Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 386 Side story ( A Fei the princess of Jin)


__ADS_3

A Fei yang merasa bosan memutuskan untuk mencuci matanya di ibukota. Sebagai seorang wanita, hal yang mustahil bagi A Fei untuk menolak keinginan berbelanja.


" Nona, kita sudah membeli banyak barang. Apakah anda masih ingin pergi ke toko lain? " Xiao Er yang sejak tadi setia menemani A Feng mengingatkan. Terlebih kereta kuda mereka kini sudah penuh akan barang-barang.


Hal ini lah yang membuat A Fei dan juga Liu ru begitu dekat. Keduanya memiliki sifat yang hampir sama. Sementara Xuxiang cenderung lebih mirip dengan ibu mertuanya yang lebih menyukai mengumpulkan uang.


A Fei mengangguk. "Masih ada satu tempat yang harus kita datangi. "


" Apa?! masih ada lagi? " Tanpa sadar Jingu berteriak saat mengetahui perjalanan belanja majikannya masih berlanjut. Membuat kedua wanita itu menoleh dengan tatapan heran padanya.


" Apa kau keberatan? "


" Bukan begitu put-maksud saya nona. Apakah tidak sebaiknya kita pulang dan beristirahat. Saya yakin anda pasti sangat lelah setelah berbelanja seharian ini. " Sungguh, menemani wanita berbelanja jauh melelahkan dari pada merampok para pedagang kaya.


" Apa kau yakin ingin kita kembali? " Jingu mengangguk cepat. Sungguh, kakinya sudah sangat lelah. Andai bisa ingin sekali Jingu melepas kakinya lalu membawanya alih-alih menggunakannya untuk berjalan.


" Baiklah kalau begitu. Xiao Er ayo kita kembali. Aku tidak jadi pergi ke toko obat di ujung jalan. "


" Toko obat? apakah anda sakit nona? " Tanya Xiao Er khawatir.


" Bukan untuk ku aku membeli bahan obat. Tapi ini untuk Jingu. Dia memintaku membuat obat untuk menyembuhkan.. "


"Hentikan. Jangan katakan. " Potong Jingu cepat. " Ayo nona, lebih baik kita segera pergi ke sana. " Buru-buru ia berjalan ke arah kereta kuda mereka.


Dalam hati ia mulai mengeluh, hampir saja wanita itu mengatakan penyakitnya. Apakah ia tidak tahu bahwa benda itu adalah harga diri seorang pria. Bagaimana bisa ia mengatakannya di depan Xiao Er.


Berbeda dengan Xiao Er yang tampak bingung, A Fei justru tertawa kecil kala melihat reaksi panik pria itu.


Begitu tiba di toko obat, A Fei segera membeli beberapa bahan obat.


Ketika melihat daftar bahan yang akan dibeli, si penjaga toko mengerutkan kening. " Nona, apa kau yakin membeli ini semua. Beberapa bahan memiliki sifat saling bertolakan yang justru akan sangat beracun jika mencampurnya jadi satu. " Kata si penjaga toko.


" Tak apa. Aku tahu itu. Terima kasih sudah mengingatkan. " Balasnya dengan senyum tipis.


Si penjaga toko tidak berkomentar lagi. Ia menyiapkan semua pesanan A Fei.


Jingu yang sejak tadi memperhatikan interaksi tersebut diam-diam sedikit tersenyum.


Meskipun Sima Fei seorang putri, tapi wanita itu sama sekali tidak sombong ataupun arogan seperti bangsawan wanita lainnya. Itulah kenapa Jingu memutuskan menjadi pengawal wanita itu, tentu saja itu hanya alasan lain, alasan utama masih tetap agar wanita itu menyembuhkan penyakitnya.


" Nona, apa kau yakin obat itu tidak berbahaya? Kau dengar sendiri bukan, ucapan penjaga toko tadi, akan sangat berbahaya jika kau asal mencampur semua bahan obat itu. " Jingu membuka suaranya setelah mereka keluar dari toko. Ia sedikit ragu setelah mendengar perkataan penjaga toko tadi.


A Fei melihat keraguan itu. " Apa kau tidak percaya pada ku? "


" Bukan begitu, hanya saja... " Jingu bingung harus bagaimana menjelaskan.


" Wajar jika kau ragu setelah mendengar ucapan penjaga toko tadi. Tapi pernahkah kau mendengar istilah lawan racun dengan racun. Seperti itulah cara yang aku gunakan. "


A Fei juga berkata. " Karena itulah, mungkin akan sedikit sakit saat prosesnya nanti. Apa kau siap? "


" Asal itu bisa menyembuhkan, apapun itu aku siap. " Tekad Jingu begitu besar. Ia sangat menantikan miliknya bisa kembali tegak seperti sedia kala.


" Bagus. kalau begitu mari kita kembali. "


**********


" Minumlah. " A Fei menyodorkan semangkuk racun yang baru saja diraciknya seolah itu adalah air madu yang sangat manis.

__ADS_1


Jingu menelan ludah kasar, bukan karena menahan hasrat melainkan takut akan isi mangkuk yang baru saja A Fei berikan.


"Putri, apa kau yakin ini aman? " Terlihat sekali keraguan di wajah Jingu. Khawatir bukannya sembuh ia justru akan langsung bertemu dengan sang raja neraka.


" Tentu saja. Bukankah kau ingin milik mu kembali berdiri tegak? apa justru sekarang kau tak ingin lagi. "


" Tidak, tidak, tidak... Tentu saja aku ingin sembuh. Maksud ku, apakah anda tidak bisa membuat obat alih-alih membuat racun untuk menyembuhkan ku? "


A Fei memasang wajah datar, masih lurus menatap Jingu. " Aku hanya belajar membuat racun, bukan ahli membuat obat. Jika kau masih tidak yakin, aku tidak memaksa mu. Lagipula bukan aku yang bermasalah disini. Milikku juga tidak berniat ingin bisa tegak, jadi kau cari saja tabib lain kalau begitu. "


" Baiklah, baiklah, aku akan meminumnya. " Ia mendekatkan mangkuk itu ke mulut. Sebelum meminumnya Jingu kembali melihat A Fei untuk yang terakhir kali dan kembali berkata dengan wajah serius.


" Jika nyawa ku tak tertolong. Tolong kubur aku di desa bandit. Setidaknya ada nenek Wu akan merawat makam ku. "


A Fei memutar bola matanya jengah. Pria ini terlalu banyak menonton drama opera.


Jingu mengambil mangkuk itu dan langsung menenggak habis hingga tak tersisa.


" Sudah. " Lalu memberikan mangkuk kosong tersebut pada A Fei.


" Bagus. Sekarang buka baju mu. "


Jingu segera menyilangkan tangannya di depan menutupi bagian tubuhnya. " Kau mau apa putri? "


Kening A Fei mengerut heran. Ia tahu apa yang sedang pria itu pikirkan. " Apa isi kepala mu begitu kotor setelah sekian lama tidak mendapatkan pelepasan. Aku hanya menyuruh mu membuka baju mu bukan meminta mu menguji milik mu. Kau masih harus berendam untuk mengeluarkan semua racun yang masih tersisa. "


" Berendam? apakah aku harus membuka seluruh baju ku? " Jingu sedikit lega karena ternyata ia hanya akan berendam bukan melakukan hal lebih. Meskipun jauh dalam hatinya ada sedikit perasaan sesal.


A Fei memegang dagunya dan terus mengangguk sembari melihat Jingu dari atas ke bawah.


Dengan berat hati, Jingu mulai menanggalkan seluruh pakaiannya dan masuk ke dalam bak yang sudah terisi penuh dengan air berwarna cokelat yang merupakan air racikan A Fei.


" Ingat, kau harus berendam selama satu jam di sini. Jangan sekalipun keluar atau kau harus mengulang lagi dari awal. "


Jingu mengangguk patuh. Ia sudah sangat malu, wajahnya sudah benar-benar berubah seperti pantat babon. Badannya yang membeku karena tegang seperti kayu gelondongan. Ia duduk di bathup kayu, dengan tangan kanannya menutup dada sementara tangan lain menutup area bawahnya, membuat A Fei ingin sekali tertawa.


" Berhenti bertingkah seolah kau gadis perawan sedangkan aku pria cabul. Meski mungkin kau berharap begitu tapi aku tidak akan melihat mu dengan tatapan lapar. " Ia terkekeh kemudian meninggalkan Jingu seorang diri.


Pria itu menghela napas lega. Sendirian membuatnya jauh lebih rileks. Ia mulai menyenderkan punggungnya pada ujung bathup dengan kedua tangan di sisi samping. Sejenak Jingu hampir menutup matanya namun kembali terbuka saat kepala A Fei kembali menyembul di balik partisi.


" Ingat jangan bangun sebelum satu jam. "


Jingu terkejut, punggung yang sedang bersandar itu terpeleset hampir membuat kepalanya tenggelam, refleks setelah kembali duduk, ia bereaksi menutup seluruh tubuhnya lagi dengan tangan.


A Fei terbahak melihat tingkah Jingu. ' Benar-benar pria polos, apa benar ia seorang bandit? ' Ia mulai meragukan identitas pria itu.


*******


Setelah satu jam berlalu, Jingu akhirnya selesai berendam.


" Apakah setelah berendam, aku sudah sembuh putri? "


" Seharusnya sudah. Coba kau buktikan sekarang? "


" Buktikan? bagaimana aku membuktikannya. "


" Tentu saja dengan membuatnya bangun. Apalagi? " A Fei berkata dengan tidak sabar.

__ADS_1


" Itu... sedikit sulit. " Jingu menunduk malu mengusap tengkuknya.


Jingu heran dengan pemikiran A Fei, apakah wanita itu tak tahu bahwa pria membutuhkan usaha keras untuk membuat miliknya bangkit.


" Apa kau tak tahu cara melakukannya? " Tebak A Fei.


" Bukan aku tak tahu, hanya saja aku bingung bagaimana melakukannya terlebih didepan anda Putri. " Lebih tepatnya malu. Jingu mulai meragukan wanita didepannya, mungkinkah ia tidak memiliki rasa malu? bahkan A Fei sama sekali tidak merasa canggung.


A Fei berdecak kesal. " Ck.. kau hanya perlu memikirkan hal-hal kotor. Bukankah itu sangat mudah. Aku yakin para pria sangat ahli melakukannya. "


Memikirkan hal ini membuatnya kembali teringat dengan mantan suaminya. Pria itu bahkan bisa membuat anak sebelum ada ikatan pernikahan. Tiba-tiba ia bergidik, ada perasaan jijik kala mengingatnya. A Fei mulai berpikir, mungkinkah dulu ada yang salah dengan otaknya mengakibatkan kedua matanya buta. Bagaimana bisa ia menyukai pria seperti itu.


Jingu merasa harga dirinya runtuh saat mendengar A Fei menilai dirinya seperti pria cabul.


" Aku bukan pria seperti itu. Meski aku suka merampok, tapi aku tidak suka bermain wanita. "


Jingu sedikit cemberut dan itu membuat A Fei kembali terbahak.


" Baiklah, kau tidak seperti para pria cabul itu tapi kau justru terlihat seperti pria belok di rumah gigolo. "


Jingu cemberut.


Dan sekarang dirinya di samakan dengan para pelacur pria. Andai dia bukan seorang putri, Jingu ingin sekali melemparnya ke tempat tidur lalu mengikat kedua tangannya, kemudian...


Tanpa sadar berbagai pikiran mesum mulai melayang di otak Jingu. Wajahnya mendadak merah. Kejadian itu tak lepas dari perhatian A Fei. Pandangan A Fei menyipit kemudian turun ke bagian tengah kedua paha Jingu yang kini sudah terlihat menonjol mengingat pria itu hanya mengenakan pakaian lapis dalam yang tipis.


Kedua mata A Fei seketika terbelalak. Dia berkata dengan nada mencibir. " Aku tahu kau pria cabul berpikiran kotor. Lihatlah sekarang, beberapa detik sebelumnya kau berkata bingung, tapi sekarang kau bisa membuatnya dengan mudah bangkit. Ck.. ck.. "


A Fei pergi setelah berbicara, ia geli jika melihat milik Jingu yang masih tegak itu.


Jingu yang sadar bahwa ia sudah berpikir kotor hanya bisa menunduk malu. Ia sendiri tidak tahu bagaimana bisa dirinya memiliki imajinasi liar seperti tadi.


Ah sungguh, hari ini harga dirinya sudah benar-benar lenyap.


A Fei pikir masalah Jingu selesai sampai disitu, namun nyatanya tidak. Setelahnya beberapa jam, ia melihat Jingu datang padanya dengan wajah frustasi.


" Ada apa? "


" Putri, apa kau benar-benar mengobati ku? "


A Fei melihat Jingu dengan ekspresi tak mengerti seolah menuntut pria itu untuk segera menjelaskan.


" Begini.. " Jingu tampak ragu. Selang beberapa saat setelah diam. Ia kembali membuka suaranya.


" Anda memang sudah bisa membuatnya bangun, tapi hal ini justru membuat masalah baru, putri. Lihatlah, ini tak kunjung layu meski sudah empat jam berlalu dan ini sangat menyesakkan. " Jingu tanpa sadar menunjukkan miliknya yang masih berdiri.


Hening,


Jingu akhirnya sadar bahwa dirinya baru saja melakukan hal konyol. Meski tidak sampai membuka celana, tapi tonjolan benda itu masih sangat terlihat jelas.


Sementara A Fei hanya diam mematung menatap lurus pada aset yang sudah disembunyikan Jingu dengan kedua tangannya.


A Fei terbatuk berusaha bersikap biasa. " Aku yakin tidak ada yang salah dengan cara pengobatan ku. Mungkin kau hanya membutuhkan sebuah pelepasan. " Ucapnya setelah membuang rasa malunya.


" Pelepasan? " Ulang Jingu. Kata itu berhasil membuat Jingu kembali memiliki pikiran liar. Mungkinkah putri akan membantu ku seperti yang ku pikirkan.


Tapi lagi-lagi Jingu dibuat tercengang. Saat A Fei ternyata justru menyeretnya ke sebuah rumah bordil. Pelepasan yang ia pikirkan ternyata jauh dari bayangannya.

__ADS_1


__ADS_2