Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 421 Side story ( A Fei the princess of Jin)


__ADS_3

Jika itu orang lain, mungkin ia akan pura-pura tidak terjadi sesuatu. Tapi tidak dengan A Fei. Sifatnya yang terus terang seakan menambah minyak dalam bara api.


" Nyonya Jiang. Aku tidak tahu alasannya, kenapa sejak tadi kau mengabaikan ku. Mungkin aku memiliki kesalahan yang secara tidak sengaja ku lakukan? jika demikian, maka aku minta maaf pada mu. Maklum nyonya, aku masih muda jadi masih sering melakukan kesalahan belum mengerti banyak seperti mu. "


Sekilas A Fei tampak seperti wanita lugu yang sedang meminta maaf. Namun bagi mereka yang cerdas, pasti sadar bahwa A Fei sedang mengolok-olok Nyonya Jiang yang secara tidak langsung mengatakan bahwa sebagai wanita tua, ia bertindak begitu picik.


Nyonya Jiang semakin marah. Andai jaman itu terdapat kamera termal, semua orang bisa melihat asap mengepul di atas kepala. Tangannya yang tersembunyi di bawah meja meremas kuat sapu tangannya.


" Ucapan putri seolah menyudutkan ku. Orang yang tidak tahu akan berpikir bahwa sebagai orang yang lebih tua aku sedang merundung putri yang lebih muda. Bukankah aku akan tampak buruk di mata mereka. "


Nyonya Jiang mengira bahwa A Fei akan mengalah dan memilih untuk menjaga harga diri sebagai bangsawan untuk tidak memicu keributan.


Sayangnya apa yang ia kira ternyata salah. Sekali lagi, A Fei adalah orang yang berterus terang. Ia menyukai sebuah kejelasan tidak peduli meski itu di depan umum sekalipun.


" Apanya merundung, Kau terlalu berlebihan nyonya. Aku hanya bertanya mengenai sikap mu yang sejak tadi seolah mendiamkan aku. Bahkan tak hanya aku yang menyadarinya, orang lain pun menyadarinya. Jika tidak, tidak mungkin kan Nyonya tua menegur mu. "


Semakin malu lah Nyonya Jiang. A Fei benar-benar tidak memberinya tempat untuk menyembunyikan wajahnya.


Nyonya Jiang benar-benar dibuat bungkam. Ia kehilangan kata-kata untuk sekedar membalas ucapan A Fei.


Kemudian A Fei melihat Nyonya tua Jiang dengan ekspresi bersalah.


" Maaf Nyonya tua Jiang. Aku tidak bermaksud membuat masalah di perjamuan mu. Mungkin memang seharusnya aku tidak datang. Bagaimana pun juga aku memang tidak di undang sejak awal. Andai aku tidak di paksa oleh kakak ku untuk menemani kakak ipar. Mungkin kekacauan ini tidak akan terjadi. "


" Putri apa maksud mu? siapa yang tidak di undang? " Tanya nyonya tua Jiang. berharap apa yang ia pikirkan berbeda dengan apa yang akan di ucapkan A Fei.


" Tentu saja aku, nyonya. Aku datang karena menemani kakak ipar. Bukan karena undangan mu. "


Ucapan A Fei kembali menjadi tamparan bagi nyonya Jiang. Nyonya tua kali ini menatap tajam menantunya karena kesalahan lain yang baru saja diketahuinya.


" Kau tidak mengundang putri? " Desak Nyonya tua Jiang pada sang menantu. Sekuat tenaga menahan diri agar tidak mengamuk.


Diamnya Nyonya Jiang menjadi sebuah jawaban. Nyonya tua semakin murka. " Apakah sekarang kau sudah tidak menghormati ku lagi dan mengabaikan perintahku? aku meminta mu mengundang putri, tapi kenapa tidak kau lakukan? "


" Bagus, bagus sekali. Kau benar-benar mempermalukan keluarga Jiang. " Sarkas Nyonya tua Jiang. Meski nyonya tua Jiang tidak sampai berteriak tapi sangat jelas sekali dari nada bicaranya bahwa ia sangat marah.


Semua tamu saling berbisik seolah ikut mempermalukan Nyonya Jiang. Sungguh, tak pernah dalam hidupnya, ia di permalukan seperti ini. Dan semakin dalam pula kebenciannya pada A Fei. Ia masih menyalahkan A Fei atas semua hal memalukan hari ini.


" Nenek, tolong jangan marah. Mungkin ibu bukan sengaja untuk tidak mengundang tuan putri. Aku yakin ia hanya lupa dan secara tidak sengaja melewatkannya. " Bai Fulan menyela. Berpikir bahwa ini kesempatannya untuk tampil agar terlihat sebagai wanita baik hati dan berbudi luhur.


A Fei menggeleng lalu berbisik pada Liu Ru. " Wanita ini cari mati. Tidakkah ia tahu bahwa orang tua tidak suka di sela ketika marah. Bodoh sekali dia. " Liu Ru mengangguk setuju.


Tapi sayangnya, Bai Fulan salah. Dan sesuai dugaan A Fei, itu berhasil membuat nyonya tua semakin murka.


" Siapa kau? dan kenapa kau memanggil ku nenek? " Sinis Nyonya tua Jiang yang memang tak pernah menyukai Bai Fulan. Itulah kenapa ia diam-diam mencari wanita untuk dijadiin calon istri cucunya, Jinfu.


" I-itu.. " Pucat sudah wajah Bai Fulan. Tidak menyangka respon Nyonya tua Jiang akan seperti ini.

__ADS_1


" Aku selama ini diam ketika kau memanggil ku nenek hanya karena menantu ku dan dalam situasi hanya ada keluarga Jiang. Tapi sepertinya itu membuat mu salah paham dan berpikir berlebihan. Nona Bai, sebagai wanita bangsawan berperilaku cerdas lah. Kau tidak lupa bukan harus memanggil ku apa? "


Malu sekali Bai Fulan saat ini. Ditegur seperti itu di depan umum. Ingin sekali dia menggali lubang dan mengubur dirinya. Ia hanya bisa meremas baju dan menggigit bibir dalamnya untuk menahan semua perasaan malu. Matanya yang berkaca-kaca seolah bisa pecah kapan saja.


Dari sini A Fei bisa menebak, sifat Nyonya Tua Jiang nampaknya seperti dirinya. Terus terang, tidak peduli meski saat ini mereka berada dimana.


" Maaf.. Nyonya Tua Jiang. " Cicitnya.


Sekuat tenaga Bai Fulan menahan air matanya yang hampir saja tumpah. Sumpah demi apapun, dia ingin sekali menangis karena malu. Niat hati ingin tampil baik di depan Nyonya Jiang calon ibu mertuanya. Ia justru dipermalukan seperti ini.


Ia pikir meski Nyonya tua selalu tampak dingin dengannya. Tidak mungkin Ia akan mempermalukannya seperti ini. Siapa yang menyangka wanita tua itu akan benar-benar menegurnya.


" Ibu, tolong jangan marah pada Fulan. Ia hanya membatu ku menjelaskan situasi. " Nyonya Jiang tidak tega melihat penampilan tidak berdaya calon menantu itu.


" Sudahlah. Aku merasa malu jika harus melanjutkan perdebatan dengan mu. Lebih baik kau duduk dan nikmati saja perjamuan ini dan kau.. " Tunjuk Nyonya tua Jiang pada sang menantu. " Kita akan selesaikan ini setelah acara selesai. "


Meski acara kembali di mulai, tapi karena keributan tadi membuat suasana canggung. Tidak butuh waktu lama hingga acara itu terpaksa harus di akhiri lebih awal dan satu persatu tamu undangan pulang.


" Maaf Putri Mahkota, Tuan Putri atas kekacauan tadi. Aku tidak tahu kenapa menantu ku bisa berbuat seperti itu. "


Sebagai orang tua, Nyonya tua Jiang sampai meminta maaf, tentu akan sangat kejam bagi A Fei dan Liu Ru jika tidak menerima permintaan maaf tersebut.


" Tidak apa-apa nyonya tua Jiang mungkin ada kesalahpahaman di sini antara Nyonya Jiang dengan putri. " Liu Ru berpikir positif. Orang hamil memang harus selalu berpikir positif agar sang anak selalu mendapat keberuntungan.


Nyonya tua Jiang beralih melihat A Fei.


" Aku yakin di sini aku pihak yang sudah membuat Nyonya Jiang tersinggung. Aku minta maaf karena itu. Juga karena sudah mengacaukan jamuan Nyonya. Tolong maafkan aku. " Ucap A Fei tulus.


Setelah berpamitan, keduanya bergegas kembali ke istana.


Kekacauan tadi ternyata mulai menyebar di setiap rumah bangsawan. Para wanita yang tadi hadir mulai menceritakan bagaimana nyonya Jiang terlihat seperti badut di depan semua orang.


Prangg!


Nyonya Jiang yang marah melempar sebuah cangkir. Ia benar-benar marah tak hanya pada ibu mertuanya tapi juga pada semua orang yang sudah menjadikannya sebagai lelucon.


Setelah acara selesai, dirinya benar-benar di maki habis-habisin oleh ibu mertuanya.


" Ini semua gara-gara Sima Fei. Putri bekas itu adalah sumber masalah. " Geramnya tertahan.


Tidak berani dia meneriakkan kata-kata tersebut. Ia tahu bagaimana sayangnya kaisar pada putrinya. Selain itu, mertuanya juga akan semakin membencinya jika sampai mendengarnya.


Nyonya Jiang memijat kepalanya, pusing. Hari ini terlalu berat baginya hingga menguras tenaga. Baru saja ia hendak beristirahat, pintu terbuka dengan keras.


Jiang Wu datang dengan ekspresi marah. Pria itu tak menyangka begitu pulang dari pertemuan istana. Ia justru di sambut dengan aduan ibunya mengenai ulah sang istri. Dan yang membuatnya geram adalah sikap sang istri pada Tuan Puteri yang pastinya akan membuat Kaisar marah jika sampai mengetahuinya.


" Suami ku, kau sudah pulang? " Nyonya Jiang menyambut suaminya. Terlalu pusing untuk melihat wajah Jiang Wu yang sudah merah padam. Tidak sadarkah dia bahwa asap sudah mengepul di atas kepala Jiang Wu.

__ADS_1


" Apa yang sudah kau perbuat hari ini, hah? " Tanya Jiang Wu mengabaikan pertanyaan sang istri.


Nyonya tua segera paham bahwa suaminya sudah tahu akan masalah tadi siang.


Takut dia sekarang. Melihat kemarahan suaminya, membuat badannya gemetar. Lidahnya mendadak kelu.


" Cepat katakan! " Jiang Wu yang tidak sabar sedikit membentak.


" A-aku tidak melakukan apapun. Putri itu yang terlalu sensitif menganggap aku mendiaminya. Bukankah pada akhirnya akulah yang di permalukan di sini. Kenapa kau marah pada ku? "


Masih saja Nyonya Jiang menyalahkan A Fei. Bukannya menyadari kesalahannya, Ia justru melimpahkan kesalahan pada orang lain.


" Jangan kira aku tidak tahu apapun. Ibu sudah memberitahu semuanya. Putri yang terlalu sensitif katamu? jangan memutar balikan fakta dan melimpahkan kesalahan. Aku tahu kau sengaja tidak mengirim undangan tuan putri padahal ibu sudah menyuruh mu melakukannya. Karena itu kau mengabaikannya selama perjamuan tadi. Apa menurut mu aku tidak bisa membaca isi pikiran mu! "


marah sekali Jiang Wu. Sungguh istrinya sudah bertindak terlalu jauh. Membuat malu seluruh kediaman Jiang. Apa yang akan ia katakan saat bertemu kaisar nanti.


" Tidakkah kau tahu efek perbuatan mu ini pada hubungan ku dan kaisar? " Kali ini Jiang Wu bertanya dengan suara terdengar putus asa.


Nyonya Jiang yang mendengarnya merasa bersalah.


Ah baru sadar dia. Selama ini kemana saja akal sehatnya?


"Maafkan aku suami ku. Aku hanya tidak suka dengan putri itu yang terus menggoda Jinfu kita. Putra kebanggaan ku masih lajang, aku tidak rela jika bersama putri yang sudah bercerai itu. " akhirnya bicara juga Nyonya Jiang alasan kenapa ia tidak menyukai A Fei.


" Apa maksud mu? siapa yang menggoda siapa? " Kerutan di kening Jiang Wu sangat dalam. Tak mengerti dengan ucapan istrinya.


" Tentu saja putri Fei. Aku tahu semuanya, Fulan sudah menceritakan semuanya. Ia melihat tuan putri yang menggoda Jinfu ketika ulang tahun ibu suri. Apa kau masih ingin menyangkalnya? "


" Astaga... " Jiang Wu lelah. Dia duduk di kursi lalu menghela napas kasar.


" Kau hanya mendengar dari satu orang saja dan percaya begitu saja. Kenapa kau tidak tanyakan pada ku kebenarannya? " Kecewa sekali dia pada sang istri yang mudah termakan dengan hasutan.


" I-itu... "


" Tahukah kau, bukan tuan putri yang menggoda putra kita. Tapi putra kita yang menyukai tuan putri. Ia bahkan sampai meminta Putra Mahkota untuk mengirimnya ke provinsi Wuyuan hanya demi menemani putri bertugas. "


" Kau selalu menganggap Bai Fulan pantas untuk putri kita. Apa karena dia kerabat jauh keluarga mu? kenapa kau tidak mengerti bahwa kau baru saja di manfaatkan olehnya. Ia ingin menyingkirkan tuan putri dengan meminjam tangan mu. Apa menurut mu wanita licik sepertinya pantas dengan putra kita? "


" Jujur jika aku harus memilih, aku lebih setuju Jinfu dengan tuan putri. Setidaknya dia bukan wanita licik seperti Bai Fulan. Entah akan seperti apa rumah tangga Jinfu jika beristrikan wanita seperti itu. "


" Jangan kau pikir aku tidak tahu, bahwa selama ini kaulah yang menyebarkan rumor bahwa gadis itu calon tunangan Jinfu. "


Nyonya Jiang mati kutu. Tidak bisa mengelak saat suaminya mengungkap perbuatan buruknya yang lain.


" Kenapa kau begitu egois sebagai seorang ibu. Tidakkah kau lihat putra kita tidak menyukai Bai Fulan. Kau mementingkan ego mu dan mengorbankan kebahagian putra mu sendiri. Di sini yang akan menikah adalah Jinfu bukan kau. Jadi biarkan dia memilih wanita yang akan menjadi teman seumur hidupnya. "


Jiang Wu bangkit dari kursi. Sebelum pergi ia kembali berbicara.

__ADS_1


" Ini terakhir kali kau berbuat sesuka hati mu. Jangan berpikir bahwa ini hanya gertakan semata dari ku. Jika kau tidak ingin aku mengambil selir, maka bersikap baiklah atau aku akan membawa wanita lain yang bisa membuat ku nyaman. "


Setelah berbicara, Jiang Wu segera pergi meninggalkan istrinya yang masih termangu mencerna semua perkataan sang suami.


__ADS_2