
Beberapa jam yang lalu.
Setelah sosok Jiali tak terlihat lagi. Sima rui segera memanggil junyi.
"Panggil seorang pelayan pria kemari. Usahakan yang memiliki tinggi badan sama denganku. Jika ada yang mirip denganku, Itu lebih bagus. "
Hah?!
Apakah tuannya ini bercanda. Mencari pelayan yang memiliki wajah mirip dengannya mana mungkin ada. Jika pun benar ada, orang itu tak mungkin menjadi pelayan. Paling rendah status yang dimiliki adalah menjadi gigolo seorang bangsawan. Pangeran pertama memiliki wajah tampan dan status tinggi. Soal kemampuan jangan diragukan lagi. Dia seorang Jenderal besar. Pria sempurna yang bisa membuat hati wanita manapun bergetar. Hanya saja semua kelebihannya itu tertutup dengan sifatnya yang dingin. Ia kejam di medan perang dan dingin di kesehariannya. Namun akhir-akhir ini, tuannya ini nampak seperti manusia. Dan semua itu sejak kehadiran nona mo.
" Pangeran, untuk apa pelayan malam-malam begini."
" Menggiling tinta. "
Tanpa bertanya lagi, Junyi segera meluncur. Karena baru jam makan malam, banyak pelayan yang masih bekerja. Junyi menyusuri halaman belakang mencari kriteria yang sesuai dengan permintaan tuannya. Setelah berkeliling, akhirnya ia menemukan sosok yang tepat. Pelayan itu memiliki tinggi yang sama dengan pangeran. Dari belakang sosoknya sangat mirip dengannya. Tapi dari depan, wajahnya ibarat langit dan neraka. Karena tidak ada pilihan lain. Akhirnya Ia menyuruh pelayan itu untuk segera menemui pangeran.
Sima rui memperhatikan pelayan yang ada di depannya. Lalu dengan serius bertanya padanya. "Apa kau bisa menggiling tinta? "
Pelayan itu sangat gugup. Melayani pangeran secara langsung adalah harapan semua pelayan disini. Ia tak menyangka akan menerima kehormatan ini.
" Bisa. Bisa Yang mulia."
"Kalau begitu mulailah menggiling tinta untukku. "
Pelayan itu segera melakukan tugasnya. Sima rui melirik sekilas pelayan tersebut. Lalu kembali pada tulisannya dan sama sekali tidak membuka suaranya lagi setelah itu.
Sima rui merasa kamarnya begitu panas. Jadi ia memutuskan untuk mencari udara segar. Ketika berdiri ia melihat kue yang tadi di berikan Jiali.
"Makanlah kue itu. Aku sudah kenyang. Calon istriku tak menyukai saat aku menyia-nyiakan makanan. " Sima rui teringat ucapan ziyan tadi pagi. Hal itu membuatnya tanpa sadar tersenyum.
Pelayan itu segera mengucapkan rasa terima kasihnya. Sima rui menghentikan pelayan itu ketika berniat membawa makanan itu keluar.
__ADS_1
"Makanlah disini. Aku hanya akan keluar sebentar. Aku tak ingin kembali menyuruh Junyi untuk mencari pelayan lain. "
Setelah mengatakannya. Sima rui segera meninggalkan kamarnya. sementara pelayan itu segera melahap kudapan yang ada di tangannya.
" Aku akan pergi mencari udara segar. "
Junyi mengikuti tuannya di belakang.
Setelah berjalan beberapa langkah. Sima rui tiba-tiba berhenti lalu menatap lurus ke arah kamarnya. Junyi mengikuti arah pandangan tuannya.
"Pangeran. Kenapa anda mengawasi kamar anda sendiri? "
"Lihat saja. "
Melihat tuannya dengan tenang masih mengawasi kamarnya, junyi tak bisa bertanya lagi selain mengikuti apa yang dilakukan tuannya. Tidak butuh waktu lama. Rasa penasaran junyi terjawab. Ia melihat Jiali diam-diam mendekati kamar tuannya.
Jiali sudah menunggu kesempatan ini. Sudah hampir dua jam ia memberikan makanan penutupnya. Mungkin 'hadiahnya' sudah bereaksi. Dengan hati-hati Ia berjalan menuju kamar Sima rui. Ia menempelkan telinganya di pintu untuk mendengar situasi di dalam. Samar-samar ia mendengar erangan dari dalam kamar. Sebuah senyum mengembang di bibir Jiali.
Tidak ada jawaban. " Sepertinya anda terdengar kurang sehat. Saya khawatir jadi izinkan saya masuk pangeran. "
Tanpa mendengar izin masuk dari dalam, Jiali segera membuka pintu. Ia melihat punggung telanjang pria yang beberapa hari ini menggangu pikirannya. Hasrat Jiali yang begitu besar membuatnya bertindak diluar kendali. Ia memeluk punggung pria yang sedang membelakanginya.
Merasa ada yang memeluknya, tubuh Pria itu bereaksi. Pria itu memutar tubuhnya dan dengan cepat menutup mata Jiali dengan tali bajunya.
"Pangeran apa ini. Apakah kau menyukai permainan seperti ini. "
Tanpa memperdulikan pertanyaan Jiali, pria itu segera bermain-main dengan tubuhnya. Seperti hewan buas yang sedang kelaparan. Pria itu mengobrak-abrik pakaian Jiali. Memperlakukan Jiali seperti mangsa yang kapan saja siap di lahapnya.
Junyi yang sejak tadi memperhatikan kamar tuannya, melebarkan matanya hampir membuat kedua bola matanya keluar. Wajahnya merah melihat siluet erotis dari dua orang yang sedang sibuk bersenang-senang itu. Junyi penasaran dengan reaksi tuannya. Jadi ia meliriknya, namun sayangnya reaksi tuannya masih seperti biasa. Wajahnya tetap tenang, namun dingin tanpa sedikitpun senyum.
Tiba-tiba tatapan junyi berubah panik ketika melihat ada orang lain yang mendekati kamar tuannya itu. Itu nona mo. Ia melihat gadis itu berjalan pelan mendekati kamar tuannya. Meski jarak mereka jauh, Junyi bisa melihat dari gerak gerik tubuhnya bahwa gadis itu sedang marah. Ia segera mendobrak pintu dan berteriak menyebut nama tuannya.
__ADS_1
Junyi dan Sima rui terkejut dengan apa yang baru saja mereka lihat. Gadis yang selalu tampak tenang itu tiba-tiba seperti harimau yang siap menerkam mangsanya kapan saja. Sima rui tak tahan untuk tidak tertawa. Wanitanya ini benar-benar penuh dengan kejutan.
Sima rui menyuruh junyi untuk segera ke sana melihat apa yang dilakukan gadis itu. Ia meminta pengawalnya itu untuk berpura-pura tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Sementara itu simak rui akan tetap disini melihat situasi.
Junyi segera menjalankan perintah tuannya. Ia muncul di lokasi seperti pria polos yang terkejut karena baru saja melihat kejadian yang tidak sepatutnya dilihatnya.
********************
Jiali tak tahu harus memberikan jawaban apa. Pertanyaan sima rui yang langsung terarah padanya membuatnya kehilangan kata-kata.
Tuan He berbalik menatap putrinya. Ia sudah tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Satu pertanyaan dari sima rui membuat pikiran tuan He langsung mencurigai putrinya.
"Lier. Apa yang kau lakukan di kamar Yang mulia? "
Mendengar pertanyaan penuh nada interogasi dari ayahnya. Jiali hanya bisa menggunakan air matanya untuk membuat dirinya tampak seperti korban disini.
"Ayah aku tidak bersalah. Aku kesini karena mendengar suara aneh dari kamar pangeran. Aku khawatir sesuatu terjadi padanya, jadi aku masuk. Tapi siapa yang menyangka Pelayanan itu tiba-tiba menyerangku. " Isak tangis Jiali membuat semua orang memandang kasihan dirinya.
Namun tidak dengan ziyan. Ia merasa ada sesuatu yang salah dengan gadis ini.
"Nona He. Bukankah kamarmu berada jauh dengan kamar Yang mulia. Bagaimana bisa kau mendengar suara aneh dari kamar ini. "
"Itu.. Itu karena aku tidak sengaja melewati kamar pangeran. " Jiali mengalihkan pandangannya, membuat ziyan semakin mencurigainya
"Untuk apa kau melewati kamar pangeran? "
"Aku hanya ingin bertanya mengenai kue yang tadi ku berikan padanya. "
"Kue? " Ziyan menoleh pada sima rui, menatapnya seakan mengatakan 'cepat jelaskan padaku'.
Menangkap tatapan penuh arti ziyan. Sima rui segera memberikan responnya.
__ADS_1
"Benar. Tadi ia memberikan kue padaku. Dan aku memberikannya pada pelayan itu. Mungkinkah ada yang salah dengan kue itu? "