
" Aku akan mengobatinya nanti, yang terpenting sekarang adalah menemukan kuda ku terlebih dulu. Aku rasa ada sesuatu yang membuatnya hilang kendali secara tiba-tiba. " Ucap A Guang mengabaikan luka di lengannya.
" Kuda mu? Maksud mu yang itu? " Tunjuk A Hua pada salah satu kuda yang sudah tampak tenang.
A Guang memicingkan mata memperjelas penglihatannya.
" Benar. " Seru A Guang. Dia melangkah cepat menghampiri sang kuda.
A Hua menyeret Na li agar mengikuti A Guang.
" Kenapa kau juga menarik ku. Aku masih ada urusan. Kau dan A Guang saja. " Tolak Na li.
Ia benar-benar tak ingin ikut campur dengan masalah yang di hadapi teman sekamarnya tersebut. Bukan karena benci atau tak memiliki rasa simpati. Hanya saja akal sehat menuntunnya agar menjauh dari masalah. Karena sesungguhnya dirinya sendiri juga adalah masalah besar.
Namun percuma saja karena A Hua menulikan pendengarannya.
" Kau harus memberikan dukungan moril pada A Guang. Ia pasti sangat syok karena baru saja mendapatkan kecelakaan. " Ucap A Hua mendramatisir.
' Keduanya benar-benar memiliki sifat yang sama. Sama-sama keras kepala. Kenapa juga aku harus ikut terseret dengan masalah ini. ' Batin Na li.
Pada akhirnya ia tetap patuh mengikuti A Hua.
" Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau memeriksa kuda itu? apakah ada sesuatu yang salah? " Tanya A Hua begitu menyusul A Guang.
Saat ini A Guang tengah sibuk memeriksa mulut kuda.
" Tidak ada yang salah dengan mulutnya. Aku pikir hewan ini memakan sesuatu yang membuatnya menggila. Tapi sepertinya tidak ada yang salah dengan makanannya. " Lalu A Guang kembali memeriksa kuda tersebut. Kali ini ia memeriksa bagian belakang.
Mata tajam A Guang menemukan sebuah benda asing menancap di bagian belakang kuda.
" Sepertinya inilah yang membuatnya tiba-tiba hilang kendali. " A Guang menunjukkan sebuah jarum pada A Hua dan Na li.
" Bukankah itu jarum tembak. " Na li tahu benda apa yang di pegang teman sekamarnya itu.
" Kau benar. Dan aku tahu siapa yang melakukannya. " Tebak A Guang yakin.
__ADS_1
A Hua tidak heran jika A Guang bisa menebak siapa pelakunya. Sungguh keberuntungan bagi A Guang yang terlahir dari orang tua yang keduanya memiliki otak encer.
" Ingat! jangan terlalu berlebihan. Lakukan diam-diam, dan yang terpenting jangan sampai membunuh. Apa kau mengerti? " Kata A Hua.
" Jangan khawatir, aku tidak akan membunuh siapa pun. Palingan dia hanya akan menderita beberapa luka. " A Guang menanggapi dengan santai.
A Guang mengingat posisi kuda yang berlari tadi. Ia yakin pelakunya salah satu dari ketiga teman sekelasnya.
" Kalian berdua sungguh sangat cocok. Pantas saja senior Jinfu cemburu dengan mu A Guang. " Celetuk Na li tanpa sadar.
Gara-gara melihat interaksi kedua orang di depannya yang sangat kompak. Tanpa sadar Na li mencetuskan apa yang ada di pikirannya. Ia memang belum tahu mengenai hubungan A Hua dan A Guang. Ia hanya pernah mendengar bahwa keduanya adalah saudara. Jadi ia berpikir bahwa kemungkinan mereka adalah saudara sepupu.
Dan di Kerajaan jin tak ada larangan untuk menikahi sepupu berbeda marga.
" Apa maksud mu? " Kali ini A Guang yang bertanya. Suaranya terdengar jelas bahwa ia tidak menyukai ucapan Na li.
A Guang tak mengerti kenapa tiba-tiba ia merasakan suatu perasaan aneh saat pria jadi-jadian di depannya itu mengatakan hal tersebut. Anehnya jika orang lain yang mengatakannya ia tak pernah peduli.
Hanya Na li, ya hanya saat gadis itu berpikir seperti itu, membuatnya sedikit kesal.
Na li salah tingkah. " Tidak, maksud ku. kalian berdua terlihat serasi jika menjadi sepasang kekasih. "
" Kau sungguh sangat lucu Na li. Pantas saja A Guang senang sekali satu kamar dengan mu. "
Na li hanya bisa tersenyum kaku mendengar ucapan A Hua.
" Aku suka dengan mu. Karena itu akan ku beritahu sebuah rahasia. "
" Rahasia? " Beo Na li, dan A Hua mengangguk.
" Kau mengatakan aku cocok dengannya. " Tunjuk A Hua pada A Guang. " Meski kau mengatakan hal itu, tapi kami tidak mungkin menjadi sepasang kekasih. Kenapa? kau pasti bertanya begitu bukan? "
Na li mengangguk. Ia memang akan bertanya seperti itu.
A Hua terbahak lagi. " Karena dia bukan hanya saudara ku. Lebih dari itu, dia adalah keponakan ku. Jadi tidak mungkin aku dan dia menjalin hubungan layaknya pria dan wanita. "
__ADS_1
" Benarkah? " Spontan Na li bertanya. Mulutnya bahkan menganga lebar saat mengetahui fakta tersebut.
" Tentu saja. Ayah A Guang adalah kakak ku. Dengan kata lain ayah ku adalah kakek A Guang. Jadi sudah jelas bahwa aku adalah bibi A Guang. Sampai sini apakah kau paham? " Sungguh A Hua ingin sekali menghentikan tawanya, namun sia-sia. Ekspresi aneh Na li saat mengetahui kebenaran tersebut justru memicu tawanya kembali pecah.
" Jie hentikan. Kau tertawa begitu keras. " Keluh A Guang.
" Maaf. Itu karena dia lucu sekali. Aku jadi semakin menyukainya. " A Hua kembali menggoda Na li.
' Tidak. Jangan menyukai ku. Aku masih ingin hidup tenang di Akademi. Lagi pula aku masih normal untuk menyukai seorang pria. ' Batin Na li menolak keras pernyataan A Hua. Namun ia hanya bisa meneriakkannya dalam hati.
Jadilah Na li bertanya pertanyaan lain.
" Aku mengerti. Hanya saja, aku merasa sedikit aneh... " Na li tak melanjutkan kata-kata nya. zia takut menyinggung perasaan A Hua.
Ia pikir mungkin saja A Hua terlahir dari salah satu selir ayahnya yang masih muda. Oleh karena itulah ayah A Hua akhirnya bisa memiliki anak yang seumuran dengan cucunya.
" Kau pasti berpikir bahwa aku mungkin anak seorang selir muda. " Tebak A Hua.
Perubahan wajah Na li menjawab pertanyaan tersebut.
A Hua tersenyum. Ia tak marah dengan pikiran tersebut karena ia sendiri sudah terbiasa. Sejak dulu, saat orang mengetahui hubungannya dengan A Guang pasti mereka akan berpikir sama dengan Na li.
" Maaf... " Lirih Na li merasa tak enak.
" Tak apa. Aku sudah biasa. " Setelah memberi jeda, A Hua kembali berbicara. " Aku lahir memang dari seorang selir namun selir yang di nikahi bersamaan dengan istri sah. Meski begitu ibu ku adalah satu-satunya wanita yang di cintai oleh ayah. Ia terpaksa menikahi wanita lain karena sebuah tanggung jawab dan juga tuntutan. "
Meski ia tidak bisa memberitahu secara gamblang perihal tanggung jawab ayahnya sebagai kaisar kala itu.
Kerajaan Jin sama seperti kerajaan lain yang lebih menjunjung anak dari istri sah. Namun kondisi tersebut tidak berlaku bagi keturunan kerajaan. Anak yang dilahirkan dari istri sah maupun selir memiliki kesempatan menduduki tahta meski urutannya tetap setelah anak dari istri sah.
" Ehem.. bisa kita hentikan pembicaraan yang begitu berat ini bi. " A Guang mencoba mencairkan situasi yang mulai terasa tak nyaman.
" Apa kau memiliki rencana untuk menangkap pelakunya? " Tanya Na li.
" Tentu. Dan aku membutuhkan kalian untuk membantu ku. " seringai A Guang.
__ADS_1
Malam ini ia akan menyelesaikan hutangnya langsung.
*********