Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 204


__ADS_3

Ziyan melihat pantulan dirinya di cermin. Ia memakai pakaian sederhana jauh dari kata mewah seperti yang biasa ia pakai. Hari ini dirinya akan menjadi gadis desa yang bepergian bersama seorang kakak. Dan disini, xiaoqi lah yang akan berperan sebagai kakak ziyan.


Setelah usaha kerasnya membujuk sima rui agar mengijinkannya pergi. Akhirnya, meski dengan berat hati pria itu pun memberikan ijinnya. Dengan catatan ziyan tidak diperbolehkan pergi seorang diri. Awalnya ia akan pergi bersama Sima rui. Namun wajahnya yang terlampau tampan hanya akan membuat orang curiga. Jadi karena itulah pilihan jatuh pada xiaoqi.


Terkadang ziyan sebagai istri merasa minder dengan ketampanan suaminya. Meski pun ia menambahkan bubuk hitam sejenis arang di Wajah pria itu, tetap saja tak mengurangi karisma yang di milikinya.


Sima rui memperhatikan ziyan yang sejak tadi sibuk merubah penampilannya.


" Jangan gunakan perona bibir. Buatlah wajah mu senatural mungkin. " Saran sima rui. Matanya tak sedikit pun beralih dari sosok wanita yang sejak tadi menjadi fokus perhatiannya.


" Istriku, kau bisa menambahkan sedikit noda dengan bubuk hitam di wajahmu. Aku rasa itu akan terlihat lebih meyakinkan. " Imbuh Sima rui sembari memberikan kotak kecil berisi bubuk arang.


Ziyan menatap tajam Sima rui. Sementara yang di tatap justru tak peduli dan masih tersenyum tanpa merasa bersalah.


" Aku ini menyamar sebagai gadis desa yang polos bukan seorang pengemis. Jika wajahku penuh noda, mereka tak akan menculik ku. Jangankan menculik, aku yakin melirik pun tidak. " Kesal ziyan dengan tingkah suaminya.


Wanita itu tak tahu bahwa penampilan dirinya yang sederhana membuatnya terlihat polos dan rapuh. Membuat siapapun yang melihat khususnya para pria memiliki naluri untuk melindungi. Sima rui yakin, penampilan istrinya ini akan menarik lebih banyak lebah jantan. Dan sima rui tak suka itu.


" Aku hanya ingin membantu. Aku rasa menambahkan sedikit noda tak membuat mu kelihatan lusuh istriku. " Sima rui masih mencoba membujuk. Bahkan ia memasang wajah memelas.


" Berhenti membuat wajah memelas. Aku tak akan terpengaruh. Aku tahu sangat jelas seperti apa motif mu. "


Sima rui menghela napas kecewa karena usahanya membuat sang istri tidak terlalu cantik gagal. Ia kembali ke tempat duduk lalu menenggak cangkirnya hingga kosong untuk meredakan rasa kecewanya.


Ziyan melirik dari sudut matanya bagaimana suaminya merajuk. Meski ia tak terlihat sedang merajuk, tapi jelas ziyan bisa melihat kekecewaan di wajahnya. Ia tersenyum sedikit, lalu berjalan ke meja Sima rui dan membuka kota berisi bubuk hitam tersebut. Mengambil dengan telunjuk lalu mengoles tipis di dahinya. Seperti tanda dalam patung dewa umat hindu.


" Apakah sudah terlihat seperti gadis desa. " Tanya ziyan.


Sima rui tersenyum dan mengangguk menahan agar tawanya tidak pecah. " Jauh lebih baik. " Ucapnya.


Keduanya keluar dari kamar dan melihat xiaoqi yang sudah siap dengan pakaian tempurnya.


" Wangfei, kenapa ada noda di kening anda? " Tanya xiaoqi memperhatikan wajah ziyan.


Ziyan berdeham lalu melirik ke arah sima rui.


" Anggap ini tanda restu seseorang agar misi kita berjalan lancar. " Ucap ziyan menyindir seseorang. " Lalu mulai sekarang berhenti memanggilku wangfei. Cobalah untuk membiasakan diri memanggilku meimei. Aku juga akan memanggilmu gege. Sekarang cobalah. "


" Gege. " Panggil ziyan.


Xiaoqi melirik Sima rui sekilas. Lidahnya terasa kelu, berat rasanya harus memanggil meimei pada majikannya. Apalagi melihat ekspresi dingin Sima rui. Membuat xiaoqi mengeluarkan keringat dingin di seluruh punggungnya.


" Mei.. Mei. " panggil xiaoqi terbata.


" Bagus. Setelah ini berusahalah agar terdengar lebih natural. " Pinta ziyan sembari menepuk pundak xiaoqi.


Keringat jagung di kening xiaoqi semakin deras. Ia bisa merasakan hawa dingin dari samping majikannya.


" Lebih baik kalian segera berangkat. Ingat! kau harus menjaga istriku xiaoqi. Lalu kembalilah dengan utuh dan selamat. " Ucap Sima rui menyela.


Nada bicara sima rui sebenarnya biasa. Namun entah kenapa di telinga xiaoqi terdengar mengerikan. Seolah pria itu sedang mengutuk dirinya agar tidak kembali.


" Baik, Yang mulia. Saya akan mengingatnya. " Ucap xiaoqi dengan menahan napas.


Ziyan melihat sebuah kereta kuda terparkir di depan kediamannya. Ia mengerutkan kening ketika melihat tampilan kereta kuda tersebut.


" Xiaoqi, Apakah kereta ini sudah paling sederhana yang kita miliki? " Tanya ziyan.


" Itu benar Wangfei. Ini sudah yang paling sederhana. "

__ADS_1


' Bahkan bangsawan paling rendah pun kereta kudanya tidak lebih bagus dari ini. Apa mereka berniat mengungkap penyamaran sebelum berperang. ' Batin ziyan kesal.


Pasalnya kereta sederhana yang di maksud xiaoqi tersebut terbuat dari kayu kualitas baik dengan ukiran di beberapa badan gerbong.


Ziyan melihat sekeliling. Matanya berhenti ketika melihat kuda pembawa kayu bakar yang kebetulan sedang memasok ke kediamannya. Sebuah kereta kuda tanpa gerbong penumpang. Hanya kuda yang menarik papan kayu dimana pemilik meletakan kayu-kayu bakarnya.


" Kita naik itu. " Ziyan menunjuk ke arah kereta pengangkut kayu itu.


Semua orang tercengang. Dengan cepat xiaoqi di seret ke atas kereta itu. Begitu kereta kuda tersebut jalan, ziyan tanpa canggung melambaikan tangannya pada Sima rui yang sejak tadi masih bergeming melihat tingkah absurd istrinya tersebut.


Singkat cerita, akhirnya ziyan dan xiaoqi tiba di pinggir hutan. Dimana Arthur dan wang yi diculik sebelumnya. Setelah turun dari kereta, ziyan memutuskan untuk berjalan kaki.


" Nona , sepertinya di sebelah sana ada penginapan. " Tunjuk xiaoqi pada sebuah bangunan yang berjarak cukup dekat dari posisi mereka saat ini.


" Meimei! panggil aku meimei. " Tegas ziyan.


" Ah ya. Meimei. " Jawab xiaoqi yang masih belum terbiasa.


Keduanya berjalan menuju penginapan kecil tersebut. Begitu ziyan memasuki penginapan, ada banyak pasang mata yang menatap mereka. Ziyan mencoba bersikap biasa, ia berjalan menuju meja depan untuk memesan dua kamar.


" Tolong berikan dua kamar untuk kami. " Pinta ziyan pada petugas pria penginapan tersebut.


Petugas tersebut langsung mencatat pemesanan kamar mereka. " Apakah kalian baru di desa ini? " Tanya petugas itu sembari menulis tanda bukti pembayaran mereka.


" Iya. Kami berdua datang dari desa di bawah kaki gunung dan akan bekerja di ibukota. " Jawab ziyan begitu polos.


Xiaoqi sejak tadi hanya diam mengamati interaksi ziyan dan petugas itu.


" Apakah dia saudara mu? " Tanya petugas itu melihat xiaoqi. Sementara xiaoqi hanya menatap balik petugas itu dengan ekspresi datar.


" Dia kakak ku. " Jawab ziyan masih menjaga senyum ramahnya.


Setelah melakukan pembayaran. Ziyan dan xiaoqi menunggu sejenak sembari duduk di salah satu meja. Kamar penginapan ada di lantai dua, sedang di lantai satu adalah resepsionis sekaligus kedai dimana kita memesan makanan. Karena letak penginapan yang ada di pinggir hutan dekat dengan gerbang ibu kota. Maka tidak heran jika yang menginap adalah para pelancong yang berasal dari luar ibu kota.


Tiba-tiba dua orang pria bertubuh besar dan kekar datang menghampiri meja ziyan. Dari ekspresi keduanya, ziyan bisa melihat niat jahat mereka.


" Hei nona. Kursi mu kosong. Bolehkah kami duduk di sini bersama mu. " Ucap salah satunya pada ziyan.


Pria itu berbicara dengan jarak sangat dekat dengan wajah ziyan. Ia bisa mencium bau busuk yang berasal dari mulutnya. Memejamkan mata, ziyan mencoba menahan gejolak pada perutnya yang meronta ingin dimuntahkan.


" Maaf tapi aku lihat kursi yang lain banyak yang kosong. Kenapa kalian tidak duduk di tempat lain. " Tolak ziyan secara halus. Ia sampai menahan napas ketika berbicara.


Kedua pria itu tampak tidak terima dengan penolakan ziyan.


Brakk!


Salah satunya menggebrak meja ziyan. " Kau berani menolak kami, ha! " Teriaknya hingga kedua matanya melotot seolah ingin keluar.


Ziyan pura-pura gemetar ketakutan. Xiaoqi yang berperan sebagai kakak pun tak terima kala sang adik diganggu.


" Kalian pergi. Jangan ganggu adikku. " Pekik Xiaoqi mencoba menghalau keduanya. Namun wajah datarnya membuat kedua pria itu merasa seolah sedang di ejek.


Tak terima dengan tindakan xiaoqi, salah satu pria yang tadi memukul meja, meraih baju xiaoqi, mengangkat tubuhnya ke atas lalu melemparnya. Xiaoqi ingin melawan, namun ziyan sudah memberi kode sebelumnya untuk dirinya mengalah. Jadilah kini ia tersungkur di lantai.


" Kau bahkan tak bisa melawan kami. Tapi berusaha menjadi pahlawan. Cuih! " Pria itu meludah tepat di wajah xiaoqi.


Kedua tangan ziyan mengepal. Tak terima dengan hinaan yang xiaoqi dapatkan.


" Hentikan kalian berdua. " Sela seseorang menghentikan salah satu pria itu yang hendak menendang xiaoqi.

__ADS_1


Perhatian semua orang kini beralih pada orang yang baru saja bicara tersebut. Ziyan melihat seorang pria berpakaian putih, dengan tampilan yang memberikan kesan bahwa ia adalah pria berbudi luhur. Wajahnya menunjukan ketenangan dan yang terpenting adalah pria itu tampan. Ziyan sedikit terpesona, namun sedetik kemudian ia tersadar.


' Alihkan matamu bodoh. Jika sima rui tahu bahwa kau terpesona dengannya maka habislah kau. " Batin ziyan.


" Jangan ikut campur kau. Atau kau akan berakhir seperti dirinya. " Ucap salah satu pria kekar tadi dengan sombong menunjuk ke arah xiaoqi.


Keduanya kini berhadapan dengan pria misterius berbaju putih itu meninggalkan xiaoqi yang masih duduk di lantai. Ziyan segera menghampiri xiaoqi untuk menanyakan keadaannya.


Tak lama perkelahian dua lawan satu itu pun terjadi. Ziyan pikir karena Pria berbaju putih itu tampak lemah, ia akan dengan mudah di kalahkan oleh kedua pria bertubuh kekar itu. Namun situasi justru terbalik. Dengan mudah pria itu berhasil mengalahkan keduanya dalam waktu singkat.


Melihat kedua pria kekar itu tergeletak di lantai dengan kesakitan di sekujur badannya. Pria berbaju putih itu maju dan berdiri di depan mereka.


" Jika aku melihat kalian berulah lagi di sekitar sini. Maka aku tak akan segan-segan untuk memotong tangan kalian. " Ancam pria itu membuat kedua pria itu mengangguk cepat. "Kalau begitu pergilah kalian berdua. " Dan dengan cepat keduanya lari meninggalkan penginapan itu.


Pria berbaju putih itu menghampiri ziyan lalu membantu xiaoqi berdiri.


" Apa kalian baik-baik saja? " Tanyanya pada ziyan dan xiaoqi.


Ziyan mengangguk, " kami baik-baik saja. Terima kasih, berkatmu kakak ku tertolong. "


" Tidak perlu sungkan. Aku hanya melakukan apa yang harus di lakukan. Tak mungkin kan aku hanya menutup mata ketika melihat seorang gadis cantik sedang di ganggu. "


" Haha.. " Ziyan tertawa dengan kaku. Entah kenapa ucapan pria itu terdengar seperti sedang menggodanya. " Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih tuan... "


" Xumu. Panggil aku xumu. " Potong xumu.


" Ah iya, Sekali lagi terima kasih tuan Xumu atas bantuan mu. "


Setelah mengucapkan terima kasih, ziyan dan xiaoqi segera pergi ke lantai dua untuk menuju ke kamar.


Xumu melihat punggung ziyan dan sebuah senyum tersungging di bibirnya.


Sementara itu, di tempat lain.


Kedua pria kekar yang tadi sudah di hajar oleh xumu kembali di hadang oleh dua orang pria.


" Apa yang kalian inginkan. " Sembur salah satu pria kekar itu.


Junyi menyeringai, " Tidak banyak. Hanya memberikan sedikit salam perkenalan karena kalian tadi mencoba mengganggu Nyonya kami. "


ya kedua orang itu adalah junyi dan sima rui.


Kedua pria itu saling berpandangan. " Siapa nyonya mu? Jangan sembarang bicara kau. Bahkan kami sama sekali tak mengenal nyonya mu. "


Junyi terbahak mendengar ucapan mereka. Ia lantas melihat sima rui yang sejak tadi berwajah gelap. Sejak melihat ziyan diganggu, sima rui sudah mencatat keduanya di dalam kepalanya bahwa mereka akan mendapatkan hukuman yang tak terlupakan. Awalnya sima rui hanya akan memotong salah satu lengannya yang tadi berniat menyentuh ziyan. Namun niat itu di urungkan nya. Sekarang ia akan membuat mereka tersiksa. karena gara-gara mereka, seorang pria entah dari mana muncul dan membuat istrinya terpesona. Itulah yang membuat wajah sima rui semakin gelap. Ia butuh pelampiasan untuk meredakan amarah dan rasa cemburunya.


Junyi yang awalnya jengkel dengan kedua pria kekar itu kini menjadi kasihan karena sebentar lagi nasib buruk akan mengantar mereka ke tangan raja iblis.


' Jika saja kalian hanya mengganggu wangfei mungkin kalian hanya akan kehilangan satu lengan. Tapi lihatlah. karena ulah kalian, membuat wangfei terpesona dengan pria asing. Itu adalah kesalahan fatal kalian. ' Monolog junyi.


" Bawa mereka ke tempat biasa. " Titah sima rui. " Awasi keduanya. Karena istriku pasti ingin membalas atas penghinaan yang mereka lakukan pada xiaoqi. "


Dan akhirnya keduanya di seret paksa oleh penjaga bayangan yang sejak tadi bersembunyi.


***********


Catatan author :


ini panjang babnya sama seperti dua bab.. Jadi kalau masih kurang panjang nanti author tambahin.

__ADS_1


__ADS_2