
Sima Feng masih mencerna ucapan Gu Xinzu. Andai dirinya tak mengenal betul siapa pria ini, mungkin ia akan menelan mentan-mentah dan percaya begitu saja. Gu Xinzu, pria ini sangat licik.
" Apa kau pikir aku akan percaya? mencoba mengadu domba Kekaisaran Jin dengan Kekaisaran Nan? jangan berpikir kau bisa melakukannya. "
Bukan tanpa alasan ia berpikir seperti itu. Karena selama ini kedua Kekaisaran ini tidak pernah memiliki selisih paham ataupun rasa permusuhan. Hubungan kedua Kerajaan ini sangat baik. Jadi apa alasan Kekaisaran Nan menyerang mereka?
" Hahaha.." Gu Xinzu terbahak. " Ku pikir kau sangat pintar, tapi ternyata kau sangat naif. Apa yang aku katakan ini benar adanya. Kalau kau tak percaya lihat saja. Dalam beberapa hari akan ada kekacauan besar di istana? "
" Apa maksud mu? " Sima Feng mengernyit curiga.
Gu Xinzu puas dengan respon Sima Feng. " Aku tidak akan mengatakannya saat ini. Aku akan membuat mu kehilangan satu orang terpenting mu agar kau tahu bagaimana rasanya kehilangan. "
*********
Disaat yang sama tepatnya di istana putra mahkota.
Semua orang di istana A Guang tampak panik. Terlihat Sima Rui dan Ziyan berjalan cepat, bahkan ekspresi keduanya terlihat sangat panik. Ketika memasuki kamar A Guang, mereka melihat Xu xiang menangis tersedu.
"Bagaimana hal ini bisa terjadi? " Sima Rui bertanya pada pelayan di sana. Ada amarah pada pertanyaan itu. Kecewa akan lemahnya penjagaan hingga membuat putranya seperti saat ini.
Seluruh pelayan di istana A Guang bersujud, meminta ampun pada sang kaisar Jin.
__ADS_1
" Yang mulia maafkan kami. Kami benar-benar tidak tahu jika pembunuh itu menyamar menjadi kasim. Maafkan kami Yang mulia. "
" Maafkan kami Yang mulia. " Serempak semua pelayan mengikuti.
Sima Rui tahu bahwa ini semua bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Jadi tak mungkin ia menghukum para pelayan dan kasim tersebut. Sima Rui berjalan mendekati ranjang A Guang, memperhatikan wajah putra sulungnya yang tampak pucak. Beberapa tabib di sana tampak panik dengan kening yang basah karena keringat.
Ziyan mencoba menenangkan Xu xiang yang sedang menangis. Sebagai seorang ibu, tentu saja dia juga panik, terlebih hatinya sakit ketika melihat kondisi tak berdaya A Guang. Namun dirinya mencoba untuk tenang dan berusaha tegar. Ia masih berharap bahwa putranya bisa berjuang.
" Bagaimana kondisi putra mahkota? " Tanya sima Rui pada para tabib. Suaranya terdengar dingin dan menuntut.
Seorang pria tua yang bertugas sebagai kepala tabib maju, mengabaikan tubuhnya yang gemetar ketakutan, ia berkata. " Maaf Yang mulia, meski kami sudah berhasil menghentikan pendarahannya, tapi sayangnya kami belum bisa menawarkan racun yang masuk ke dalam tubuh putra mahkota. Racun ini sangat langka. Kami masih berusaha membuat penawarnya Yang mulia. Maaf atas ketidakmampuan kami. "
Di ikuti para tabib yang lain serempak meminta maaf.
Sima Fei bersama Liu Ru yang baru saja mendengar kabar bahwa A Guang tengah terluka segera pergi ke istana putra mahkota, di ikuti di belakangnya Jingu yang sudah resmi menjadi pengawal A Fei.
" Ayah, bagaimana kakak? " Tanya gadis itu panik.
A Fei bisa melihat wajah sedih ayahnya. Ia bisa menebak bahwa sang kakak sedang tidak baik-baik saja.
Liu Ru juga tahu Ziyan sedang tidak baik-baik saja. Jadi ia berusaha menguatkan sang ibu mertua dan memberikan semangat padanya.
__ADS_1
" Dia terkena racun. Para tabib masih belum bisa menemukan penawarnya. " Ziyan menjelaskan situasi A Guang saat itu.
A Fei terkejut, kakaknya tak hanya terluka tapi juga terkena racun. Tubuh gadis itu seketika lemas, dengan langkah gontai ia berjalan menuju A Guang yang terbaring dengan wajah pucat. Bibirnya bahkan sudah setengah ungu, yang membuktikan bahwa racunnya sudah menyebar ke seluruh tubuh.
" Kakak, bangunlah. Aku tahu kau hanya pura-pura. " Sayang, tak ada sahutan dari A Guang. A Fei menangis tertahan. Kakak yang selalu perhatian dan membelanya kini terbaring tak sadarkan diri. Membayangkan hidup sang kakak berada di ambang kematian, membuat hatinya teriris.
Ziyan memeluk putrinya yang menangis. Ia juga ingin sekali menangis tapi sekuat hati coba ia tahan. Bahkan suaminya yang selalu datar dan dingin, saat ini memiliki wajah terluka.
Setelah Sima Fei sedikit lebih tenang, gadis itu mencoba memeriksa nadi sang kakak. Wajahnya berubah pias begitu mengetahui separah apa kondisi A Guang.
Beruntung para tabib sudah menghentikan aliran darahnya, jadi racunnya tidak menyebar cepat.
A Fei satu-satunya murid Lucy semasa dia hidup. Jadi kemampuannya tidak kalah dari para tabib istana malah justru lebih baik.
Ia mengambil sampel darah A Guang. " Ayah ijinkan aku mencoba. Aku akan berusaha mencari penawarnya juga. "
Sima Rui mengangguk. Setelah lucy tiada, satu-satunya orang terbaik yang bisa 'bermain' dengan racun adalah putrinya.
" Ah benar juga, Yang mulia putri murid bibi Lu, pasti ia bisa mencari penawarnya. " Ucap salah satu tabib.
A Fei memberikan tatapan tajam padanya. " Meski begitu, kalian juga harus berusaha mencari penawarnya. Jika terjadi sesuatu dengan kakak ku, aku juga akan menyeret kalian. "
__ADS_1
A Fei seorang putri yang selalu ceria dan baik hati namun kali ini berubah kejam. Baginya waktu sangat penting. Karena itu ia juga berharap agar para tabib juga berusaha dan tak bergantung hanya padanya.
Mendengar ancaman Sima Fei, semua tabib kini menunduk. Ia lupa bahwa A Fei juga seorang Sima yang bisa bersikap kejam pada siapapun.