Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 332 side story ( A Feng story)


__ADS_3

Ketika Liu ru memasuki kamar, ia segera merangkul dirinya sendiri, mengeratkan pakaiannya seolah didepannya adalah pria cabul yang bisa kapan saja memakannya.


Ia menatap Sima Feng penuh waspada. Sedangkan pria yang sedang berbaring di ranjang dengan selimut menutup setengah badannya itu terlihat santai dan sedang manahan tawa gelinya melihat tingkah istrinya tersebut.


" Aku adalah suami mu. Tidak bisakah untuk kau berhenti waspada. Kau melihat ku seolah aku adalah penjahat yang akan merudapaksa wanita tak bersalah. " Keluh Sima Feng akhirnya.


" Bukankah memang seperti itu? Jangan lupakan bagaimana Xiao Yi bisa lahir di dunia ini. "


Jika biasanya Sima Feng yang membuat Liu ru kehabisan kata-kata. Kini justru sebaliknya. Seketika dirinya bungkam begitu wanita di depannya ini berhasil mengungkit kembali penyesalan di hatinya.


Liu ru membuat Sima Feng kembali mengingat kejadian itu. Sejujurnya jauh di sudut hatinya ia merasa bersalah. Bahkan ia akui bahwa ia pun belum meminta maaf secara pribadi pada Liu ru.


Dengan ekspresi penuh penyesalan, Sima Feng berkata dengan lirih. " Aku minta maaf. "


" Apa kau bilang? " Liu ru bertanya. Namun yang terlihat oleh Sima Feng seolah wanita itu sedang mengejeknya.


Meski samar Liu ru bisa mendengar permohonan maaf Sima Feng. Tapi mengingat pria di depannya begitu menjunjung tinggi harga dirinya. Ia mulai meragukan pendengarannya.


" Ayo ulangi. Aku tidak mendengarnya dengan jelas. " Lagi, Liu ru meminta Sima Feng mengulang kembali kata-katanya.


Sima Feng berdecak. " Ck.. apa kau tuli. Aku sudah berkata begitu keras. Tapi kau masih tidak bisa mendengarnya. "


' Keras kentut mu. Kau hanya bergumam, tapi kau menyalahkan ku karena tak mendengarnya dengan jelas. ' Liu ru tak bisa melakukan apapun selain menggerutu dalam hati. Ingin rasanya Ia berteriak tepat di depan wajah suaminya itu.


Di katakan tuli, Liu ru tentu marah. Tapi kembali lagi, pria di depannya ini bukan lawan yang baik untuk berdebat. Lagi pula, tidak sekali ini ia membuatnya marah.


Dengan wajah masam. Liu ru mendorong keras Sima Feng hingga ke bagian dalam tempat tidur.


Pria yang sedang setengah berbaring itu tidak siap dan langsung terpental ke sisi dalam ranjang.


Terperangah. Sima Feng menatap Liu ru tak percaya. Mulutnya bahkan menganga lebar dan kembali kehilangan kata-katanya.

__ADS_1


" Hei kenapa kau diam? kita belum selesai berbicara? " Melihat Liu ru sudah berbaring dan manarik selimutnya. Sima Feng kembali menarik pembahasan tadi.


Liu ru yang sebenarnya sudah menutup sepenuhnya dirinya dengan selimut langsung menyibakkan lagi selimutnya tersebut dan menoleh dengan kasar ke arah pria yang menjadi suaminya itu.


" Apa? aku tuli jadi tak bisa mendengar apa yang kau katakan. " Ucapnya setengah berteriak menyindir Sima Feng.


Sima Feng kini tahu apa penyebab wanita ini marah. Ia terkekeh, " Apa kau marah? "


" Tidak. "


" Benarkah? "


Karena tidak ada lagi jawaban. Sima Feng pikir bahwa istrinya benar-benar tidak marah lagi.


Bukan salahnya jika ia tidak peka. Terbiasa hidup di medan perang dengan sekelompok pria kaku membuat Sima Feng tak tahu bahwa sesungguhnya ucapan wanita memiliki arti sebaliknya.


Jadi alih-alih menghibur Liu ru, Sima Feng kembali memejamkan matanya.


Liu ru yang tidur memunggungi Sima Feng sebenarnya sedang menunggunya agar pria itu membujuk dirinya supaya tidak marah. Namun seketika ia menoleh saat mendengar dengkuran halus napas suaminya yang sedang tertidur.


Dan dengan perasaan kesal ikut menyusul Sima Feng pergi ke alam mimpi. Berharap mereka bisa bertemu agar dirinya bisa memukulinya hingga puas.


Keesokan harinya,


Seorang kasim datang dan meminta bertemu dengan Sima Feng. Setelah beberapa saat, ia pergi bersama dengan kasim tersebut ke istana.


" Ada apa dengannya. Wajahnya kenapa terlihat serius. " Gumamnya setelah melihat kepergian Sima Feng yang tampak tergesa-gesa.


Begitu tiba di istana, Sima Feng segera menuju ruang baca ayahnya.


Tampak di sana Kakaknya, Sima Guang sudah menunggu. Wajah mereka begitu serius, memberikan sinyal pada Sima Feng bahwa masalah kali ini benar-benar genting.

__ADS_1


" Ayah, apakah berita itu benar? " Tanya Sima Feng seketika itu juga.


Sima rui mengangguk, lalu berkata. " Mereka sudah menyiapkan para prajurit. Kelihatannya perang sudah tak bisa dihindari lagi. "


Ketiganya terdiam. Sibuk akan pikiran masing-masing.


" Ayah, apakah perang benar-benar tak bisa di hindari? Apakah raja Wei tak memberikan syarat apapun. Meski mereka beralasan bahwa kerajaan mereka ingin melepaskan diri dari kekaisaran. Tapi kemungkinan syarat untuk damai bukankah ada. " Tanya Sima Guang.


" Kakak. Apa kau takut dengan prajurit mereka? " Sima Feng tidak setuju. Sebenarnya ia sudah jengah dengan kerajaan Wei. Apa lagi setelah perlakuan mereka pada A Fei dua tahun lalu. Ingin sekali ia meratakan seluruh kerajaan Wei.


" A Feng. Aku berkata menginginkan damai bukan karena aku takut dengan mereka. Tapi pikirkan baik-baik. Jika perang terjadi maka rakyat lah yang paling menderita. " Jelas Sima Guang.


Sima rui tersenyum. Begitulah putra sulungnya. Perpaduan sifatnya dan sifat sang istri membuatnya sangat cocok untuk mewarisi tahta.


Bukan berarti Sima Feng tak pantas. Hanya saja sifatnya cenderung sepertinya dirinya.


Sima rui hanya beruntung karena ia memiliki ziyan sebagai istrinya karena itu ia bisa menjadi kaisar yang sempurna menurut rakyatnya.


Kemudian Sima Guang melanjutkan, " Jika memang perang adalah solusi terakhir. Maka aku pun siap meski harus berdiri di garda depan. Lagi pula kekuatan militer kita jauh lebih kuat dari mereka. Jadi kenapa aku harus takut. Tapi kembali lagi, perang hanya akan membawa kesengsaraan bagi rakyat. "


Kaisar Jin mendengarkan. Ia kemudian beralih pada putranya yang lain.


" Bagaimana menurut mu A Feng? " Tanyanya.


Jika harus mengikuti ego maka Sima Feng jujur ingin sekali berperang dan meratakan kerajaan Wei. Tapi karena disini ia berpikir sebagai pelindung negara maka ia pun berpikir hal yang sama dengan sang kakak.


" Aku juga setuju dengan kakak. Jika ada pilihan lain. Kita bisa mencobanya. "


Ada jeda sejenak hingga akhirnya Sima rui kembali bersuara.


" Sebenarnya kerajaan Wei juga menawarkan pilihan damai jika.... Kita bersedia menyambung kembali pertunangan antara A Fei dan raja Wei yang sempat terputus. "

__ADS_1


***********


Nb: Bagi yang penasaran dengan cerita A Fei. Tunggu di side story selanjutnya. Nanti akan di bahas lebih detail di sana. Termasuk awal mulai konflik ini.


__ADS_2