Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 246 side story setelah penobatan


__ADS_3

" Bukankah ini sangat indah. " Lucy memandang gaun yang digunakan ziyan. Ia sudah merubah penampilannya seperti pengantin di dunia mereka. Menggunakan gaun pernikahan modern dengan ekor gaun yang panjang.


Gaun putih itu memeluk tubuh ziyan sesuai dengan bentuk tubuhnya. Taburan mutiara ikut menambah keindahan gaun dan membuatnya semakin bersinar. Menampilkan kecantikan ziyan yang semakin terpancar.


" Kau sangat cantik. Andai ibu mu bisa melihat mu memakai gaun ini, pasti dia akan sangat bahagia."


" Ada kau yang mewakilinya bi. Aku yakin ibu pasti bahagia meski tidak ada di sisi ku sekarang. " Ucap ziyan menghibur sang bibi yang mulai terlihat sendu.


" Baiklah, hentikan pembicara yang menguras air mata ini. Mari kita keluar. Aku yakin pengantin pria mu sudah menunggu di luar. "


Ziyan mengangguk sebagai setuju. Ia juga sudah tak sabar melihat reaksi suaminya saat melihatnya memakai gaun ini.


Saat membuka pintu, ziyan terkejut saat melihat ayahnya ada di luar. Bukan kehadirannya yang membuatnya terkejut. Melainkan pakaian yang digunakannya. Tuan mo mengenakan kemeja putih dengan tuxedo hitam lengkap dengan celana hitam dan juga sepatu pantofel .


" Ayah.. " Ziyan tak mampu lagi mengungkapkan rasa keterkejutannya. Penampilan ayahnya benar-benar berbeda.


" Apakah ayah pantas memakainya. Meski terlihat aneh, aku pikir ini cukup cocok dengan ayah. " Seloroh tuan mo mengusir rasa canggung. Jujur ia sendiri sebenarnya tidak terlalu percaya diri dengan pakaian yang pertama kali dikenakannya itu. Tapi demi membahagiakan putrinya, ia rela membuang urat malu pada dirinya.


Ziyan mengangguk penuh haru, " Ayah cocok sekali. Kau sangat tampan. Aku yakin jika ibu melihatnya, ia akan semakin terpesona dengan mu ayah. "


" Aku tahu itu. " Tuan mo terbahak.


Suasana penuh kehangatan keluarga ini membuat ziyan begitu tersentuh.


" Jangan menangis, atau kau akan mengacaukan riasan mu. " lucy menyela percakapan penuh haru orang tua dan anak itu.


" Maaf. Aku hanya begitu bahagia bi. Ini semua seperti mimpi bagiku. Seolah semuanya tidak nyata dan bisa hilang kapanpun jika aku mengedipkan mata. " Ungkap ziyan.


" Aku tahu. Suami mu sudah melakukan banyak hal untuk menciptakan semua ini. Jadi tersenyum dan berbahagialah. Itu tujuannya menyiapkan ini semua. "


Ziyan mengangguk. " Iya bi. Terima kasih karena sudah membantunya. "


Lalu menyerahkan tangan ziyan pada tuan mo. " Silakan tuan mo. "


Tuan mo mengangguk sembari mengucapkan terima kasih. Lalu meraih tangan putrinya. Ia akan menjadi pendamping ziyan dan menyerahkannya pada Sima rui.


Ziyan mengaitkan tangannya pada lengan tuan mo. Keduanya berjalan menuju panggung yang akan di gunakan sebagai pengikat janji.


Tidak ada penonton atau tamu dalam pernikahan ini. Hanya ada dua pengantin, pendamping, dan juga lucy sebagian saksi saat ziyan dan Sima rui mengucap janji.


Ah jangan lupakan dua pasang mata yang menonton dari jauh, siapa lagi kalau bukan A Guang dan juga junyi.


" Aku tidak tahu ibu memakai pakaian apa, tapi ibu terlihat sangat cantik dengan pakaian itu. Ayah juga terlihat tampan dengan pakaian putih itu. Dan kakek mo, dia jauh lebih tampan dari kakek raja. " Puji A Guang dari tempat persembunyiannya.


Andai Sima shao mendengar bahwa cucunya baru saja mengatakan tuan mo lebih tampan darinya, mungkin Sima shao akan merengek meminta pakaian yang sama kemudian menuntut penilaian ulang dari sang cucu.


Sima rui mematung melihat ziyan yang begitu cantik seperti peri. Begitu terpukau hingga lupa bagaimana caranya bernapas.

__ADS_1


Berjalan pelan, pandangan ziyan tak lepas dari berapa tampannya Sima rui saat ini. Tukexo putih dengan kerah panjang depan berwarna hitam terlihat sangat cocok dengannya.


Senyum kedua mempelai tak sedetik pun luntur dari wajah masing-masing. Menjadi bukti betapa bahagianya mereka.


Tuan mo menyerahkan tangan ziyan pada Sima rui dan kemudian berpesan. " Jagalah dia dan bahagiakan dia. "


" Pasti. Akan ku jaga seperti aku menjaga nyawa dan tanah air ku. " Jawab Sima rui pasti.


Keduanya lalu mengucap sumpah dan janji, untuk setia dan selalu menemani dalam situasi apapun.


Prosesi terakhir, tukar cincin dan juga cium.


Ziyan tersenyum saat melihat sebuah cincin putih melingkar pas di jari manisnya. Sama halnya dengan jari manis Sima rui. Sungguh, ziyan tidak bisa mengungkapkan bagaimana perasaannya saat ini.


Bahkan kata bahagia rasanya tidak cukup baginya untuk mengungkapkannya.


" Apa kau tak ingin mencium pengantin mu Yang mulia. " Goda lucy.


" Aku ingin tapi tidak di sini, atau aku akan mengotori mata bocah yang sedang diam-diam menonton pernikahan ini. " Ungkap Sima rui.


Lucy dan tuan mo saling berpandangan, tak mengerti maksud ucapan kaisar jin itu.


Namun dari jauh terdengar suara meronta seorang bocah laki-laki.


" Lepaskan aku paman Aying, lepaska! Paman junyi kenapa kau diam saja. Lihatlah apa yang paman Aying lakukan padaku. " Berontak A Guang.


Junyi tentu saja memilih diam. Jika Aying sampai bergerak, itu berarti tuannya sudah memberikan perintah. Jadi sebagai bawahan yang baik, ia hanya bisa menonton saat A Guang dibawa Aying.


" Lepas paman Aying. Lepas! " Berontak A Guang.


" A Guang! " Pekik lucy dan tuan mo bersamaan.


Bocah yang di panggil itu seketika diam dengan senyum kaku di wajahnya.


" Ada nenek dan juga kakek ternyata. Kalian juga ada di sini? " A Guang tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.


" Apa yang kau lakukan disini pangeran? ah bukan itu. Seharusnya bagaimana kau bisa di sini pangeran? " Tanya lucy pura-pura tidak tahu dengan tingkah bocah 5 tahun yang sebentar lagi menginjak 6 tahun itu.


" Tidak, itu... itu.. " Nyali A Guang seketika menciut saat tersadar bahwa kedua orang tuanya sedang menatap ke arahnya.


' Alasan apa yang harus ku gunakan agar terhindar dari amukan ayah. Berpikir, ayolah otak kecilku berpikir. ' Batin A Guang.


Sayangnya meski sudah memeras otak sekuat pikiran, tetap saja ia tidak menemukan alasan yang tepat untuk mengelabui ayahnya.


" A Guang, kenapa kau mengikuti kami? " Suara tegas Sima rui membuat nyali A Guang semakin susut.


Junyi yang melihat dari jauh hanya bisa menggeleng dengan tingkah tuan kecilnya itu. Bukankah tadi begitu berani? kemana keberaniannya yang tadi.

__ADS_1


" Kenapa diam saja. Jawab A Guang. " Kali ini nada suara sima rui meningkat satu oktaf. Membuat A Guang semakin gemetar.


Suasana yang sebelumnya penuh kebahagiaan kini berubah tegang.


" Ma-maaf ayah. " Cicit Sima Guang. Ia menunduk tidak berani menatap mata sang ayah.


" Tegakkan kepala mu dan tatap lawan bicara mu. " Perintah Sima rui.


A Guang menatap lurus ayahnya, dan wajah yang sebelumnya terlihat ketakutan berubah tercengang. Kala melihat wajah ayahnya yang ia pikir marah justru tersenyum padanya


" A-ayah... " lirih A Guang.


" Kau seorang laki-laki, jangan tundukkan Kepala mu kecuali pada ibu mu. Jadilah pria yang bertanggung jawab. Jangan jadi pria pengecut yang hanya bisa menunduk dan lari dari masalah. Apa kau mengerti. "


Meski tak mengerti dengan perubahan sikap ayahnya, tapi A Guang tetap mengangguk dengan yakin. " Mengerti ayah. "


" Jadi apakah ayah tidak marah pada ku? " Tanya bocah itu memastikan.


" Ayah tidak marah. Ayah hanya menginginkan mu menjadi pria yang mampu bertanggungjawab. " Sima rui mengelus kepala putranya penuh perhatian.


' Apakah ayah sudah berubah? Mungkinkah sekarang ayah menyadari bahwa aku putra kandungnya. ' Pikir A Guang. Ia tersenyum bahagia.


" Tenang ayah, aku akan menjadi pria yang bisa ayah banggakan. " A Guang menepuk dadanya yakin.


" Benarkah? " Tanya sima rui sekali lagi.


" Benar ayah. " Sekali lagi A Guang menjawab dengan pasti.


" Kalau begitu pergilah ke perbatasan, sebagai hukuman karena sudah keluar istana tanpa ijin. " Titah sima rui.


A Guang merasa tertipu. Ternyata ayahnya sama sekali tidak berubah. ketika hendak protes, tiba-tiba ibunya datang menyela.


" A Guang, kenapa kau keluar tanpa ijin? " Ziyan berbicara dengan lembut.


" Ibu... " Lirih A Guang. " Aku hanya sedikit bosan dan ingin ikut bersenang-senang dengan kalian. Aku juga ingin menghabiskan waktu bersama kalian seperti anak-anak yang lain. "


Ziyan terenyuh mendengar ungkapan hati putranya.


Ziyan dan sima rui saling berpandangan, kemudian keduanya tersenyum seolah mengerti isi pikiran satu sama lain.


" Kalau begitu kita akan menghabiskan satu hari penuh di luar istana. Bagaimana? Apa kau senang? " Putus ziyan.


Mendapat penawaran tersebut tentu saja A Guang senang. Ia akan memamerkannya pada bibi A Hua besok.


Sayangnya belum juga mereka merealisasikan rencana itu. Tiba-tiba ziyan mengalami mual.


" Kenapa? " lucy memegang kening ziyan. " Apa kau sakit? " Tanya lucy khawatir.

__ADS_1


Ziyan menggeleng namun sebuah senyum mengembang di bibirnya.


" Aku bukan sakit bi. " lalu menoleh pada Sima rui yang terlihat sama khawatirnya. " Tapi aku hamil. "


__ADS_2