
Tidak hanya di kamar Sima Feng dan Liu Ru yang sedang panas, bahkan kamar Gu Feifei jauh lebih panas. Mengetahui bahwa pria yang dicintainya sedang bercumbu dengan wanita lain, Gu Feifei sangat marah dan semakin membenci Liu Ru.
Ingin rasanya ia menghancurkan barang-barang di kamarnya hanya untuk meredakan amarahnya. Sayangnya, ia masih harus berpura-pura menjadi gadis lemah lembut dan hanya bisa meremas sapu tangannya sambil membayangkan itu adalah Liu Ru. Entah sejak kapan, cinta Gu Feifei pada Sima Feng berubah sedemikian rupa hingga menjadi obsesi dan ambisinya semakin besar hingga tidak ada jalan baginya untuk berbalik.
Dalam benaknya, ia bersumpah akan menyingkirkan Liu Ru dan memiliki Sima Feng hanya untuk dirinya.
Di tempat lain, tepatnya di istana Kekaisaran, sedang terjadi sedikit keributan. Berkat hadiah mendadak Liu Ru, Xiao Yi yang baru berpisah kurang dari setengah tahun dari sang ibu tiba-tiba memiliki ide gila untuk mengunjunginya dan ingin membuat kejutan untuknya. Jadi hampir setiap hari, baik sebelum atau sesudah belajar, ia akan datang pada Ziyan dan memohon. Dua pelayan yang melihat cucu kaisar mereka datang segera memberikan salam.
" Bukanlah pangeran kecil sangat menggemaskan," ungkap kagum pelayan baru setelah Xiao Yi melewati mereka. Pelayan lama yang melihat dan mendengar pujian untuk pangeran kecil itu menghela napas, membuat pelayan baru heran.
" Kenapa kau menghela napas?" tanya pelayan baru.
" Dia memang menggemaskan. Karena itu, ia menggunakan kelucuannya untuk memohon pada Yang Mulia ratu."
" Memohon untuk apa?" tanya pelayan baru.
Sebelum pelayan lama bisa menjawab, suara Xiao Yi memohon sudah terdengar.
" Nainai, tolong ijinkan aku pergi ke perbatasan. Aku sangat merindukan ibu." Entah ini permohonan ke berapa kalinya yang dilontarkan Xiao Yi.
__ADS_1
Hampir semua pelayan sampai hapal akan dialog apa yang akan Ziyan katakan selanjutnya, 'Yang Mulia ratu pasti akan melarang dengan alasan tempat itu berbahaya.'
Bocah empat tahun itu tampak menggemaskan ketika ia memohon dengan mata berkaca-kaca dan wajah memelas membuat siapapun tak tega dan akan luluh pada akhirnya. Sayangnya, trik tersebut tidak mempan pada Ziyan. Sang nenek kekeh menolak permintaan cucu tersayangnya itu.
Hal ini terus terulang hampir setiap hari.
" Xiao Yi, perjalanan ke daerah perbatasan sangatlah berbahaya. Nainai takut kau akan terluka." Bujuk Ziyan dengan penolakannya.
Andai saat ini ada Sima Rui, Xiao Yi pasti tak akan bisa berada dekat dengan Ziyan dan merengek layaknya seorang anak kecil. Bocah itu tidak bodoh untuk merengek jika kakeknya ada di sekitar. Sima Rui terlalu pencemburu, bahkan dengan bocah seperti dirinya. Sungguh, kakeknya sangat 'menakutkan' dengan artian yang berbeda tentunya.
" Kalau begitu, cukup kirim prajurit untuk mengawalku ke sana, nainai." Bocah itu masih berusaha bernegosiasi dan tekadnya sudah bulat. Ziyan ragu, ia masih khawatir mengingat situasi Kekaisaran yang belum stabil dengan kerajaan Wei. Namun, suara lain tiba-tiba datang menyela.
" Berhenti bersikap manis dan merengek pada istriku. Pergilah kepada bibimu dan merengek padanya." Ya, itu adalah Sima Rui. Ketika pria nomor satu di Kekaisaran itu masuk, para pelayan langsung membungkuk hormat. Sima Rui hanya mengangguk sebagai respon dan segera menyuruh mereka keluar.
" Kakek bicara apa? Aku hanya membujuk nainai agar mengijinkanku pergi menemui ibu. Tapi kata nainai perbatasan berbahaya dan itu terlalu menakutkan untukku yang masih kecil." Adunya pada Sima Rui seolah mereka adalah teman dekat dan ia sangat yakin jika berbicara dengan kakeknya, pria itu akan mendukungnya.
Sima Rui terkekeh, " Istriku, apa kau lupa dimana Xiao Yi tumbuh? Ia adalah cucu kita berdua dan lebih kuat dari anak lain. Perbatasan seperti arena bermain baginya. Sudah, kau ijinkan saja dia pergi. Aku juga akan meminta A Fei untuk ikut serta pergi bersamanya."
Dan benar saja, Sima Rui mendukung ide cucunya itu, meski selalu cemburu jika istrinya memberikan terlalu banyak perhatian padanya. Tapi, Sima Rui juga menyayangi Xiao Yi. Alasan yang terpenting adalah untuk sementara waktu tidak akan ada lagi yang mencuri waktu istrinya. Tentu saja, alasan kedua adalah yang terpenting. Jika suaminya sudah berbicara, maka Ziyan yakin Sima Rui sudah melakukan persiapan.
__ADS_1
" Baiklah, jika kau berpikir begitu. A Yi, kau siapkan dirimu. Nainai akan mengatur keberangkatanmu." Wajah bulat Xiao Yi berbinar senang dan ia melompat hendak memeluk Ziyan, namun dengan cepat ditangkap oleh Sima Rui dan berbalik memeluknya. " Aku sudah memelukmu. Jadi tak perlu lagi kau memeluk istriku," ujarnya sambil menepuk pelan punggung Xiao Yi.
Ziyan memandang keduanya dengan rahang menganga lebar. Sungguh, suaminya terlalu perhitungan.
" Kakek, kau terlalu luar biasa," sindir Xiao Yi. Meski Xiao Yi sudah tahu tentang betapa posesifnya Sima Rui, tetap saja jika sudah seperti ini membuatnya kehilangan kata-kata.
Setelah kesepakatan terjadi, Xiao Yi segera meluncur untuk memberitahu sang bibi. Sementara Ziyan dan Sima Rui masih berada di sana, membahas sesuatu.
" Apa yang sedang kau rencanakan, suamiku?" tanya Ziyan menatap suaminya. Ia tahu suaminya tak sederhana itu mengijinkan Xiao Yi pergi.
Sima Rui terkekeh, " Memang istriku yang paling mengerti aku."
Ia melanjutkan, "Putramu pergi ke perbatasan karena laporan bangsa barbar yang berkolusi dengan sisa pasukan Kerajaan Wei. Meski Kerajaan Wei sudah bubar dan bergabung dengan kita, masih ada beberapa pihak yang menentangnya. Itulah sebabnya A Feng bertekad menyelesaikan semuanya. Sayangnya, ia menyimpan ular di kediamannya. Meskipun ular tersebut tidak menggigit sekarang, aku yakin cepat atau lambat hal itu mungkin saja terjadi."
"Suamiku, bagaimanapun juga kakaknya sudah menolong putramu. Jangan berbicara seperti itu," ujar Ziyan meski ia juga tidak menyukai Gu Feifei. Tetapi, ia bukanlah seseorang yang lupa akan budi baik orang lain.
"Kita hanya memiliki hutang budi dengan kakaknya, bukan dengan gadis itu. Seharusnya putramu tidak mengajak gadis itu tinggal di kediamannya, apalagi ketika gadis itu mencoba memfitnah menantu kita," jelasnya.
Ziyan memeluk Sima Rui dan berbicara dengan nada bercanda, "Aku bersyukur karena kaulah yang menjadi suamiku. Jika kau seperti putramu, mungkin aku harus menahan amarah setiap hari."
__ADS_1
"Karena itulah aku mengirim A Fei dan Xiao Yi ke sana. Biarkan mereka berdua mengacaukannya."
Membayangkan betapa ramainya kediaman putranya, Ziyan tertawa kecil. "Kau benar."