Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 407 Side story ( A Fei the princess of Jin)


__ADS_3

Hari ini istana mengadakan jamuan ulang tahun ibu suri. Acara yang di rayakan secara sederhana itu turut mengundang beberapa pejabat istana terbatas untuk pejabat peringkat empat ke atas. Meski begitu, tetap saja jumlah tamu undangannya masih tergolong banyak untuk ukuran jamuan sederhana.


" Istriku selamat ulang tahun. Aku harap tahun-tahun berikutnya kita masih bisa melewatinya bersama-sama, hidup rukun dan saling mencintai. "


Diusia senjanya, tidak ada lagi harapan lain yang ingin Sima Shao panjatkan selain hidup bersama istri tercinta.


" Terima kasih Yang mulia. "


Setelah ucapan dari Sima Shao, lanjut dari Sima Rui dan keluarga, A Hua bersama suami dan putranya juga turut memberikan ucapan. Tidak ketinggalan Sima Dan beserta keluarga ikut memberikan selamat dan harapan mereka.


" Terima kasih atas ucapan selamat dan doa kalian. Meski hanya sebuah perjamuan sederhana, aku harap kalian semua bisa menikmatinya. Tidak perlu menunggu lagi, mari kita mulai perjamuan ini. "


Setelah ibu suri memberikan kata-kata sambutannya, segera semua orang mulai menikmati arak dan makanan yang terus di hidangkan oleh pelayan. Semua orang tampak senang, namun tidak dengan A Fei.


Kecurangan Jingu membuatnya semakin waspada terhadap orang baru. Ia tak ingin melakukan lagi kesalahan yang akan membuat salah satu keluarganya kembali menjadi korban. Sebenarnya A Feng sudah menekankan bahwa itu bukan kesalahannya, namun gadis itu terus saja menyalahkan dirinya sendiri.


"Putri, sudah lama kita tidak bertemu. " A Fei menoleh dan melihat Jinfu datang menghampiri dengan secangkir arak di tangan.


A Fei tersenyum tipis, " tuan muda Jiang, apa kabar? "


Jingu sedikit tidak suka dengan panggilan A Fei padanya, seolah ada jarak di antara mereka. Namun Jingu memaklumi, mengingat saat ini mereka berada di tempat umum dan banyak pasang mata yang memperhatikan mereka.


" Kabar saya baik putri. Saya cukup penasaran, dari mana anda membeli hadiah Ibu suri itu. Jika anda tidak keberatan bisakah anda memberitahu saya dimana tempat untuk mendapatkannya. Saya juga menginginkannya. "


Sekedar informasi, sebagai hadiah ibu suri A Fei membuat krim kecantikan yang mampu menyamarkan kerutan halus membuat penampilan terlihat lebih muda memberikan kesan awet muda pada siapapun yang memakainya. Wanita mana yang tak ingin terlihat cantik? Dan sesuai dugaan, ibu suri sangat menyukainya.


A Fei yang sebelumnya sempat tersenyum mendadak diam begitu mendengar pertanyaan Jinfu yang cukup ambigu.


Kedua mata A Fei menyipit, dengan ragu-ragu ia bertanya, " Apa kau juga ingin menggunakan krim kecantikan, tuan muda Jiang? "


Ia berpikir mungkinkah Jiang Jinfu seorang metroseksual?


Jinfu tersedak, " Ti-tidak. Tolong jangan salah paham. Saya memang menginginkan krim kecantikan tapi bukan untuk ku. Melainkan untuk para wanita di kediaman Jiang. Saya yakin sekali para tetua wanita di kediaman juga menginginkannya. " Buru-buru Jinfu menjelaskan. Tak ingin gadis di depannya salah paham dan berpikir dirinya seorang pria pesolek.


" Jadi begitu.. Krim itu aku buat sendiri. Jika tuan muda Jiang ingin, aku bisa membuat beberapa untuk mu. "


" Benarkah? terima kasih putri. Aku yakin mereka pasti akan menyukainya. ".


Sebenarnya itu hanya alasan acak Jinfu agar bisa mengobrol dengan A Fei. Terlebih setelah masalah Jingu, wanita itu sama sekali tak pernah keluar dan bersikap lebih tertutup dari biasanya.


Keduanya terus berbincang sampai tak menyadari ada dua pasang mata yang terus menatap mereka tanpa berkedip seakan tak ingin melewatkan satu gerakan pun dari A Fei dan juga Jinfu. Keduanya merasa cemburu dengan kedekatan mereka berdua.


Matahari tenggelam dan langit yang sebelumnya biru berubah gelap, namun perjamuan masih belum usai. A Fei lelah, ia Memutuskan untuk kembali lebih awal. Setelah berpamitan pada seluruh anggota keluarganya, A Fei segera meninggalkan aula.


Udara malam menerpa wajahnya, pipinya terasa dingin. Memasuki musim dingin, suhu menjadi lebih rendah. Ia menggosok kedua tangannya agar lebih hangat. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika mendengar percakapan beberapa gadis.

__ADS_1


" Bukankah wanita itu sangat menyebalkan. Lancang sekali dia berbicara dengan tuan muda Jiang. Nona Bai, kenapa kau masih begitu tenang setelah melihat hal itu. "


" Jangan berbicara seperti itu. Aku hanya calon istri tuan muda Jiang. Aku tidak memiliki hak untuk melarangnya berbicara dengan siapa. Orang akan mengira aku wanita berpikiran sempit jika melakukan itu. "


" Ah, kau sungguh baik nona Bai, memang hanya kau yang pantas bersanding dengan tuan muda Jiang. "


" Tidak-tidak. Putri A Fei juga pantas. Dia adalah seorang putri. Statusnya bahkan lebih tinggi dari pada keluarga ku. "


Wanita lain ikut menimpali. " Apa hebatnya seorang putri yang sudah pernah menikah dan bercerai. Ibarat sepatu usang, ia hanya seorang janda yang tak pantas dengan pria lajang seperti tuan muda Jiang. "


" Jangan berbicara sembarang. Jika orang lain mendengarnya, kau akan mendapatkan hukuman karena menghina anggota kerajaan. "


Wanita yang sebelumnya mengatakan A Fei ibarat sepatu usang itu mendadak diam. Ia takut jika sampai orang lain dengar dan melaporkannya. Habis sudah masa depannya jika sampai itu terjadi.


Dasarnya Lidah tak bertulang, itulah kenapa sangat sulit di kendalikan.


Tak ada jejak emosi di wajah A Fei. Namun Xiao Er tahu jika sang majikan tengah menahan kemarahannya. Tangannya mengenal kuat, hingga kukunya yang panjang mampu menusuk daging.


" Putri, biarkan aku memarahi mereka. lancang sekali mereka menghina mu. "


" Berhenti. Tinggalkan mereka. Tak ada gunanya berdebat dengan mereka karena apa yang mereka katakan itu benar. Aku memang janda. Jika kita ke sana, itu hanya akan mempermalukan diri sendiri. " A Fei segera meninggalkan tempat itu dan langsung menuju ke kamarnya.


" Tinggalkan aku sendiri Xiao Er. Aku tak ingin siapapun datang ke kamar ku. "


" Baik Putri. "


A Fei mematikan satu persatu lilin dan seketika ruangan itu berubah menjadi gelap gulita. Ia merebahkan tubuhnya yang sudah lelah di atas ranjang dan langsung menutupnya dengan selimut.


Tengah malam, Seseorang menyelinap masuk. Begitu mudahnya orang itu masuk seolah itu sudah menjadi kebiasaan.


Awan yang sebelumnya menyembunyikan bulan perlahan bergerak. Membiarkan cahaya bulan masuk dan menerpa wajah si penyusup.


Jingu!


Sosok itu adalah Jingu.


" Kenapa tidak ada yang berjaga? " Jingu heran saat melihat tak ada satupun pengawal yang berjaga di depan pintu kamar A Fei. Karena seharusnya ada dua pengawal yang berjaga.


Dengan sangat ringan, Jingu menjaga langkahnya agar tak bersuara. Ia sengaja kembali masuk ke dalam istana untuk melihat A Fei, mengingat hanya hari ini penjagaan istana tidak terlalu ketat karena pesta ulang tahun ibu suri.


" Akhirnya kau muncul juga. "


Deg!


Langkah Jingu mendadak berhenti. Terkejut saat melihat A Fei berjalan dari sisi lain menuju ke arahnya. Tubuh mendadak membeku.

__ADS_1


' A Fei...'


Hati Jingu sakit ketika melihat tatapan kebencian A Fei. Tak ada yang lebih menyakitkan dari pada di benci oleh orang yang kita cintai.


" Pu-putri.. kenapa kau.. "


" Kenapa aku masih sadar dan tidak tidur sesuai dugaan mu. Apakah benar apa yang ku katakan? " Sela A Fei seolah bisa menebak apa yang Jingu pikirkan.


Jingu tak menjawab. Apa yang di ucapkan A Fei memang benar. Ia memang mengira wanita di depannya ini sudah tertidur pulas seperti biasanya.


" Kenapa? " Suara A Fei terdengar bergetar. Sorot matanya juga berubah tak seperti di awal tadi.


Lagi, A Fei kembali berkata. " Kenapa kau tega Jingu? Tak hanya menipu ku, kau juga membunuh saudara ku? apakah semua kebaikan mu selama ini juga palsu? " Cerca A Fei.


Jingu menggeleng, matanya merah dan berembun kala melihat wajah terluka A Fei. " Maaf.. Aku tak akan membela diri tapi sungguh apa yang ku lakukan pada mu itu semua nyata. Aku benar-benar tulus. "


" Tulus... " A Fei mencibir. " Jika kau tulus kau tak akan menyakiti ku. Tahukah kau apa yang sudah kau lakukan sungguh melukai tak hanya perasaan ku tapi juga metal ku. Kau membuat ku menanggung rasa bersalah yang seumur hidup tak akan pernah bisa ku tebus. "


A Fei tertawa kecil namun tawa itu penuh dengan kesakitan. " Andai aku tahu lebih awal dan lebih waspada, mungkin semua tak akan pernah terjadi. Kak A Guang juga tak akan pernah meninggal. "


" Maaf.. " Lirih Jingu. Hanya itu yang bisa Jingu ucapkan. Karena ia pun sadar betul akan kesalahannya yang mungkin tak akan pernah bisa di maafkan.


" Apakah dengan permintaan maaf mu, kak A Guang bisa kembali hidup. "


Jingu diam.


" Tentu saja tidak. " Pada akhirnya A Fei tak sanggup lagi menahan air matanya. Cairan bening asin itu akhirnya keluar juga.


Melihat wanita yang dicintainya menangis, entah keberanian dari mana Jingu maju mendekat bermaksud menghapus air mata A Fei.


A Fei bergeming. Ia seakan menerima perhatian Jingu tersebut.


" Maaf, sungguh aku menyesal. Andai aku tahu akan ada hari dimana aku akan mencintai mu begitu dalam. Aku lebih baik memilih mengkhianati negara ku dari pada menyakiti mu. "


Kata-kata Jingu berhasil membuat A Fei tersentak. " A-apa maksud mu? "


Jingu langsung memeluk A Fei. Tindakan itu berhasil membuat tubuh A Fei menegang. Sudah tak ada lagi jalan baginya untuk mundur. Jingu sudah memutuskan akan mengakui perasaannya saat ini juga.


" Aku mencintaimu, A Fei. Aku benar-benar mencintaimu. " Ungkap Jingu. A Fei masih bergeming.


Andai Jingu mengatakannya saat semua belum terungkap, mungkin A Fei akan tersipu dan tersentuh.


Jingu melerai pelukannya. Memberi jarak beberapa senti. Jingu kira ia akan melihat ekspresi terkejut atau tatapan linglung wanita itu. Namun nyatanya justru sorot mata membunuh yang ia dapati.


Jleb!

__ADS_1


A Fei menikam tepat di jantung Jingu. Darah keluar membuat Jingu merasakan sakit. Namun rasa sakit itu tidak lebih sakit saat melihat ekspresi datar A Fei ketika menikamnya.


' Apakah setidak berartinya aku dimata mu, A Fei. '


__ADS_2