Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 267 side story ( A Guang story)


__ADS_3

Tanpa terasa dua hari berlalu.


Selama itu pula A Guang di buat panas dingin oleh Na li.


Jika sebelumnya ia cukup tertutup dengan murid laki-laki, sekarang ia justru bertindak ramah pada mereka.


" Tidak boleh seperti ini. Aku harus bicara padanya. Apa dia tidak khawatir rahasia terungkap? " Gumam A Guang saat melihat Na li sedang berbicara dengan seorang murid laki-laki. Ia meyakinkan diri bahwa apa yang dirasakannya adalah rasa khawatir tidak lebih.


A Guang berjalan menghampiri Na li. Menepuk pundak lawan bicara Na li membuat laki-laki itu dan juga Na li menoleh padanya.


" Apa? " Tanya murid laki-laki.


" Saudara ku. Aku pikir kau sudah cukup lama berbicara dengan Na li. Sekarang giliran aku berbicara dengannya. " A Guang membuang semua rasa malunya untuk menekan Pria itu.


" Tapi aku belum selesai berbi- " Ucapannya terpotong saat A Guang sudah menarik tangan Na li menjauh dari murid itu.


" Apa yang kau lakukan. " Protes Na li saat tangannya ditarik begitu saja.


A Guang masih bergeming. Dengan langkahnya yang lebar terus membawa paksa Na li ke tempat yang menurutnya sepi.


Ia baru melepaskan tangan Na li begitu tiba di halaman belakang akademi.


" A Guang yang kau lakukan? apa maksud mu membawa ku kemari? "


A Guang yang membelakangi Na li langsung menoleh dan berjalan mendekat hingga gadis itu tak mampu lagi mundur saat punggungnya menabrak pohon.


Ia mengurung Na li dengan tangannya. Membungkuk sedikit hingga wajah keduanya begitu dekat.


' Wajahnya benar-benar tampan. Sungguh tidak adil, karena dewa begitu memberikan kesempurnaan wajah pada A Guang. Tak heran banyak murid wanita yang menyukainya. ' Monolog Na li mengagumi wajah A Guang. Wajah yang terpahat sempurna yang sangat pas baginya.


Begitu dekat wajah keduanya membuat Na li berpikir jika A Guang hendak menciumnya.


Refleks Na li mengangkat tangannya lalu menutup mulut A Guang dan mendorongnya. Membuat wajahnya mendongak ke atas.


" Apa yang kau lakukan? " A Guang berucap setelah berhasil melepaskan mulutnya dari tangan Na li.


" Seharusnya aku yang bertanya, kenapa kau mendekatkan wajah mu. " Nada suara Na li tidak kalah tinggi.


A Guang menyeringai saat Na li berkata dengan wajahnya yang merah.


" Kenapa wajah mu merah? kau tidak memikirkan hal tak senonoh seperti yang selalu A Hua pikirkan bukan? " Goda A Guang.


" A-apa yang kau bicarakan? hal tak senonoh apa? " Gagap Na li mengelak.


Senyum A Guang semakin lebar. " Kau tak perlu gugup jika itu hanya dugaan ku saja atau.... " Tatapan A Guang seolah mengunci tubuh Na li hingga membuatnya tak bisa bergerak.


" ... atau apa yang ku katakan itu benar. " Sambungnya.


" Omong kosong! aku tak memikirkan hal lain. Aku hanya mengira bahwa kau akan mencium ku. " Na li mengungkap apa yang dipikirkannya tanpa sadar.


" Apa? " A Guang tercengang.


Na li yang tersadar dengan tindakan bodohnya langsung menutup mulutnya. Menutup rapat kedua bibirnya yang telah berkhianat mengatakan isi kepalanya.


Dirinya sangat malu. Berharap ada lubang besar yang bisa membuatnya terkubur saat ini juga.


Keduanya terjebak dalam keheningan.


Di sudut hati A Guang ada gejolak kesenangan kala mengetahui pemikiran Na li. Sementara gadis yang menjadi alasan kesenangannya itu sedang ketar ketir karena rasa malunya.

__ADS_1


" Minggir. Aku harus kembali ke kelas. " Na li berusaha menggeser tubuh A Guang. Bermaksud melarikan diri dari situasi canggung tersebut.


A Guang mendapatkan kesadarannya kembali, Ia segera menahan lengan Na li.


" Tunggu sebentar. Mari kita bicara. "


" Apa yang ingin kau bicarakan? "


A Guang membuang napas, lalu berkata " Na li, kenapa beberapa hari ini kau dekat dengan murid laki-laki? Tidakkah kau tahu bahwa semakin dekat kau berinteraksi dengan mereka maka semakin rawan pula rahasia mu terungkap. Jadi saran ku, jangan terlalu dekat dengan mereka. Apa kau mengerti? "


" Tidak. " Jawab Na li singkat.


" Apa yang tidak kau mengerti. Bukankah aku menjelaskan dengan sangat jelas. "


" Alasan? " Na li diam sejenak. lalu kembali melanjutkan. Apa yang membuatku harus mendengarkan mu? apa kau melakukannya karena kau khawatir dengan ku? " Tanya Na li.


A Guang mengangguk. " Tentu saja. Kita adalah teman, dan aku tak ingin sesuatu hal buruk terjadi dengan mu. "


Jawaban A Guang membuat Na li seketika kecewa. Sekali lagi ia merasa dirinya dilambungkan tinggi dan kembali dihempaskan.


" Kalau begitu sebagai teman. Tolong jangan terlalu peduli padaku. Aku tahu bagaimana bersikap. Aku tidak akan bertindak bodoh yang membuat rahasia ku terungkap. Jadi kau tidak perlu khawatir, dan satu lagi tolong berhenti mengikuti ku. " Setelah mengatakannya, Na li segera meninggalkan A Guang yang masih mematung.


Na li tahu A Guang mengikuti dan mengamatinya beberapa hari ini hingga dirinya dan A Hua berpikir bahwa A Guang sudah mulai cemburu. Namun sekali lagi, A Guang menegaskan hubungan mereka hanya sebatas teman.


*********


A Guang segera mengejar sosok Na li yang sudah menghilang. Kemudian ia mencari di setiap tempat, sayangnya Na li tidak terlihat di manapun.


A Guang menghentikan salah satu teman sekelasnya.


" Apa kau melihat Na li? " Tanya A Guang mulai panik.


" Keluar akademi? apa ada masalah? "


" Aku tidak tahu. Tapi tadi sepertinya ada wanita paruh baya yang datang menemuinya. Setelah itu ia keluar bersama wanita itu. "


" Apa kau tahu siapa wanita itu? " dan dijawab gelengan oleh teman A Guang.


Hingga malam, Na li tidak kunjung kembali.


A Guang terbangun dan tak melihat Na li di kamarnya. Dari sini ia yakin bahwa Na li tidak kembali ke akademi.


Bahkan sampai menjelang malam lagi. Na li masih tidak kembali.


" Aku harus keluar malam ini. " A Guang berbicara sendiri. Ia berencana untuk menyelinap keluar.


Saat siang tadi, A Guang sudah melihat daftar alamat rumah para murid dan mengingat alamat tinggal Na li. Jadi malam ini ia akan pergi ke sana dan melihat bagaimana keadaan gadis itu.


**********


A Guang berjalan menuju alamat rumah Na li. Setelah beberapa kali bertanya, akhirnya ia menemukannya. Sebuah gubuk sederhana yang terlihat cukup memperihatinkan.


A Guang ragu, jadi ia kembali bertanya pada pejalan kaki yang hendak berpapasan dengannya.


" Maaf tuan. Apa benar ini rumah Guli Na li? "


Orang itu tak langsung menjawab, ia justru melihat penampilan A Guang dari atas hingga bawah.


" Kenapa kau mencari Na li? Apa anak itu juga berhutang pada mu? " Bukannya menjawab, pria itu justru bertanya balik pada A Guang.

__ADS_1


" Hutang? Oh tidak. Aku temannya. Aku sedang mencarinya? "


Ekspresi pria itu seolah menegaskan 'itu tidak mungkin'.


" Apa tidak salah? Sungguh beruntung Na li memiliki teman seperti mu. Sepertinya kau anak orang kaya. Dengar nak, aku hanya menasehati mu saja. Sebaiknya kau berhati-hati jika berteman dengannya. Ia hanya akan memanfaatkan uang mu saja untuk mabuk-mabukan dan berjudi. "


A Guang mengerutkan kening. " Mabuk? berjudi? apa maksud mu tuan? "


Orang lewat itu sudah pergi dengan melambaikan tangan sebagai penolakannya melanjutkan pembicaraan.


Kata-kata orang itu mengganggu pikiran A Guang. " Apa maksud orang itu? apa tadi yang dia katakan? Na li mabuk dan judi? mustahil gadis itu melakukannya. " Gumam A Guang.


Ia membuka pagar kayu rumah Na li yang setinggi pinggangnya. Kemudian mengetuk pintu.


Setelah beberapa ketukan dan menunggu, tak ada seorang pun yang membukanya.


A Guang sedikit mendorong pintu, karena tak terkunci pintu pun terbuka.


Mata A Guang melotot saat melihat wanita paruh baya tak sadarkan diri. Kepalanya diletakkan di atas meja dengan beberapa kendi arak.


" Sepertinya wanita ini terlalu mabuk. " Kesimpulan A Guang setelah memeriksa kondisi wanita tersebut.


" Apa yang kau lakukan! "


A Guang terperanjat saat secara tiba-tiba seseorang berteriak padanya. Ia menoleh dan melihat pria muda yang ia perkirakan seumuran dengannya.


" Maaf, aku tidak sengaja masuk. Saat tadi mengetuk pintu secara tak sengaja pintunya terbuka. Aku pikir ibu ini mengalami masalah jadi aku masuk untuk melihatnya. " Jelas A Guang.


Mata pria itu memindai penampilan A Guang. Menilai penampilannya dari atas ke bawah. Dan sebuah senyum mengembang di bibirnya.


A Guang bisa melihat ada niat tak baik dari senyum pria tersebut.


" Siapa kau dan apa yang sedang kau lakukan di rumah ku? " Tanya pria itu. Ia melangkah masuk lalu duduk di samping wanita yang sedang mabuk itu.


" Aku mencari Na li. Apa dia ada? " Tanya A Guang. Pertanyaan yang sebenarnya tanpa dijawab pun A Guang tahu bahwa tak ada Na li di sini.


Alih-alih menjawab, pria itu justru terbahak. " Akulah Na li? yang sedang berada di depan mu ini Na li? " Ucapnya.


" Tidak mungkin. Aku sangat mengenal Na li. Dan dia bukan kau. "


Pria itu masih tertawa, " Aku memang Na li. Jika kau tak percaya kau bisa bertanya pada para tetangga di sini. "


" Tidak mungkin. Jelas-jelas alamat yang tertulis di akademi di sini. Bagaimana bisa Na li berubah menjadi orang lain. Na li adalah seorang wanita. Dan jelas kau bukan wanita. "


Ekspresi pria itu berubah mengejek. " Cih.. Kau mungkin bodoh karena mengira Na li adalah dia. Jika kau mengatakan ia seorang wanita. Mungkin yang kau cari adalah Xu xiang. Sekarang dia sedang berada di paviliun Lianhua. Tidak lama lagi dia akan pulang. Kau bisa menunggunya di sini atau pergi ke sana. "


... Berpikir sejenak, dengan beberapa pertimbangan akhirnya A Guang memutuskan untuk menunggu Na li di rumahnya. ...


Tidak lama setelah berbicara, pria yang mengaku bernama Na li pergi ke dalam kamarnya. Entah sedang apa, A Guang tak peduli. Yang terpenting saat ini adalah meluruskan semua benang kusut dihadapannya.


A Guang menoleh ke arah pintu saat terdengar suara langkah kaki. Pintu terbuka dan terlihat sosok wanita yang sangat dikenalnya.


" Na li.. " Panggil A Guang lirih.


Na li yang saat ini mengenakan pakaian wanita itu juga tidak kalah terkejut.


" Ke-kenapa kau di sini? " Ucap Na li yang terdengar seperti gumaman.


" Na li aku... "

__ADS_1


" UNTUK APA KAU KESINI! " Teriak Na li menyela ucapan A Guang, membuat pria itu terkejut.


__ADS_2