Sebelumnya Ziyan berpikir bahwa itu Yuefeng. Apakah Chufeng juga memiliki sesuatu juga seperti Yuefeng.
Ia memutuskan untuk memikirkannya nanti. Untuk sekarang dirinya akan fokus terlebih dulu pada pembukaan usahanya.
Setelah makan malam. Ziyan kembali ke halamannya. Ketika dirinya tiba, sudah ada Luyi yang sedang menunggunya. Ziyan bergegas pergi ke ruang belajarnya dan meminta Luyi untuk Mengikutinya.
"Apakah ada yang ingin kau serahkan padaku. " Ziyan yang melihat Luyi membawa barang di tangannya, ia yakin ada sesuatu yang ayahnya ingin berikan.
Luyi sedikit terkejut, gadis di depannya ini bisa menebak tujuan kedatangannya. Benar kata tuannya, ia adalah gadis yang cerdas. Segera luyi mengembalikan ekspresnya seperti semula.
"Tuan meminta saya memberikan ini pada anda, nona. " Ia berbicara sembari menyerahkan sebuah kotak kayu berbentuk balok.
Ziyan menerima kotak itu, dibukanya dan melihat beberapa lembar kertas di dalamnya. 'ini... ' Dengan cepat ziyan menutup kembali kotak itu.
"Sampaikan Terima kasihku pada ayah."
__ADS_1
Setelah menyelesaikan tugasnya, Luyi bergegas pergi.
Ziyan tersenyum, Ayahnya ini ternyata tahu apa yang ia butuhkan sekarang.