
Xiao Yi segera menghamburkan diri ke pelukan Liu Ru begitu melihat wanita yang melahirkannya itu. Rasa khawatir yang selama ini mengendap dalam dirinya perlahan menguap berubah menjadi sebuah kelegaan yang membuncah jiwa.
Bocah empat tahun itu terisak memeluk erat Liu Ru. Kali ini, ia terlihat selayaknya anak seusianya. Sangat berbeda dengan sikapnya yang biasanya terlihat dewasa.
Sima Fei menghapus air mata di sudut matanya. Gadis itu ikut terharu dengan pertemuan itu. Ia bersyukur kakak iparnya tersebut akhirnya bisa ditemukan.
Setelah beberapa saat, karena terlalu lelah menangis, Xiao Yi akhirnya tertidur.
" Biarkan aku yang memindahkannya. Beberapa hari ini ia memang tidak bisa tidur karena mencemaskan mu, kakak ipar. Mungkin karena sudah bertemu dengan mu, ia menjadi lebih tenang dan bisa tidur seperti sekarang. " Ungkap Sima Fei pada Liu Ru.
Liu Ru memandang wajah putranya yang tertidur. Tampak damai seolah semua beban sudah terlepas. Karena terlalu merindukan putranya, Liu Ru sedikit tidak rela, saat Sima Fei hendak memindahkannya.
" Berikan Xiao Yi pada A Fei, istri ku. Bayi kecil mu itu sudah seperti beruang besar sekarang. Jika kau terus memeluknya seperti itu, dia akan membebani perut mu. Tidak kah kau kasihan dengan anak yang sedang kau kandung? "
Sima Feng mulai menunjukkan sikap protektif dan posesifnya.
Sima Fei tercengang mendengar itu kemudian melihat perut Liu Ru yang masih rata. " Kau hamil kakak ipar? "
Liu Ru tersenyum canggung. Ia lupa bahwa dirinya belum memberitahu siapapun mengenai kehamilannya.
" Kenapa dengan ekspresi mu itu. Apa yang mengejutkan dengan istri ku hamil? "
Mengabaikan perkataan Sima Feng, A Fei masih memandang perut Liu Ru dengan mata berbinar seolah ada puluhan bintang di matanya.
" Kakak ipar, kau sungguh hebat. Kau bisa hamil dengan cepat. Aku benar-benar tidak sabar menanti keponakan perempuan ku ini lahir. "
A Fei lupa jika Liu Ru tak mungkin hamil seorang diri. Namun kali ini ia benar-benar menganggap Liu Ru hamil karena kemampuan wanita itu mengabaikan kerja keras saudaranya.
" Apa maksud ucapan mu itu? disini tak hanya istri ku yang berusaha, aku juga sudah bekerja keras. "
" Lalu? "
'Tidak bisakah kau juga memuji ku. ' Namun itu hanya dikatakan Sima Feng dalam hati.
Sima Feng memilih untuk diam. Berdebat dengan kembarannya hanya akan membuat percakapan mereka semakin panjang.
__ADS_1
Sima Fei sangat yakin jika kali ini ia akan mendapatkan keponakan perempuan. Jadi ia terus menatap lurus ke arah perut Liu Ru seolah itu adalah makanan lezat yang siap untuk di santap.
" Berhenti menatap perut istri ku seakan kau ingin menerkamnya. Apa kau tak tahu tatapan mu itu akan menakuti anak ku. "
" Apa maksud mu? Bagian mana dariku yang menakutkan, berlebihan. Bukankah seharusnya ia bahagia karena memiliki bibi yang cantik seperti ku. "
Sima Feng memutar bola matanya, tingkat kepercayaan diri adiknya sungguh terlalu luar biasa.
Liu Ru yang menyaksikan perdebatan kedua saudara itu tertawa kecil. Pertunjukan kasih sayang dua saudara itu memang berbeda.
" Berhenti berdebat. Suami ku, bisakah kau pindahkan Xiao Yi ke kamarnya. Jika ia tertidur dalam posisi ini lebih lama, aku takut badannya akan sakit saat bangun nanti. "
Sebelum Sima Feng melaksanakan perintah sang istri. A Fei sudah lebih dulu maju dan mendekat pada Liu Ru.
" Biar aku saja kakak ipar. Aku juga ingin sekaligus pergi keluar untuk melihat-lihat kampung ini. "
" Apa kau yakin? dia sudah cukup berat untuk kau gendong A Fei.. "
Liu Ru ragu, mengingat bobot putranya yang cukup berat ia tak yakin jika A Fei akan mampu menggendongnya.
" Kau jangan meremehkan tenaga A Fei istri ku. Bahkan jika di hutan ia tersesat dan dihadang oleh seekor babi liar. Aku yakin ia bisa melempar babi itu dalam sekali angkat. "
Sima Fei mengerutkan keningnya. " Apa maksudmu? ucapan mu terdengar seperti memuji ku tapi kenapa aku justru berpikir kau sedang mengolok ku. "
Liu Ru pernah mendengar jika adik iparnya itu kuat. Tapi tak menyangka akan sekuat itu.
Sima Fei dengan cepat memindahkan Xiao Yi ke tangannya dan membawanya ke kamar lain.
" Kau ini, berhenti menggoda adik mu. A Fei adalah gadis yang baik. Tapi kau selalu memancing perkelahian dengannya. " Tegur Liu Ru pada sang suami setelah A Fei pergi.
" Dia menyebalkan. "
" Tapi kau menyayanginya. "
Sima Feng terkekeh lalu mencium kening sang istri. Istrinya terlalu memahaminya.
__ADS_1
Di kamar lain, tepat di samping kamar Liu Ru.
Setelah menempatkan keponakannya di ranjang. Karena bosan, A Fei memutuskan untuk pergi keluar. Ia mulai berkeliling kampung yang sebenarnya tak terlalu luas itu.
Tanpa disadari oleh Sima Fei, Jingu dan kelompoknya sejak tadi sudah mengintainya, mengikuti gadis itu kemana pun ia pergi.
" Bos, lihatlah. Benar bukan apa yang ku katakan padamu. Dia wanita yang membuat mu kehilangan masa depan mu. "
" Diam. Aku tahu itu. "
Diingatkan kembali dengan luka terdalamnya membuat amarah Jingu kembali memuncak. Ia memandang miliknya yang berada di sela kedua kaki yang sudah lama layu tak bisa berdiri tegak.
' Gara-gara obat pelumpuh wanita itu, masa depan ku hancur. ' Batinnya menyalahkan A Fei.
Jingu bertekad, bagaimana pun caranya, wanita itu harus bertanggung jawab.
" Lalu apa rencana mu bos? "
' Rencana? rencana apa memangnya yang bisa ku pikirkan dalam waktu singkat. ' Umpat Jingu yang hanya bisa ia pendam.
Ia hanya diam seolah berpikir keras.
Rekan Jingu yang lain berkata. " Bos, jangan lakukan apapun. Tampaknya wanita itu memiliki identitas tidak biasa. Ia datang secara khusus untuk menemui wangfei, secara otomatis mereka memiliki hubungan. Jika kau salah melangkah, aku takut pangeran kedua akan berbalik menyerang kita. "
Jingu memandang rekannya tersebut penuh tanda tanya. " Jadi apa menurut mu rencana yang bagus untuk membalas wanita itu? apa kita culik saja kemudian paksa wanita itu untuk menyembuhkan ku. "
Rekan Jingu mengangguk. " Itu rencana bagus untuk membuat mu kehilangan nyawa bos. "
" Lantas katakan apa rencana terbaik mu? "
Pria itu mendekatkan kepalanya dan dengan lirih berkata. " Dekati dia. Gunakan ketampanan mu untuk memikatnya. Setelah ia jatuh cinta pada mu bos, suruh dia mencari tabib terbaik untuk menyembuhkan mu. Setelah kau sembuh. Kau tinggalkan saja dia. Aku yakin patah hatinya akan menjadi luka yang menyakitkan untuknya. Bukankah itu termasuk balas dendam terbaik bos. "
Jingu berpikir sejenak. Merasa rencana itu cukup mudah dan masuk akal. Terlebih memiliki resiko kecil. Maka Jingu memutuskan untuk mencobanya.
" Baiklah. Aku akan mendekatinya dan akan ku buat wanita itu jatuh cinta pada ku. "
__ADS_1