
Sehari sebelum keberangkatan. Jingu pergi menemui Sima Feng, Ia sudah memutuskan pilihan mana yang akan diambilnya.
Dan saat itulah ia akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran Sima Feng, untuk tak akan lagi bertindak sebagai bandit dan memulai segalanya dari awal. Meskipun hanya untuk sementara waktu, setidaknya itu yang ada di pikirannya.
Tak hanya itu, Sima Feng juga akan menjadikan sebagian dari para pria dewasa di kampung bandit yang memiliki kemampuan beladiri sebagai pengawal dan selebihnya mereka akan menjalani hidup sebagai petani.
Yang terpenting adalah mereka memiliki pekerjaan untuk menghidupi keluarga mereka.
Jadilah saat ini, Jingu berangkat bersama mereka. Sementara pria yang lain akan menyusul setelahnya.
" Berhenti melihat ke arah luar. Apa ada sesuatu yang membuat mu penasaran? " Tegur Liu Ru karena untuk yang kesekian kalinya, dirinya mendapati sang adik ipar diam-diam mengintip ke arah luar.
Sebenarnya, Liu Ru mencoba menggoda A Fei. Tentu ia tahu ke arah mana perhatian adik iparnya itu sejak tadi. Berulang kali melihat ke arah Jingu, membuat wanita hamil itu berpikir bahwa adik iparnya mungkin menyukainya.
Sima Fei tak mengelak dan sama sekali tak berniat menyembunyikannya. Ia bertanya pada sang kakak ipar dengan wajah serius.
" Kakak ipar, kenapa kau membawa pria itu juga? tidak kah kau tahu bahwa ia adalah seorang bandit. Mereka adalah perampok dan juga pencuri. Apa kau tak takut uang kita akan di curi olehnya? "
Liu Ru terkekeh, sangat lucu melihat A Fei tampak begitu waspada. " Aku tahu. Tapi dia lah yang sudah menyelamatkanku. Selain itu, A Feng lah yang menyetujui Jingu ikut dengan kita. Kau tahu sendiri bukan, A Feng tak akan membiarkan orang yang tidak ia percaya mengikutinya. Jadi aku pikir itu bukan hal buruk. Lagi pula, mereka juga sudah berjanji untuk berhenti bertindak sebagai bandit. Bukankah itu suatu hal yang baik? "
A Fei mengangguk, sementara tangannya masih menyibak tirai, matanya melirik sekilas pada Jingu.
'Itu memang hal baik. Tapi kenapa aku merasa pria itu memiliki maksud lain. ' Batinnya curiga.
Ditengah perjalanan, rombongan Sima Feng di cegat oleh sekelompok pengawal Kekaisaran Jin. Seorang pria yang diyakini Sima Feng sebagai komandan pengawal maju dan memberi hormat padanya.
" Ada apa? kenapa kalian mencegat perjalanan ku? " Tanya Sima Feng dingin. Seolah mampu membuat beku siapapun yang mendengarnya.
" Maaf Yang mulia pangeran. Tapi kami mendapat perintah dari Yang mulia kaisar untuk mengawal wangfei dan putri Fei kembali ke ibukota. Yang mulia kaisar juga memberikan perintah bahwa anda diminta tetap berada di perbatasan untuk menyelesaikan permasalahan di sana. Anda hanya diperbolehkan kembali setelah semua urusan telah selesai. "
__ADS_1
Tenang sekali komandan Chen menyampaikan perintah Sima Rui, sama sekali tak terpengaruh meski aura Sima Feng begitu menusuk. Setelah sekian lama melayani Sima Rui, membuat ketahanan mentalnya juga semakin kuat.
Sima Feng mencibir. " Omong kosong apa yang kau katakan. Bagaimana mungkin aku pergi ke perbatasan sementara istri ku kembali ke ibukota. Lucu sekali. "
"Maaf Yang mulia, tapi itu perintah Yang mulia kaisar. " Komandan Chen juga mengeluarkan sebuah gulungan dekrit Kekaisaran.
Sebuah dekrit yang sengaja di buat Sima Rui jika putranya menolak perintah lisannya. Melihat benda keramat tersebut, Sima Feng tak bisa berbuat apa-apa selain menahan amarahnya.
"Ck, jadi ayahku bahkan membuat dekrit Kekaisaran untuk menahan ku. "
Marah, tentu saja. Ia kecewa dengan keputusan ayahnya. Sima Feng tidak tahu saja bahwa semua ini permintaan Ziyan. Ia memang meminta suaminya untuk sementara waktu memisahkan A Feng dari istrinya.
Meski ia tahu putranya sudah sadar dan kembali pada istrinya. Namun sumber masalah mereka masih berada di kediaman utara. Dan Ziyan ingin putranya menyelesaikan secara tuntas permasalahan mereka sebelum akhirnya keduanya berkumpul kembali.
Dengan perasaan kesal, Sima Feng turun dari kudanya dan mengambil dekrit dari tangan komandan Chen. Ia membacanya sekilas dan seketika dirinya memiliki dorongan ingin sekali melempar dekrit ditangannya.
Mendengar ada keributan, Liu Ru pun melihat ke luar dan mendapati suaminya tampak menahan amarah pada pria berseragam komandan pasukan itu. Menahan rasa penasaran, Liu Ru masih diam mengamati situasi.
" Kenapa komandan Chen ada disini? " gumam A Fei.
" Kau mengenalnya A Fei? "
Gadis itu mengangguk. " Dia salah satu komandan kepercayaan ayah. Rekan ayah saat ia masih di medan perang. "
" Lalu kenapa dia di sini? "
A Fei menyipitkan matanya, melihat ekspresi saudaranya dengan gulungan dekrit ditangannya. Ia bisa menebak bahwa ayahnya pasti melakukan sesuatu.
" Sebentar lagi kita akan tahu. Tapi aku sangat yakin, komandan Chen datang kesini membawa masalah untuk A Feng. "
__ADS_1
Dan benar saja, Sima Feng berjalan mendekat dengan ekspresi rumit.
Liu Ru yang sudah turun dari kereta kuda, menghampiri Sima Feng untuk bertanya padanya.
" Istri ku, kembalilah ke ibukota bersama mereka. Maaf, karena aku tidak bisa menemani mu. Aku harus menyelesaikan semua urusan ku di perbatasan. Aku berjanji setelah semuanya selesai, aku akan segera kembali menemui mu. "
" Apakah Yang mulia kaisar yang memberikan perintah itu? "
Sima Feng mengangguk. Ia tersenyum kecut, sungguh berat rasanya harus kembali berpisah dengan sang istri. Terlebih ia tak bisa menepati janjinya untuk menemani Liu Ru saat mengandung.
" Kalau begitu cepat selesaikan dan cepatlah kembali. Aku akan menunggu mu Yang mulia. "
Pasangan suami istrinya saling berpelukan sebagai salam perpisahan mereka. Sima Feng benar-benar tak ingin melerai pelukan tersebut. Belum juga mereka berpisah tapi rasa rindunya sudah mulai tumbuh di hatinya. Membayangkan akan segera berpisah, membuatnya semakin nelangsa.
" Tolong jaga istri ku. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya dan anak ku. " Pesan Sima Feng pada A Fei.
" Serahkan pada ku. Aku pasti akan menjaga kakak ipar dan calon keponakan ku. Ah dan juga Xiao Yi tentunya. Kau juga kak, cepat selesaikan urusan mu di sana. Buktikan pada ayah bahwa kau pria yang bertanggung jawab. Aku yakin perpisahan kalian ini sebagai bentuk hukuman atas kekecewaan yang kakak ipar terima kemarin. " Tebak A Fei menganalisis.
Melihat dari sifat ayahnya, mustahil ia ikut campur dengan permasalahan anak-anaknya. Maka sudah sangat jelas bahwa ini adalah ulah ibu mereka.
Sima Feng hanya diam. Ia tahu sikapnya kemarin sudah sangat keterlaluan, mengabaikan istrinya hanya untuk menjebak Gu Xinzu dan Gu Feifei.
Mereka akhirnya berpisah. Sima Feng menatap tak berkedip rombongan komandan Chen yang berhasil menculik istri dan putranya.
" Tunggu aku istriku. Aku pasti akan segera kembali. " Monolog Sima Feng.
Setelah bayangan rombongan tak terlihat lagi. Sima Feng segera menarik tali kudanya dan berbalik untuk kembali ke perbatasan.
Tujuan pertama dirinya adalah kediaman pangeran. Ia akan membuat perhitungan terlebih dulu dengan Gu Feifei. Di mulai dengan pelayan pribadinya. Ia tahu sejak lama bahwa pelayan yang ia kirim berkhianat. Karena itu ia akan mulai darinya.
__ADS_1
Sima tak pernah menyangka, bahwa rahasia di balik keracunan Gu Feifei juga akan segera terungkap dari bibir wanita itu.