
Sima rui datang dengan perasaan khawatir. Sejak tadi ia memacu kudanya dengan cepat. Pikiran buruk berkecamuk. Membuat pria yang selalu berwajah dingin kini tampak begitu pucat seolah aliran darah sama sekali tidak melewati kepalanya.
Ia melihat banyak orang di luar terowongan yang merupakan pintu masuk desa. Tempat itu penuh dengan orang-orang yang didominasi oleh anak-anak dan para lansia.
Suara langkah kaki kuda Sima rui menarik perhatian orang-orang di sana.
" Dimana wangfei? " Tanya Sima rui pada salah satu prajurit. Suaranya yang tegas tak luput dari perhatian prajurit itu yang mengerti betapa khawatirnya sang pangeran.
Wajah prajurit tampak ragu seolah ada hal buruk yang terjadi.
" Wa-wangfei masih di dalam Yang mulia. " sahutnya dengan rasa gugup yang mendera.
Tak ingin lagi bertanya dan membuang waktu, kembali Sima rui memacu kudanya. Perasaannya semakin gemuruh saat melihat ujung terowongan.
Pemandangan di depannya mengejutkan mata Sima rui. Air menggenang di mana-mana.
" Pangeran! anda kembali? " Suara Xiaoqi menarik telinga Sima rui. Ia melihat pengawal istrinya tersebut berjalan menghampirinya.
" Dimana wangfei? " Tanya Sima rui sedikit lebih tenang. Setidaknya jika melihat xiaoqi tidak apa-apa, maka begitu pula dengan istrinya. Itulah yang dipikirkan Sima rui.
" Wangfei- " Xiaoqi baru saja akan berbicara, namun suara wanita yang sejak tadi menjadi pusat pembicaraan terdengar.
" Suamiku, kau kembali? " Tanya ziyan. Ia berlari kecil lalu memeluk tubuh suaminya yang sudah turun dari kuda.
" Syukurlah kau baik-baik saja. Aku begitu khawatir saat mendengar suara ledakan. Aku sangat takut begitu membayangkan desa ini tenggelam. kembali, ketakutan akan kehilangan mu langsung muncul di benakku. " Ujar sima rui memeluk ziyan begitu erat. Kemudian ia melepas pelukannya lalu memindai tubuh sang istri.
" Apakah kau terluka? "
Ziyan menggeleng. " Kau tidak perlu khawatir. Kebocoran bendungan memang cukup besar tapi tidak cukup membuat desa ini sampai tenggelam, hanya tergenang. "
Kemudian ziyan menceritakan apa yang dilakukan oleh pemimpin desa. " Beruntung saat itu luyi menemukan pemimpin desa sedang meletakkan alat peledak. Jadi kami bisa menjinakkan peledak sebelum semua benda itu meledak. Tapi sayangnya masih ada beberapa alat peledak yang di sembunyikan. "
Ziyan menghela napas. " Saat benda itu meledak, memang air yang datang cukup besar. Bahkan sempat menyeret ku dan ayah yang saat itu sedang melakukan evakuasi pada anak-anak. Tapi kami baik-baik saja. Lihat bukan, tak ada lecet sedikit pun. " Ziyan merentangkan kedua tangannya memperlihatkan kondisi tubuhnya. Tak ada lecet di kulitnya, hanya bajunya saja yang basah kuyup.
" Kau tak perlu khawatir pangeran. Aku menjaga putri ku dengan baik. " Tuan mo datang menyela obrolan kedua orang yang merupakan pasangan suami istri itu.
Sima rui segera membungkukkan tubuhnya. " Terima kasih ayah, sudah menjaganya. "
" Hentikan ucapan terima kasih itu. Sudah hal wajar seorang ayah menjaga putrinya. " Tuan mo menepuk pundak Sima rui. " Bagaimana dengan orang itu? "
Wajah kedua pria itu berubah serius.
" Kami sudah berhasil membuatnya tersudut. Aku yakin dia tidak memiliki jalan untuk kabur kali ini. "
" Baguslah. Setelah ini aku harap putri ku bisa melewati masa kehamilannya dengan tenang sampai hari dimana cucuku lahir. "
Setelah itu semua orang mulai membersihkan desa secara gotong royong. Meski tidak menelan korban jiwa, tapi banyak rumah warga yang dibuat semi permanen itu roboh. Sehingga sima rui memerintahkan para prajurit untuk membangun kembali tempat tinggal mereka sebelum kembali ke ibukota.
Sementara untuk Xumu. Sima Dan sudah membawa dia ke ibukota. Dia akan di tempatkan di penjara khusus dimana tidak sembarang orang bisa masuk. Sima rui sama sekali tidak memberikan sedikit pun jalan untuk xumu bisa melarikan diri. Bahkan selama perjalanan menuju ibukota, Sima rui juga menambahkan penjaga bayangan yang ikut memantau dan mengawasi.
__ADS_1
" Ziyan! " Lucy yang dijemput paksa atas perintah ziyan datang dengan tas medisnya.
" Bibi! " Ziyan menoleh dan melihat sang bibi.
" Kau ini, seenaknya saja meminta ku kesini. Apa kau tahu aku sangat sibuk. Anak-anak ku sudah meraung meminta untuk di uji coba. " Kesal lucy.
Anak-anak yang di maksud adalah data-data eksperimennya. Wanita itu selalu menganggap hasil pekerjaannya seperti nyawa anak-anaknya. Padahal dirinya saja belum memiliki anak.
Ziyan tertawa kecil melihat bibir sang bibi yang maju. " Tenang bi. Aku akan menambah dana sponsor untuk penelitian bibi nanti. " Ucap ziyan setengah berbisik.
Mata lucy langsung berbinar dengan bibir sudah berganti menjadi mengembang, ia menoleh ke arah ponakannya. " Benarkah? Aku pegang ucapan mu. "
Ziyan memberikan jari kelingkingnya. " Janji. " Dan di sambut oleh kelingking lucy.
Adegan itu membuat Sima rui tampak tidak asing. Tiba-tiba muncul Sekelebat ingatan di kepalanya. Ada dua anak kecil mengucap janji dengan kelingking.
" Ingat, kau harus menikah dengan ku. " Ucap anak perempuan.
" Aku sudah memiliki calon istri. " Balas anak laki-laki yang sayangnya wajahnya tidak terlihat oleh Sima rui. Lalu anak laki-laki itu kembali berbicara. " Tapi aku bisa membatalkannya, kemudian menikah dengan mu. "
Sima rui menggeleng mengusir adegan-adegan itu. Adegan yang sangat menyentuh hatinya. Tapi apa itu? Apa mungkin salah satu ingatannya? Lantas jika benar? siapa anak perempuan itu?
" Suamiku? kau kenapa? " Sima rui tersentak.
Ziyan melihat khawatir suaminya saat melihatnya memukul-mukul kepalanya.
" Apa kau sakit? " Tanyanya lagi.
Ziyan membawa lucy menemui pemimpin desa. Posisinya yang terikat di kursi membuatnya kesulitan bergerak.
" Kenapa kalian menangkap ku? apa yang sudah kalian lakukan? Ini tindak kejahatan. "
Mendengar ucapan pemimpin desa ingin sekali tuan mo menoyor kepala pria yang seumuran dengannya itu.
" Tindak kejahatan katamu? lebih jahat mana dengan dirimu yang berniat menenggelamkan kami semua. Bahkan kau tidak peduli dengan penduduk desa yang semuanya orang yang kau kenal. " Ketus tuan mo. Ia memang sudah geram dengan pria yang menjabat sebagai pemimpin desa itu.
" Kau tidak mengerti. Mereka akan terus menghantui ku. Panas api hanya akan padam dengan dinginnya air. " Cicit pemimpin desa.
" Dasar kau gila. Tidak ada api disini. Jadi berhenti bertingkah seperti orang gila. " Tuduh tuan Mo.
" Sudah ayah. Jangan terpancing emosi. " Ziyan mendekat, mengelus pundak sang ayah berharap agar ayahnya tenang. Lalu menoleh pada lucy.
" Bibi, bagaimana menurut mu? " Ziyan berharap setelah bibinya melihat interaksi pemimpin desa tadi, ia bisa tahu apa yang terjadi dengannya.
Lucy mengamati pemimpin desa.
" Mau apa kau? " Pemimpin desa tak terima dirinya diperhatikan.
" Tenanglah pemimpin desa. Aku hanya seorang tabib yang akan memeriksa mu. " Kata lucy menenangkan.
__ADS_1
Pemimpin desa mendengus, " Aku tidak sakit. Aku tidak butuh tabib. Apa kau pikir aku gila. "
" Tidak. " Lucy spontan menjawab. " Kau tidak gila. Aku percaya dengan mu. Karena itulah aku disini. Aku akan membantu mu. "
" Apa itu benar? " Pemimpin desa menatap lucy tak percaya.
" Tentu saja benar. Apakah seorang tabib akan berbohong? "
Pemimpin desa masih diam memperhatikan lucy seolah mencari kebohongan pada wajahnya
" Kau benar akan membantuku? "
Lucy mengangguk. " Jadi katakan apa yang kau lihat dan apa yang harus aku lakukan? " Pancing lucy.
" Kita harus menghancurkan bendungan. Air bendungan akan memadamkan api. Jadi jangan biarkan mereka menyingkirkan peledak itu. Anak itu mengatakan bahwa sudah saatnya untuk penebusan. "
" Anak yang mana? " Tanya lucy. Wajahnya terlihat serius.
Semua orang yang berada di ruang itu pun ikut menyimak obrolan dua orang itu.
" Anak yang selamat itu. "
" Lalu dimana anak itu? Aku juga ingin bertemu dengannya. " Lagi, lucy kembali memberi umpan.
Pemimpin desa menggeleng. " Aku tak bisa mengatakannya. Mereka akan membunuhnya. " Pemimpin desa mengedarkan pandangannya pada orang-orang di ruang.
" Mereka? mereka tidak akan membunuhnya? " Lucy menunjuk pada orang-orang di belakangnya.
Pemimpin desa sekali lagi menggeleng. " Bukan mereka. Tapi orang-orang dengan pakaian aneh yang datang dari lingkaran cahaya. Mereka membawa benda hitam di tangan yang bisa mengeluarkan bunyi keras. Mereka membakar tempat itu. Tak ada satupun yang selamat. Hanya satu anak. Anak itu selamat. Anak yang sangat beruntung namun begitu malang. "
Deg!
Detak jantung lucy seolah berhenti berdetak. Ragu-ragu ia kembali bertanya.
" Baju aneh seperti apa? "
" Baju hitam dengan bercak panjang abu-abu. " Ucap pemimpin desa menerawang, mencoba mengingat.
Wajah lucy semakin pias, ia menoleh menatap ziyan yang berwajah sama piasnya dengannya.
Bagi keduanya yang hidup dengan latar belakang lingkungan militer. Tentu tidak asing dengan deskripsi baju yang baru saja dikatakan oleh pemimpin desa.
Lubang cahaya? baju militer? Kenapa pemimpin desa mengetahui itu semua, batin ziyan.
*******
catatan author :
jadi seragamnya kurang lebih seperti ini.
__ADS_1