Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 274 Side story ( A Guang story)


__ADS_3

A Guang memacu kudanya dengan sangat cepat. Bahkan dirinya tidak peduli dengan angin kencang yang menerpa wajahnya atau rasa perih karena angin yang masuk ke matanya.


Baginya yang terpenting saat ini ialah bisa bertemu dengan Xu xiang. Gadis itu berhutang menjelaskan padanya.


Apa maksudnya mengirim surat perpisahan? Tidak. Lebih tepatnya itu adalah surat jaminan hutang. Dalam surat, Xu xiang hanya membahas mengenai alasannya pergi dan akan segera membayar hutangnya begitu ia kembali.


Persetan dengan hutang. Bahkan ia tidak peduli dengan hal itu.


Hutang yang sebenarnya tidak pernah di ingat oleh A Guang.


' Lihat saja. Aku akan menyeret mu kembali Xu xiang. ' Tekad A Guang.


Ada perasaan tak terima jika Xu xiang pergi begitu saja. Perasaan yang saat ini dirasakan seolah dirinya baru saja dicampakkan.


Bukankah aneh perasaannya saat ini. Hatinya merasakan sakit saat ditinggalkan.


Pagi tadi, saat ia baru tiba di Akademi. Seorang penjaga akademi memberikan surat padanya.


" Murid Mo. Ini ada titipan surat untuk mu? " Ujar penjaga akademi.


A Guang menerima surat tersebut dan langsung membacanya. Tangannya bergetar saat mengetahui isi surat tersebut.


Ia segera menaiki kembali kudanya dan memacunya menuju dermaga timur.


" Tuan muda! " Panggil Junyi bahkan tak dihiraukannya.


**********


A Guang segera turun dari kudanya dan mengedarkan pandangannya ke semua arah. Wajahnya jelas terlihat panik. Situasi dermaga yang ramai cukup menyulitkan A Guang mencari gadis yang membuatnya kalut tersebut.


" Yang mulia, apa yang terjadi? " Junyi yang baru saja tiba bertanya.


Namun A Guang tidak menjawab dan justru memberikan tugas.


" Paman, sekarang perintah kan beberapa orang untuk mencari Xu xiang. Dia sekarang ada di dermaga. Temukan dia dan cegah kepergiannya. " Perintahnya pada Junyi.


Pengawal paruh baya itu segera melaksanakan perintah A Guang.


Namun pada akhirnya A Guang tak berhasil menemukannya.


Ia terduduk lemas. Kepergian Xu xiang yang tiba-tiba membuat hatinya kosong seolah ada lubang besar di sana. Membuat dirinya merasa ada sesuatu yang seolah telah hilang dan itu membuatnya sakit.


" Paman, dia pergi. Dia bahkan tak berpamitan dengan ku secara langsung. Aku sungguh sangat kecewa dengannya. " Lirih A Guang dengan pandangan kosong menatap aliran sungai di depannya.

__ADS_1


" Yang mulia. Apa anda ingin menemuinya? Jika iya, kita bisa mengerahkan penjaga bayangan atau Heilong untuk melacak keberadaan nona Xu xiang. "


A Guang masih terdiam dan memikirkan tawaran Junyi.


Tidak sulit sebenarnya untuk menemukan Xu xiang. Tapi kembali lagi, ia mengingat isi surat yang berisi alasannya pergi.


Lelah. Mungkin itu yang di rasakan oleh Xu xiang. Keluarga yang seharusnya menjadi tempat terhangat dalam hidup. Justru menjadi tempat tergelap baginya.


Jika ingin pergi, maka biarkan pergi. Karena dari awal itu adalah keinginannya maka A Guang tak akan bertindak sebagai penghalang.


" Tidak. Biarkan saja. Aku harap Xu xiang akan bahagia dimana pun ia berada. " ujarnya tulus namun begitu berat saat di ucapkan.


Tangannya terkepal, ia mencoba menahan keinginannya agar tak menarik lagi kata-katanya.


" Paman ayo kita kembali ke akademi. " Ia pun berbalik dan meninggalkan dermaga.


Tiap langkah begitu terasa berat. A Guang merasa kehilangan semangatnya. Seolah tak ada lagi gairah untuk melakukan apapun lagi.


Dengan terpaksa ia memacu kembali kudanya dengan kecepatan sedang cenderung lambat kembali ke akademi.


Namun hal kacau telah terjadi di akademi. Baru saja dirinya masuk, beberapa murid sudah berbagi gosip padanya.


" A Guang, bukankah kau dekat dengan A Hua? apa kau sudah mendengar kabar bahwa ia baru saja tertangkap basah sedang bertindak tidak senonoh dengan guru Yan. Dan sekarang mereka sudah di bawa ke kantor kepala sekolah. "


" Kelihatannya kau belum tahu. Maaf, aku baru ingat ada urusan yang belum terselesaikan. Aku pergi dulu. " Teman A Guang segera melarikan diri.


Ada apa dengan hari ini. Kenapa masalah terus saja datang.


Tidak mungkin bibinya melakukan hal tercela. Meski isi kepalanya terkadang sedikit kotor tapi ia tak mungkin melakukan hal yang bisa merusak nama Sima.


Baru saja Xu xiang pergi, dan sekarang bibinya. Tanpa memperdulikan tatapan aneh para murid lain yang melihatnya. A Guang terus melangkahkan kakinya ke ruang kepala sekolah.


Brak!


" Jie... " Panggil A Guang begitu membuka pintu.


Ia melihat A Hua yang sedang menangis bersama guru Yan yang duduk tak jauh darinya.


A Hua yang melihat kedatangan A Guang segera berlari memeluk sang keponakan.


" Sebenarnya apa yang terjadi bi? " Tanya A Guang khawatir.


" Semuanya tidak seperti apa yang mereka katakan. Aku...saat itu aku sedang berada di perpustakaan. Ketika aku akan mengambil sebuah buku di rak tinggi. Tanpa sengaja aku terpeleset dan guru Yan yang saat itu berada di sana berniat menolong. Mungkin karena kegaduhan saat aku terjatuh membuat orang-orang datang. " Jelas A Hua.

__ADS_1


Bibinya yang selalu terlihat kuat saat ini sedang menangis. Melihatnya menangis membuat A Guang tiba-tiba merasa merinding. Punggungnya menjadi dingin ketika mengingat wajah penuh amarah ayah dan kakeknya.


' Gawat! mereka bisa membunuhku jika tahu bibi mendapatkan masalah. Bahkan sampai membiarkan ia mengeluarkan air mata. ' Gumam A Guang dalam hati.


Alarm peringatan di otak A Guang sudah mengirim sinyal 'gawat'.


Tak ada yang lebih mengerikan selain kemarahan Kakek dan juga ayahnya.


A Guang yang wajahnya sudah berubah pucat dengan keringat jagung di keningnya menoleh pada kepala sekolah.


" Maaf kepala sekolah, apa yang sebenarnya terjadi? " Tanya A Guang pada pria tua yang beberapa bulan lalu juga berurusan dengannya.


" Seseorang melihat A Hua dan guru Yan sedang berbuat tindakan asusila di perpustakaan. " Ungkap kepala akademi.


Kepala A Guang kosong. Mendadak ia ingin sekali pingsan, jadi ketika ayah atau kakeknya datang ia bisa memiliki alibi.


" Omong kosong! " Bukan A Guang yang menyela namun Jinfu yang baru saja masuk.


" Jaga bicara mu tuan muda Jiang. " Hardik salah satu guru.


" Apakah kalian juga sudah menjaga mulut kalian. Bahkan saat pihak lain sudah menjelaskan apa yang terjadi, kalian masih tetap menuduh keduanya bertindak asusila. " Ucap Jinfu tak kalah tinggi.


" Kami tidak menuduh mereka. Tapi seseorang dengan jelas melihat mereka saling menindih di lantai. Apa itu jika buka tindakan asusila. Bahkan aku sangat malu saat mengatakannya. "


" Guru luo, tuan muda jiang, hentikan perdebatan kalian. Kita sedang menyelesaikan masalah bukan menambah masalah. "


Kepala sekolah nampaknya bertindak cukup bijaksana kali ini. Ia terlihat tidak buru-buru dalam mengambil keputusan.


Situasi sudah kondusif, jadi A Guang berkata. " Kepala sekolah bolehkah aku tahu siapa saksi yang melihat mereka? "


Kepala sekolah mengangguk lalu meminta guru luo untuk memanggilnya.


" Tidak, biarkan guru luo di sini. Anda bisa meminta senior jiang untuk memanggilnya. " Sela A Guang menghentikan langkah guru luo.


Melihat ekspresi tak terima guru luo, A Guang kembali berkata. " Jangan salah paham guru luo. Aku hanya memiliki sesuatu yang ingin ku katakan pada mu. Karena itu aku meminta agar senior jiang saja yang memanggilnya. "


" Jangan membuat ekspresi seolah aku sedang mencurigai mu guru. " Imbuhnya lagi.


Guru luo mendengus kesal. " Apa yang ingin kau katakan? "


A Guang tersenyum tipis lalu berkata, " Kepala sekolah, anda sebagai saksi. " Dan kepala sekolah mengangguk setuju.


"Jika masalah ini selesai dengan hasil bibi ku tidak terbukti melakukan tindakan tercela tersebut maka aku ingin seluruh orang di akademi ini minta maaf padanya. Bibi ku adalah seorang wanita, dan ia telah di fitnah dengan begitu kejam. Hingga ia hampir saja kehilangan kemurniannya. Jadi meski merepotkan atau berlebihan. Aku tidak peduli. "

__ADS_1


__ADS_2