Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 142


__ADS_3

Istana ibu suri.


" Jadi mereka gagal? " Ucap Ibu suri.


Suaranya terdengar tenang namun pria yang sedang berlutut di depannya itu tahu dengan jelas bahwa semakin tenang ibu suri, maka semakin besar amarahnya.


" Maaf Yang mulia. Kami juga tidak menyangka bahwa mereka akan mengetahui taktik tersebut. Kabar yang saya terima, saat ini pangeran pertama sedang berada di perbatasan. Itulah kenapa mereka bisa dengan mudah menebak rencana kami. " Ucap pria berpakaian hitam itu dengan wajah menunduk.


" Sima rui di perbatasan? Bukankah dia seharusnya berada di Kerajaan wei? " Tanya ibu suri.


" Pangeran mempercepat kepulangannya. Dan saat di tengah jalan, entah apa penyebabnya, ia memutar arah dah pergi ke perbatasan. "


Ibu suri yang sejak tadi berada di atas ranjang, bangun dan berjalan ke arah meja di mana terdapat sebuah papan catur. Dipegangnya sebuah bidak lalu mulai menyingkirkan bidak lain dengan bidak tersebut.


" Bidak yang tidak berguna harus di singkirkan. Kita akan menjalankan rencana lebih cepat. Sudah cukup kesabaran ku selama ini. Kau, kerahkan tentara rahasia dengan tentara suku bar-bar lalu serang kerajaan wei. Dalam satu minggu, negara itu harus berada di tanganku. "


Setelah menerima perintah, pria berpakaian hitam tersebut segera menghilang.


" Sima rui, Sima rui. Keberadaan mu benar-benar membuatku repot. " Gumam ibu suri.


Dibukanya sebuah kotak kayu yang ada di depannya dan mengambil sebuah botol.


" Berikan ini pada orang itu, katakan untuk menambahkan dosisnya. " Ucap Ibu suri pada pelayan setianya.


Pelayan setia ibu suri menerima botol tersebut lalu bergegas undur diri untuk melaksanakan perintah.


*********


Beberapa hari kemudian,


Ziyan bersama Sima rui turun dari kereta kuda. Dengan mengenakan pakaian sederhana, mereka ikut berbaur dengan masyarakat desa.


Keduanya masuk ke sebuah kedai, tak perlu menunggu lama, seorang pelayan segera menghampiri meja mereka.


" Tuan, nona. Kalian ingin memesan apa? " Tanya pelayan tersebut.


" Hidangkan apapun yang menurut kalian enak. "

__ADS_1


Ziyan melihat Sima rui dengan tatapan protes begitu mendengar ucapan Sima rui. Baru juga dirinya membuka daftar menu, namun pria itu justru sudah memesannya.


" Kenapa kau melihatku seperti itu? " Tanya Sima rui pada ziyan, karena gadis itu terus menatapnya.


Ziyan menghela napas. " Kau memesan begitu saja, tanpa bertanya padaku, apa yang ingin aku makan? "


" Apakah ada makanan khusus yang ingin kau makan? " Sima rui justru bertanya balik.


Ziyan menggeleng tak mengerti harus bagaimana menjelaskannya. " Bisakah kau mengerti sedikit saja maksud ucapanku. Bukan persoalan makanan apa yang ingin aku makan. Tapi setidaknya tanyakan padaku apa yang aku Inginkan. "


Brakk


Ziyan memukul keras meja makannya. Hal itu menarik pasang mata untuk beralih melihat ziyan.


" Sudahlah. Kau makan sendiri saja. Aku sudah tak berselera. " Ziyan hendak pergi. Namun Sima rui mencekal tangannya.


" Jangan marah. Baiklah aku salah. Sekarang kita makan dulu, sungguh sangat di sayangkan jika makanan itu sampai terbuang. " Sima rui berusaha membujuk. Namun ternyata, apa yang ia ucapkan sama sekali tidak meredakan emosi ziyan.


Ia menghempaskan tangan Sima rui. " Kau makan saja sendiri. " Lalu pergi meninggalkan pria yang menatapnya dengan ekspresi bingung.


Ziyan melangkah keluar dari kedai dan terus berjalan. Mulutnya tak henti-hentinya merutuk akan ketidakpekaan Sima rui. Sampai tanpa sadar, ziyan akhirnya tiba di sebuah jalan sepi. Salah satu sudut bibirnya naik.


Ziyan berhenti, " Keluarlah. Aku tahu kalian mengikuti ku sejak tadi. " Ucap ziyan dengan tenang.


Tiga orang pria keluar dari persembunyiannya. Ziyan sungguh ingin memukul habis wajah mereka. Wajah yang terlihat bak serigala lapar yang baru saja menemukan mangsanya.


' Ck.. lihatlah wajah cabul mereka. Benar-benar menjijikan. ' Gerutu ziyan dalam hati.


" Intuisi mu benar-benar bagus nona. Tapi sayangnya kau menyadarinya terlambat. "


" Kami tahu kau sedang kecewa dengan kekasihmu. Karena itu, kami ingin membantumu. Ikutlah dengan kami. Kita akan bersenang-senang. "


Ketiganya terbahak. Sedangkan ziyan masih menatap mereka dengan ekspresi datar.


Tak mendapat tanggapan, salah satu pria maju untuk menyentuh ziyan. Namun sebelum tangan itu berhasil menyentuh pakaiannya. Ziyan sudah lebih dulu menangkap tangannya lalu memutarnya hingga terdengar pekikan rasa sakit dari mulut pria tersebut.


Melihat temannya kesakitan, keduanya maju untuk menolong. Namun segera ziyan mendorong pria di depannya hingga menabrak kedua pria yang lain.

__ADS_1


" Kalian ingin mengajakku bersenang-senang bukan? Mari kita bersenang-senang. " Ucap ziyan dengan seringai bak iblis yang baru saja menemukan objek penyiksaan baru.


Ziyan memukul ketiganya dengan membabi buta. Bahkan dengan sangat mudah, ketiganya berhasil di kalahkan. Nampaknya mereka hanya pria cabul yang suka mengganggu wanita.


" Kenapa begitu cepat? " Sima rui berjalan begitu santai sembari melihat ketiga pria yang baru saja di habisi oleh sang kekasih.


" Mereka hanya ikan teri. Tampaknya mangsa tidak berhasil menggigit umpan. " Ucap ziyan.


" Tidak juga. Mereka juga termasuk mangsa. Lihatlah. " Sima rui merobek lengan baju salah satu pria.


" Gelang itu... " Ziyan melihat gelang dengan taring. Benda yang sama yang ia lihat pada bandit yang menghadang mereka tempo hari.


" Ternyata, kalian suku bar-bar beraninya menyamar menjadi warga jin. " Geram ziyan.


" Cuih.. " Salah satu pria meludah. " Ini adalah tanah kami, justru kalian lah rakyat Jin yang seenaknya menempati tanah kami. Kami hanya mencoba merebutnya kembali. "


" Tanah kalian? " Wajah Sima rui gelap, tak terima tanah yang di belanya dengan pengorbanan puluhan nyawa prajurit jin yang gugur dengan seenaknya di akui oleh suku bar-bar.


" Sepertinya kalian harus belajar untuk tidak mengakui barang yang bukan milik kalian. " Ucap Sima rui dingin.


Dan segera ke tiga pria itu di seret oleh bawahan Sima rui hingga ke perbatasan wilayah suku bar-bar. Melucuti pakaian mereka, kemudian menggantungnya secara terbalik. Darah menetes sedikit demi sedikit dari luka di lengan mereka. Sima rui sengaja membuat luka tersebut sebelum menggantungnya. Ia ingin ketiga pria itu merasakan artinya sesungguhnya dari kata siksaan. Ia akan membiarkan ketiganya mati secara perlahan.


" Metode penyiksaan mu sangat menakutkan. " Ucap ziyan.


" Mereka pantas mendapatkannya. Siksaan itu bahkan tidak sebanding dengan apa yang sudah mereka lakukan pada rakyat jin. "


" Lalu bagaimana? apa kita akan meneruskan sandiwara kita. Sepertinya menarik bermain-main seperti tadi. " Ziyan terkekeh ketika mengingat kembali kejadian di kedai tadi. Sungguh bagaikan operasi sabun amatir yang ia tonton saat di Britania.


Mereka memang dari awal sedang bersandiwara menjadi pendatang baru guna memancing keluar suku bar-bar yang menyamar. Mereka yakin suku bar-bar akan diam-diam berbaur dengan rakyat jin guna mengambil alih desa.


" Tidak. Sudah cukup. Kita akan segera melakukan pembersihan. Itu akan lebih efektif dan juga cepat. "


Pupil mata ziyan melebar saat mendengar kata pembersihan. Ia paham betul maksud dari kata itu.


" Apa kau yakin? Bagaimana jika tiba-tiba suku bar-bar menyerang. "


" Jangan khawatir, mereka tidak akan menyerang untuk saat ini. "

__ADS_1


Sima rui tidak memberitahu gadis itu bahwa baru saja ia mendapatkan laporan bahwa suku bar-bar diam-diam bergerak ke arah kerajaan wei. Bagi Sima rui ini adalah kesempatan baik untuk mengalihkan sementara prajurit miliknya.


__ADS_2