
Hampir dua minggu lebih sudah A Guang berada di Kekaisaran shu. Satu persatu urusannya akhirnya bisa ia selesaikan.
Karena semua urusan resmi sudah selesai. Sudah waktunya rombongan Kekaisaran Jin kembali. A Guang akan kembali bersama dengan Xu xiang besok.
Jadi Xu xiang harus menyelesaikan semua urusan disini sebelum ia pergi bersama A Guang.
Meski tidak berada di Shu, status Xu xiang tetap sebagai ketua siwang. Ia akan melakukan semua pekerjaannya dari Kekaisaran Jin. Sementara Gu shang bertanggung jawab mengawasi di Shu.
Berat memang harus meninggalkan tempat yang selama tujuh tahun ini menjadi saksi perjuangan Xu xiang hingga akhirnya ia berada di tempatnya sekarang.
Sebelum pulang, A Guang akan berpamitan terlebih dulu dengan arthur. Jadi ia mengajak Xu xiang untuk berkunjung ke kediaman pria dengan nama lain Ya se itu.
Disinilah mereka. Saat ini mereka berada di kediaman megah milik arthur.
" Apa kau akan kembali besok? " Terlihat wajah sedih arthur kala mendengar pemuda yang sudah di anggap sebagai putranya itu akan kembali ke negaranya.
" Jangan berwajah sedih seperti ibu paman. Bukankah kita masih bisa bertemu lagi. Aku harap paman bisa datang di acara pernikahan ku nanti. "
A Guang menoleh pada Xu xiang dan tersenyum padanya.
" Aku masih tak menyangka bahwa Xu xiang adalah wanita yang selama ini kau cintai. Tidak heran saat pertama kali aku melihatnya, aku juga menyukainya. Ternyata ia calon menantu putra ku. " Arthur tertawa kecil mengingat momen saat pertama kali bertemu dengan gadis itu.
Xu xiang tersenyum, ia teringat begitu banyak bantuan yang telah di berikan oleh tuan Ya se.
" Terima kasih banyak tuan Ya se. Berkat mu, aku bisa sampai di titik ini sekarang. Jika tidak ada kau yang membantu ku. Mungkin hidup ku masih sama seperti dulu. " Ucap tulus Xu xiang.
" Tidak. Ini semua berkat usaha mu sendiri. Aku hanya memberi jalan sementara kau lah yang menjalaninya. "
Arthur memang membantunya, tapi ia tak ingin semuanya di anggap karena bantuannya. Jika bukan karena kerja keras dan kecerdasannya, siwang tidak akan berkembang pesat seperti saat ini.
Kemudian arthur kembali berbicara. " Kala itu, saat melihat mu untuk pertama kali. Kau mengingatkan ku akan sosok Gaia. Ia juga seperti mu, pekerja keras, berani dan pantang menyerah. Karena itu aku yakin kau bisa menjaga putra ku. "
A Guang melihat mata Arthur yang memancarkan cinta. Tersadar ternyata ibunya masih mendapatkan tempat khusus di hati arthur. Pantas saja ayahnya menganggapnya sebagai saingan sejatinya. Bahkan dari segi perasaan, paman Arthur tidak kalah besar dengannya.
Meski tidak tahu siapa Gaia yang dimaksud oleh Arthur. Xu xiang bisa memastikan bahwa ia adalah wanita hebat yang menempati hati pria paruh baya di depannya ini.
Setelah berbincang cukup lama. Akhirnya keduanya memutuskan untuk pergi.
Xu xiang bersandar di pundak A Guang. Ia masih tak menyangka bahwa perasaannya akhirnya bisa tersampaikan.
" Apa yang kau pikirkan? " A Guang tahu bahwa wanitanya sedang memikirkan sesuatu.
" Bagaimana kau bisa tahu aku sedang memikirkan sesuatu? " Xu xiang bangun dan melihat A Guang.
" Aku tahu banyak tentang mu lebih dari yang kau pikirkan. "
Wajah Xu xiang bersemu. " Berhenti bermulut manis. "
" Aku tidak bermulut manis. Aku mengatakan apa yang sebenarnya. Jika kau tak percaya, kau bisa bertanya pada ibu ku. "
__ADS_1
Ibu A Guang? itu berarti Yang mulai ratu?
Entah kenapa tiba-tiba Xu xiang merasakan suatu beban.
Perubahan raut wajah Xu xiang tidak lepas dari pengamatan A Guang. Laki-laki itu seolah tahu apa yang sedang dikhawatirkannya.
" Ibu ku, dia adalah wanita yang kuat namun di sisi lain ia juga lemah lembut. Jika ibu lain akan memaksakan apa yang menurutnya baik pada sang anak. Berbeda dengan ibu ku. Ia sangat mempercayai anak-anaknya. Karena itu ibuku tidak mempermasalahkan keputusan apa yang di ambil oleh kami. Asalkan benar dan tidak bernilai negatif. " Kata A Guang. Berharap bisa sedikit mengurangi kekhawatiran Xu xiang.
" Benarkah? Aku pikir Yang mulia ratu akan menentang hubungan kita. Lalu mencarikan wanita lain untuk di jadikan istri sah sementara aku hanya akan menjadi selir. "
A Guang tertawa kecil.
Bagaimana mungkin ibunya meminta anaknya mengambil selir sedangkan ia sendiri menganut pernikahan monogami. Andai Xu xiang tahu bahwa ibunya membenci sistem poligami. Mungkin alih-alih khawatir, ia akan bersorak senang karena menemukan ibu mertua yang begitu memahami hati wanita.
Jadi A Guang kembali menjelaskan. " Ibu ku tidak akan pernah melakukan itu. Apa kau tahu perbedaan kaisar saat ini dengan kaisar terdahulu."
Perbedaan ayahnya dan kaisar terdahulu?
Xu xiang berpikir. " Tidak ada selir di harem kaisar saat ini. " Jawab Xu xiang ragu. Karena hanya itu yang bisa ia pikirkan.
" Kau benar. Ayah ku tidak mengambil selir. Kau tahu kenapa? "
Lagi, Xu xiang berusaha menebak. " Karena Yang mulia kaisar sangat mencintai ratu? "
A Guang terkekeh. Itu memang benar. Ayahnya bukan hanya mencintai ibunya. Tapi ia bahkan seperti budak cinta ibunya.
" Itu juga benar, tapi itu bukan alasan utamanya. Karena kaisar agung juga mencintaiku Huang guifei namun ia masih memiliki permaisuri dan juga guifei. "
A Guang menepuk ringan kepala Xu xiang lalu menjawab. " Itu karena ibu ku menganut pernikahan monogami. Sebelum menikah, ibuku sudah menekankan pada ayah bahwa ia tidak menerima selir. Jadi bila suatu hari ayah melanggar dan mengangkat selir. Maka ia harus siap berpisah dengan ibu. Mungkin semua orang akan berpikir bahwa ibuku sangat egois. Namun jujurlah pada diri mereka sendiri. Siapa yang tidak ingin menjadi satu-satunya. Semua wanita pasti menginginkannya. Begitu pula dengan ibu. "
" Jadi ketika para menteri memaksa ayah untuk mengangkat selir, ia akan menolak dengan tegas usulan tersebut. Ayah ku bahkan siap kehilangan tahta dari pada harus kehilangan ibu. "
" Karena itu, kau tidak perlu khawatir karena ibu ku tidak akan mencarikan istri sah untuk ku. kaulah yang akan menjadi satu-satunya istri ku. "
Ternyata berbicara seperti ini lebih baik dari pada hanya memendam dan menerka apa yang pasangan kita pikirkan. Selain itu aku jadi tahu banyak hal mengenai calon ibu mertua.
" Besok kita akan berpamitan dengan seluruh orang di siwang. Aku harap kau tidak berubah pikiran saat itu. "
" Berubah pikiran? kenapa? "
" Bisa jadi saat melihat wajah mereka kau akan merasa emosional dan memilih bersama mereka. Bagaimana pun, hari yang mereka habiskan dengan mu jauh lebih lama dari hari yang kita habiskan bersama. "
Xu xiang memeluk A Guang.
" Itu tidak mungkin. Aku sudah berjanji maka aku akan melakukannya. "
Bagaimana mungkin ia melepaskan cintanya. Sementara mengingat hidupnya yang terasa berat saat harus berpisah dengannya selama tujuh tahun masih begitu jelas di ingatannya.
Ia tidak ingin kehilangannya lagi.
__ADS_1
**********
Akhirnya tiba hari keberangkatan Xu xiang dan A Guang kembali.
" Hati-hati. Jangan khawatir tentang masalah di sini. Aku bisa mengatasinya. " Gu shang berbicara dengan percaya diri. Lalu berbisik, " Berkat mu, aku sekarang bisa belajar banyak dari tuan Ya se. Terima kasih karena kau sudah pergi. "
Sudut bibir Xu xiang berkedut. Entah ia harus senang atau menangis mendengarnya.
" Nanti saat kau menjadi putri mahkota. Tolong jangan lupakan kami. " Kata Gu shang menambahkan.
Xu xiang menatap satu persatu orang-orang siwang yang bersama Gu shang. Mereka khusus mengantarkan Xu xiang.
Sedih? tentu saja sangat sedih harus berpisah dengan mereka. Selama tujuh tahun, mereka lah keluarganya selama ini. Ada ikatan tak kasat mata yang menghubungkan mereka.
Xu xiang tak sanggup berkata-kata. Ia hanya mengangguk menanggapi ucapan Gu shang.
" Aku pergi dulu. " Ucap Xu xiang terakhir sebelum akhirnya ia masuk ke dalam kereta dan meninggal kerajaan Shu bersama rombongan Kekaisaran Jin.
Di dalam kereta,
" Menangis lah jika ingin menangis. Itu akan membuatmu jauh lebih lega dari pada menahannya. "
Xu xiang menggeleng. " Aku tidak akan menangis. Bagiku ini hanya perpisahan sesaat bukan selamanya kami tidak bisa bertemu. Perpisahan ini mungkin cukup membuatku sedih. Tapi tidak sampai aku harus menangis. Aku adalah ketua serikat siwang, jadi aku harus kuat. "
Gemas rasanya melihat wanita di depannya ini. A Guang yang merasakan itu, Mencubit pelan pipi Xu xiang.
" Ish.. aku bukan anak kecil. Kenapa kau selalu mencubit pipi ku. " Bibirnya cemberut.
" Itu karena kau sangat menggemaskan. Aku jadi tidak sabar ingin segera menikahi mu secepatnya. "
Pipi wanita itu kembali bersemu merah. Ia masih belum terbiasa ketika A Guang berkata manis padanya.
A Guang sengaja kali ini tidak berjalan terpisah dari rombongan seperti saat ia berangkat ke Shu. Alasannya tentu karena ia bersama dengan Xu xiang. Terlalu beresiko membawanya tanpa pengawalan. Tak apa ia menghabiskan waktu lebih lama di jalan asal calon istrinya aman.
Bukan karena ia tidak bisa melindunginya? Dengan ilmu beladiri A Guang. Mudah baginya untuk mengalahkan siapa pun. Selama ini ia bisa mengalahkan hampir semua orang. Hanya ada satu orang yang tak bisa ia kalahkan yaitu ayahnya. Sedangkan dengan A Feng, ia masih sedikit lebih unggul. Tapi ia sangat yakin, setelah pengalamannya di medan perang, A Feng akan jauh lebih kuat darinya.
Bahkan meski usia ayahnya sudah tak lagi muda. Ia masih kesulitan untuk mengalahkannya. Ayahnya memang luar biasa.
Bugh!
Sebuah benda keras menghantam tanah tepat di depan kereta kuda A Guang.
kuda yang terkejut memekik hingga kuda berdiri dengan kaki ke atas. Kereta kuda kehilangan keseimbangannya. Hampir saja Xu xiang jatuh jika A Guang tak memeganginya kuat.
" Ada apa? " Tanya A Guang dengan suara tegas.
" Sebuah pohon tiba-tiba tumbang Yang mulai. " Xiao wen menjelaskan.
Mata A Guang menggelap. Ia tak menyangka bahwa perjalanannya akan segera menerima hambatan. Padahal ia belum lama meninggal ibu kota Shu.
__ADS_1
Baiklah. Karena mereka ingin bermain. Maka akan ku turuti.
Benar saja tak lama sekelompok orang datang dengan pakaian hitam dengan wajah tertutup kain.