Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 382 Side story ( A Fei the princess of Jin)


__ADS_3

Sima Fei dan Li Chenlan menemui Raja dan Permaisuri untuk memberikan salam. Keduanya tampak seperti sepasang suami istri yang saling mencintai. Tak ada yang tahu bahwa di dalam hati, keduanya sedang mengutuk satu sama lain.


" Aku harap sandiwara ini akan terus berlanjut dengan baik. Ingat jangan berharap agar aku mencintaimu. Karena itu tidak akan pernah terjadi. Kau hanya perlu menjadi putri mahkota yang baik. Apa kau mengerti? " Kata Li Chenlan setelah kembali dan saat ini hanya ada mereka berdua.


A Fei memutar bola matanya, " Kau itu seorang pria tapi kenapa begitu cerewet. Aku tidak akan pernah menarik kembali kata-kataku. Seperti kesepakatan kita tadi, kita hanya perlu bertindak sebagai pasangan harmonis di depan orang, terutama di depan Raja dan Permaisuri. Bukankah itu maksud mu Yang mulia Putra Mahkota Li Chenlan? "


" Baguslah kalau kau mengerti. Ingat jangan samp- hei aku belum selesai bicara. "


Sima Fei meninggalkan begitu saja Li Chenlan. Terlalu lama berdekatan dengannya justru semakin membuatnya tersulut emosi.


Sementara Li Chenlan yang kesal hanya bisa misuh-misuh ketika A Fei mengabaikannya. Ada perasaan aneh ketika gadis itu mulai tak peduli dengannya.


' Ini tidak benar. Jika dia acuh tak acuh dengan ku. Bukankah percuma saja tindakan pengabaian yang ku lakukan. Seharusnya dia menangis dan memohon pada ku agar aku memberikan perhatian padanya. ' Batin Li Chenlan berpikir.


Pagi tadi, setelah Li Chenlan membuka semua fakta mengenai dendam gilanya yang tidak jelas tersebut. Terjadi perdebatan panjang yang begitu melelahkan antara keduanya. Hingga pada akhirnya mereka sepakat untuk melakukan sandiwara sebagai pasangan suami istri yang baik di depan semua orang, mengingat ada kepentingan keduanya yang harus mereka jaga.


Seperti halnya A Fei yang harus memberikan salam pertama sebagai anggota baru kerajaan pada kedua mertuanya. Demikian pula dengan Fu Xiquan, namun yang berbeda adalah bukan Raja atau Permaisuri yang akan di temui Xiquan melainkan A Fei.


A Fei mengangkat satu alisnya heran ketika melihat Fu Xiquan berada di ruang tunggu, duduk tenang sembari menyesap teh terbaiknya.


" Kenapa kau berada di sini? " Tanya A Fei sembari berjalan melewati Fu Xiquan tanpa melihatnya, kemudian duduk di kursi utama.


Fu Xiquan tersenyum kemudian bangkit dari kursi dan memberi salam ala kadarnya pada A Fei. Wanita itu bahkan tak membungkuk layaknya etika yang seharusnya ia lakukan. Jelas sekali bahwa Fu Xiquan sama sekali tak menghormati A Fei sebagai Putri Mahkota.


A Fei tak peduli dengan sikap Fu Xiquan. Ia sudah terlalu lelah karena berdebat dengan Li Chenlan sebelumnya. Sungguh, yang saat ini A Fei butuhkan adalah ketenangan. Namun kelihatannya dua manusia yang saling mencintai ini sangat senang membuat hari A Fei suram.


Lagipula dia sedang hamil, tak mungkin A Fei akan menghukumnya karena tindakannya tersebut. Membuat Fu Xiquan semakin besar kepala.


" Putri Mahkota, apakah kau lupa jika pagi ini aku harus memberikan teh pertama ku untuk mu sebagai pemimpin harem. "


" Kau benar. " A Fei mengangguk setuju. " Kalau begitu cepat berikan tehnya setelah itu pergilah dari sini. "


Segera A Fei memerintahkan Xiao Er untuk memberikan satu set peralatan teh pada pelayan Fu Xiquan. Tak akan ia biarkan Xiao Er ataupun Xiao San melayani wanita itu.


Fu Xiquan pikir Xiao Er akan melayaninya, namun ia harus tercengang ketika pelayan A Fei itu justru melewatinya dan menyerahkan seperangkat alat minum tersebut pada pelayan Xiquan.


" Putri Mahkota, sepertinya pelayan mu terlalu arogan. Berani sekali ia mengabaikan aku dan justru memberikannya pada pelayan ku. "


"Xiao Er adalah pelayan ku bukan pelayan mu. Tentu saja yang harus menyiapkan teh untuk mu dia bukan Xiao Er. " Tunjuk A Fei pada pelayan Fu Xiquan.


Fu Xiquan kehabisan kata-kata. Wanita di depannya terlalu picik.


Setelah menuangkan teh dan memberikannya pada A Fei, Fu Xiquan menatap heran saat A Fei justru mengembalikan cangkir tersebut bahkan sebelum ia menyesapnya.


"Ini terlalu panas. Apakah kau ingin membakar lidah ku. " Ujar A Fei saat melihat ekspresi bingung Fu Xiquan.


Xiquan mengepalkan tangannya hingga lima kukunya merobek daging. Dengan menahan amarahnya ia memaksakan diri tersenyum lalu mengambil kembali cangkir tersebut. Terlihat sangat jelas tonjolan urat di dahi wanita itu.

__ADS_1


Kembali ia memberikan cangkir pada A Fei, tapi sayangnya lagi-lagi cangkir itu dikembalikannya.


" Kali ini apa lagi. " Tanya Xiquan tak sabar.


" Ini terlalu manis. Minum minuman yang terlalu banyak gula bisa membuat mu diabetes. Apakah kau bahkan tidak tahu hal itu? "


' Diabetes? apa lagi itu. ' Xiquan yang tak tahu itu disebut juga sebagai penyakit gula tentu saja berpikir bahwa itu hanya alasan acak yang digunakan A Fei, membuat amarahnya semakin meningkat.


Hingga gelas ketiga dan keempat juga di kembalikan dengan alasan terlalu dingin dan terlalu pahit.


" Ini gelas kelima. Aku harap ini tidak terlalu hambar. " Sindir Fu Xiquan sembari memberikan cangkir teh pada A Fei.


A Fei menahan tawanya. Baru saja ia berpikir akan menggunakan alasan tersebut namun ternyata Fu Xiquan sudah menebaknya.


Setelah menyesapnya sedikit ia menyerahkan cangkir pada Xiao Er dan memintanya untuk membawakan sebuah perhiasan yang sudah ia siapkan.


" Aku sudah menerima teh mu. Dan ini hadiah ku untuk mu. "


Fu Xiquan menerima sebuah kotak kayu dari A Fei. Ia membukanya dan matanya langsung terbelalak kala melihat isi didalamnya.


"Aku sangat suka tusuk rambut ini. Hiasan berbentuk teratai putih ini sangat cantik dan di ukir oleh pengrajin terbaik. Karena itulah aku memberikannya pada mu selain karena ini cocok dengan mu, ini juga merupakan barang dengan kualitas terbaik. Apa kau tidak menyukainya? "


A Fei berbicara setelah ia melihat ada badai di mata Fu Xiquan. Tentu saja melihat motif teratai putih membuat harga diri Fu Xiquan jatuh. Ia tahu A Fei sengaja memberikannya untuk menghinanya. Tak mungkin Fu Xiquan memakai hiasan yang seolah mengatakan dirinya adalah Ja-lang.


Tersenyum kaku, ia mengucapkan terima kasih kemudian melangkah pergi tanpa mengucapkan kata perpisahan.


Kehidupan A Fei saat ini tidak jauh berbeda dengan kehidupannya sebelum menikah. Ia masih bisa menikmati waktu bersantainya dengan menikmati teh dan beberapa makanan kecil. Seperti saat ini. Sima Fei memejamkan matanya sembari menghirup harum teh susunya ketika sebuah suara bariton mengusik telinganya.


" Apa maksud mu dengan memberikan hiasan rambut itu pada Xiquan. Apa kau ingin menghinanya? "


Li Chenlan datang dan segera menyemburkan kemarahannya sesaat setelah melihat A Fei.


" Menghinanya? siapa? aku menghina siapa? " A Fei pura-pura tak mengerti.


" Jangan pura-pura tidak tahu. Aku yakin kau paham betul apa yang aku bicarakan. "


A Fei meletakkan gelasnya kemudian melihat pada Li Chenlan. Ia bersandar pada kursi dengan kedua tangan melipat di dada.


" Apa yang kau maksud hadiah yang ku berikan pada selir mu? Aku memberinya sebuah hiasan rambut terbaik. Tak hanya dari bahan terbaik, hiasan itu juga di buat oleh pengrajin terbaik. Itu adalah sebuah maha karya. Tapi kau datang dan mengatakan bahwa aku menghinanya. Bisa kau katakan di bagian mana aku menghinanya? "


" Berhenti bertindak bodoh. Aku yakin kau tahu arti motif hiasan itu? "


Pura-pura berpikir, Sima Fei kembali bertanya. " Memang apa arti sebuah teratai putih? itu hanya sebuah bunga. "


Li Chenlan benar-benar dibuat kehabisan kata-kata. Tidak mungkin bukan ia katakan bahwa teratai putih memiliki makna Ja-lang. Ia yang emosi merasa rambutnya akan cepat berubah putih jika terus dibuat kesal oleh istrinya ini.


Pria itu memutuskan untuk pergi. Sepanjang jalan Li Chenlan hanya bisa misuh-misuh, marah dan kesal karena lagi-lagi dirinya kalah berdebat dengan A Fei.

__ADS_1


Sima Fei tertawa puas melihat suaminya pergi dengan asap mengepul di kepalanya.


" Putri, sepertinya anda terlihat puas. " Xiao San tak kuasa menahan dirinya untuk tak berkomentar.


" Tentu saja. Selir itu pasti berpikir dengan mengadu pada suaminya. Ia bisa membuat ku menderita. "


Hubungan A Fei dan Li Chenlan semakin buruk. Mereka layaknya kucing dan anjing ketika bertemu. Meski begitu, Li Chenlan akan menghabiskan beberapa malam dalam satu minggu di tempat A Fei.


Tak ada kegiatan lebih, selain tidur. Bahkan mereka tidak tidur dalam satu ranjang.


Hingga dua bulan berlalu,


Hari ini salah satu selir Raja mengadakan jamuan bunga. Ada banyak wanita bangsawan yang di undang.


A Fei sebenarnya tidak menyukai acara seperti ini, namun sebagai Putri Mahkota tentu saja ia harus hadir tak terkecuali Fu Xiquan.


Kebanyakan dari wanita muda ini adalah kenalan Fu xiquan, jadi hal yang wajar jika mereka berkumpul di sekitar Xiquan.


" Selir, sepertinya kehamilan anda sudah cukup terlihat. Pangeran pasti sangat senang karena sebentar lagi akan lahir putra pertamanya. " Ucap salah satu nona bangsawan.


Fu Xiquan tertawa kecil, " Bagaimana bisa kau menebaknya dengan sangat benar. Pangeran memang sangat senang karena ini putra pertamanya. Bagaimana pun ini akan menjadi penerusnya di masa depan. " Dengan bangga Xiquan berkata sembari mengelus perutnya yang sudah terlihat sedikit menonjol.


" Berbicara mengenai penerus, Apakah belum ada kabar bahagia dari Putri Mahkota? "


Seluruh atensi kini melihat pada A Fei, hingga ia bisa merasakan bagaimana tatapan para wanita itu seolah ingin menelanjanginya.


Sima Fei tampak santai, mengabaikan pandangan mereka lalu tersenyum dan berkata. " Jika aku hamil juga, bagaimana bisa aku melayani Putra Mahkota. Biarkan selir Fu hamil terlebih dulu, meskipun nantinya ia melahirkan seorang pangeran. Tetap saja yang akan menjadi pewaris Putra Mahkota adalah putra ku. "


" Ah, lagi pula belum tentu yang ada di kandungan selir Fu saat ini adalah seorang pangeran. Kita tidak tahu itu seorang pangeran atau putri sebelum anak itu lahir. Jadi saran ku selir Fu, lebih baik kau juga menyiapkan diri andai anak mu adalah seorang putri. Aku tidak ingin kau kecewa karena ternyata tidak sesuai dengan harapan. "


Perkataan A Fei menancap tepat di jantung Fu Xiquan. Membuat semua orang tersadar akan fakta bahwa tak peduli seberapa banyak seorang selir melahirkan pangeran terlebih dulu, pangeran dari permaisuri lah yang berhak menduduki tahta.


Hal lain mungkin saja terjadi, jika Permaisuri tidak melahirkan seorang putra. Maka putra dari selir baru bisa memiliki hak untuk mewarisi tahta.


Semua orang kini terdiam. Beberapa tersenyum canggung. Sedangkan Fu Xiquan memandang Sima Fei dengan tatapan membunuh. Tangannya meremas kuat sapu tangannya hingga kusut. Andai tak ada seorang pun di sana, mungkin Xiquan sudah menerkam A Fei dan mengulitinya.


" Kenapa semuanya diam. Bukankah apa yang ku katakan itu benar. " A Fei bersikap seolah tak bersalah setelah ia menghancurkan harapan seseorang.


Dalam hati, A Fei tertawa puas melihat wajah hijau Xiquan. Ia yakin sekali serangannya barusan merupakan pukulan telak baginya.


Acara jamuan itu berlangsung dengan suasana canggung. Beberapa kali teman-teman Xiquan berusaha membuat A Fei malu, namun pada akhirnya justru merekalah yang dibuat tak berkutik oleh A Fei.


*******


Terlihat seorang wanita memberi sesuatu pada seorang pria. Mereka tampak mencurigakan.


" Ingat, kau harus membuat wanita itu kehilangan kesuciannya. Jangan sampai kau gagal. Kau pasti tahu resiko jika sampai gagal? "

__ADS_1


Sang pria menjawab, " Tenang saja, kau akan menerima hasilnya secepatnya. "


__ADS_2